Kesesatan Dawam dan Sikap Muslim dalam Menghadapi
Munafik

Assalamu’alaikum wr wb,

Dawam Rahardjo telah mengatakan bahwa berpindah agama
tidak berarti murtad. Ini adalah masalah yang serius
dan telah dimuat di Suara Pembaruan dan menyebar di
Internet. 

Jika ada Muslim yang awam tersesat dan pindah agama
karenanya, bukan hanya Dawam, tapi kita juga berdosa
jika diam saja dan tidak melakukan amar ma’ruf nahi
munkar. Padahal Amar ma’ruf nahi munkar itu
diperintahkan Allah.

“Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan,
mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari
yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan)
pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang
yang saleh.” [AliImran:114]

Pecahnya ummat Islam menjadi 2 dalam menghadapi
golongan munafik juga sangat memprihatinkan. Ada dari
kita yang berharap agar mereka dapat petunjuk, padahal
Allah menjelaskan bahwa mereka telah kafir karena
perbuatan mereka sendiri. Allah juga melarang kita
menjadikan mereka sebagai penolong/sahabat:

“ Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua
golongan[328] dalam (menghadapi) orang-orang munafik,
padahal Allah telah membalikkan mereka kepada
kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah
kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang
yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang
disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan
jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya” [An
Nisaa’:88]

[328]. Maksudnya: golongan orang-orang mukmin yang
membela orang-orang munafik dan golongan orang-orang
mukmin yang memusuhi mereka.  

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana
mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama
(dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara
mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah
pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan
dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan
janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka
menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong”
[An Nisaa’:89]

Ayat di atas cukup bagi kita untuk menyikapi
orang-orang munafik. Orang munafik lebih berbahaya
dari orang kafir. Karena mereka berpura-pura menjadi
Muslim/cendekiawan Muslim guna menyesatkan orang
Islam. Bahkan ada yang sampai membangun masjid
sebagaimana terjadi di zaman Nabi:

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada
orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan
kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk
kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang
mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang
telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu[660].
Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki
selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa
sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam
sumpahnya). “ [At Taubah:107]

[660]. Yang dimaksudkan dengan orang yang telah
memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu ialah
seorang pendeta Nasrani bernama Abu 'Amir, yang mereka
tunggu-tunggu kedatangannya dari Syiria untuk
bersembahyang di masjid yang mereka dirikan itu, serta
membawa tentara Romawi yang akan memerangi kaum
muslimin. Akan tetapi kedatangan Abu 'Amir ini tidak
jadi karena ia mati di Syiria. Dan masjid yang
didirikan kaum munafik itu diruntuhkan atas perintah
Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan wahyu yang
diterimanya sesudah kembali dari perang Tabuk.

Ada yang berpendapat Dawam hanya keseleo lidah.
Sayangnya pernyataan Dawam yang menyimpang dari Islam
bukan hanya itu. Sebelumnya dia mendukung alirat sesat
Ahmadiyah (yang menganggap Ghulam Mirza Ahmad sebagai
Nabi setelah Nabi Muhammad) dan menyebut MUI yang
megeluarkan fatwa Ahmadiyah sesat sebagai Aliran Sesat
sehingga akhirnya dikeluarkan dari Muhammadiyyah.

==
http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/30/nas13.htm
Sementara itu, Dawam Rahardjo menyatakan tidak ada
gunanya mempertahankan MUI lagi. Dia juga berpendapat
sebaiknya lembaga tersebut dibubarkan. "Saya pikir,
MUI adalah aliran sesat karena telah mengeluarkan
fatwa yang menyesatkan," tandasnya.

Menurut Dawam, Ahmadiyah jangan disesatkan. Mereka
adalah bagian dari umat Islam. 

"Seharusnya ada salah satu pengurus MUI yang berasal
dari Ahmadiyah," katanya.
==

Gara-gara sepak-terjangnya pula, 13 Januari 2006 lalu,
sebagaimana dimuat di tempointeraktif.com, Ketua Umum
Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dien Syamsuddin
mengatakan, Dawam Rahardjo "dipecat secara tidak
langsung" oleh organisasinya (Muhammadiyah) . Hal ini
terutama berkaitan dengan pandangan-pandangannya
terhadap liran Ahmadiyah.
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2006/01/13/brk,20060113-72249,id.html

Dawam juga merupakan salah satu kontributor Jaringan
Islam Liberal
(http://islamlib.com/id/index.php?page=archives&mode=author&id=163).
Salah satu tulisannya:
==
http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=962
Ketiga, semua agama itu sama, dalam arti semua agama
itu, dalam perspektif masing-masing, pada hakikatnya
merupakan jalan menuju kebenaran dan kebajikan. Tidak
ada agama yang mengajarkan kesalahan atau keburukan
dan kejahatan.
==

Bagaimana mungkin semua agama benar dan baik sementara
ada yang mengajarkan syirik dan Allah menyatakan
syirik adalah dosa terbesar dan tidak terampuni?

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain
dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh
ia telah berbuat dosa yang besar.” [An Nisaa’48]

Dawam juga menentang RUU yang melarang pornografi dan
porno aksi bersama artis seperti Inul:
==
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0604/23/UTAMA/2604598.htm
Sejumlah sosok dari berbagai kelompok turut dalam
pawai, seperti Franky Sahilatua, Ratna Sarumpaet,
Dawam Rahardjo, Inul Daratista, Ayu Utami, Adi Kurdi,
Sarwono Kusumaatmadja, Jajang C Noer, Rima Melati,
Yeni Rosa Damayanti, Butet Kertaradjasa, Sukmawati
Soekarnoputri, Garin Nugroho, Goenawan Moehammad, dan
Nia Dinata.
==

Jelas perbuatan  Dawam dalam mendukung kesesataan dan
memaki orang yang lurus sebagai sesat begitu konsisten
dari dulu hingga sekarang.

Ada sebagian orang Islam yang terkecoh. Mudah-mudahan
tulisan ini bisa menjelaskan hal yang sebenarnya.

Wassalamu’alaikum wr wb

==

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3130&Itemid=55
"Menunggu Ketegasan Muhammadiyah"      
Sabtu, 13 Mei 2006  
Salah satu tujuan utama didirikannya Muhammadiyah
adalah pemurnikan tauhid. Sayang, Muhammadiyah belum
tegas terhadap pengurusnya yang jelas menyimpang. Baca
Catatan Adian Husaini ke-146

Oleh: Adian Husaini

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berjanji untuk segera
memutuskan status keanggotaan Dawam Rahardjo di
Muhammadiyah. Menurut Wakil Ketua PP Muhammadiyah,
Goodwil Zubair, dalam waktu dekat, akan ada Rapat
Pleno PP Muhammadiyah dan masalah status Dawam
Rahardjo ini akan dibicarakan dalam rapat tersebut. 

Goodwil menyampaikan hal itu kepada delegasi Front
Penanggulangan Ahmadiyah dan Aliran Sesat (FPAS), yang
mendatangi PP Muhammadiyah di Jalan Menteng Raya 62
Jakpus, Rabu (3/5/2006). 


Kepada delegasi FPAS, Goodwil mengabarkan, bahwa
hampir setiap hari ada warga Muhammadiyah yang
mengadukan masalah Dawam Rahardjo kepada PP
Muhammadiyah. Ditambahkan juga oleh seorang pengurus
Majelis Tablig PP Muhammaidyah, bahwa ketika Musda
Muhammadiyah Bekasi, banyak juga yang mempertanyakan
sikap PP Muhammadiyah terhadap Dawam Rahardjo. 


Kepada PP Muhammadiyah, FPAS mendesak, agar Dawam
Rahardjo dipecat secara resmi dari keanggotaan
Muhammadiyah, mengingat sepak terjangnya yang sudah
sangat keterlaluan dalam melakukan pembelaan terhadap
kelompok sesat Ahmadiyah dan berbagai ucapannya yang
menyudutkan umat Islam di Indonesia. 

Padahal, sebagaimana kita sebutkan dalam catatan yang
lalu, sejak tahun 1934, Majelis Tarjih Muhammadiyah
sudah memutuskan, bahwa orang yang mengimani ada nabi
lagi setelah Nabi Muhammad adalah KAFIR. “Sepak
terjang Dawam Rahardjo bukan hanya merugikan
Muhammadiyah, tetapi juga umat Islam Indonesia,” tegas
Mashadi, mantan anggota Komisi I DPR, yang hadir dalam
delegasi FPAS. Karena itu, Mashadi mendesak PP
Muhammadiyah, agar berani menegakkan disiplin
organisasi terutama yang berkaitan dengan aqidah
Islam. 


Menanggapi desakan itu, Goodwil menyatakan, secara
individu, sejumlah anggota PP Muhammadiyah juga sudah
berpendapat agar Dawam Rahardjo segera dipecat secara
resmi dari keanggotaannya di Muhammadiyah. Tetapi, itu
masih merupakan pendapat-pendapat individu; belum
menjadi keputusan resmi organisasi. Insyaallah,
masalah Dawam, kata Goodwil, akan segera dituntaskan
secara organisasi. 


Dalam acara pertemuan tersebut, TIM FAKTA (Forum
Antisipasi Pemurtadan), juga menyerahkan bukti-bukti
ceramah Dawam Rahardjo (dalam bentuk VCD dan transkrip
ceramah), di hadapan Jemaat Kristen di Balai Sarbini
Semanggi Jakarta pada 28 April 2006 lalu. Diantara isi
ceramahnya, Dawam menyatakan, bahwa Menteri Agama RI
harus segera diganti. Dan penggantinya sebaiknya bukan
dari kalangan Muslim, tetapi dari golongan minoritas. 


“Kalau itu berasal dari kelompok agama yang mayoritas,
wah, itu pasti dia cenderung untuk selalu melanggar,
karena merasa berani dan merasa kuat,” kata Dawam. Ia
juga menegaskan, bahwa kebebasan beragama di 
Indonesia harus diperjuangkan, termasuk kebebasan
untuk tidak beragama. 


Menyimak pernyataan Dawam tersebut, kita bisa menilai,
orang seperti apakah Dawam Rahardjo ini? Hanya karena
untuk mengambil hati kaum Kristen, maka dia berani
menyampaikan sesuatu yang sulit diterima akal sehat.
Kaum Kristen pun mungkin tidak terpikir seperti itu.
Di daerah-daerah mayoritas Kristen di Indonesia,
seperti NTT dan Sulawesi Utara, kaum Kristen menuntut
agar Kepala Kanwil Departemen Agama adalah dari
kalangan mereka, kaum Kristen. 

Maka, pernyataan Dawam bahwa, jika orang Muslim yang
menjadi Menteri Agama, maka akan cenderung melanggar,
adalah tidak berdasar sama sekali. 


Dalam pertemuan dengan PP Muhammadiyah, sejumlah
pengurus Muhammadiyah sendiri juga mengungkapkan
data-data seputar kesalahan yang telah diperbuat Dawam
Rahardjo ketika aktif di Majelis Ekonomi Muhammadiyah.


Karena itulah, kita semua menunggu keberanian
Muhammadiyah untuk mengambil sikap yang tegas terhadap
Dawam Rahardjo. Sebagai pengurus Majelis Tabligh PP
Muhammadiyah, saya juga mengingatkan, agar
Muhammadiyah sangat peduli dan berani mengambil sikap
yang tegas dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan
aqidah Islam. Sebab, itulah tujuan utama Muhammadiyah
didirikan. Dan masalah aqidah (Tauhid) inilah yang
juga menjadi tugas pokok dari semua Nabi yang diutus
Allah SWT kepada umat manusia. 


Adalah sangat tidak patut, jika Muhammadiyah
mengabaikan masalah keimanan dan lebih menekankan pada
masalah amal usaha semata. Paham syirik modern,
seperti paham Pluralisme Agama, seharusnya mendapat
penanganan yang serius di Muhammadiyah. “Jangan sampai
azab Allah ditimpakan kepada Muhammadiyah,  karena
mengabaikan masalah aqidah ini,” saran saya kepada PP
Muhammadiyah. Saya ingat, sekitar tahun 1970-an, Bapak
saya yang aktif di Muhammadiyah Cepu, begitu sibuk
membahas masalah-masalah yang  berkaitan dengan
takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC). 

Sekarang ini, menurut Syamsul Hidayat, Wakil Ketua
Majlis Tabligh Muhammadiyah, penyakit TBC sudah
menjelma menjadi ‘sipilis’ (sekularisme, pluralisme
agama, dan liberalisme).  Masalah inilah yang harusnya
terus menjadi perhatian utama pimpinan Muhammadiyah. 

Jangan sampai di tubuh Muhammadiyah bersarang penyakit
TBC atau ‘sipilis’. Sebab, syirik adalah kezaliman
yang besar. Dosa syirik adalah urusan besar. Adalah
aneh, jika di tubuh Muhammadiyah disebarkan paham
Pluralisme Agama yang menyatakan semua agama adalah
benar dan sah sebagai jalan menuju Tuhan. 


Kepada PP Muhammadiyah, Mashadi, yang juga pengurus
Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, tak lupa mengingatkan
pimpinan Muhammadiyah agar lebih memperhatikan umatnya
dan mengurusi internal warga dan amal usaha
Muhammadiyah. Kata Mashadi, itu lebih baik, ketimbang
sibuk mencari muka kepada pemimpin-pemimpin Barat. 

Urusan umat begitu besar, dan harusnya semua itu
menjadi prioritas kerja pimpinan Muhammadiyah. Saran
Mashadi itu perlu direnungkan dengan mendalam oleh
pimpinan Muhammadiyah. Mereka sudah saatnya melakukan
pembenahan total dan mendasar ke kampus-kampus
Muhammadiyah, sekolah-sekolah Muhammadiyah,
rumah-rumah sakit Muhammadiyah dan sebagainya. Jika
semua itu berhasil dilakukan dengan baik oleh Prof.
Dr. Din Syamsuddin dan kawan-kawan, maka sekitar 20-30
tahun lagi, Muhamadiyah akan menjadi kekuatan umat
yang sangat signifikan sebagai gerakan dakwah dan
gerakan budaya di Indonesia.

Pemimpin Muhammadiyah harus meninggalkan cara pandang
yang terlalu pragmatis dan silau dengan
prestasi-prestasi politik sesaat yang tidak memberikan
perubahan yang mendasar terhadap  masa depan  mat
Islam. Target-target politik jangka pendek jangan
sampai mengorbankan urusan aqidah dan perjuangan
jangka panjang dalam bidang dakwah yang lebih
strategis bagi masa depan umat.


Untuk itu, tidak bisa tidak, pimpinan Muhammadiyah
harus memperhatikan masalah aqidah dan ilmu. Disiplin
dalam kedua harus harus mulai ditegakkan dengan kuat.

Perlu dibuat target, misalnya, sepuluh tahun lagi,
tidak boleh ada sarjana lulusan pendidikan tinggi 
Muhammadiyah yang menjadi penghujat aqidah Islam atau
tidak menjalankan shalat lima waktu. Kampus
Muhammadiyah harus menjadi pusat pembinaan kader-kader
intelektual atau ulama yang memiliki kualitas ilmu dan
amal yang tinggi. 


Semua itu bisa dilaksanakan jika dimulai dari pucuk
pimpinan terlebih dulu. Pemimpin Muhammadiyah harus
menjadi teladan bagi umatnya, dalam bidang ilmu dan
amal. Mereka nanti akan dimintai pertanggungjawaban di
hadapan Allah, atas segala amanah yang diterima.


Karena itu, kasus Dawam Rahardjo ini menjadi batu
ujian untuk pimpinan Muhammadiyah. Beranikah mereka
mengambil keputusan yang tegas terhadap seorang
anggota Muhammadiyah yang jelas-jelas menentang ajaran
Islam dan menyudutkan umat Islam dalam berbagai
kesempatan. Apalagi, setelah resmi diberhentikan d ari
Majelis Ekonomi Muhammadiyah, sepak terjang Dawam
Rahardjo semakin liar.  

Di berbagai organisasi Islam, bahkan di berbagai
lingkungan perguruan tinggi Islam,  penegakan disiplin
dalam soal aqidah dan pemikiran Islam ini tampak
begitu lemah. Kekeliruan yang mendasar dalam bidang
keilmuan sering dipuji-puji sebagai prestasi keilmuan.

Ini adalah bentuk kezaliman yang sangat nyata. Orang
yang bukan ulama diagung-agungkan sebagai ulama besar.
Cendekiawan yang keliru dalam pemikirannya dipuja-puji
sebagai pemikir besar ata  pembaru  (mujaddid) Islam. 


Pada 19 April 2006, saya diundang ke salah satu
perguruan tinggi Islam di Bandung untuk menjadi
pembicara dalam acara bedah buku saya ‘Hegemoni
Kristren-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi’.
Di dalam forum, ada seorang mahasiswa yang menyatakan,
bahwa ada dosennya yang mengatakan, al-Quran perlu
dikritik. Ada lagi mahasiswa yang cerita, usai acara,
bahwa ada dosennya (laki-laki) yang secara
terang-terangan tidak melaksanakan shalat Jumat. 

Seorang dosen yang juga petinggi di kampus itu, malah
menyatakan, bahwa di kampusnya memang tidak diajarkan
aqidah Islam, tetapi hanya diajarkan Ilmu Kalam.  Kita
tentu heran, mengapa semua itu dibiarkan terjadi
begitu lama ?  Seolah-olah tidak ada masalah yang
serius. 

Pendidikan Tinggi Islam, sebagaimana dicita-citakan
oleh umat Islam, seyogyanya dikelola oleh cendekiawan
yang memahami dan mengamalkan Islam, sehingga
diharapkan akan melahirkan sarjana-sarjana yang
bermutu tinggi dan baik. Meskipun jumlah yang rusak,
secara kuantitatif, tidak banyak, tetapi karena
‘penyakit’ itu dibiarkan saja, maka lama kelamaan akan
menyebar dan merusak semua sistem yang ada. 

Dr. Moh. Natsir pernah mengungkapkan, jika mau
memadamkan api, lakukan ketika api itu masih kecil.
Jika ada pemikiran yang dianggap baru dan menyimpang –
seperti pernyataan bahwa al-Quran bukan Kitab Suci -- 
maka secepatnya harus dilakukan klarifikasi, diuji
secara ilmiah, dan dikonfrontasikan dengan para
ilmuwan lain. Tidak boleh dibiarkan begitu saja. Jika
ada dosen yang tidak shalat, maka harus segera
disidang oleh senat guru besar dan disadarkan untuk
bertobat. Jika tidak mau juga, maka seyogyanya diambil
tindakan yang tegas. Meninggalkan shalat lima waktu
adalah tindakan kejahatan dan dosa besar dalam
pandangan Islam. Bukan hanya mencuri atau korupsi
saja. Jadi, seyogyanya, satu organisasi, kampus, atau
lembaga Islam, menerapkan disiplin organisasi dan
pemikiran Islam ke dalam dulu, sebelum menerapkan atau
memperjuangkannya kepada lembaga lain. 


Sikap kritis dan tegas dalam pemikiran dan keilmuan
harus ditegakkan, khususnya di kalangan ilmuwan.
Adalah sangat berbahaya jika para ilmuwan sendiri
kehilangan sikap kritis, dan sekedar memuja-muji 
seseorang tanpa  sikap kritis yang memadai. Ini
terjadi, misalnya, terhadap Nurcholish Madjid dan
Harun Nasution. Kedua ilmuwan ini sering dipuji-puji
tanpa memberikan kritik yang memadai terhadap sejumlah
pemikiran mereka yang keliru. Sebagai contoh, dalam
sebuah buku berjudul “Teologi Islam Rasional”, banyak
ilmuwan yang memberikan pujian yang berlebihan dan
kurang kritis terhadap pemikiran Prof. Dr. Harun
Nasution. 


Prof. Dr. Said Agil al-Munawwar, misalnya, menulis
dalam buku ini: “Karena itu, beliau perlu diteladani
oleh para intelektual maupun generasi berikutnya.
Harun Nasution adalah sebagai salah seorang tokoh
pembaru diantara sedikit tokoh yang ada, ia termasuk
tokoh sentral dalam menyemaikan ide pembaruan bersama
tokoh lainnya di Indonesia … Harun sangat tepat
disebut pemancang perubahan dalam tradisi akademik di
lingkungan perguruan tinggi Islam Indonesia.  (Teologi
Islam Rasional, 2005:xvi-xvii).”

Ada sejumlah pemikiran Harun Nasution yang sangat
perlu dikritisi, sebelum dipuji secara berlebihan.
Misalnya, dalam buku ini juga disebutkan pemikiran
Harun Nasution, bahwa ajaran Islam yang bersifat dasar
dan absolut hanya ada empat, yaitu: (a) Tidak boleh
ada dalam pemikiran Islam bahwa Allah tidak ada, (b)
Tidak boleh ada dalam pemikiran Islam bahwa al-Quran
bukan wahyu, (c)  Tidak boleh ada kesimpulan dalam
pemikiran Islam bahwa Muhammad bukan Rasul Allah, (d)
Tidak boleh ada kesimpulan bahwa Hari Akhir tidak ada.
Sedangkan ajaran Islam lainnya bersifat pengembangan.
(Ibid, hal. 65).


Benarkah ajaran Islam yang dasar dan absolut hanya
empat hal itu? Bagaimana jika ada yang menyatakan
bahwa ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad? Bukankah
iman kepada Malaikat dan iman kepada taqdir Allah juga
termasuk ajaran pokok dalam Islam? 

Pemikiran Harun seperti itu jelas keliru dan terlalu
mudah untuk dikritisi. Kekeliruan Harun lainnya,
misalnya, dalam kategorisasi agama-agama, seperti
ditulisnya dalam buku “Islam Ditinjau dari Berbagai
Aspeknya”. Menurut Harun, jenis agama monoteisme
(diistilahkan juga dengan ‘agama Tauhid’) adalah
Islam, Yahudi, Kristen, dan Hindu. Agama Islam,
Yahudi, dan Kristen, adalah satu rumpun. Sedangkan
agama Hindu bukan satu rumpun. 

Namun, Islam dan Yahudi adalah agama monoteis yang
murni, sedangkan Kristen tidak murni monoteis lagi.
Pemikiran Harun tersebut jelas keliru. Tetapi, karena
para dosen agama dan petinggi Departemen Agama  kurang
peduli dengan masalah ini, maka puluhan tahun,
kekeliruan itu tetap dibiarkan. Hingga kini, sudah 30
tahun lebih, buku Harun Nasution tetap menjadi buku
wajib di kampus-kampus UIN/IAIN/STAIN dan PTIS di
Indonesia.  Kita berharap, sikap kritis dan semangat
keilmuan Islam yang tinggi segera dapat ditumbuhkan di
lingkungan perguruan dan organisasi Islam, sehingga
kekeliruan ilmu tidak semakin bertambah parah. Amin.
(Bukittinggi, 5 Mei 2006/hidayatullah.com). 



===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
http://www.media-islam.or.id

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke