MEMANG JELAS YPKP65 TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN KOMUNISME MESKIPUN 
ORANG-ORANG DALAM MEREKA TERDIRI DARI SEBAGIAN BESAR DARI BEKAS KOMUNIS. 
SEKARANG MEREKA “BERJUANG”  DENGAN METODE PERDAMAIAN DENGAN PENGUASA NEGARA 
YANG MANAPUN YANG MUNGKIN SECARA SEDAR ATAU TIDAK, MEREKA MASIH MENERUSKAN 
POLITIK PKI 51/65 DENGAN POLITIK MEREBUT KEKUASAAN NEGARA SECARA DAMAI DENGAN 
CARA MEREBUT SEBANYAK-BANYAKNYA KURSI PARLEMEN YANG TELAH MENGAKIBATKAN TERROR 
BESAR YANG MENGHABISI 3 JUTA NYAWA MANUSIA TIDAK BERSALAH.
NAMUN SUDAH PASTI YPKP65 TIDAK MUNGKIN MEMBERSIHKAN DIRINYA DARI TUDUHAN 
“KOMUNISME” MESKIPUN PADA HAKEKATNYA MEREKA TELAH ANTI KOMUNIS DALAM PERBUATAN 
MESKIPUN BELUM DALAM KATA-KATA. NAMUN DI DEPAN KAUM ANTI KOMUNIS, YPKP65 YANG 
ANTI KOMUNIS TETAP SAJA “KOMUNIS” UNTUK SELAMANYA. MEREKA SEDANG MEMANCING 
TERROR YANG KORBANNYA TETAP SAJA RAKYAT TIDAK BERSALAH. YPKP65 MEMPUNYA 2 
MUSUH: KAUM ANTI KOMUNIS DAN KOMUNIS. KITA TIDAK AKAN BERDUKA CITA KALAU PADA 
SUATU KALI MEREKA DIHAJAR HABIS-HABISAN OLEH FPI MESKIPUN FPI ADALAH JUGA MUSUH 
KOMUNIS.
ASAHAN.






From: mailto:[email protected] 
Sent: Tuesday, August 4, 2015 7:08 AM
To: DISKUSI FORUM HLD ; Perhimpunan Persaudaraan ; Jaringan Kerja Indonesia ; 
Wahana News ; Sastra Pembebasan ; NASIONAL-LIST YAHOOGROUPS 
Subject: [wahana-news] Trs: [GELORA45] Provokasi Kelompok tertentu untuk 
mengacaukan Semiloka Korban65/YPKP65 di Salatiga Jawa Tengah

  




Pada Senin, 3 Agustus 2015 13:50, "yayasan penelitian [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:




  
Ramai di Sosmed, YPKP65: Bendera Palu Arit itu Provokasi
Utami Diah Kusumawati, CNN Indonesia 
Senin, 03/08/2015 15:23 WIB
. 


Jakarta, CNN Indonesia -- Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65 (YPKP 65) 
membantah pihaknya telah memasang bendera berwarna merah berlogo palu dan arit 
yang sedang ramai dibicarakan di sosial media Twitter. Ketua YPKP Bedjo Untung 
menegaskan nama lembaganya hanya dicatut untuk memperkeruh dan memanaskan 
situasi pre-temu nasional YPKP65  di Salatiga. 

"Kami memang akan mengadakan temu nasional pada tanggal 7 dan 8 Agustus ini di 
Salatiga. Namun, kami tidak pernah mengibarkan bendera apapun terkait 
komunisme, " kata Bedjo saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (3/8). "Itu tidak 
benar, sebuah manipulasi serta provokasi."

     
Bejo mengatakan sejak lembaganya dibentuk, tidak pernah mereka menggunakan 
istilah komunisme ataupun menyertakan logo dan simbol terkait komunisme, 
seperti palu dan arit, dalam setiap acara atau aktivitas yang mereka lakukan. 

Aktivitas YPKP65, kata Bedjo, berkaitan dengan perjuangan pemulihan bagi 
korban-korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) tahun 65, terutama untuk 
mereka yang sudah terstigma atau diperlakukan tidak adil oleh pemerintah di 
masa lalu. 

"Misalnya, salah seorang teman saya, yang karena distigma akhirnya tidak bisa 
mendapatkan uang pensiun. Padahal, dia bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil 
(PNS) sama seperti yang lainnya," ujar Bedjo Untung. "Kesamaan hak dan keadilan 
tanpa stigma itu yang kami perjuangkan.Bejo mengatakan memang ada pihak-pihak 
tertentu yang tidak suka dengan acara yang diselenggarakan oleh YPKP. Dia 
mencontohkan pertemuan YPKP pada awal Februari tahun lalu di Bukittinggi, 
dibubarkan paksa oleh warga Kelurahan Bukik Cangan Kayu Ramang, Kecamatan 
Guguak Panjang, setelah warga diprovokasi oleh pihak-pihak tertentu. 

Alhasil, pertemuan saat itu, yang turut dihadiri oleh Komnas Perempuan, LPSK 
serta beberapa kuasa hukum ternama seperti Nursyahbani Katjasungkana batal 
terlaksana. 

Oleh karena itu, untuk menghindari kejadian serupa terulang lagi pada bulan 
ini, Bedjo mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak 
terkait. Izin acara, kata Bedjo, acara yang akan diselenggarakan di Salatiga 
tersebut sudah sepengetahuan  dari Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia 
dan Kebudayaan serta Walikota Salatiga. 

"Kami juga sudah mengirimkan surat Pemberitahuan dan melaporkan isu yang  
berkembang  kepada Mabes Polri dengan surat tembusan ke Kapolda Semarang, 
Polres dan Polsek Salatiga," ujar Bedjo.

Sebelumnya, sempat beredar kabar di beberapa akun di sosial media seperti 
Twitter dan Facebook yang menyatakan adanya bendera berlogo palu dan arit 
dipasang di daerah di Salatiga, Jawa Tengah. Ada juga yang menyebutkan bendera 
tersebut dipasang oleh YPKP 65 dalam rangka pre-temu nasional mereka yang akan 
diselenggarakan pada awal Agustus ini. 

Harapan ke Presiden

Lebih jauh, Bedjo mengatakan dalam pertemuan nasional YPKP 65yang rencananya 
akan turut dihadiri perwakilan dari Komnas HAM, serta perwakilan dari 
Kementerian /Dirjen Hukum dan HAM tersebut akan membahas tindak lanjut dari 
keputusan pemerintah membentuk Komite Rekonsiliasi/Penyelesaian Korban 
Pelanggaran HAM berat masa lalu termasuk Tragedy 1965/66 pada tahun ini. 

Komite Rekonsiliasi dibentuk setelah beberapa elemen pemerintah seperti Menteri 
Koordinator Politik, Hukum, dan HAM, Jaksa Agung, Kapolri, Panglima TNI, BIN  
dan Komnas HAM mengadakan pertemuan bersama.  

"Kami akan membahas lebih mendalam. Kami tidak akan menolak komite tersebut 
karena merupakan peluang penyelesaian atas kasus pelanggaran HAM," kata Bedjo. 

Selain itu, pihaknya nanti juga akan membuat pernyataan untuk mendorong 
Presiden Joko Widodo agar segera menerbitkan Keputusan Presiden Rehabilitasi 
Umum sebagai pengganti Undang-Undang KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) 
yang keburu batal digunakan. 

"Bagi kami selain proses rekonsiliasi dan rehabilitasi, pemerintah sebaiknya 
tidak melupakan payung hukum untuk melaksanakan hal-hal yang perlu dilakukan," 
ujarnya. 

Dengan demikian, YPKP 65 bersama dengan organisasi lainnya, seperti KONTRAS, 
berada di jajaran mereka yang menolak penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa 
lalu yang  tidak menyentuh ranah yudisial atau semata-mata melalui rekonsiliasi 
saja. “ YPKP65 tidak menolak penyelesaian secara non yudisial, tetapi tidak 
menegasikan /menghilangkan penyelesaian secara hukum, hukum tetap harus 
ditegakkan agar ada kepastian hukum dan penjeraan bagi penjahat HAM agar tidak 
mengulangi lagi di masa mendatang ” ***

 (utd/ed bj)





Kirim email ke