Bapak ibu sekalian, kalau saya membaca terjemahan Al Qur'an di bawah ini: Al-Qur'an jelas-jelas melarangnya: Allah mengharamkan atas kamu (makan) bangkai, darah,daging babi, dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah (QS Al-An'am: 145)
Maka saya berkesimpulan, jika kita menyembelih ayam TANPA (TIDAK) MEMBACA BISMILLAH juga AKAN HALAL. Tapi jika membacanya atas nama BU CITRO, NY. SUHARTI atau SELAIN ALLOH justru akan menjadi haram. Mohon diluruskan pengertian saya, karena terjemahan tersebut TIDAK MENYEBUTKAN ATAS NAMA ALLOH, tapi melarang menyebut SELAIN Alloh.... Terima kasih Wassalam soedardjo > Howdy, > >> Sent: 31 Agustus 2005 9:22 >> To: Milis Dikti >> Subject: Gudeg Jogja >> >> Mungkin orang jogja ada yang tahu kisah ini? Atau Pak Joko nih yang ada >> di >> Jogja. Mohon Komentarnya pak. Bagi yang merasa terganggu bisa dihapus > > 1. Saya sudah pernah mendapatkan email semacam ini dua tahun ybl. dan saya > sudah prediksi hal ini akan berdaur-ulang di internet years to come > so ... sudah saya arsipkan beserta bantahan dan komentarnya. > > 2. Karena saya tidak punya lembaga detektif swasta untuk menyelidiki hil- > hil yang demikian, maka silakan dihakimi sendiri, mau jadi hakim-bau > (Judge Bao) silakan, mau jadi hakim-wangi (Judge Dredd) silakan:-):-) > > 3. Surat aslinya: http://media.isnet.org/islam/Etc/Gudeg.html > Bantahannya: http://media.isnet.org/islam/Etc/TanggapGudeg.html > > 4. Saya belum check juga apakah LPPOM-MUI memang membuat surat seperti > ini. > > Howgh! > -- Djoko Luknanto, Jack la Motta, Luke Skywalker > " ... the more you travel the less you know" - Beatles > > >> Kehalalan Gudeg Yogya >> >> Dengan ringan si penjual menjawab bahwa sudah biasa bagi penjual/bakul >> Gudeg Yogya bahwa setiap ayam yang dimasak untuk gudeg, ayam tersebut >> tidak disembelih, tetapi ditusuk dengan besi di bagian lehernya. Sedang >> darah yang keluar ditampung dan nantinya dicampur dengan santan untuk >> dicampur dengan gudek itu. Daerah Istimewa Yogyakarta, selain terkenal >> dengan julukan kota pelajar, juga menyandang berbagai julukan lain >> seperti kota seni dan budaya, kota revolusi, kota sepeda, kota batik, >> juga sebagai kotak gudeg serta julukan lain yang merupakan cerminan dari >> hal-hal yang menonjol dari daerah tersebut. Dan itu tidak hanya populer >> di dalam negeri, tapi juga di manca negara. Akan halnya gudeg, lauk pauk >> ini merupakan ciri khas kota tersebut. Bagi masyarakat Yogya sendiri, >> gudeg merupakan lauk pauk sehari-hari yang sulit ditinggalkan bersama >> nasi dan bubur. Sebenarnya dilihat dari bahan-bahan pembuatnya, gudeg >> nampaknya halal-halal saja. Bahan pokoknya adalah nangka muda (orang >> Yogya >> menyebutnya ghori) yang direbus hingga lunak, lalu diberi santan dan >> bumbu dapur tertentu ditambah daun melinjo. >> >> Tetapi, pengalaman saya membuktikan bahwa gudeg bisa dikategorikan jenis >> makanan syubhat, bahkan haram. Saya berkenalan dengan lauk pauk yang >> rasanya manis ini, antara tahun 1981-1987 ketika saya berkuliah di salah >> satu perguruan tinggi negeri di kota tersebut. Waktu itu saya kost hanya >> dengan menyewa kamar dan makan di luar. Selama itu hampir tiap pagi saya >> sarapan nasi gudeg. Selain manis, juga gurih, dan tentu saja murah. >> Bahkan kalau pulang kampung, saya dan teman-teman kadang membawa >> oleh-oleh gudeg yang sudah dibuat tahan lama. >> >> Selama beberapa tahun, saya menikmati gudeg tanpa ada rasa curiga atau >> berprasangka buruk tentang kehalalannya. Namun, pada suatu hari, ketika >> sedang membeli di warung langganan saya, saya melihat di tempayan >> (tempat gudeg diolah), ada kepala dan leher seekor ayam yang masih utuh >> (tidak ada bekas sembelihan). Lalu saya tanya kepada si penjual gudeg, >> apakah ayamnya tidak disembelih? Dengan ringan si penjual menjawab bahwa >> sudah bisa bagi penjual/bakul gudeg bahwa setiap ayam yang dimasak untuk >> gudeg, ayam tersebut tidak disembelih, tetapi ditusuk dengan besi di >> bagian lehernya. Sedang darah yang keluar ditampung dan nantinya >> dicampur dengan santan untuk dicampur dengan gudeg itu. Dan justru darah >> inilah yang memberi rasa gurih dan memberi warna kecoklat-coklatan. >> Masya Allah. Saya benar-benar terkejut, dan gudeg yang saya beli pagi >> itupun segera saya tinggalkan. Saya berusaha mencari informasi di >> tempat-tempat lain tentang bahan-bahan dan cara pembuatannya. Ternyata >> hampir semua >> jawaban sama, yaitu: ayamnya tidak disembelih, tapi ditusuk, darah ayam >> ditampung, lalu dimasukkan ke dalam gudegnya. >> >> Pertanyaan kita, apakah semua penjual/pembuat gudeg melakukan hal yang >> serupa? Wallaahua'lam. Dalam masalah ini sebagai konsumen Muslim, yang >> diperlukan tentu saja sikap jujur si penjual gudeg. Apakah ayamnya telah >> disembelih secara Islami dan otomatis darahnya tidak dicampurkan. Kita >> memang perlu bersikap hati-hati. Jangan karena gudeg yang sudah >> merakyat, lalu kita seenaknya saja mengikuti selera orang kebanyakan, >> padahal Al-Qur'an jelas-jelas melarangnya: Allah mengharamkan atas kamu >> (makan) bangkai, darah,daging babi, dan apa yang disembelih dengan >> menyebut nama selain Allah (QS Al-An'am: 145) >> >> LPPOM-MUI > > > _______________________________________________ > is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
