Tatiana yang baik, dunia sudah berubah, Indonesia juga sedang berubah. Sekarang bukan lagi era bung Karno dan juga bukan sepenuhnya era suhartO. Orang revolusioner Indonesia belum lahir kembali, rakyat belum siap untuk berevolusi, kaum kiri Indonnesia tidak benar-benar kiri, tidak ada Partai Komunis kecuali para angkatan tua penggemar PKI lama yang salah jalan dan yang masih hidup semakin konservativ dan bahkan menjadi reaksioner, golongan anti Komunis justru lebih banyak yang dari bekas-bekas Komunis, bekas-bekas PKI lama (51/65). lantas akan dibawa kemana Indonesia sekarang ini? Kapitalisme beneran juga tidak, Sosialisme juga tidak sedangkan rakyat sebagian terbesarnya masih menderita, masih kelaparan, masih terhisap, masih tertindas dan tidak ada yang memimpin mereka, tidak ada yang menggerakkan mereka berjuang, tidak ada yang menyedarkan politik mereka agar meningkat dan punya semangat revolusioner. Salah siapakah semua ini? sudah tentu salah kita semua, salahmu dan salah saya juga karna kita belum cukup kemampuan atau sama sekali tidak mampu melakukan hal itu.Lalu yang harus kita perbuat sekarang ini sangat tidak banyak atau bahkan tidak ada kecuali bicara dan menulis. Kamu menulis buku, Itu bagus. Saya juga menulis buku tapi belum bagus. Tapi bagus atau belum bagus, kita cuma berbuat yang kecil saja dan kita tidak punya mesin penggerak: PARTAI PELOPOR. Dan sebelum kita mempunyai Partai Pelopor, Partai Rakyat yang bisa dipercaya dan setia serta berkemampuan tinggi, kita tidak semestinya menolak apa saja yang sedikit saja menguntungkan rakyat dalam syarat Indonesia sekarang ini. Kalau hal itu kita lakukan, kita akan menjadi penganggur "revolusioner" dan hanya bisa melontarkan hal yang paling buruk terhadap titik-titik positip yang dilakukan oleh sebuah Pemerintahan yang lebih baik dari sebelumnya, lebih memperhatikan kepentingan rakyat dari sebelumnya, lebih ber-orientasi kepada rakyat dari Pemerintahan yang sebelumnya. Kita akanmenjadi buta dan tuli dan kehilangan kepekaan terhadap sesuatu yang akan menguntungkan rakyat meskipun belum sepenuhnya memenuhi tuntutan rakyat.Jika begitu kita akan berada di luar gelanggang sama sekali di luar daerah di mana rakyat sedang hidup dan berjuang untuk hidup, kita hanya menjadi penonton jail terhadap ide-ide positip yang sedang dilaksanakan penguasa yang punya keinginan baik terhadap rakyat, bahkan kita bisa menjadi reaksioner di tengah kaum reaksioner lainnya yang menyuarakan suara yang sama dengan mereka. Dan ahirnya kita akan terpencil dari rakyat, terpencil dari gerakan revolusioner yang akan datang. Terlalu pagi untuk meramalkan Indonesia sekarang akan menempuh jalan persis seperti yang dilakukanTiongkok sekarang.Indonesia, bagaimanapun ada dibawah kontrol rakyat,kontrol sosial, kontrol banyak Partai dan tidak hanya dikontrol satu Partai berkuasa seperti di Tongkok. Pelajarilah demokrasi yang sedang berlaku di Indonesia sekarang meskpun itu adalah demokrasinya borjuis. Rakyat bertambah cerdas menggunakannya apa yang masih bisa mereka pegunakan dalam demokrasi borjuis. Kita tidak semestinya selalu a priory terhadap semua demokrasi borjuis yang sedang berlaku sekarang ini di Indonesia.Kontrol rakyat,, kontrol sosial, juga harus kita nilai, kita perhitungkan karna rakyat Indonesia sudah lebih cerdas, lebih dinamis dan juga lebih kritis. Cobalah pikirkn sekali lagi, apakah suara-suara oposisi dari sementara kaum kiri atau elemen-elemen progresif yang goyang terhadap Pemerintahan Jokowi sekarang ini tidak berbeda dengan suara oposisi kaum borjuis reaksioner? Saya punya kesan sudah tidak ada bedanya. Dua pihak yang "bertentangan" ini punya suara yang sama, tuduhan yang sama terhadap kebijaksanaan positip memihak rakyat dari Pemerintah Jokowi sekarang ini; "ANTRK-ANTEK ASING", "PENJUAL INDONESIA". ANTEK IMPERIALIS" , "BUDAK AMERIKA","PENJUAL TRISAKTI" dsb,dsb, dsb...Ideologi sesat dari sementara kaum kiri dan kaum progressif menjadi padu dengan kaum munafik borjuis reaksioner Indonesia. Pikirknlah sekali lagi kenyataan aneh yang tidak seharusnya terjadi sekarang ini. ASAHAN.
----- Original Message ----- From: Tatiana Lukman [email protected] [sastra-pembebasan] To: Temu Eropa ; Sastra Pembebasan Sent: Friday, November 21, 2014 2:19 PM Subject: #sastra-pembebasan# Masih percaya kerjasama dengan imperialisme! TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengaku meminta bantuan kepada negara amerika untuk menjalankan program yang telah disusun kementeriannya. Hal tersebut diutarakan Susi usai bertemu Kedubes Amerika Robert O Blake. "Kita meminta bantuan Amerika. Kerja sama ini sudah terjalin sebelumnya, namun kita tingkatkan dan rekatkan kerja sama dalam perikanan dan kelautan," ujar Susi di Gedung Mina Bahari 1 Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kamis (6/11/2014). Kerja sama yang dibangun, ungkap Susi, mengenai eksplorasi hasil laut dengan mempertimbangkan efek berkelanjutan. Selama ini industri perikanan tidak terlalu mempertimbangkan efek berkelanjutan dalam eksplorasinya. "Kita kerja sama menerapkan pola fishing industri yang tadinya tidak berkelanjutan menjadi berkelanjutan, karena hal itu sangat penting untuk masa depan industri perikanan," ujar Susi. Pengusaha di bidang perikanan dan pesawat carter tersebut yakin kerjasama yang dibangun dengan Amerika dan sejumlah negara lainnya akan berjalan dengan intensif. Pasalnya, laut Indonesia yang kaya dan luas punya peran penting bagi sejumlah negara maju. "Saya yakin hubungan dari semua negara sangat diperlukan, seperti sebelumnya dengan kedutaan besar dari Norwegia dan dari 6 negara sudah datang, dan sekarang Amerika, dan saya yakin semua negara di dunia, punya kepentingan sama atas laut indonesia," ujar Susi. Terkait #Susi Pudjiastuti Tambang sudah dikuasai, hutan juga sudah, rupanya masih belum cukup! Sekarang diundang untuk mengeruk kekayaan laut Indonesia! Dasar mentalitas antek imperialis! dimana kedaulatan ekonomi dan politiknya? Kok nggak kedengaran lagi penerapan Trisakti Sukarno?
