Howdy, > Sent: 31 Agustus 2005 9:22 > To: Milis Dikti > Subject: Gudeg Jogja > > Mungkin orang jogja ada yang tahu kisah ini? Atau Pak Joko nih yang ada di > Jogja. Mohon Komentarnya pak. Bagi yang merasa terganggu bisa dihapus
1. Saya sudah pernah mendapatkan email semacam ini dua tahun ybl. dan saya sudah prediksi hal ini akan berdaur-ulang di internet years to come so ... sudah saya arsipkan beserta bantahan dan komentarnya. 2. Karena saya tidak punya lembaga detektif swasta untuk menyelidiki hil- hil yang demikian, maka silakan dihakimi sendiri, mau jadi hakim-bau (Judge Bao) silakan, mau jadi hakim-wangi (Judge Dredd) silakan:-):-) 3. Surat aslinya: http://media.isnet.org/islam/Etc/Gudeg.html Bantahannya: http://media.isnet.org/islam/Etc/TanggapGudeg.html 4. Saya belum check juga apakah LPPOM-MUI memang membuat surat seperti ini. Howgh! -- Djoko Luknanto, Jack la Motta, Luke Skywalker " ... the more you travel the less you know" - Beatles > Kehalalan Gudeg Yogya > > Dengan ringan si penjual menjawab bahwa sudah biasa bagi penjual/bakul > Gudeg Yogya bahwa setiap ayam yang dimasak untuk gudeg, ayam tersebut > tidak disembelih, tetapi ditusuk dengan besi di bagian lehernya. Sedang > darah yang keluar ditampung dan nantinya dicampur dengan santan untuk > dicampur dengan gudek itu. Daerah Istimewa Yogyakarta, selain terkenal > dengan julukan kota pelajar, juga menyandang berbagai julukan lain > seperti kota seni dan budaya, kota revolusi, kota sepeda, kota batik, > juga sebagai kotak gudeg serta julukan lain yang merupakan cerminan dari > hal-hal yang menonjol dari daerah tersebut. Dan itu tidak hanya populer > di dalam negeri, tapi juga di manca negara. Akan halnya gudeg, lauk pauk > ini merupakan ciri khas kota tersebut. Bagi masyarakat Yogya sendiri, > gudeg merupakan lauk pauk sehari-hari yang sulit ditinggalkan bersama > nasi dan bubur. Sebenarnya dilihat dari bahan-bahan pembuatnya, gudeg > nampaknya halal-halal saja. Bahan pokoknya adalah nangka muda (orang > Yogya > menyebutnya ghori) yang direbus hingga lunak, lalu diberi santan dan > bumbu dapur tertentu ditambah daun melinjo. > > Tetapi, pengalaman saya membuktikan bahwa gudeg bisa dikategorikan jenis > makanan syubhat, bahkan haram. Saya berkenalan dengan lauk pauk yang > rasanya manis ini, antara tahun 1981-1987 ketika saya berkuliah di salah > satu perguruan tinggi negeri di kota tersebut. Waktu itu saya kost hanya > dengan menyewa kamar dan makan di luar. Selama itu hampir tiap pagi saya > sarapan nasi gudeg. Selain manis, juga gurih, dan tentu saja murah. > Bahkan kalau pulang kampung, saya dan teman-teman kadang membawa > oleh-oleh gudeg yang sudah dibuat tahan lama. > > Selama beberapa tahun, saya menikmati gudeg tanpa ada rasa curiga atau > berprasangka buruk tentang kehalalannya. Namun, pada suatu hari, ketika > sedang membeli di warung langganan saya, saya melihat di tempayan > (tempat gudeg diolah), ada kepala dan leher seekor ayam yang masih utuh > (tidak ada bekas sembelihan). Lalu saya tanya kepada si penjual gudeg, > apakah ayamnya tidak disembelih? Dengan ringan si penjual menjawab bahwa > sudah bisa bagi penjual/bakul gudeg bahwa setiap ayam yang dimasak untuk > gudeg, ayam tersebut tidak disembelih, tetapi ditusuk dengan besi di > bagian lehernya. Sedang darah yang keluar ditampung dan nantinya > dicampur dengan santan untuk dicampur dengan gudeg itu. Dan justru darah > inilah yang memberi rasa gurih dan memberi warna kecoklat-coklatan. > Masya Allah. Saya benar-benar terkejut, dan gudeg yang saya beli pagi > itupun segera saya tinggalkan. Saya berusaha mencari informasi di > tempat-tempat lain tentang bahan-bahan dan cara pembuatannya. Ternyata > hampir semua > jawaban sama, yaitu: ayamnya tidak disembelih, tapi ditusuk, darah ayam > ditampung, lalu dimasukkan ke dalam gudegnya. > > Pertanyaan kita, apakah semua penjual/pembuat gudeg melakukan hal yang > serupa? Wallaahua'lam. Dalam masalah ini sebagai konsumen Muslim, yang > diperlukan tentu saja sikap jujur si penjual gudeg. Apakah ayamnya telah > disembelih secara Islami dan otomatis darahnya tidak dicampurkan. Kita > memang perlu bersikap hati-hati. Jangan karena gudeg yang sudah > merakyat, lalu kita seenaknya saja mengikuti selera orang kebanyakan, > padahal Al-Qur'an jelas-jelas melarangnya: Allah mengharamkan atas kamu > (makan) bangkai, darah,daging babi, dan apa yang disembelih dengan > menyebut nama selain Allah (QS Al-An'am: 145) > > LPPOM-MUI _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
