Kalau satu pihak bersikap "tidak saling menyerang"(santun) sedangkan pihak lawan terus melakukan ofensif agressif, maka jamak perimbangan kekuatan akan memberat di pihak yang ofensif agressif. Harus disedari demokrasi yang berjalan di Indonesia sekarang ini adalah Demokrasi borjuis, demokrasi Neoliberal. Di negeri-negeri Barat yang menjalankan demokrasi ini dalam setiap kampanye Pemilu saling tunjuk berhadap-hadapan muka dan "sopan santun" bukan lagi strategi -taktik meskipun tetap fatsoenlijk. Prabowo nampaknya mengerti inti demokrasi Barat dan juga sesuai dengan temperament (penyakit?) pribadinya: selalu agressif meskipun juga terkadang bisa juga diplomatis.Dia menyanjung politik ekonomi Jokowi yang diberi merek Ekonomi Kreatif. Tapi dalam pada itu dia begitu beraninya menjanjikan hal yang muluk muluk pada kaum tani yang itu kedengarannya lebih mudah dimengerti rakyat yang bisa menimbulkan kesan spontan sebagai"lebih simpatik". Meskipun Ekonomi Kreatif lebih berbobot tapi "Ekonomi Kerakyatan" Prabowo lebih terdengar "merakyat". Tidak semua rakyat mengerti apa itu KREATIF. Jadi kesannya Prabowo lebih "merakyat"dalam penggunaan bahasa(istilah) sedangkan Jokowi lebih "moderen"dengan menggunakan istilah asing.
Dan juga harus diingat bahwa rakyat Jakarta yang secara psikologis merasa "ditinggalkan" atau "diabaikan"begitu saja oleh Jokowi, memerlukan perhatian khusus dalam inrtenssitas kampanye. Nampaknya Jokowi kurang perhatian terhadap efek psikologis sedangkan Prabowo lebih terasa mengindahkannya. Dalam pakaian kampanye saja dia meniru "seragam" bung Karno dan berpeci. Tapi Jokowi ber-jas komplit yang memang nampaknya lebih gagah, lebih elegant. Namun efek Prabowo akan lebih diperhatikan rakyat karna dia mengingatkan akan cara berpakaian bung Karno. Soal presentasi dalam kampanye, juga tidak bisa diabaikan. Demokrasi Barat selalu meperhatikan bentuk luar, apa yang nampak di depan mata, barulah isinya.Rakyat Indonesia masih terbiasa dengan demokrasi Barat meskipun mencita-citakan demokrasi rakyat di masa depan. Pepatah Nusantara mengatakan: "Kalah sabung , menang kokok".Dan itu berlaku juga di Barat. Hal lain Jokowi kurang (tidak?) berani menggunakan taktik ofensifnya dengan meng-exploitasi dokumen-dokumen terbaru tentang pemecatan Prabowo .Meskipun hal itu dilakukan oleh opini di luar kampanye, tapi rakyat bisa bertanya-tanya: apa pendapat Jokowi yang ingin mereka dengar dari mulut Jokowi sendiri. Masih tiga minggu lagi. Masih banyak yang masih bisa direparasi. Pertanyaan: Apakah defenssif santun Jokowi dalam kampanye Pemilu sekarang ini bisa menjamin kemenangan? ASAHAN. ----- Original Message ----- From: Salim Said To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; Ahmad Syafii Maarif ; Achmad Sucipto, Admiral ; Syafiuddin Makka ; Anwar Nasution,Prof. ; hamid awaludin ; Bismo Gondokusumo ; Bahtiar Effendy ; Muhammad Basri ; Zainal Bintang ; Budiarman Bahar, MA ; [email protected] ; chappy hakim ; Dr. Yuddi Chrisnandi ; Christianto Wibisono ; Dr.Priyono Chpto Heriyono ; Djoko Rahardjo ; dinsyamsuddin ; Effendi gazali ; Erry Ryana Harjapamekas ; Sinansari Ecip ; Fadli Zon ; Fahmi Idris ; ferry baldan ; Dewi Fortuna Anwar ; Ganjar Pranowo ; halim perdanakusuma ; [email protected] ; Jayadi Hanan ; [email protected] ; Ichsan Loulembah ; Institut Peradaban ; [email protected] ; [email protected] ; B.J Habibie ; Fahrul Razi Jenderal ; Farid Prawiranegara ; Farouk Muhammad. ; [email protected] Sent: Tuesday, June 17, 2014 3:43 AM Subject: Fwd: [alumnas-OOT] elektabilitas Jokowi tergerus ---------- Forwarded message ---------- From: rudy setyopurnomo [email protected] [alumnas-OOT] <[email protected]> Date: 2014-06-16 16:42 GMT+07:00 Subject: [alumnas-OOT] elektabilitas Jokowi tergerus To: "[email protected]>" <[email protected]> 23 Hari Menuju Pemilu Presiden Survei Terbaru a.. , Ini Hasil Survei LSI Denny JA Soal Efek Masa Lalu Prabowo di Pilpres b.. , LSI Denny JA: Peluang Prabowo vs Jokowi Sama Besar a.. Ketua KPU: Hasil Pileg Ditetapkan Jumat 9 Mei Pukul 19.30 WIB b.. Sama-sama Berbaju Putih Jokowi Bertemu JK, Sinyal Kuat Bakal Duet? c.. PDIP, PKB dan NasDem Deal, PPP Menyusul? d.. Misteri Kemeja Putih Jokowi e.. SDA: Saya Harap DPW-DPW PPP Juga Dukung Prabowo f.. PKB: Cawapres Kami Serahkan ke Ibu Mega dan Jokowi g.. Baliho Gus Dur 'Saya Saja Dikhianati, Apalagi Sampeyan' Diturunkan h.. Manuver Akbar Tandjung Bikin Gerah Internal DPP Golkar i.. Puan Temui Hatta, Ical: Saya Komunikasi dengan SBY dan Mega j.. Tim Sukses Arahkan Prabowo-Hatta Tak Serang Jokowi-JK Saat Debat k.. Tertinggi di Indonesia, 3 Bulan Penjara untuk Pelaku Pidana Pileg 2014 l.. Tim Sukses: Dari 6 Segmen, Skor 4-2 untuk Prabowo-Hatta m.. KPU akan Evaluasi Moderator dan Materi Debat Capres n.. Puan Maharani Membantah JK Lebih Dominan dari Jokowi o.. Wiranto akan Temui Mega di Teuku Umar Hari Ini Jam 11 p.. PKS Deklarasi Dukung Prabowo Jam 12 Siang Ini q.. Rachma Akan Membalas Kunjungan Prabowo ke Hambalang r.. PKB 'Bujuk' Ketum PBNU Dukung Jokowi s.. Jawaban Teka-teki 'Jumat Suci' Jokowi Jatuh Hari Ini? t.. Golkar: KPU Harus Tetapkan Hasil Pileg 9 Mei temukan tps mu wong cilik indeks Jumat, 13/06/2014 16:13 WIB Wong Cilik Senin, 16/06/2014 16:23 WIB Di Depan Timses dan Relawan, Jokowi: Elektabilitas Kita di Jakarta Turun Terus Mulya Nurbilkis - detikNews Pertemuan Jokowi dengan timses dan relawan Hasil Pemilu 2014 Mengejutkan Jakarta - Capres nomor urut 2 Joko Widodo mengadakan rapat koordinasi dengan kader partai koalisinya yakni PKB, NasDem dan Hanura, dan para relawan. Dalam rapat tersebut, dia menyinggung survei yang menyatakan elektabilitasnya menurun di Jakarta. "Hasil survei kita untuk Jakarta, kita pada hari-hari terakhir memang kalah. Saya sendiri juga kaget, di bawah saya nggak tahu. Kita lihat sebelum saya pencapresan masih 74 persen, tapi turun terus," kata Jokowi dalam pertemuan di posko Relawan di Jalan Borobudur, Jakarta Selatan, Senin (16/6/2014). Dalam pertemuan tersebut hadir Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Boy Sadikin, Prasetyo Edi Marsudi, dan kader partai koalisi lainnya. Jokowi mengaku elektabilitas tersebut turun karena banyaknya kampanye hitam yang belakangan menyerangnya. "Tergerus isu yang mungkin mulai masuk ke bawah," lanjutnya. Karena itu, ia meminta mesin partai koalisi bergerak untuk menghalau isu yang beredar. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
