From: mailto:[email protected] 
Sent: Friday, May 8, 2015 8:15 PM
To: Sastra Pembebasan ; DISKUSI FORUM HLD ; Temu Eropa 
Subject: Re: #sastra-pembebasan# Jawaban kepada Bayu Gautama

  

  Terlepas dari sependapat atau tidak sependapat dengan Tatiana, tapi 
berpolemik dengan Tatiana harus menggunakan argumentasi yang kuat. Kekuatan 
Tatiana adalah pada argumentasinya.Mereka yang kurang biasa menggunakan 
argumentasi sebagai senjata adu otak, sangat sulit berhadapan dengan Tatiana. 
Hanya boikot yang bisa menahan Tatiana.Tidak semua hal saya sependapat dengan 
Tatiana, tapi saya selalu respek pada kecerdasan Tatiana.Dia selalau 
menggunakan otaknya dan bukan emosinya dalam berpolemik.
  ASAHAN.

From: mailto:[email protected] 
Sent: Friday, May 8, 2015 6:57 PM
To: Sastra Pembebasan ; DISKUSI FORUM HLD ; Temu Eropa 
Subject: #sastra-pembebasan# Jawaban kepada Bayu Gautama

  



Bung Bayu Gautama,
Pertama-tama saya minta maaf, baru sekarang  dapat menjawab interpretasi  dan 
ketidak senangan bung terhadap pendapat saya :  INILAH SERIKAT BURUH YANG 
KONSEKWEN MEMBELA KEPENTINGAN BURUH, JOKOWI TIDAK AKAN MAMPU "MENJINAKKAN", 
MENGKOOPTASI SUPAYA MENGKHIANATI KAUM BURUH!”.
Saya anggota milis “Sastra Pembebasan” dan selalu mengirim berita ke milis itu 
sesuai dengan permintaan pengelolanya dulu. Herannya, tidak tahu dosa apa yang 
saya buat, sudah lama berita atau komentar dari Sastra Pembebasan tidak lagi 
masuk ke email saya. Kalau bukan karena seorang kawan yang mengirim perdebatan 
antara bung dengan Kristian ke milis lain di mana saya juga anggotanya, tidak 
akan pernah saya mengetahui adanya perdebatan itu. Saya tidak tahu apakah kopi 
yang dikirim kw pengirim ke milis lain itu sudah mencakup keseluruhan 
perdebatan. Saya hanya bisa berkomentar pada apa yang saya baca.
Bung menulis : “saya hanya aneh saja orang sekelas tatiana mendapuk diri 
sebagai kelompok yang paling berjuang untuk rakyat dan buruh, jika pun ada yang 
mengatakan kelompok FPR sebagai yang paling hebat….
Saya tidak tahu apa yang bung maksud dengan “orang sekelas tatiana”? Tolong 
dijelaskan, ya! Bung menginterpretasi pernyataan saya seolah-olah saya 
menganggap diri saya sebagai “kelompok yang paling berjuang untuk rakyat dan 
buruh”. “yang mendapuk diri sebagai organisasi yang paling konsekwen 
memperjuang kan buruh Tolong tunjukkan kata-kata mana yang membuktikan klaim 
bung itu!
Bung  menganggap saya sebagai “tukang obat mendapuk diri paling manjur 
dagangannya, padahal belum tentu dengan pasien nya”. Sudah tentu bung 
sepenuhnya punya hak untuk mengeluarkan pendapat tentang diri saya. Saya 
hormati hak itu. Saya juga punya hak untuk memberitahu kepada bung bahwa saya 
sama sekali tidak merasa sebagai pedagang yang menjajakan barang dagangannya. 
Karena saya tidak pernah menganggap GSBI, dalam artian figurative atau literal, 
sebagai barang dagangan. Lain halnya dengan Jokowi yang setali tiga uang dengan 
SBY, yang dengan terang-terangan menjajakan kekayaan alam tanah air kita supaya 
diekplotasi oleh modal asing  guna mendapat “incredible profit”.
Bung menulis “saya tidak bermaksud jualan organisasi, itu sebabnya saya tidak 
menyebutkan namanya. juga agar bung mau melakukan klarifikasi pada 
orang2/kelompok yang saya maksud,”. Tidak ada orang yang menuduh bung punya 
maksud “jualan organisasi”. Tapi, kalau anda sudah berani menuduh FPR, FMN 
(artinya bung menyebut nama organisasinya), harusnya bung juga berani menyebut 
organisasi yang anda wakili, atau organisasi yang merasa dirugikan oleh FPR dan 
FMN. Itu akan memudahkan usaha penjernihan dan pengungkapan kebenaran. Alasan 
“tidak bermaksud jualan organisasi” bung gunakan untuk menyembunyikan 
organisasi yang merasa “dirugikan” oleh FPR dan FMN. 
 Anda menulis “saya hanya minta jawaban dari tatiana (atau anda yang mewakili 
tatiana soal kejadian mayday 2006 dengan korelasinya pada pernyataan berikut) 
""NILAH SERIKAT BURUH YANG KONSEKWEN MEMBELA KEPENTINGAN BURUH, JOKOWI TIDAK 
AKAN MAMPU "MENJINAKKAN", MENGKOOPTASI SUPAYA MENGKHIANATI KAUM BURUH!” yang 
berarti, serikat serikat buruh lain (dalam hal ini GSBI) yang konsekwen 
memperjuangkan buruh, sedang SB yang pimpinan nya makan siang dengan jokowi 
tidak konsekwen dan mengkhiati buruh? makanya saya saya berikan argumentasinya, 
(GSBI diundang lalu menolak datang? atau GSBI tidak diundang dan mengatakan 
keluar seolah-olah menolak….
Bung minta jawaban saya, sedangkan saya tidak tahu adanya reaksi bung terhadap 
pendapat saya, karena Sastra Pembebasan “menutup” aliran beritanya ke email 
saya. Seperti  bung yang punya hak untuk memberi komentar positif atau negatif 
kepada pendapat saya, Kristian juga punya hak yang sama untuk setuju atau tidak 
dengan pernyataan saya. Setuju dengan pendapat saya, tidak memberi hak kepada 
anda untuk menuduh Kristian seolah-olah dia “mewakili tatiana”. Kristian punya 
otak sendiri dan mampu menilai kejadian sesuai dengan pikirannya.
Permintaan bung supaya saya menjelaskan korelasi antara pernyataan saya dengan 
kejadian mayday 2006 adalah lucu! Saya tidak tahu sama sekali apa yang terjadi 
pada mayday 2006! Pernyataan saya berhubungan dengan kenyataan beberapa 
pimpinan SB yang diundang Jokowi dan naik kapal terbang kepresidenan. Di bawah 
ini beberapa cuplikan yang saya baca.
“Sejumlah pimpinan organisasi buruh di Indonesia merasa sangat tersanjung 
karena diajak Presiden Joko Widodo ke Semarang, Jawa Tengah, untuk meresmikan 
pembangunan satu juta rumah untuk buruh. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja 
Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Ghani Nena Wea mengatakan, perlakuan Presiden 
kepada mereka selama perjalanan sangat istimewa. “
"Ini sejarah bagi kaum buruh di Indonesia, ya. Jokowi jadi presiden pertama di 
Indonesia yang mengajak pimpinan organisasi buruh naik pesawat kepresidenan," 
ujar Andi Ghani, yang turut dalam rombongan, kepada Kompas.com, Rabu 
(29/4/2015). 
"Belum ada pemerintahan sebelum Jokowi yang memperlakukan buruh seperti itu. 
Baru Jokowi saja. “
“dalam perjalanan itu ada dua momen yang membuat pimpinan organisasi buruh 
yakin bahwa Jokowi peduli dengan nasib buruh. Pertama, kata Andi, pada saat 
pesawat mengudara, Jokowi berdiri dan berjalan ke bangku barisan belakang untuk 
berkomunikasi dengan para pimpinan buruh.” (Hanya karena Jokowi berdiri dan 
berjalan ke bangku barisan belakang untuk berkomunikasi……sudah cukup untuk 
meyakinkan pimpinan organisasi buruh  bahwa Jokowi “peduli dengan nasib 
buruh”!!! Wah, kok gampang sekali pimpinan buruh itu diyakinkan ya!!)
“Presiden yang menghampiri kami. Dia pesan saja supaya May Day 1 Mei 2015 
berjalan aman. Kami langsung sampaikan komitmen juga untuk menjaga keamanan” 
"Salah satu bentuk apresiasi buruh kepada Presiden, kami akan menjaga May Day 
dengan aman dan tertib. Kami akan mencegah para penyusup masuk," (Ini kan 
memberi kesan seolah-olah yang membuat May Day TIDAK berjalan aman adalah kaum 
buruh sendiri! Apakah pimpinan buruh itu tidak tahu akan adanya “provokator” 
yang sengaja bertugas untuk memprovokasi dan mengacau barisan buruh?)
“Momen kedua, lanjut Andi, ketika Presiden hendak memberikan sambutan acara 
groundbreaking pembangunan rumah untuk buruh, ia memilih tak memberikan pidato. 
Waktu yang seharusnya digunakan Jokowi untuk menyampaikan pidato diberikan 
kepada para pimpinan organisasi buruh.”
“Sejumlah perlakuan yang dianggapnya istimewa itu menimbulkan keyakinan di 
kalangan buruh bahwa Jokowi tengah berupaya memperbaiki kesejahteraan buruh di 
Indonesia. ( Coba lihat sendiri, hanya karena Jokowi tdk pidato dan sebagai 
gantinya ngobrol dengan mereka sudah membuat mereka yakin Jokowi berupaya 
memperbaiki kesejahteraan buruh…Sekali lagi, gampang betul pimpinan buruh 
dibuat lupa akan semua peraturan Pemerintah dan tindakan Jokowi yang 
sungguh-sungguh membuat kehidupan rakyat semakin sulit dan sengsara “)
Undangan  dan perlakuan formil Jokowi yang “ cost him nothing”, tapi begitu 
besar efeknya, sampai-sampai “menimbulkan keyakinan di kalangan buruh bahwa 
Jokowi tengah berupaya memperbaiki kesejahteraan buruh di Indonesia. “ “membuat 
pimpinan organisasi buruh yakin bahwa Jokowi peduli dengan nasib buruh.”. 
Apakah itu bukan bukti kooptasi, penjinakkan, sekaligus pelumpuhan terhadap 
serikat buruh dan penipuan terhadap massa buruh? Kok cepat sekali pemimpin 
buruh itu melupakan penghapusan subsidi, kenaikan harga BBM, listrik, karcis 
kereta api yang sudah tentu diikuti dengan naiknya harga semua kebutuhan pokok 
kehidupan! Lupakah bagaimana Jokowi yang sudah menyetujui tuntutan BMI untuk 
menghapus KTKLN, tapi akhirnya membatalkan persetujuannya itu? Lupakah mereka 
pada berbagai peraturan pemerintah yang menunda dan membatasi upah minimum 
buruh ? Lupakah mereka dengan rencana pemerintah untuk menaikkan upah buruh 
sekali tiap dua tahun atau bahkan tiap lima tahun? Lupakah mereka pada tindakan 
anti-demokratis Jokowi yang melarang rakyat berdemonstrasi melawan 
penyelewengan karakter anti-kolonial dan anti-imperialisme dari KAA? Apakah 
mereka tidak tahu bahwa Jokowi sama sekali tidak menggubris keluhan dan 
perjuangan kaum tani yang membela dan mempertahankan tanahnya melawan 
perampasan tanahnya?
Dan jangan lupa, kalau bung pernah menjadi anggota SB, pasti bung tahu akan 
misi dan visinya kaum buruh sebagai klas, bukan? Tidak saja klas buruh 
memperjuangkan perbaikan kehidupan secara ekonomi tapi juga memperjuangkan 
hak-hak politiknya dan pembebasan klas pekerja dari segala macam penghisapan 
dan penindasan. Pasti bung juga tahu bahwa penghisapan dan penindasan dilakukan 
rejim yang berkuasa dengan dukungan sepenuhnya dari kaum imperialis. Dari situ 
mengapa saya mendukung kampanye rakyat Asia Afrika yang dilancarkan FPR dalam 
rangka memperingati 60 tahun KAA. Apakah konfederasi atau SB bung turut 
mendukung kampanye itu? Atau barangkali mensponsori kampanye anti-imperialis 
lainnya, tidak mesti harus bersama-sama dengan FPR. Kalau saya tahu ada SB atau 
konfederasi yang juga menentang imperialisme, sudah tentu akan saya dukung!!! 
Bung tinggal kasih tahu namanya! Kirim kepada saya foto-foto dan pernyataan 
yang dikeluarkan SB atau Konfederasi bung, pasti akan saya sebar luaskan! 
Prinsip saya satu bung: siapa yang memperjuangkan hak-hak klas pekerja dengan 
sungguh-sungguh dan konsekwen melawan penghisapan dan penindasan klas feodal, 
kapitalis birokrat dan komprador dan imperialisme, pasti saya dukung!
“Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena 
Wea disebut-sebut telah mengantongi restu partai untuk masuk kabinet Joko 
Widodo mendatang untuk menduduki posisi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 
(Nah, kalau berita ini benar, apakah ini bukan bukti dari kooptasi? Ini yang 
diberitakan secara umum. Apakah ada lagi “hadiah” yang diberikan Jokowi kepada 
para pemimpin buruh lainnya yang bersedia dikooptasi dan dijinakkan, saya tidak 
tahu. Mudah-mudahan Konfederasi yang bung bela tidak termasuk yang sudah 
dikooptasi seperti KSPSI itu! Apa alasan bung tersinggung dengan pernyataan 
saya, kalau bung yakin organisasi yang bung bela tidak kena kooptasi?
Diundang atau tidak diundang Jokowi, bukanlah masalah yang terpenting. Yang 
pokok harus dilihat adalah untuk apa undangan itu dan agendanya apa. Menerima 
undangan itu sendiri bukan berarti mau dikooptasi. Jadi harus dilihat tujuan 
undangan dan konteksnya. Kalau cuma untuk jalan-jalan, makan-makan dan 
pembicaraan tidak ada hubungannya dengan tuntutan kaum buruh, lantas buat apa? 
Soal pengalaman bung “beberapa kali FPR cs melakukan pembusukan gerakan” harus 
bung tunjukkan dan buktikan dengan terbuka. Kalau ada bukti, bahkan video, ya 
harus bung taruh di milis Sastra Pembebasan ini. Biar jelas masalahnya! Bung 
menulis “kejadian mayday 2006 di bandung menurut versi fmn cs, jika fmn cs 
tidak mengakui mereka menghalangi massa buruh yang akan aksi ke gedung sate dan 
mengajak buruh memunggungi kekuasan, baru saya beberkan foto nya”. Ngapain bung 
menunggu FMN untuk mengakui perbuatan yang bung anggap “pembusukan gerakan”? 
Kan bung yang punya bukti. Ajukan bukti itu supaya FMN tidak bisa bertingkah 
untuk tidak mengakuinya? Kan harusnya gitu dong! Itu kalau memang bung punya 
maksud baik, yaitu mengkritik FMN, agar tidak melakukan lagi “kesalahan” yang 
“membusukkan gerakan”!
Bung menulis “menghadang massa buruh yang akan melakukan aksi menuntut ke pusat 
kekuasaan jawa barat (gedung sate) itu bukan kebusukan? apa ini disebut bagian 
dari perjuangan buruh/rakyat yang mba tati katakan…” Saya harus tahu dulu 
gimana duduk perkara “penghadangan massa buruh…” untuk bisa mengeluarkan 
pendapat. Wong saya tidak tahu seluk beluk perkaranya, kok sekarang bung sudah 
menuduh saya “apa ini disebut bagian dari perjuangan buruh/rakyat yang mba tati 
katakan.. Lho kapan dan di mana saya menyebut “ini” sebagai “bagian dari 
perjuangan buruh/rakyat…”. Jangan ngawur dong!
Tahukah anda bahwa sikap pimpinan buruh KSPSI itu digunakan dengan bangga oleh 
orang-orang “kiri” pendukung Jokowi sebagai “bukti” bahwa Jokowi didukung kaum 
buruh, bahwa Pemerintahan Jokowi lain dari SBY, bahwa Jokowi pro-kaum buruh dan 
pro-rakyat , bla---bla---bla ! Padahal, undangan Jokowi kepada beberapa 
pimpinan buruh serta dampaknya justru menunjukkan betapa bahayanya Jokowi bagi 
perjuangan dan persatuan klas pekerja dan rakyat pada umumnya. Seandainya 
kenaikan BBM dan penghapusan subsidi dilakukan SBY, sangat besar sekali 
kemungkinan  protes rakyat akan lebih besar dan luas. Justru karena Jokowi yang 
melakukannya, banyak orang termasuk orang “kiri” yang berupaya keras untuk 
membenarkan tindakan anti rakyat itu!
Orang-orang “kiri” itu bahkan menyalahkan organisasi dan mereka yang mengkritik 
keras kebijakan anti-demokratis dan anti-rakyat. Mereka anggap kritik dan 
kecaman itu hanyalah manifestasi dari kebawelan atau kecerewetan ..Bahkan 
berani menyamakan organisasi itu seperti partai-partai borjuis seperti PKS atau 
Gerindra !
Anda bisa bayangkan bahayanya tokoh populis seperti Jokowi yang mengaburkan 
kenyataan adanya kelas-kelas dalam masyarakat yang bertentangan kepentingannya 
dan menganjurkan kolaborasi kelas yang manifestasinya kita lihat dengan jelas 
dalam “undangan naik kapal terbang kepresidenan”. Kita lihat juga dampaknya 
dalam peringatan Mayday yang lalu dibandingkan dengan Mayday sebelumnya.
1 Mei seharusnya memang hari pesta kaum buruh, karena mereka punya hak untuk 
bersenang-senang dan bahagia. Tapi, di negeri seperti Indonesia di mana kaum 
buruh masih harus hidup dalam penghisapan dan penindasan, belum bisa punya 
kehidupan layak sebagai manusia yang dihormati hak-hak politik, ekonomi dan 
sosialnya, mungkinkan 1 Mei dirayakan dengan melupakan perjuangan untuk 
membebaskan dirinya dari perbudakan modal?! Adakah alasan bagi kaum buruh 
sekarang untuk berkolaborasi dengan pemerintahan Jokowi-JK yang sudah 
dibuktikan  membuat kehidupan mayoritas rakyat tambah berat dan sengsara? 
Adakah alasan untuk kaum buruh untuk tidak bersatu lebih kuat guna perjuangan 
bersama melawan ketidak adilan?
Silahkan anda merenungkannya!
Tatiana

Kirim email ke