Barang-barang paslsu dari China yang tersebar ke seluruh dunia bukan hanya
bahan makanan, barang-barang kelontong, obat-obatan tapi juga dokumen-dokumen
palsu politik yang dijual sebagai barang dagangan. China yang betul dan
Sosialis sudah lama dilibas oleh Teng Siauw Ping dan China yang sekarang
mendapat sambutan hangat dan bersahabat oleh semua dunia Barat kapitalis hingga
barang palsu yang berisikan muatan politik yang menguntungkan pihak Barat,
juga disambut baik meskipun <Made in China> dan dianggap sebagai produk asli
dan bermutu. Bukti keabsahannya tidak perlu karna memang tidak mungkin bisa
dibuktikan. Pokokanya percayai sajalah asal menguntungkan.Kadang-kadang orang
dewasa suka berbuat seperti kelakuan anak-anak, biarkan sajalah. Barang palsu
tidak berumur lama. Bungkusnya dibuka , ternyata yang keluar tumpukan ulat
tinja. Meskipun ulatnya juga <Made in China>, tetap enak dilahap dan HALAL.
Selamat makan. Eet smakelijk.Bonne apetit!
ASAHAN AIDIT.
From: TS
Sent: Monday, February 29, 2016 10:35 AM
To: Group Diskusi Kita
Subject: Re: [alumnas-OOT] Fwd: Menyingkap Misteri G30S/PKI.
Tulisan Dr. Taomo Zhou bysa diunggah disini: Ambivalent Alliance Chinese
Policy towards Indonesia, 1960-1965
https://www.wilsoncenter.org/sites/default/files/CWIHP_Working_Paper_67_Chinese_Policy_towards_Indonesia_1960-1965.pdf
Salam
Teddy
2016-02-26 4:49 GMT+01:00 'A. Dahana' via diskusi kita
<[email protected]>:
Arsip Kementerian Luar Negeri RRT sudah dibuka dan dikupad oleh Dr, Zhou
Taomo dalam artikelnya "China and September 30 Novement" (kalau tak salah itu
judulnya. Dalam salah satu arsip tersebut terungkap "dalang" G30S adalah Aidit.
Zhou mengatakan dalam tulisannya bahwa dalam percakapan dengan para pemimpin
RRT, antara lain Mao Zedong, Aidit dengan tegas mengatakan ia sedang
merencanakan kudeta. Hanya saja Aidit tidak mengungkapkan kapan ia akan
melakukan aksi itu. Malahan, menurut Zhou lagi, Cina sangat terkejut ketika
mendapat tahu tentang m eletusnya G30S yang tadinya terbuka, kemudian ditarik
lagi oleh pemerintah Cina. Sayang sekali arsip Deplu RRT kemudian ditarik lagi
dari peredaran oleh pemerintak Cina. Pefrcakapan antara Aidit dengan Mao c.s
terjadi pada tanggal 5 Agustusd 1965.
Adn.-
On Friday, February 26, 2016 6:23 AM, "Salim Said [email protected]
[alumnas-OOT]" <[email protected]> wrote:
---------- Forwarded message ----------
From: Jacky Mardono Tjokrodiredjo <[email protected]>
Date: 2016-02-25 13:51 GMT+07:00
Subject: Menyingkap Misteri G30S/PKI.
Untuk membongkar misteri G30S/PKI,
mengapa menurut Prof. Dr. Salim Said harus :
"......... Dalam soal arsip, misalnya, arsip yang berasal atau memakai bahasa
Cina dan Rusia tentang peristiwa itu belum dibuka. Nah, kita tunggu seperti apa
isi arsip itu bila nanti sudah bisa dibaca,''
Saya sependapat dengan sdr. Harry Tjan Silalahi yang menyatakan :
.........PKI memang mendalangi pemberontakan.
Saya tidak tahu,
pada tgl. 1 Oktober 1965 sdr. Harry Tjan Silalahi derada dimana.
Saya adalah teman sekelas dari sdr. Harry Tjan Silalahi,
di kelas satu SMA Johanes De Britto - Yogyakarta.
Sedangkan saya pada tgl 1 Oktober 1965,
sudah menduduki jabatan sebagai Kapolres,
di salah satu Polres di Sumatera Barat.
Tanpa ada petunjuk dari atasan,
pada tgl 1 Oktober 1965,
saya sebagai anggota Panca Tunggal,
pada sekitar jam 14.00. telah dapat menarik kesimpulan,
bahwa gerakan G30S adalah suatu gerakan "coup de'etat",
yang dipimpin oleh Letkol Untung.
Dari dokumen2 otentik yang saya pelajari,
ternyata di belakang G30S adalah PKI.
Keterlibatan PKI ini,
diperkuat oleh hasil pemeriksaan,
yang dilakukan oleh Mahmillub di seluruh Indonesia,
maupun di Sumatera Barat.
Dan kami sebagai anggota Panca Tunggal,
kompak akan menolak perintah Letkol Untung,
untuk membentuk Dewan Rvolusi.
Kalau perlu,
kami siap menghadapi kembali terulangnya peristiwa PRRI di tahun 1958.
Pada tahun 1958,
Kapolda Sumbar KBP Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa dan Mayor AD Nurmathias,
menolak bergabung dengan PRRI yang dipimpin oleh Letkol Ahmad Husein.
KBP Kaharuddin dan Mayor Nurmathias dan sebagian anggotanya,
memilih keluar kota dan menunggu kedatangan pasukan dari pusat.
Kisah mengenai prolog,
kisah mengenai peristiwa G30S,
maupun epilog peristiwa G30S,
dapat kita temukan secara tuntas,
antara lain dalam buku2 :
1. Dokumen Terpilih Sekitar G30S/PKI, yang disunting oleh bpk Alex Dinuth
dari Lemhannas.
2. Memoar bpk Suharto yang berjudul : Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya.
3. Memoar bpk AH Nasution yang bejudul : Memenuhi Panggilan Tugas.
Buku2 tersebut diatas,
ditulis dalam bahasa Indonesia yang enak dibaca.
Selanjutnya,
masih banyak saksi dan pelaku sejarah dalam menghadapi G30S/PKI,
yang dewasa ini masih hidup yang dapat dimintai penjelasan,
sehingga tidak perlu menunggu hasil pengamatan dari orang asing.
Untuk melengkapi wawasan,
ada baiknya dibaca pidato bung Karno pada tgl. 17 Agustus 1965,
yang berjudul "Capailah Bintang-bintang di Langit".
Dalam pidato tersebut,
sudah tersirat adanya ketegangan2 nasional,
sebagai akibat konfrontasi dengan Malaysia.
Wassalam,
Jacky Mardono (82).
=====================================================
Rabu, 21 Oktober 2015, 18:15 WIB
Pengungkapan Kasus G-30-S/PKI Perlu Membuka Arsip Cina dan Rusia
Rep: Muhammad Subarkah/ Red: Muhammad Subarkah
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru Besar ilmu Politik Universitas Pertahanan
(Unhan) Salim Said mengatakan, masih banyak sumber data mengenai berbagai
peristiwa di seputaran tragedi G-30-S/PKI yang masih belum bisa dibuka. Selama
ini, sumber data yang diungkap baru berasal dari arsip yang memakai bahasa
Inggris atau berasal dari negara-negara barat, seperti Amerika Serikat dan
Inggris.
''Memang, sampai kapan pun saya merasa kepastian mengenai peristiwa
G-30-S/PKI akan terus menjadi misteri. Banyak hal yang akan tak bisa terungkap.
Dalam soal arsip, misalnya, arsip yang berasal atau memakai bahasa Cina dan
Rusia tentang peristiwa itu belum dibuka. Nah, kita tunggu seperti apa isi
arsip itu bila nanti sudah bisa dibaca,'' kata Salim Said dalam acara
peluncuran buku yang ditulisnya 'Gestapu 65: PK, Aidit, Sukarno, dan Suharto'
di Aula Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (21/10).
Salim mengatakan, agar lebih sempurna pemahaman mengenai soal Gestapu 65 maka
generasi masa kini yang menguasai dua bahasa itu hendaknya memulai penelusuran
isi arsip tersebut. Alhasil, bila nanti arsip berbahasa Cina dan Rusia sudah
dibaca oleh 'para anak bangsa' maka misteri yang ada di balik peristwa berdarah
itu akan banyak terkuak.
''Terus terang, peristwa Gestapu 65 adalah sebuah luka yang tak hanya
bersifat pribadi, tapi sudah menjadi luka bangsa secara keseluruhan. Untuk itu,
sebagai sebuah bangsa yang besar maka bangsa Indonesia harus bisa menyelesaikan
masalah ini secara beradab,'' kata Salim.
Menurut Salim, untuk menuntaskan kasus Gestapu 65 ke depan diyakini tidak
dapat diselesaikan secara tergesa-gesa. Apalagi, setelah era Orde Baru
Indonesia tak mungkin lagi punya presiden yang 'kuat'. Kekuatan politik di
bangsa ini tidak ada lagi ada yang dominan.
''Apakah Presiden Joko Widodo bisa menuntaskan soal Gestapu ini? Saya kira
tidak. Apalagi, beliau bukan presiden yang 'kuat'. Selain itu, pada saat yang
sama presiden juga punya tugas lain yang sifatnya begitu mendesak,'' tegas
Salim Said.
Sesepuh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Reubik Indonesia (PMKRI) Harry Tjan
Silalahi menyatakan secara khaqul yakin pada 30 September 1965, PKI memang
mendalangi pemberontakan. Tindakan nekad PKI ini di seputaran hari meletusnya
peristiwa pembantaian para jenderal itu memang sudah terasa dengan jelas.
''Peristiwa itu ada prolognya. Dua hari sebelum meledaknya G-30-S PKI itu
pemimpin PKI dalam pertemuan dengan Bung Karno di Istana Negara menuding Bung
Karno sembari meminta agar organisasi Himpunan Mahasa Islam (HMI) dibubarkan.
Dan, rancangan surat pembubaran ini pun sudah dibawa-bawa oleh Subandrio.
Namun, Bung Karno tak menyetujuinya,'' katanya.
Jadi, lanjut Harry Tjan, sebelum peristiwa Gestapu 65 meletus, para kader dan
aktivis PKI memang gencar sekali melawan pihak yang tidak setuju kepada
ideologi komunis. Dan, pertarungan dua kubu itu pun sudah sangat riil.
''Maka, boleh saja ada pihak yang mengatakan PKI tidak siap melakukan kudeta.
Namun, kan kalau membaca pledoinya Sudisman, semua keputusan akhir mengenai
perlu tidaknya melakukan perebutan kekuasaan sudah diputuskan agar di serahkan
kepada Ketua Umum PKI, DN Aidit,'' kata Harry Tjan Silalahi.
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/politik/15/10/21/nwkhx4385-pengungkapan-kasus-g30spki-perlu-membuka-arsip-cina-dan-rusia
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.