Ref: Rizal Ramli ini berakal bulus dan bermulut manis untuk menutupi hakekat 
sistem politik dan ekonomi neokolonial pusat kekuasaan terhadap daerah-daerah 
di periferi. Sekian kali datang petinggi nada mereka tidak berbeda antara satu 
dengan yang lain  selama 70 tahun  yang disebut merdeka-merdeka. Kalau bukan 
akibat dari sistem demikian tentu gambarannya lain.

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=41877

JUMAT, 03 Mei 2013 | 

Maluku Miskin Karena Pempus Cuek 


JAKARTA, AE— Mantan Menteri Perekonomian RI, Rizal Ramli mengatakan, Maluku 
adalah provinsi tertua di Indonesia yang mempelopori pendirian bangsa ini.

Tapi masih miskin dan memiliki infrastruktur yang tidak memadai bila dibanding 
daerah lainnya yang muncul belakangan. Hal ini terjadi, karena kurangnya 
perhatian pemerintah pusat, serta kebijakannya yang tidak memperhatikan 
karakteristik daerah.

Pandangan ini disampaikan Rizal kepada Ambon Ekspres, dalam sebuah kesempatan 
diskusi di Jakarta Selatan, Kamis (2/5). ”Contohnya yaitu, UU Perimbangan 
Keuangan Daerah yang tidak melihat karakteristik daerah. Misalkan, Maluku kaya 
sumberdaya laut, hasil perikanan yang berlimpah, tapi UU tidak menempatkan itu 
dalam mempertimbangkan perimbangan keuangan kepada Maluku. Akibatnya terus 
dalam kemiskinan,” kata Rizal.

Dia mengatakan, Revisi UU Perimbangan Keuangan, adalah langkah tepat untuk 
memecah persoalan Maluku. “Hal ini supaya Maluku mendapatkan dana tambahan dari 
sumberdaya alam setempat, tidak hanya Migas tapi kekayaan lautnya,” katanya.

Dia menjelaskan, untuk mengembangkan kawasan Timur termasuk Maluku, dirinya 
sudah memperjuangkan sejak tahun 1990-an. Di mana dia mengusulkan agar alur 
pelayaran kapal tangker dan kapal-kapal besar harus diubah rutenya saat ini 
yang melewati Selat Malaka, harus melewati laut Lombok dan Sulawesi,” katanya.

Sekiranya itu dilakukan, wilayah timur akan kaya. Tapi pemimpin akan datang, 
harus berani, supaya sebagian dari arus lalulintas dunia bisa diubah dan 
menguntungkan Indonesia Timur. “Wilayah dari semenanjung Makassar, Kendari, 
Lombok, NTT, Maluku, akan mendapatkan keuntungan yang besar. Tapi apakah 
pimpinan negara ini berani mengambil langkah tersebut? Saya kira mereka tidak 
berani,” katanya.

Selain itu kata dia, penyebab Maluku miskin juga karena faktor DAU yang 
dihitung berdasarkan luas wilayah daratan, dan mengecualikan wilayah laut. 
Akibatnya daerah kepulauan menjadi terbelakang. Karena dana yang didapatkan 
sedikit, sementara wilayah pembangunannya besar, yakni mencakupi laut dan 
daratan. 

Akibat dari itu semua, menjadikan pertumbuhan ekonomi berjalan tidak stabil. 
Karena peredaran uang sedikit, sedangkan infrastruktur lemah. Akibatnya, harga 
bahan pokok di Maluku dipastikan melambung tinggi.

Apalagi ditambah dengan sistem pengelolaan perdagangan Indonesia yang buruk. Di 
mana Indonesia menganut sistem kartel dalam mengimpor bahan pokok. Bahan pokok 
yang diimpor tiba di Jakarta dengan harga dua kali lipat dari harga di luar 
negeri, jika bahan pokok ini didistribusikan lagi ke Maluku, maka harganya 
tidak sama lagi dengan di Jawa, harganya lebih tinggi lagi.

“Saya usulkan agar sistem Kartel diubah menjadi sistem tarif. Di mana sistemnya 
tidak bebas, melainkan harus diatur supaya siapa saja bisa mengimpor tapi 
dengan tarif tertentu, dengan catatan agar tidak merugikan petani lokal. Dengan 
demikian, maka harga bisa menjadi murah,” katanya.

Dalam persoalan Kartel ini Rizal meminta kepada Komisi Pengawas Persaingan 
Usaha (KPPU), memeriksa para Kartel terkait dengan impor pangan. Misalkan 
berapa harga impor dan jual, harga beli dan lain sebagainya. Supaya diketahui 
letak kesalahannya.

Dia mengatakan, keuntungan para Kartel yang tinggi ini, yang digunakan untuk 
membayar para pejabat. Sistem ini sangat merugikan rakyat miskin. Misalkan 
sembako gula, yang terbanyak menggunakannya adalah rakyat miskin.

“Kalau gula ada 8 orang pemain. Mereka ini kartel. Ini sangat merugikan. 
Padahal konsumsi gula oleh rakyat kecil lebih tinggi dan banyak. Kemudian 
daging, kedelai, bawang, gandum,” katanya.

Karena itu Bulog perlu memainkan peranan lebih luas, untuk menetralisir harga 
pangan. Bukan hanya untuk beras semata. Tapi harus merubah pasar.

“Dulu Bulog menguasai pangan secara luas. Namun IMF datang ke Indonesia dan 
melakukan intervensi dengan mengusulkan agar Bulog hanya mengurus beras. 
Akibatnya bahan pokok lain dikuasai oleh swasta. Sayangnya bukan swasta yang 
profesional, tapi Kartel gadungan. Hal ini yang merusak dan merugikan rakyat 
serta negara,” katanya.

Sistem Kartel ini sudah berlaku dan mengakar. “Kami berharap KPPU mengumumkan 
siapa saja mereka, dan berapa keuntungan mereka, suapaya publik tahu,” kata 
Rizal Ramli. (Fik/fmc

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke