Kemiskinan - Antara Data Statistik VS Realita di Depan Mata Kita

by S. Tamtomo ‏@STNatanegara

Kemiskinan yang makin mengenaskan, yang coba ditutup pemerintah dengan 
Data Statistik. Baca dan rasakan betapa memilukannya.... 

Selamat! Jakarta no 1 di dunia terkait pertumbuhan hunian mewah ... 
Artinya kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin menjadi makin 
lebar... yang kaya makin kaya, yang miskin ya sudah tetap miskin. Pemerintah 
boleh-boleh saja klaim jumlah orang miskin telah berkurang tetapi 
kualitas kemiskinan justru semakin kronis. Masih ingat bocah Tasripin 
kan? yang sempat kesana pasti juga menyaksikan potret kemiskinan lainnya ...

Fakta lainnya adalah semakin rendahnya daya beli 
masyarakat miskin karena keterbatasan mereka untuk memenuhi kebutuhan 
dasarnya. Kenaikan harga yang bergerak liar menambah parah keadaan 
masyarakat miskin.. beras, kedelai, gula, garam, bawang dan daging ... 
Kita tau bahwa masyarakat kita ini lebih banyak yang berada di pedesaan 
.. karena itu masyarakat miskin juga lebih banyak berada di pedesaan, 
Dan yang lebih banyak mendorong semakin kronisnya kemiskinan adalah 
komoditas pangan.. ditengah rendahnya pendapatan masyarakat pedesaan. 
Buruh tani tidak akan mampu lagi menjangkau harga komoditas makanan yang
 semakin tinggi harganya. Anehnya adalah program-program yang 
dilaksanakan pemerintah kurang berpihak pada pembangunan desa dan sektor
 pertanian. 

Swasembada makanan hanya jadi angan-angan.. 
faktanya Pemerintah bahkan tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan 
masyarakatnya ... Impor komoditas pangan menjadi andalan .. tidak ada 
effort yang diperlihatkan demi terwujudnya swasembada pangan ... 
Akhirnya harga pun dengan mudahnya dapat dipermainkan .. sehingga 
masyarakat miskin hanya bisa menyaksikan tanpa bisa lagi merasakan ... 
Menyaksikan orang kaya makan buah impor ... sedangkan orang miskin tetap
 bergelut dengan lumpur dan debu kotor ... Inilah faktanya bahwa lebih 
dari 70% rumah tangga miskin berada di pedesaan dan bekerja di sektor 
pertanian!!!

Jadi mau apa lagi pemerintah dengan sektor 
pertanian .. apa masih mau meneruskan pesta pora permainan harga 
komoditas pertanian?? Seharusnya pemerintah sadar bahwa terlalu banyak 
orang miskin yang menunggu uluran tangan .... mereka menunggu bantuan 
... Bukan bantuan materi yang memanjakan tetapi bantuan agar mereka 
mampu lepas dari jurang kemiskinan .. Pemerintah seharusnya melindungi 
keluarga dan kelompok masyarakat miskin melalui pemenuhan kebutuhan 
pokok/dasar mereka, Kemudian memberdayakan mereka agar mempunyai 
kemampuan untuk berusaha dan mencegah terjadinya kemiskinan baru!

Generasi muda yang berasal dari keluarga miskin susah sekali melepaskan
 diri dari jeratan kemiskinan .. bahkan mereka menjadi sapi perah .. 
Rezim upah murah adalah buktinya .. hasil pertanian dari petani lokal 
yang dihargai sangat murah juga buktinya .. Akhirnya anak-anak Petani 
sangat jarang yang melanjutkan karir orang tuanya sebagai petani.. 
mereka eksodus ke kota ... Dan akhirnya terjebak menjadi sapi perah para
 pengusaha ditengah kebijakan ketenagakerjaan yang tidak memihak mereka

Mereka rela mempertaruhkan tenaga fisiknya untuk memproduksi keuntungan
 bagi mereka yang memiliki uang. Mereka rela bekerja sepanjang hari, 
tetapi mereka menerima upah yang sangat sedikit. Bahkan yang lebih parah
 dan membuat kita mengurut dada, kemiskinan telah membuat masyarakat 
kita terjebak dalam budaya malas!

Terjebak dalam budaya 
mengemis, dan menggantungkan harapan hidupnya dari budi baik pemerintah 
melalui pemberian bantuan yang memanjakan. Sepertinya pemerintah 
membiarkan mereka mengemis dibanding memikirkan cara untuk menanggulangi
 dan mengurangi tingkat kemiskinan. Jika anda menyaksikan nasib petani 
kita .. disana juga anda masih melihat pola-pola kolonial dipertahankan 
.. Petani menjadi marjinal karena tanah yang paling subur dikuasai 
petani skala besar dan berorientasi ekspor

Kalau melihat angka 
yang dirilis oleh Pemerintah (BPS) terkait data kemiskinan memang tampak
 mengesankan... tetapi sebenarnya menggemaskan. Menggemaskan karena 
statistik kemiskinan yang begitu mengesankan itu tidak sejalan dengan 
fakta sehari-hari yang kita temukan. Orang-orang yang termarginalkan 
dalam kehidupan sosialnya, berpendidikan rendah dan tak memiliki 
keahlian rentan terjerat kemiskinan .. Begitu juga dengan orang-orang 
yang tak memiliki akses terhadap faktor produksi, dan petani gurem atau 
buruh tani di perdesaan rentan miskin

Bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan oleh Pemerintah?

Sama saja dengan angka-angka statistik.. angka pertumbuhan ekonomi 
tidaklah menggambarkan keadaan riil masyarakat secara keseluruhan. 
Lambatnya penurunan jumlah penduduk miskin juga merupakan bukti bahwa 
pertumbuhan ekonomi yang terjadi selama ini belum berkualitas. 
Pemerintah, sektor pertanian dalam arti luas memang telah tumbuh sekitar
 3% year on year. Namun, pada saat yang sama, upah riil (daya beli) 
buruh tani secara umum terus merosot meskipun nilai nominalnya terus 
naik

Penguasaan faktor produksi hanya oleh segelintir orang 
adalah budaya kolonial.. yang tetap bertahan walaupun negara kita telah 
merdeka. Petani gurem dan buruh tani tetap saja bertarung dengan 
keterbatasan mereka ... Permainan data kemiskinan sudah sangat 
keterlaluan ... sampai kapan Pemerintah hendak menutup-nutupi ketidak 
mampuannya?

Akhirnya, kepada Pemerintah, jujurlah soal kemiskinan .. karena jutaan rakyat 
miskin menanti aksi nyata dari aparatmu ...

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke