Pemerasan Kapitalis atas buruh Tiongkok yang disahkan oleh "Sosialisme berciri 
Tiongkok" apakah bukan perbudakan? Jawabnya mudah saja. Itulah perbudakan yang 
semurni murninya dengan dalih apapun perbudakan itu akan dibela. Pemerasan 
tenaga manusia oleh manusia lainnya adalah jantung hati perbudakan, adalah 
sinonim yang paling jitu dari perbudakan. Tak usah kita kupas hal yang sudah 
terang benderng disiang bolong itu. Dan mengapa hati nurani kita  tidak juga 
tergores dan bahkan dengan antusias membela kaum kapitalis pemeras sebagai tuan 
budak dan menganggapnya berjasa terhadap"perekomian Sosialis Tiongkok". 
Berapakah jumlah mereka yang di perbudak ini di Tiongkok sekarang ini? Dari 
penduduk Tiongkok yang 1.3 milyard itu?. Tak seorangpun yang akan terkjut bila 
jumlah budak di Tiongkok diumumkan. Jantung kita telah terbiasa dengan 
penderitaan dan penghinaan terhadap kaum budak. Jaman Mayakovsky, sang penyair 
memperingatkan: "jangan jamah Tiongkok!"Apakah peringatan Mayakovsky masih 
berlaku hingga sekarang? "jangan usik perbudakan!" Perbudakan itu halal bila 
untuk membangun "Sosialisme berciri Tiongkok". Ini sudah bukan lagi ironi tapi 
sudah benar-benar air seni dalam gelas kita. Siap diantukkan dan diminum untuk 
mengucapkan selamat. "Kan chen!". pada perbudakan.
ASAHAN.




From: John Piry 
  To: [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] 
  Sent: Thursday, October 17, 2013 9:50 PM
  Subject: WG: [temu_eropa] Gawat, 200.000 Orang Jadi Budak di Indonesia!




  ----- Weitergeleitete Message -----
  Von: awind <[email protected]>
  An: [email protected] 
  Gesendet: 21:06 Donnerstag, 17.Oktober 2013
  Betreff: [temu_eropa] Gawat, 200.000 Orang Jadi Budak di Indonesia!

    
  
http://nasional.kompas.com/read/2013/10/17/1955362/Gawat.200.000.Orang.Jadi.Budak.di.Indonesia.?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Ktswp

  Gawat, 200.000 Orang Jadi Budak di Indonesia!
  a.. Kamis, 17 Oktober 2013 | 19:55 WIB

  Ilustrasi: Perbudakan | Legatum Foundation

  8
  Catatan Kaki Jodhi Yudono

  Inilah fakta terbaru yang dikirim seorang kawan yang membuat saya miris pada 
Kamis siang tadi. Sebuah laporan tahunan yang diterbitkan oleh Walk Free 
Foundation pada Kamis (17/10) di Chatham House, London, menyebutkan, Global 
Slavery Index mengungkap bahwa lebih dari 200.000 orang hidup di bawah 
perbudakan di Indonesia!

  Walk Free Foundation sendiri adalah sebuah organisasi global dengan misi 
untuk mengakhiri perbudakan modern di generasi kita dengan memobilisasi gerakan 
aktivis global, menghasilkan penelitian berkualitas tinggi, mendatangkan 
bantuan bisnis dan meningkatkan tingkat modal untuk mendorong terjadinya 
perubahan di negara-negara dan industri yang paling bertanggung jawab atas 
perbudakan modern saat ini.

  Caranya, dengan mengidentifikasi negara dan industri yang paling bertanggung 
jawab atas perbudakaan modern; mengidentifikasi dan melaksanakan intervensi 
bersama para mitra di negara-negara dan industri yang memiliki dampak terbesar 
pada perbudakan modern; dan 
  Menilai dampak kita secara kritis.

  Laporan tersebut menyebut, Asia telah menjadi tempat tinggal bagi hampir tiga 
perempat masyarakat dunia yang hidup diperbudak. Index yang diterbitkan setiap 
tahun ini, adalah laporan pertama yang memberikan pengukuran paling akurat dan 
komprehensif mengenai 
  tingkat dan risiko perbudakan modern, dan dilihat negara per negara.

  Index memperkirakan bahwa terdapat lebih dari 21 juta orang yang diperbudak 
di Asia, atau lebih dari 72% dari total 29,8 juta orang yang diperbudak di 
seluruh dunia. Indonesia memiliki jumlah penduduk diperbudak terbesar ke-16 di 
dunia, namun berada di peringkat 114 dari 162 negara jika dilihat dalam hal 
proporsi penduduk di perbudakan modern. Indeks ini, juga membuat rekomendasi 
bagi para pembuat kebijakan di Indonesia dan seluruh dunia.

  Sebagai sebuah penelitian, index tersebut mengungkap fakta, betapa warga 
Negara Indonesia yang bekerja di luar negeri, khususnya di kawasan Timur Tengah 
dan Asia-Pacific, telah dieksploitasi secara seksual, dipekerjakan secara 
paksa, baik dalam bidang rumah tangga, 
  konstruksi, perikanan dan perhotelan.

  Sementara yang berada di Indonesia, jeratan hutang adalah praktik umum yang 
digunakan untuk memperbudak masyarakat di berbagai sektor, dengan praktek kerja 
paksa dan pekerja anak dibawah umur ditemukan di dalam industri kelapa sawit.

  Hebatnya lagi, empat negara di Asia Tenggara muncul di dua puluh besar 
teratas negara dengan jumlah penduduk diperbudak terbanyak, dengan Thailand di 
peringkat ke-7, Myanmar ke-9, Vietnam ke-15, dan Indonesia ke-16. Thailand 
tetap menjadi pusat eksploitasi bersama 
  dengan Myanmar, Laos dan Kamboja yang memiliki risiko perbudakan tertinggi di 
kawasan tersebut.

  Global Slavery Index juga memperkirakan ada lebih dari 29 juta orang yang 
hidup dalam kondisi perbudakan modern di seluruh dunia. Mauritania menempat 
peringkat pertama menurut Index, dengan estimasi proporsi penduduk diperbudak 
tertinggi dibandingkan negara lain di seluruh dunia. Negara Afrika Barat 
tersebut, dengan sistem perbudakan turun temurun yang telah mengakar, 
diperkirakan memiliki sekitar 150.000 budak dengan total populasi hanya 3,8 
juta. Haiti, sebuah negara di kawasan Karibia di mana perbudakan anak juga 
marak terjadi, 
  menempati posisi kedua dengan Pakistan berada satu posisi dibawahnya.

  Nick Grono, CEO dari Walk Free Foundation mengungkapkan, "Alangkah 
menyenangkan untuk berpikir bahwa perbudakan merupakan peninggalan sejarah, 
namun kenyataannya perbudakan telah meninggalkan luka mendalam pada kemanusiaan 
di setiap benua. Ini memang indeks perbudakan pertama namun telah dapat 
membentuk suatu upaya baik nasional maupun global untuk membasmi perbudakan 
modern di seluruh dunia. Kita sekarang tahu bahwa terdapat sepuluh negara yang 
menjadi tempat tinggal bagi lebih dari tiga perempat jumlah manusia yang hidup 
di bawah perbudakan modern. Negara-negara ini harus menjadi fokus utama upaya 
global."

  Profesor Kevin Bales, peneliti utama Global Slavery Index juga menambahkan, 
"Kebanyakan pemerintah negara tidak menggali lebih dalam ke masalah perbudakan 
karena alasan yang buruk. Memang ada beberapa pengecualian, namun banyak 
pemerintah negara yang tidak ingin tahu mengenai warganya yang tidak dapat 
memilih, hidup tersembunyi dan juga cenderung ilegal. Hukumnya memang ada, tapi 
alat dan sumber daya serta keinginan politik sangat kurang. Dan karena para 
budak tersembunyi ini sulit dihitung, mudah bagi pemerintah untuk berpura-pura 
bahwa mereka tidak ada. Index ini bertujuan mengubah semua itu."

  Maka tak heran kiranya, jika berpuluh atau beratus nyawa melayang akibat dari 
perbudakan ini, pemerintah terkesan cuci tangan. Padahal, bisa jadi, perbudakan 
di zaman modern ini berlangsung dari abainya pemerintah terhadap urusan 
rakyatnya sendiri.

  Ironis benar situasi ini. Di kala peradaban dunia telah sedemikian hebatnya 
mengedepankan hak asasi manusia (HAM), pada saat yang bersamaan sebagaian 
manusia masih dikuasai oleh manusia lain, seperti yang terjadi ribuan tahun 
lalu saat manusia mulai mengenal
  pertanian, sekitar 10.000 tahun yang lalu. Awalnya, para budak terdiri dari 
penjahat atau orang-orang yang tidak bisa membayar hutang. Ketika terjadi 
peperangan, kaum yang kalah juga diperlakukan sebagai budak oleh kaum yang 
menang.

  Sejarah mencatat, perbudakan pertama-tama diketahui terjadi di masyarakat 
Mesopotamia (Sumeria, Babilonia, Asiria, Chaldea). Perekonomian kota yang 
pertama berkembang di sana, dilandaskan pada teknologi pertanian yang berkiblat 
pada kuil-kuil, imam, lumbung, 
  dan para juru tulis. 

  Perbudakan pun terjadi di masyarakat Mesir, India, Yunani, Romawi, Cina, dan 
Amerika. Perbudakan berkembang, seiring dengan perkembangan perdagangan dan 
industri. Permintaan budak meningkat untuk menghasilkan barang-barang keperluan 
ekspor. Kebanyakan orang 
  kuno berpendapat bahwa perbudakan merupakan keadaan alam yang wajar, yang 
dapat terjadi terhadap siapapun dan kapanpun. Berbagai cara ditempuh seperti 
menaklukan bangsa lain lalu menjadikan mereka sebagai budak, atau membeli dari 
para pedagang budak.

  Nasib serupa dialami bangsa Melanesia yang secara fisik mirip dengan bangsa 
Afrika, yaitu berkulit hitam dan berambut keriting. Wilayah huniannya 
membentang dari Thailand, Filipina, Malaysia, Indonesia, New Guinea, Australia, 
Timor, dan kepulauan Micronesia. Bangsa Melanesia sebelumnya terdorong ke 
pedalaman oleh migrasi bangsa proto-Malay dari Dataran Yunnan (Cina Selatan). 
Kedatangan bangsa Eropa selain menjajah bangsa proto-Malay, banyak pula suku 
bangsa Melanesia di Filipina, Papua New Guinea, Merauke, Fiji dan sekitarnya 
yang 
  dibawa dengan paksa. Mereka dapat diambil di hutan rimba wilayah Melanesia. 
Hasil perburuan manusia di wilayah Melanesia telah sangat menguntungkan 
Australia dan Belanda. (Melanesia: A Nation in a Coffin. by S. Karoba. 
http://www.westpapua.org.uk/, January 2000).

  ***

  Di tahun 2013 ini, perbudakan modern telah memiliki berbagai bentuk, dan 
dikenal dengan banyak nama. Baik disebut perdagangan manusia, kerja paksa, 
perbudakan atau praktik-praktik mirip perbudakan (sebuah kategori yang mencakup 
jeratan hutang, pernikahan paksa, penjualan atau eksploitasi anak termasuk 
dalam konflik bersenjata), korban dari perbudakan modern memiliki kebebasan 
hidup mereka ditolak, dan digunakan dan dikendakikan dan dimanfaatkan orang 
lain untuk keuntungan, seks, atau bahkan sensasi dominasi.

  Perkiraan prevalensi perbudakan modern adalah ukuran gabungan dari tiga 
faktor; perkiraan prevalensi perbudakan modern dari populasi, pengukuran 
pernikahan dibawah umur dan data dari perdagangan manusia yang masuk dan keluar 
dari suatu negara. Ketiga faktor ini jika
  digabungkan dapat menghasilkan gambaran global yang rinci mengenai jumlah 
orang yang hidup dibawah perbudakan saat ini.

  Index juga mengidentifikasi faktor-faktor yang menyoroti resiko perbudakan 
modern di setiap negara dan meneliti kekuatan respon pemerintah menangani 
masalah ini untuk 20 negara teratas dan terbawah dalam peringkat indeks. Index 
mengkaji prioritas yang diberikan dalam membasmi perbudakan modern, metode yang 
digunkan untuk mengatasi masalah tersebut, dan bagaimana upaya tersebut dapat 
ditingkatkan untuk setiap negara.

  Global Slavery Index diciptakan melalui konsultasi dengan sebuah panel pakar 
internasional dari berbagai organisasi, think thank dan lembaga akademis 
internasional. Index ini telah disetujui oleh sejumlah tokoh seperti Mantan 
Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, Mantan Perdana Menteri Tony Blair, Gordon 
Brown dan Julia Gillard, dan para dermawan terkemuka seperti Bill Gates, Sir 
Richard Branson dan Mo Ibrahim, serta para akademisi, pemimpin bisnis dan 
pembuat kebijakan. Laporan Global Slavery Index dapat ditemukan di 
www.globalslaveryindex.org

  @JodhiY 
  Editor : Jodhi Yudono 
  Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: 
  Catatan Kaki Jodhi Yudono 

  [Non-text portions of this message have been removed]


  

Kirim email ke