http://www.indopos.co.id/index.php/berita-politik/1742-publik-tak-puas-kinerja-kib-ii

Publik Tak Puas Kinerja KIB II 
  Wednesday, 30 January 2013 04:36 
  Written by Bowo 
 




JAKARTA – Publik tidak puas terhadap kinerja Kabinet Indonesia Bersatu II di 
bawah komando Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sedikitnya, ada empat 
alasan yang muncul dari hasil survei kualitatif Lingkaran Survei Indonesia 
(LSI), dengan tema ”Publik Makin Khawatir dengan Kinerja Kabinet di Tahun 
Politik” di Jakarta, Selasa (29/1).

 Yang menarik, mayoritas publik yang tidak puas adalah mereka yang sebelumnya 
telah memilih SBY-Boediono pada Pemilu 2009 lalu. Menurut peneliti LSI Adrian 
Sopa, jumlah pemilih yang tidak puas lebih tinggi, yakni 43,18 persen, 
ketimbang yang puas, 41,62 persen. Beberapa alasan itu di antaranya, pertama, 
karena menteri yang berasal dari partai politik dinilai akan lebih mengurusi 
partai ketimbang kerja-kerja fungsional di kementeriannya masing-masing.

 ”Di KIB II, ada tiga menteri yang sekaligus menjabat ketua umum partai. Mereka 
adalah Menko Perekonomian Hatta Rajasa, ketua umum PAN, Menakertrans Muhaimin 
Iskandar, ketua umum PBB, dan Menteri Agama Suryadarma Ali, ketua umum PPP. 
Menteri yang juga ketua umum partai  punya kecenderungan lebih sibuk mengurusi, 
 bahkan membesarkan partai politiknya dalam tahun politik, untuk pemilu 
legislatif dan pemilu presiden 2014,” ungkap Adrian.

 Kedua, kata Adrian, karena ada menteri yang tersandung kasus korupsi seperti 
Andi Mallarangeng sewaktu aktif sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga. Penetapan 
Andi sebagai tersangka diyakini publik ikut menyumbang rusaknya kredibilitas 
kabinet SBY-Boediono. Setidaknya 84,06 persen publik berpendapat status Andi 
sebagai tersangka membuat kabinet rusak, 9,78 persen berpendapat tidak 
memengaruhi citra kabinet, dan hanya 6,16 persen publik yang menjawab tidak 
tahu atau tidak menjawab.

 ”Andi Mallarangeng cukup besar membuat publik menilai kabinet buruk. Sebab, 
dialah satu-satunya menteri aktif dalam sejarah Indonesia yang ditetapkan 
sebagai tersangka. Apalagi, Andi juga pernah menjadi ikon Partai Demokrat yang 
mengampanyekan, ’Katakan Tidak pada Korupsi’, tapi justru jadi tersangka,” ulas 
Adrian.

 Alasan ketiga, menurut Adrian, akibat pemilihan menteri tidak sesuai 
kompetensi. Yakni, Roy Suryo menggantikan Andi sebagai Menpora. Kurang dari 50 
persen atau 45,48 persen publik yang hanya menilai keputusan SBY tepat memilih 
Roy sebagai orang nomor satu di Kemenpora. Sementara, mereka yang menilai tidak 
tepat keputusan SBY dengan mengangkat Roy ada di angka 52,67 persen, dan 6,85 
persen menjawab tidak tahu.

 Terakhir, merosotnya citra kabinet dinilai tidak lepas dari makin lemahnya 
kepemimpinan SBY di mata publik. Setidaknya, mereka yang tak puas kepemimpinan 
SBY di angka 57,72 persen, puas 35,91 persen, dan menjawab tidak tahu 6,38 
persen. ”Dibanding survei LSI Juni 2011, publik yang menyatakan kepuasan atas 
kepemimpinan SBY masih 47,20 persen. Namun, mendekati setahun lebih jabatannya 
berakhir atau pada survei Januari 2013, kepuasan SBY turun menjadi 35,91 
persen,” kata Adrian. (ind


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke