Ref: Tidak apa kalau biaya politik mahal dan korupsi merajalela, karena para 
politikus wakil rakyat perlu dijamin dan dijamu supaya sehat dan tidak 
berkekurangan apa-apa atau istilahnya kaya raya.

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/04/30/1/150246/Biaya-Politik-Mahal-Korupsi-Tetap-Merajalela

Biaya Politik Mahal, Korupsi Tetap Merajalela
Selasa, 30 April 2013 | 01:47 WIB
 
Ilustrasi--Dok MI/Tiyok/cs

Metrptvnews.com, Jakarta: Biaya politik yang cukup mahal dalam pemilu 
legislatif (pileg) merupakan akar dari meningkatnya korupsi. Biaya politik 
tetap meningkat di pileg 2014 juga menyebabkan korupsi akan tetap ada.

Koordinator Forum Masyarakat Pemantau Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian 
Salang menilai biaya politik yang mahal tersebut memang diakui oleh sejumlah 
anggota DPR yang kembali menjadi caleg untuk pileg 2014. Mereka harus 
menyiapkan uang Rp1 miliar hingga Rp6 miliar.

Karena itu, partai politik (parpol) juga berusaha untuk mencari orang-orang 
berduit untuk dicalonkan. "Trennya parpol cari orang berduit untuk dicalonkan. 
Apakah itu uang pribadi, maupun dari perusahaan. Bahkan ada yang mengaku 
membiayai caleg dengan perjanjian ketika terpilih mengakomodir kepentingan 
pemodal," ujar Sebastian dalam acara diskusi kemandirian bangsa keenam dengan 
tema "Mencegah Dana Asing dan Dana Haram pada Pemilu 2014" di Tebet, Jakarta 
Selatan, Senin (29/4).

Hal yang menarik, menurut, Sebastian, orangiorang yang berduit yang akan masuk 
parlemen akan penuh dengan kepentingan. Misalnya mengadakan proyek atau 
mengamankan pemilih perusahaan atau korporasi. Dengan demikian, sangat masuk 
akal kalau terdapat puluhan undang-undang yang sarat kepentingan asing atau 
korporasi. Apalagi, dengan sistem politik yang sangat mahal dan besar sekarang 
ini.

"Lalu parpol mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan pengusaha. Itu kan 
bahaya, karena pada akhirnya mereka yang menentukan arah kebijakan parpol," 
tuturnya.

Selain itu, berdasarkan perkiraan Sebastian jika rata-rata seorang caleg 
membutuhkan dana sekitar Rp6 miliar tentu pengeluaran sebesar itu tidak bisa 
ditutupi dengan gaji 5 tahun menjabat sebagai anggota DPR. 

"Logika tiap bulan gaji Rp60 Juta, tiap tahunnya sekitarRp 700 jutaan. Selama 
lima tahun sekitar Rp3 miliaran. Dengan cara seperti itu, banyak anggota DPR 
yang bermain di izin-izin proyek pertambangan dan perkebunan," kata Sebastian.

Direktur Lingkar Madani Untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti mengatakan, 
mahalnya biaya politik di Indonesia karena tidak ada batasan besarnya dana 
kampanye untuk caleg dan parpol. Menurutnya, bila dana kampanye tidak dibatasi 
jelas akan mendorong sistem politik yang bebas, parpol yang memiliki akses 
terhadap kekuasaan, memiliki kebebasan menggunakan sumber daya yang tidak 
terbatas untuk meraih dukungan politik dari rakyat.

Kebutuhan pendanaan yang sangat besar menyebabkan parpol belomba-lomba 
mengakses sumber dana termasuk dari sumber haram dan pendanaan dari pihak 
asing. "Modus yang sering ditemukan menggunakan kekuasaan politiknya untuk 
merampok anggaran negara, baik dalam APBN maupun APBD (Anggaran Pendapatan 
Belanja Daerah)," pungkasnya.

Sedangkan Direktur Institut Hijau Indonesia (IHI) Chalid Muhammad, mengatakan, 
hampir seluruh Pemilukada, Pileg DPR dan DPRD, dan Pilpres mengandalkan dananya 
dari eksploitasi sumber daya alam (SDA).

Chalid bahkan menduga, para simpatisan, pengurus, sampai ketua umum parpol ikut 
terlibat dalam eksploitasi SDA. "Kalau dilihat secara parpol, ini adalah mereka 
yang ikut dalam Pemilukada. Setiap peristiwa politik di daerah beriringan 
dengan naiknya izin usaha, misalnya di sektor pertambangan," ujarnya.

Berdasarkan kajian Chalid dari 40 orang terkaya di Indonesia versi majalah 
Forbes hampir semuanya diuntungkan dengan sistem politik yang berlangsung saat 
ini. Caranya, yakni terlibat dalam pembiayaan proses politik dengan harapan 
dapat mengambil balik keuntungan.

"Kalau dilihat data majalah Forbes, 40 orang terkaya Indonesia itu hampir 
semuanya masuk ke parpol. Di mana calon-calon dari parpol mereka ongkosi. 
Duitnya mengalir ke orang-orang fungsionaris parpol. Tentu mereka mau 
melanggengkan sistem politik lewat pembiayaan politik," tandasnya.(Herybertus 
Lesek)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke