Pak AM ysh.,

Saya tidak menemukan fakta yang bapak sebutkan. Tauhid adalah risalah yang
diwahyukan Allah, diajarkan oleh Jibril (*allamahu syadidul quwwa* - QS, An
Najm) kepada para Nabi, kemudian sampai kepada kita dengan proses belajar.
Sepeninggal rasulullah sholallaahu 'alaihi wa sallam, ilmu tersebut diwariskan
kepada para ulama (hadits ulama warotsatul anbiya), dan umat rasul tidak akan
bersepakat dalam kesesatan (hadits umatku tidak akan bersepakat dalam
kesesatan). Saya memahami ajaran Tauhid yang dijabarkan oleh para ulama dalam
penjelasan yang mutawattir (secara ijma') dilindungi Allah dari kesesatan sesuai
hadits tersebut. Karena ajaran Tauhid itu sumbernya dari Allah yang Ahad yang
menciptakan manusia, sedang manusia itu pada dasarnya adalah satu umat, maka
ajaran itu ya hanya satu.

*Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau
tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah
telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan
itu. * (QS. Yunus)

*dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah
dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan
itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah
agar kamu bertakwa.* (QS. Al An'am)

Maka yang ada selain ajaran Tauhid itu hanyalah penyimpangan-penyimpangan dari
ajaran Tauhid. Bisa dilihat penjelasan-penjelasan yang telah disepakati para
ulama mengenai ayat ini. Apakah bernada sinkretistik atau tidak.

Hanya masalahnya terkadang saya sendiri yang kurang mendalami dan menyelami
penjelasan-penjelasan para ulama tersebut. Apalagi kalau penjelasan tersebut
disajikan dengan bahasa sastra yang tinggi. Ibarat anak SD mencoba menilai
mengkritik desertasi doktor. Maka kritik atau penilaian yang dihasilkan saya ya
sebatas wawasan yang masih dangkal tersebut. Juga dengan hati yang masih tidak
bersih, yang bisa memunculkan prasangka macam-macam terhadap para ulama,
akibatnya kritik dan penilaian yang dihasilkan saya juga tidak bersih dari
subyektivitas.

Mari sebelum mencoba menilai atau mengkritik karya warisan para ulama tersebut,
kita selami dulu dengan hati yang bersih sedalam-dalamnya. Kalau belum
barangkali tidak bermanfaat untuk mengomentari mereka. Kata orang Sunda mah
*wantun galeuh, teu wantun ulah geuleuh, lamun butuh keureuyeuh*.

Wallahu a'lam,

= Wizh =




Please respond to Milis is-lam <[email protected]>

To:   [email protected]
cc:    (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv)
Subject:  [is-lam] Re: is-lam Digest, Vol 14, Issue 20


Pak Wizh wrote:

" Boleh bertanya dulu, Pak, ulama yang mana yang menyatakan bahwa ad-Diinul
Islam adalah salah satu agama yang samawi di dunia ini ? Kelihatannya bahkan
Ibnu Arabi sendiri tidak berpemahaman demikian, seperti dikaji oleh
teman-teman insist di majalah Islamia. Jadi rasanya agama samawi itu cuma
satu saja, selainnya adalah penyimpangan dari agama samawi."
>
> = Wizh =

Komentar:

Pak Wizh, maaf apabila ungkapan saya kurang mengena di hati. Tetapi yang
ingin saya capai adalah pengakuan fakta bahwa semenjak rasulullah Muhammad
saw wafat, Al-Dinu al-Islam yang disampaikan oleh rasul di dalam praktek
kehidupan bangsanya telah "disucikan" melalui teologi Arab zaman sebelum
rasulullah menyampaikan risalah Al-Quran dan selanjutnya oleh para sahabat
rasulullah sendiri telah ditempatkan kembali ke dalam gedung-gedung indah
(renungkan kembali peristiwa-peristiwa penetapan Abu Bakar sebagai "holif,
auliya, pemimpin" kaum Muslimin secara "dekrit, penetapan" oleh Umar bin
Hotob dan akibat-akibat selanjutnya yang terjadi di dalam tarih masyarakat
Muslimin). Dan selanjutnya dalam proses tersebarnya Al-Dinu al-Islam keluar
dari semenanjung Arabia terjadi proses akulturasi dan praktek sinkretik
sehingga Al-Dinu al-Islam diangkat ke jajaran Agama-agama oleh para 'alim
dan 'ulama zaman emasnya kerajaan dan kesultanan Muslim. Hal ini dapat bapak
baca pada karya-karya Al-Gazali dkk, Al-Asy'ari dkk, Ibn al-Rusyd dkk,
Ibn-al-'Arabi dkk (mungkin teman-teman di INSIST kurang jeli, barangkali?)
hingga ke jajaran al-Maududi, Fazlur Rahman, Al-Raniri, Al-Bantani, Wali
Songo, Nurcholis Madjid hingga Adian Husaini. Para 'alim dan 'ulama ini
semua mengakui dan yaqiin 'ainu al-yaqiin bahwa Al-Dinu al-Islam adalah
"suatu Agama" samawi (Agama Langit). Benar apa tidak konstatasi saya ini?

Selanjutnya baca Al-Quran seayat demi seayat dan inferensikan dengan
realitas kehidupan manusia di dunia ini, termasuk kehidupan pribadi kita
sendiri. Apakah inti pokok firman-firman Allah swt yang termuat di dalam 114
Surah.

Wassalam,
A.M


> Wa'alaikum salam warohmatullahi wabarokaatuh.
>
> Pak AM yang semoga selalu dilimpahi berkah, rahmat dan hidayah Allah.
> Mudah-mudahan forum diskusi ini bisa menjadi washilah sarana kita
> mendekatkan
> diri kepada Allah. Rasanya masih jauh jalan yang mesti ditempuh, sehingga
> seharusnya banyak sekali topik menarik yang bisa didiskusikan.
>
> Boleh bertanya dulu, Pak, ulama yang mana yang menyatakan bahwa ad-Diinul
> Islam
> adalah salah satu agama yang samawi di dunia ini ? Kelihatannya bahkan
> Ibnu
> Arabi sendiri tidak berpemahaman demikian, seperti dikaji oleh teman-teman
> insist di majalah Islamia. Jadi rasanya agama samawi itu cuma satu saja,
> selainnya adalah penyimpangan dari agama samawi.
>
> = Wizh =
>
>
>
>
> To:   [email protected]
> Subject:  [is-lam] Re: is-lam Digest, Vol 14, Issue 17
>
>
> Assalammu'alaikum wr wb,
>
> Saya baca ada komentar dari ex-member (yang minta unsubscribe dari
> maillist
> ini) yang menyatakan "tema diskusi tidak menarik lagi". Tema apa
> sesungguhnya yang menarik untuk kaum Muslimin pada saat ini? Sebab
> kehidupan
> manusia sangat luas dan tema Al-Dinu al-Islam itu lebih luas lagi,
> maksudnya
> mulai dari tema penciptaan alam semesta, penciptaan kehidupan di bumi
> hingga
> penciptaan manusia, di samping itu juga tema-tema teka-teki keberadaan
> Allah
> swt sendiri (dimulai dari masalah keimanan hingga kekafiran melalui
> istilah-istilah kemusyrikan, kemunafikan, kemurtadan dll). Firman Allah
> swt
> yang tercatat dalam Kitab Al-Quranu al-Kariim tidak saja menangani
> permasalahan penciptaan tetapi sampai kepada lika-likunya polah laku
> manusia
> orang seorang maupun kelompok di dalam proses hidupnya. Luasnya horizon
> firman-firman Allah swt yang tercatat itu sesungguhnya dimaksudkan sebagai
> Hudan, Pembimbing, Petunjuk, Penerang, Nur, bagi perjalanan manusia di
> dalam
> hidup di bumi!
>
> Jadi apabila kita analisis dengan kacamata budaya abad 21 ini,
> sesungguhnya
> ber-Islam adalah suatu tindak politik yang ilmiah (karena berpolitik itu
> artinya adalah bagaimana harus hidup dan memenuhi kebutuhan untuk hidup
> sehingga di semua polah laku hidup manusia harus menterapkan suatu
> politik)
> sesuai dengan sifat-sifat intrinsik dan mendasar dari manusia yang
> diciptakan untuk hanya mengabdi kepada Allah swt.
>
> Jadi sebaiknya para members janganlah gampang-gampang meninggalkan media
> yang sangat berguna ini dengan alasan yang konsumptif. Marilah kita
> galakkan
> diskusi yang dapat menggiring diri kita ke jalan Allah swt yang benar dan
> hanya satu-satunya ini (tidak seperti "semua jalan menuju ke Roma").
>
> Saya lemparkan satu problim yang cukup aktual hingga kini: Benarkah
> kesimpulan para 'alim dan 'ulama dari semenjak wafatnya rasulullah
> Muhammad
> saw hingga saat ini yang menyatakan bahwa Al-Dinu al-Islam adalah salah
> satu
> Agama samawi di dunia ini?(artinya "semua jalan menuju ke Roma").
>
> Wassalam,
> A.M




_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke