PULAU PENUH IRONI? PULAU BURU ADALAH PULAU NERAKA DUNIA YANG SESUNGGUHNAYA. 
DISEBUT PULAU IRONI HANYALAH BAGI MEREKA YANG SUKA MEBANGGAKAN PENDERITAAN 
SEBAGAI MODAL UNTUK MEMANCING BELAS KASIHAN DAN PENGAMPUNAN DARI PARA PENYIKSA 
MEREKA DAN JUGA SEBAGAI PROKLAMASI BAHWA MEREKA MEMANG TELAH BENAR-BENAR KAPOK 
BERJUANG DAN MEMILIH HIDUP MAPAN, BERBAHAGIA DI TENGAH KELUARGA YANG MASIH 
TERSISA.
DI PULAU BURU HANYA ADA SATU SASTRAWAN TERNAMA : PRAMOEDIYA ANANTA TOER. 
SELEBIHNYA HANYALAH SASTRAWAN TEMPE BONGKREK YANG TELAH HIDUP MAPAN DENGAN 
KEWAJIBAN BERKICAU MEMPROPAGANDAKAN “PERDAMAIAN”(HASIL DIDIKAN suhartO) DENGAN 
PARA PENERUS PENYIKSA MEREKA DAN MEREKA INILAH YANG TELAH DENGAN SUKSES 
MEMPRAKTEKKAN PESAN JENDRAL SOEMITRO: BEKERJA KERAS DENGAN HARAPAN UNTUK HIDUP 
MAPAN DAN JADI KAYA  DAN MEMBUANG PERJUANGAN NTUK SELAMANYA.
RAKYAT INDONESIA TELAH BOSAN MENDENGARKAN SEDU SEDAN PENDERITAAN EX.PULAU BURU 
DAN MEMANG HANYA ITULAH YANG BISA MEREKA WARISKAN KEPADA GENERASI SEKARANG 
SEBAGAI RACUN PEMBIUS AGAR TIDAK LAGI MEMIKIRKAN DAN BERUSAHA BERJUANG 
MEMBEBASKAN RAKYAT DARI PENINDASAN DAN PENGHISAPAN PENGUASA NEGARA.

ASAHAN.
From: isa 
Sent: Saturday, August 1, 2015 8:34 PM
To: DISKUSI KITA GOOGLE- GROUP 
Subject: Kolom IBRAHIM ISA -- NEGERI PENUH IRONI,,Catatan Perjalanan (ke P. 
Buru): -- BASKARA SJ dan Teman-teman – Dikirim oleh Tejabayu Sudjojono

Kolom IBRAHIM ISA

Sabtu, 01 Agustus 2015
---------------------------------- 
NEGERI PENUH IRONI 

Catatan Perjalanan (ke P. Buru): -- BASKARA SJ dan Teman-teman – Dikirim oleh 
Tejabayu Sudjojono

* * *

Tadinya untuk 'weekend' ini – aku hendak menulis dengan judul “ARTI PENTING 
SEJARAH YANG BENAR”. Sudah dimulai dengan kalimat-kalimat ini: “WIR HABEN ES 
'nicht' GEWUSST !! <Terjemahan bebas: “ Kami tidak mengetahuinya”>. 



< Betapa ironisnya pula bahwa ketika pada awal bulan Mei 2015 Presiden Republik 
Indonesia berkunjung ke sana karena kemajuan dalam bidang pertanian yang telah 
dicapai oleh Pulau Buru, tak sedikitpun ia mengungkapkan penghargaannya 
terhadap para tahanan politik yang dulu dengan tangan kosong telah merintisnya. 
Betapa ironisnya. Kutipan dari tulisan Baskara Dan Teman-teman>. Sampai di P. 
Buru, --- tidak sepatah katapun beliau menyebut 'jasa' ribuan TAHANAN BURU tsb. 



Apakah di dalam fikirannya, yang tidak diucapkannya, mengenai para tahanan Buru 
itu, adalah logika ini: WIR HABEN ES 'nicht' GEWUSST !! 





* * *



Begitu ku-baca tulisan kiriman Tejabayu Sudjojono, dan membacanya ulang, 
hati-sanubariku bergetar-bergejolak ---- . . . rencana semula berubah. Kiranya 
lebih 'kena', ' lebih pas' dan lebih relevan, mendahulukan mensosialisasikn 
CATATN PERJALANAN Romo Baskra dan Teman-Teman:



SEBUAH CATATAN PERJALANAN KE P. BURU. 



Bukankah suatu realita --- bahwa maraknya literatur berlatarbelakang sejarah 
yang terbit sejak menggebu-gebunya Gerakan Reformasi dan Demokrasi di 
Indonesia, adalah tulisan, sajak, esay dan novel yang berkaitan dengan Pulau 
Buru? 



Menurut Romo Baskara dan Teman-Teman, P. Buru adalah yang menciri-i- bahwa 
INDONESIA ADALAH SEBUAH NEGERI IRONI!!



* * *



Dari sekian cabang ilmu sosial, -- ilmu sejarah termasuk yang paling 'menarik'. 
Menarik karena ilmu itu merupakan pencerminan dari kehidupan yang nyata. 
Mengenai -- bagaimana insan-insan yang menjadi pelaku, penderita atauupun 
sekadar 'penonton' semata, memahami dan mengingatnya. Tapi, bicara perkara, 
peranan, apakah itu sebagai 'penonton' atau ' yang melihatnya dari kejauhan 
semata' . . . dalam kenyataannya dalam kehidupan bermasyarakat --- 
sesungguhnya, --- tak ada 'penonton' atau 'peninjau' semata. Dalam satu atau 
lain hal, setiap anggota masyarakat langsung atau tak-langsung . . .'terlibat' 
juga. . . .



* * *




  TEDJABAYU SUDJOJONO 

  31 Juli, 2015

  Ini Catatan Perjalanan Romo Baskara, SJ dan teman2 yakni Mbak Dolorosa 
Sinaga, Bung Ruhung Nasution, Bung Wisnu Rahung, Bung Wishnu Yonar, Bung Adrian 
Mulya, Bung Adrin Mulya, Bung Sound Man yang saya lupa namanya (maaf), Bung 
Hersri Setiawan, Mbak Ita Fatia Nadia, Ken Setiawan, Tuti Pujiarti dan saya 
sendiri..


  DI NEGERI PENUH IRONI
  Catatan Kecil dari Kunjungan ke Pulau Buru

  “Hendaknya saudara-saudara jangan sampai kehilangan harapan, karena harapan 
adalah sesuatu yang indah dalam hidup manusia. Hidup tanpa harapan adalah hidup 
yang kosong.” Rangkaian kata-kata demikian tentu merupakan rangkaian kata-kata 
yang sangat bagus dan enak didengar. Isinya bisa dijadikan nasehat yang sangat 
berguna. Hanya saja, dalam kata-kata penuh nasehat bagus dan enak didengar itu 
terkandung sebuah ironi. Betapa tidak. Yang dinasehati adalah para tahanan 
politik di Pulau Buru, yakni orang-orang yang sudah sekian tahun diasingkan 
tanpa proses hukum dan praktis sudah hilang harapannya. Sementara itu yang 
memberi nasehat adalah seorang petinggi militer, seorang Jenderal Angkatan 
Darat. Dialah Jenderal Soemitro, Sang Panglima Kopkamtib yang pada bulan 
Oktober 1973 mengunjungi para tahanan politik di Pulau Buru. Ia datang sebagai 
perpanjangan tangan rejim Orde Baru, yaitu rejim yang selama bertahun-tahun 
menyengsarakan para tahanan politik dan merenggut harapan dari hidup mereka. 
Tidak sedikit dari para tahanan politik itu telah gugur atau mengakhiri hidup 
sendiri karena harapan yang terenggut itu (Toer 1995: 291-303). Tampak sekali 
adanya ironi antara nasehat yang muluk dan praktek-praktek kekerasan yang 
terjadi di lapangan.

  Salah seorang tahanan yang diberi nasehat oleh Jenderal Soemitro saat itu 
adalah sastrawan kondang Pramoedya Ananta Toer. Pada hari Rabu tanggal 10 
Oktober 1973 Pram dan beberapa rekan sesama tahanan politik dipanggil untuk 
menghadap Sang Jenderal di Unit II-Wanareja, salah satu tempat tinggal para 
tahanan politik di Pulau Buru. “Saya tahu saudara-saudara hidup dalam 
penderitaan,” lanjut Jenderal Soemitro sebagaimana dituturkan kembali oleh Pram 
dalam buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995: 28). “Sementara menunggu 
penyelesaian di alam lingkungan yang tenang dan damai ini bersenanglah 
saudara-saudara di dalam penderitaan,” ia melanjutkan. Kata-kata “lingkungan 
yang tenang dan damai” tentu merupakan sebuah ironi lain lagi. Bagi para 
tahanan politik seperti Pram, Pulau Buru sama sekali bukanlah merupakan tempat 
yang tenang, apalagi damai. Di balik permukaan yang tampaknya tenang dan damai 
berlangsunglah banyak penderitaan bahkan kematian yang harus ditanggung oleh 
para tahanan politik. Dan penderitaan yang ada bukanlah penderitaan yang 
bersifat alami, melainkan penderitaan yang secara sistemik diproduksi oleh 
sebuah rejim kekuasaan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai lawan-lawan 
politiknya. Meskipun tahanan politik, mereka diperlakukan seolah-olah mereka 
adalah tahanan kriminal. Tulis Pram: “Empat tahun sudah sebagian besar dari 
kami ditahan, dan bagiku sendiri merupakan juga empat tahun ketegangan melihat 
dan menjalani hukuman yang tak jelas bersumber pada tindak kesalahan 
apa—hukuman-hukuman yang tidak pernah melalui suatu pengadilan...” (Toer 1995: 
49).

  Penderitaan serupa pernah dialami oleh Hersri Setiawan, seorang sastrawan 
ternama yang lain, yang bersama Pram dan lebih dari sepuluh ribu sesama tahanan 
politik juga mengalami siksa dan derita di Pulau Buru. Dengar apa yang 
dikatakan Hersri tentang penderitaan di Pulau Buru itu: “Barisan budak-budak 
digiring … memikul perintah masing-masing … menuju lapangan kerja… menuju 
gelanggang penyiksaan.” (Hersri Setiawan, Memoar Pulau Buru: 2004). Mengapa 
para serdadu sebagai perpanjangan tangan pemerintah Orde Baru yang berkuasa 
waktu itu dengan gembira menggiring para tahanan politik menuju gelanggang 
penyiksaan? Jawab Hersri: “Tapol [tahanan politik] bagi serdadu sungguh lebih 
menarik ketimbang kerbau-sapi bagi petani. Karena sepertinya tapol tidak 
ubahnya semacam alat kerja, tapi sekaligus juga benda mainan” (Setiawan 2004: 
156). Tidak jarang bahwa gara-gara sebuah kesalahan kecil yang dilakukan oleh 
seorang tahanan politik di baraknya seluruh penghuni barak mendapat hukuman 
yang tidak hanya kejam tetapi juga dimaksudkan untuk melecehkan harkat 
kemanusiaan mereka. 

  Dengar pula apa yang dikatakan oleh salah seorang penghuni Pulau Buru yang 
dijuluki Al Capone, asal Yogyakarta: “Pada tanggal 16 November 1973 Sdr. Gatot 
Widodo ditembak di kebun kelapa di tepi pantai tatkala ia bertugas mencari kayu 
bakar. Sementara itu teman lainnya yang berjumlah 4 orang ditembak di depan 
baraknya bersama kepala baraknya pada tanggal 17 November 1973. Peristiwa ini 
berlangsung di bawah pengawalan dari Kesatuan Hsn, Batalion An dengan DanYon 
Mayor JM. Sedangkan DanKi (Komandan Kompi)-nya adalah Kapten Hky. DanTon 
(Komandan Peleton)-nya adalah Sersan Mayor HK” (Wardaya: 2011). Ia juga 
bercerita: “Bapak Djuhendi dari Jawa Barat ditembak namun selamat. Beliau 
ditembak, tetapi pelurunya menembus melalui dada kirinya. Peluru itu menyasar 
pada bahu kiri Sdr. Sukadi dan mengeram di tubuhnya. Sampai saat pemulangan 
peluru tersebut belum diambil. Bahkan sampai terbawa mati di tahun 2001” 
(Wardaya: 2011).

  Mengingat itu semua, tak mengherankan jika Pramoedya Ananta Toer menyebut 
pengasingan dan perlakukan terhadap para tahanan politik di Pulau Buru 
merupakan “titik terendah” dari sejarah bangsanya (Toer 1995: 61). Sekaligus 
menjadi tampak jelas adanya ironi besar di Pulau Buru, yakni ironi tentang apa 
yang ingin dikesankan sebagai lingkungan yang tenang dan damai penuh harapan 
dengan realitas yang berhiaskan praktek-praktek kekerasan di luar batas-batas 
kemanusiaan.

  Apa boleh buat, Pulau Buru sepertinya memang merupakan sebuah pulau penuh 
ironi. Lebih dari itu, pulau yang terletak di bagian tengah Kepulauan Maluku 
ini sepertinya merupakan cerminan dari berbagai ironi yang bertebaran di negeri 
ini. Pada satu sisi, misalnya, kita senang disebut sebagai bangsa yang 
ramah-tamah dan penuh tata-kesopanan, namun pada sisi yang lain kita juga 
adalah bangsa yang secara massal tega menghabisi ratusan ribu warga bangsa 
sendiri pada periode 1965-1966. Kita adalah bangsa yang konon bertekad 
menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi kita adalah juga 
bangsa yang memperlakukan belasan ribu tahanan politiknya di luar batas-batas 
kemanusiaan. Kita adalah bangsa yang katanya tinggi kesadaran beragamanya, 
namun juga adalah bangsa yang sejak paro kedua tahun 1960-an dikenal sangat 
tinggi tingkat korupsinya. Kita adalah bangsa yang mempersepsikan diri sebagai 
bangsa yang penuh iman dan ketakwaan, tetapi kita adalah juga bangsa yang suka 
membiarkan sebagian anggotanya secara sadis menekan bahkan menghancurkan 
kelompok-kelompok minoritas hanya karena mereka berbeda. Demikian pula yang 
terjadi di Pulau Buru. Selain adanya ironi antara nasehat muluk dan tindak 
kekerasan yang bertubi-tubi, banyak pula ironi-ironi lain yang terus 
berlangsung hingga hari ini. Tak pelak lagi, Pulau Buru adalah sebuah pulau 
yang sungguh mencerminkan berbagai ironi yang bertebaran di negeri ini.

  Sangat beruntunglah saya bahwa pada pertengahan bulan Mei 2015 saya mendapat 
kesempatan untuk mengunjungi pulau tersebut. Bersama beberapa orang lain saya 
ikut menemani dua orang mantan penghuni Pulau Buru beserta keluarga mereka, 
menapaki kembali berbagai pengalaman pribadi dan kolektif yang telah mereka 
lalui sepanjang tahun-tahun pengasingan dan penderitaan selama sekitar sepuluh 
tahun (1969-1979) sebagai tahanan politik. Di Pulau Buru kami juga bertemu 
dengan sejumlah mantan tahanan politik yang memilih untuk berkeluarga dan 
menetap di tempat di mana mereka telah menjadi saksi hidup kekejaman manusia 
atas manusia lain itu.

  Ironis bahwa di pulau tempat terjadinya kekejaman manusia atas manusia lain 
itu kini nyaris tak ada satupun tanda yang didirikan untuk mengingatnya. Tak 
ada tugu peringatan, tak ada monumen pengenangan. Tak ada pula museum tempat 
bangsa ini bisa sejenak menoleh ke belakang dan berefleksi. Jangankan museum, 
tugu peringatan atau monumen pengenangan, bekas barak-barak para tahananpun 
kini tiada bersisa lagi. Semuanya telah hancur atau dihancurkan. Jejak 
bangunan-bangunan yang dulu dijadikan pusat-pusat komando untuk mengawasi dan 
menghukum para tahanan kini juga sudah tidak ada lagi. Tempat-tempat 
ibadat—khususnya tempat-tempat ibadat Kristiani—yang dulu dengan susah-payah 
dibangun oleh para tahanan politik sekarang praktis tinggal kenangan. Semuanya 
telah dihancurkan, semuanya telah dihilangkan, semuanya telah dihapus dari 
ingatan. Seolah-olah penyiksaan dan penderitaan yang berlangsung antara akhir 
tahun 1960-an dan akhir tahun 1970-an itu tak pernah terjadi. Sungguh dahsyat 
peristiwa-peristiwa kekerasan di luar batas-batas kemanusiaan yang pernah 
berlangsung di sini, tetapi sungguh dahsyat pula usaha-usaha untuk menghapusnya 
dari ingatan bersama anak-anak bangsa. Betapa ironisnya.

  Betapa ironisnya bahwa pulau yang dulu dipilih oleh pemerintah Orde Baru 
sebagai tempat pembuangan karena ketandusan dan kegersangannya, berkat kerja 
keras para para tahanan politik akhirnya menjadi pulau yang subur-makmur dengan 
sistem persawahan yang terolah rapi sehingga menjadi lumbung padi-nya Kepulauan 
Maluku jika bukan seluruh wilayah timur Indonesia. Betapa ironisnya pula bahwa 
ketika pada awal bulan Mei 2015 Presiden Republik Indonesia berkunjung ke sana 
karena kemajuan dalam bidang pertanian yang telah dicapai oleh Pulau Buru, tak 
sedikitpun ia mengungkapkan penghargaannya terhadap para tahanan politik yang 
dulu dengan tangan kosong telah merintisnya. Betapa ironisnya. 

  Mungkin saja Sang Presiden tidak menyebut jasa para tahanan politik karena ia 
tidak tahu. Mungkin saja karena ia lupa, atau karena ia takut dikaitkan dengan 
orang-orang yang pernah dituduh komunis itu. Atau mungkin saja ada 
alasan-alasan lain. Tetapi apapun alasannya, adalah ironis bahwa seorang 
Presiden sebagai pemimpin-rakyat tertinggi mengagumi dan mendorong berhasilnya 
sistem pertanian di pulau yang dulunya gersang dan kering-kerontang itu, namun 
tanpa mau sedikitpun menyebut jasa orang-orang yang telah menjadi perintisnya. 
Pulau Buru memang pulau penuh ironi.

  Pada saat yang sama, ironis pula bahwa para mantan tahanan politik yang pada 
waktu mudanya diperlakukan semena-mena dan dirampas harapannya itu pada masa 
tua mereka tetap gigih bekerja memajukan pulau tempat dulu mereka diasingkan 
dan disiksa. Mereka pantang menyerah pada keadaan. Mereka enggan patah-arang 
hanya gara-gara harapannya sempat direnggut oleh para penyiksanya. Dengan tekun 
mereka bekerja keras. Hasilnya, banyak dari mereka itu kini telah sukses 
sebagai petani yang produktif, yang mampu mengirim anak-anak mereka untuk 
belajar di berbagai perguruan tinggi, termasuk di Pulau Jawa, tempat asal 
kebanyakan dari mereka sebelum ditahan. Seakan para mantan tahanan politik itu 
ingin mencipta sebuah ironi baru: dari sebuah generasi yang harapannya telah 
dirampas dan yang telah menjadi korban pengasingan, penyiksaan, dan pembunuhan 
tanpa proses pengadilan telah lahir sebuah generasi baru yang siap menyambut 
cahaya masa depan penuh harapan. Di negeri yang bergelimang ironi 
memprihatinkan mereka telah menawarkan ironi lain yang bersifat membanggakan.

  Sementara itu, terkait dengan nasehat tentang harapan tetapi penuh ironi yang 
disampaikan oleh perpanjangan tangan pemerintah Orde Baru, Pramoedya Ananta 
Toer berpesan: “Jangan berilusi!” Mengapa? Jawab Pram: “Mengharapkan kebaikan 
hati Orde baru sama dengan mimpi melihat kambing berkumis! Sistem kekuasaan 
yang dibangun dengan pembunuhan massal selamanya [akan] menjadi sistem yang 
lebih sibuk membenahi nurani sendiri” (Toer 1995: 49). Kita tidak ingin bahwa 
pembunuhan dan pemenjaraan massal yang dilakukan oleh Orde Baru itu menjadi 
mimpi buruk yang selalu menghantui kita, sehingga kita akan terpaksa 
terus-menerus sibuk membenahi nurani sendiri sambil tak henti-hentinya 
menyangkal apa yang telah terjadi di masa lalu. Kita perlu segera bangkit 
berdiri untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Bersama para mantan tahanan 
politik di Pulau Buru kita juga ingin melahirkan sebuah generasi baru yang siap 
menyambut cahaya masa depan penuh harapan. Bukankah katanya hidup yang tanpa 
disertai harapan adalah hidup yang kosong?<Baskara T. Wardaya SJ> (Huruf tebal 
dan cursif, olh I.I|.)





-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke