http://www.berdikarionline.com/opini/20130501/45-fakta-kebohongan-sby-di-balik-kenaikan-harga-bbm.html

45 Fakta Kebohongan Rezim SBY Di Balik Kenaikan Harga BBM
Rabu, 1 Mei 2013 | 2:56 WIB   ·   1 Komentar 

 
Aksi seorang warga memprotes kenaikan harga BBM

Dalam waktu dekat ini, Presiden SBY berencana kembali menaikkan harga BBM. 
Supaya terkesan kenaikan harga BBM ini “tak terhindarkan”, berbagai alasan pun 
diajukan.

Sayangnya, media massa di Indonesia tidak kritis. Mereka lebih banyak bertindak 
sebagai “jubir” pemerintah ketimbang menyampaikan informasi yang sehat kepada 
rakyat.

Karena itu, supaya masyarakat punya perspektif lain mengenai kenaikan harga 
BBM, berikut kami tuliskan beberapa fakta untuk menyingkap kebohongan di balik 
alasan pemerintah menaikkan harga BBM.

  Pemerintah menyatakan: subsidi BBM telah menyebabkan defisit APBN

Kenyataannya:

  1.. Subdidi BBM di APBN 2013 hanya Rp Rp193,8 triliun atau sekitar 12% dari 
total APBN. Faktanya, anggaran untuk membiayai aparatus negara mencapai 79% 
dari APBN. Sementara untuk membayar gaji pegawai mencapai 21%. 
  2.. Setiap tahun APBN juga dibebani oleh pembayaran cicilan utang dan 
bunganya. Untuk tahun 2012, porsi pembayaran utang mencapai   Rp113,2 triliun. 
Pada APBN 2013, anggaran pembayaran utang mencapai 21%. Padahal, sebagian besar 
utang itu tidak pernah dinikmati oleh rakyat. 
  3.. Pemborosan anggaran justru banyak dilakukan oleh pejabat negara: gaji 
Presiden SBY mencapai US$ 124.171 atau sekitar Rp 1,1 miliar per tahun 
(tertinggi ketiga di dunia); anggaran perjalanan dinas para pejabat negara Rp 
21 trilun. 
  4.. Biaya pidato SBY untuk merespon HUT Kemerdekaan sebesar Rp 1,2 milyar; 
anggaran untuk parkiran kendaraan roda dua di Istana mencapai  Rp12,3 miliar, 
anggaran untuk 12 staf kepresidenan senilai Rp 27,5 miliar (tahun 2012), dan 
lain-lain. (Sumber: FITRA) 
  5.. Presiden SBY menghabiskan Rp 839 juta hanya untuk urusan bajunya. 
Sementara anggaran furniture Istana Negara mencapai Rp 42 miliar setiap 
tahunnya. Untuk penyusunan pidatonya saja, Presiden SBY pun harus menggerus 
dana APBN sebesar Rp1,9 milyar. Sedangkan untuk kebutuhan pengamanan pribadi, 
presiden SBY juga menggelontorkan uang APBN sebesar Rp52 milyar. (Sumber: 
FITRA) 
  6.. Setiap tahunnya pemerintahan SBY memboroskan anggaran sebesar Rp 300 
trilyun. Sebagian besar pemborosan itu terjadi untuk melayani pejabat, seperti 
pembiayaan baju seragam, biaya makan dan minum perjalanan dinas, dan fasilitas 
kebutuhan pejabat. (Sumber: FITRA) 
  7.. Berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), selama tujuh tahun 
kepemimpinan Presiden SBY, sedikitnya Rp 103 triliun uang negara disalahgunakan 
atau dikorupsi. (Sumber: FITRA). 
  8.. Tingkat kebocoran APBN masih sangat tinggi. Menurut FITRA, tiap tahun 
kebocoran APBN mencapai 30%. Artinya, jika total APBN mencapai Rp 1600 triliun, 
berarti ada Rp 320-an triliun uang negara yang menguap tidak jelas. 
  9.. Pada kenyataannya, pembengkakan pengeluaran APBN 2013 tidak hanya berasal 
dari faktor subsidi, tapi dimungkinkan pula oleh risiko fiskal yang membesar, 
pembayaran utang yang lebih banyak karena depresiasi rupiah, atau pos lainnya. 
  10.. Ketika subsidi BBM terus meningkat, penerimaan negara dari sektor migas 
juga meningkat. Pada tahun 2005, penerimaan migas baru mencapai Rp 138,9 
triliun. Lalu, pada tahun 2010 penerimaan menjadi Rp 220 triliun. Tahun 2012 
lalu, penerimaan migas mencapai 265,94 Triliun. 
  11.. Menurut Ahmad Erani Yustika, ekonom dari INDEF, selama kurun 2005 hingga 
2010, persentase subsidi energi terhadap penerimaan migas baru mencapai 64% 
(minyak sebesar 44% dan listrik 20%). Persentase yang sangat tinggi tercatat 
pada 2005 yang mencapai 75,2% dan 2008 sebesar 77,2%.
  Pemerintah menyatakan: subsidi BBM salah sasaran dan hanya dinikmati oleh 
segelintir kaum kaya. Menurut pemerintah, sekitar 70% subsidi BBM justru 
dinikmati kaum kaya.

Bantahannya:

  1.. Hasil kajian KEN menyatakan, subsidi BBM hanya dinikmati 12 persen 
masyarakat miskin (29 juta jiwa) dan 28 persen masyarakat rentan (70 juta 
jiwa). 60 persen subsidi BBM dinikmati kalangan mampu dan kaya (150 juta jiwa). 
Pertanyaannya: benarkah kalangan mampu dan kaya di Indonesia mencapai 150 juta 
jiwa? Apa ukuran KEN menyebut 150 juta jiwa Indonesia itu kaya dan mampu. 
  2.. Kajian dan penelitian ECONIT justru menemukan fakta berbeda. Menurut 
ECONIT, 65% BBM bersubsidi dinikmati oleh keluarga berpendapatan 4 USD (Dollar 
AS) ke bawah. Sementara sisanya dinikmati oleh keluarga berpendapatan 4 USD ke 
atas. 
  3.. Penelitian Fraksi PDI Perjuangan di DPR juga menemukan kesimpulan 
berbeda. Menurutnya, BBM bersubsidi dikonsumsi oleh sebanyak 64 persen 
kendaraan bermotor dan mobil sebanyak 36 persen. Kita tahu, motor bukan lagi 
barang mewah di Indonesia. Sudah begitu, banyak rakyat miskin menggantungkan 
hidup dari profesi sebagai tukang ojek. 
  4.. Selain itu, konsumen BBM bersubsidi bukan hanya sektor transportasi. 
Dalam Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2012 Tentang Harga Jual Eceran dan 
Konsumen Pengguna Jenis Bahan Bakar Tertentu, antara lain, disebutkan: pengguna 
BBM bersubsidi juga meliputi nelayan dan pembudi daya ikan skala kecil, usaha 
pertanian kecil dengan luas maksimal 2 hektar, usaha mikro (UMKM), dan 
pelayanan umum seperti krematorium. Artinya, jika BBM dinaikkan, sektor usaha 
kecil ini akan ambruk.
  Indonesia adalah negara yang kaya sumber energi. Kita punya cadangan minyak, 
gas, dan batubara yang melimpah. Lantas, kenapa negara ini seakan mengalami 
krisis energi?

  1.. Produksi minyak mentah siap jual (lifting) nasional terus menurun. 
Sebelum SBY berkuasa pada tahun 2004, lifting minyak masih berkisar 1,4 juta 
barel perhari. Namun, pada akhir 2011 lalu, produksi minyak Indonesia hanya 
905.000 barel perhari. Bahkan, pada tahun 2012 ini, produksi minyak cuma 
berkisar 890.000 barel perhari. 
  2.. Penyebab turunnya produksi minyak mentah Indonesia adalah produksi minyak 
Indonesia mengandalkan sumur-sumur tua dan kurangnya minat pemerintah untuk 
berinvestasi di sektor eksplorasi minyak. 
  3.. Indonesia sebetulnya masih punya cadangan minyak. Menurut Kurtubi, 
cadangan minyak kita masih berkisar 50 miliar hingga 80 miliar barel. 
Seharusnya, kata Kurtubi, Indonesia sanggup memproduksi minyak 1,5 juta barrel 
per hari. Akan tetapi, karena ketidakmampuan pemerintah, maka kemampuan kita 
hanya 890.000 barel per hari. 
  4.. Produksi minyak Indonesia sebagian besar dikuasai oleh produksi asing. 
Data Kementerian ESDM tahun 2009 menyebutkan, pertamina hanya hanya memproduksi 
13,8%. Sisanya dikuasai oleh swasta asing seperti Chevron (41%), Total E&P 
Indonesie (10%), Chonoco-Philips (3,6%) dan CNOOC (4,6%). Data ini tidak 
berbeda jauh dengan temuan Indonesian Re­sour­ce Studies (IRESS), bahwa 
Pertamina memproduksi hanya 15 persen dan 85 persen diproduksi oleh asing. 
  5.. Tata kelola migas saat ini, yang masih mengacu pada UU nomor 22 tahun 
2001 tentang Migas, sangat merugikan negara. Akibat UU migas yang sangat 
liberal itu, sebagian besar kekayaan migas Indonesia jatuh ke tangan korporasi 
asing. Sudah begitu, hasil produksinya pun dijual dengan harga murah ke luar 
negeri seperti dalam kasus gas (kasus LNG Tangguh). 
  6.. Selain itu, akibat tata kelola migas yang tidak benar, Indonesia juga 
dibebani oleh biaya cost recovery yang terus meningkat tiap tahunnya. 
Bayangkan, pemerintah setiap tahun harus membayar sekitar Rp 120 triliun hanya 
untuk cost recovery. 
  7.. Seharusnya, ketika harga minyak dan gas dunia naik, seharusnya perusahaan 
atau kontraktor migas di Indonesia menikmati rejeki nomplok berupa “windfall 
profit”. Sayangnya, pemerintah Indonesia belum berani memberlakukan windfall 
profit tax kepada korporasi atau kontraktor asing tersebut.
  Belakangan banyak pihak yang menuding, ada kepentingan asing di balik 
kenaikan harga BBM ini. Terutama untuk meliberalkan sektor hilir migas 
Indonesia.

  1.. Sejak tahun 2008, Organisasi Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) 
sudah “mengejar-ngejar” pemerintah Indonesia agar memastikan penghapusan 
subsidi BBM. Lalu, pada 1 November 2010, Sekjend OECD Angel Gurria menemui 
sejumlah Pejabat Tinggi Indonesia, termasuk Wapres Boediono dan Menkeu Agus 
Martowardoyo. Di situ, OECD berusaha menyakinkan pemerintah Indonesia agar 
segera menghapus subsidi BBM dan listrik hingga 2014. 
  2.. Dalam forum G-20 di Pittsburgh (2009) dan Gyeongju (2010), proposal 
penghapusan subdisi BBM makin gencar disuarakan. Di Pittsburgh, G20 memaksa 
negara anggotanya, termasuk Indonesia, segera menghapus subsidi BBM secara 
bertahap. Di Gyeongju, Korea Selatan, Pemerintah Indonesia menjanjikan akan 
melaksanakan penghapusan subdisi energi, khususnya BBM dan TDL, dimulai pada 
tahun 2011. 
  3.. Pada saat yang bersama, desakan serupa juga gencar dilakukan oleh lembaga 
seperti IMF, Bank Dunia, USAID dan ADB. Lembaga-lembaga tersebut memaksa 
pemerintah Indonesia segera menghapus subsidi energi paling lambat tahun 2014. 
Dengan demikian, terkait rencana penghapusan subsidi energi ini (BBM dan TDL), 
pemerintah Indonesia sudah dikejar jadwal. 
  4.. Kenaikan harga BBM ini merupakan desakan dari lembaga dan negara asing 
untuk mempercepat liberalisasi sektor hilir migas di Indonesia. Dengan 
demikian, pemain asing bisa turut bermain dalam bisnis BBM di Indonesa. 
  5.. Sejak tahun 2005 lalu, tiga perusahaan asing sudah menyiapkan kesiapannya 
untuk membangun stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di berbagai wilayah 
di Indonesia. Ketiganya adalah Shell (milik Inggris dan Belanda), Petronas 
(Malaysia), dan Total (Prancis). Pada tahun 2006, Dirjen Migas ESDM sudah 
mencatat, setidaknya 25% perusahaan swasta (lokal dan asing) sudah mendapat 
ijin prinsip ataupun ijin usaha untuk terlibat bisnis BBM. 
  6.. Dua pemain asing utama, Shell dan Petronas, berencana membangun ratusan 
SPBU untuk menyambut potensi bisnis BBM itu: Shell berencana membangun 400 SPBU 
dan Petronas akan membangun 500 SPBU. Sejumlah perusahaan swasta lokal juga 
sudah merintis usaha yang sama. 
  7.. Pada kenyataannya, menurut Institute For Global Justice (IGJ), sebanyak 
176 negara di dunia masih memberikan subsidi energi. Diantara negara itu: 
Amerika Serikat sebesar $502 billion, China sebesar $279 billion, dan Russia 
sebesar $116 billion. Subsidi BBM di negara maju ini terkait erat dengan 
kebijakan industri dan perdagangan mereka. 
  8.. Negara-negara kaya energi lainnya berhasil membuat harga jual BBM mereka 
sangat rendah: Venezuela (0,08 USD/Rp.774), Mesir (0,09 USD/Rp.871), Saudi 
Arabia (0,10 USD/Rp 968), Qatar (0,12 USD/Rp 1,161), Bahrain (0,15 USD/Rp 
1,452), Libya (0,15 USD/Rp 1,452), Turkmenistan (0,17 USD/Rp 1,645), Kuwait 
(0,17 USD/Rp 1,645), Aljazair (0,17 USD/Rp 1,645), dan Iran (0,21 USD/Rp 2,032).
  Pemerintah mengklaim, kenaikan harga BBM akan menguntungkan rakyat. 
Sayangnya, pemerintah tidak bisa menjelaskan argumentasi itu lebih jauh. Pada 
kenyatannya, kenaikan harga BBM justru akan menyengsarakan rakyat.

  1.. Kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan harga barang, termasuk kebutuhan 
pokok. Selanjut, kenaikan harga barang ini akan memicu kenaikan biaya hidup 
lainnya, seperti sewa kontrakan. 
  2.. Kenaikan harga BBM akan mendorong kenaikan tarif angkutan umum dan alat 
transportasi lainnya. Akibatnya, pengeluaran rakyat untuk urusan transportasi 
akan meningkat, seperti ongkos bepergian, transportasi berangkat ke tempat 
kerja, dan ongkos transportasi anak bersekolah. 
  3.. Kenaikan harga BBM akan membebani industri berupa kenaikan biaya 
produksi. Tentu saja, untuk mengimbanginya, pengusaha akan melakukan efisiensi. 
Pilihannya: mereka akan memangkas kesejahteraan buruh atau mengurangi jumlah 
pekerja. Dengan demikian, kenaikan harga BBM akan memicu penurunan 
kesejahteraan dan gelombang PHK. 
  4.. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), yang jumlahnya  mencapai 99,9% 
dari keseluruhan pelaku usaha di Indonesia, akan terkena dampak kenaikan harga 
BBM. Kenaikan harga BBM jelas membuat biaya produksi UMKM yang menggunakan BBM 
akan meningkat. Selain itu, biaya transportasi dan distribusi barang juga akan 
meningkat.
  Pemerintah berdalih, dampak kenaikan harga BBM bisa ditekan dengan pemberian 
dana bantuan langsung kepada rakyat miskin. Benarkah?

  1.. Kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan harga barang dan biaya hidup 
rakyat. Artinya, daya beli rakyat akan merosot. Majelis Pekerja Buruh Indonesia 
(MPBI) memperkirakan, kenaikan harga BBM akan menyebabkan daya beli buruh akan 
menurun hingga 30 persen. Pengamat ekonomi, Yanuar Rizky, menambahkan kenaikan 
harga BBM tidak hanya memukul kelompok masyarakat bawah, tetapi juga kelompok 
menengah tengah. Bahkan, sekitar 90 persen masyarakat Indonesia akan menurun 
daya belinya. 
  2.. Data menunjukkan tenaga kerja yang betul-betul dianggap bekerja penuh 
(minimal 35 jam/minggu) hanya sekitar 70%, sedangkan sisanya adalah setengah 
penganggur dan penganggur terbuka. Lebih dramatis lagi, mereka yang dianggap 
bekerja penuh ternyata 65% bekerja di sektor informal dan hanya 35% bekerja di 
sektor formal (BPS, 2011). Artinya, mereka ini sangat rentan terkena dampak 
kenaikan harga BBM dan merosot tingkat kesejahteraannya. 
  3.. Belajar dari pengalaman Bantuan Langsung Tunai (BLT), sebagian besar 
warga miskin menggunakan dana BLT untuk konsumsi selama beberapa hari saja. 
Padahal, dampak kenaikan harga BBM berjangka panjang dan berdimensi luas. 
  4.. Kenyataan juga menunjukkan, bahwa pada awal 2006 (setahun setelah 
kenaikan harga BBM) jumlah orang miskin melonjak menjadi 39,05 juta (17,75%). 
Artinya, program BLT saat itu tidak berhasil menekan dampak kenaikan harga BBM. 
  5.. BLT tidak membuat rakyat produktif dan mandiri. Artinya, sekalipun rakyat 
diberi BLT, tidak ada peluang mereka untuk keluar dari kemiskinan. Sebab, 
mereka tetap tidak punya pekerjaan dan tidak punya akses terhadap alat 
produksi. 
  6.. Sasaran penerima BLT ini sangat sedikit dan tidak menjangkau seluruh 
rakyat yang terkena dampak kenaikan harga BBM. Pada tahun 2005, ketika SBY 
menaikkan harga BBM dua kali, jumlah penerima BLT hanya 19,1 juta keluarga. 
Sementara pada tahun 2012, jumlah penerima BLSM hanya sekitar 18,2 juta 
keluarga. 
  7.. sebagian besar dana program dana BLT ini dapat melalui pinjaman luar 
negeri dengan bunga tinggi. Dengan demikian, program ini tidak lebih sebagai 
strategi kapital untuk mendorong permintaan dengan utang-konsumsi. 
  8.. Lebih jauh lagi, program BLT hanya melahirkan klientalisme. Masalahnya, 
seperti dalam kasus pemilu 2009, BLT dijadikan alat kampanye politik dan 
dibagikan menjelang hari pemilihan.
  Menurut Menteri ESDM, kenaikan harga BBM adalah keinginan masyarakat. Menteri 
dari Partai Demokrat ini mengklaim menerima masukan dari banyak kelompok 
masyarakat.

Faktanya:

  1.. Menteri ESDM Jero Wacik tida bisa menunjukkan kelompok masyarakat yang 
mana yang menginginkan kenaikan harga BBM. Selain itu, Jero Wacik juga tidak 
bisa membuktikan bahwa aspirasi kelompok masyarakat dimaksud mewakili 
kepentingan seluruh rakyat Indonesia. 
  2.. Sejak isu kenaikan harga BBM muncul, hampir setiap hari terjadi aksi 
demonstrasi menolak kenaikan harga BBM di berbagai tempat di seluruh Indonesia. 
Sebaliknya, kita belum pernah menyaksikan adanya aksi demonstrasi mendukung 
kenaikan harga BBM. 
  3.. Mekanisme terbaik untuk menentukan apakah rakyat setuju atau tidak dengan 
kenaikan harga BBM adalah referendum. Kita menantang SBY dan kroninya untuk 
menggelar referendum guna membuktikan apakah rakyat setuju atau menolak 
kenaikan harga BBM.
Kusno, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Artikel Terkait:

Sumber Artikel: 
http://www.berdikarionline.com/opini/20130501/45-fakta-kebohongan-sby-di-balik-kenaikan-harga-bbm.html#ixzz2T9ZydzDp
 
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke