Wa'alaikum salam mas Nizami,

Semoga kita semua mendapat barokah dan petunjuk dari Allah dalam menempuh
perjalanan sejati diri kembali kepadaNya.

Barangkali persoalan bahwa semua yang dilakukan atas dasar agama perlu berdalil
(Al Qur'an dan As Sunnah), semua yang mengaku muslim rasanya sudah sepakat.

Akan tetapi yang jadi persoalan dan sumber perbedaan sebenarnya ialah PENAFSIRAN
dari dalil Al Qur'an dan As Sunnah. Penafsiran ini lahir dari metodologi,
paradigma dan cara berpikir dalam mendekati pemahaman yang hendak dijelaskan Al
Qur'an dan As Sunnah. Maka dalam fiqh berkembang 4 mazhab besar dengan
metodologinya masing-masing dalam menginterpretasi, mengambil kesimpulan
(istinbath) dari dalil-dalil Al Qur'an dan As Sunnah.

Sekarang terhadap hal-hal yang tidak terdapat secara eksplisit dalam Al Qur'an
dan As Sunnah, bagaimana mensikapinya? Banyak hal yang perlu dicermati. Misal
dalam kasus tasawuf, perlu dicermati dan dirinci persoalannya (ditafshil).

Pertama, makna dan definisi tasawuf sendiri yang dimaksud. Apa yang dimaksud itu
ialah istilah lain dari Ilmu Ahlak ? Atau ahlut tarekat ? Atau metode riyadhoh ?
Para ulama sendiri berbeda-beda menggunakan definisinya. Perbedaan definisi ini
yang menentukan apakah istilah tersebut adalah sekadar urusan penamaan belaka
yang esensinya sebenarnya telah ada di Al Qur'an dan As Sunnah, atau termasuk
bid'ah dholalah.

Kedua, tinjauan aqidah terhadap keyakinan-keyakinan yang mendasari beragam
praktek tasawuf itu sendiri. Apakah memang parah menyimpang dengan i'tikad yang
sesat seperti kultus individu yang ekstrim? Atau tercemar hasil akulturasi
dengan filsafat dan mistisisme lokal ? Seberapa jauh kadar pencampurannya ? Atau
memang masih selaras segaris dengan Al Qur'an dan As Sunnah seperti garis
tasawufnya saudara-saudara kita Nahdhiyin yang menganut garis tasawuf Imam
Junaid Al Baghadi dan Imam Al Ghozali rohimahumallah.

Ketiga, tinjauan fiqh terhadap praktek-praktek amaliah yang berkaitan dengan
tasawuf itu sendiri. Apakah memang tidak ada dalilnya, atau bersandar pada dalil
yang umum, atau sebenarnya mubah-mubah (boleh) saja. Ini kan macem-macem juga
kasusnya. Misalnya perayaan maulid, perlu dirinci apakah beri'tikad mengada-ada
suatu kewajiban ibadah baru, atau mengada-ada suatu fadhilah ibadah yang baru,
atau memang masih dalam hal mubah karena tidak menyangkut ibadah : apa bedanya
dengan lomba deklamasi perayaan 17 Agustus ? Apakah perayaan 17 Agustus itu
bid'ah dholalah ?

Keempat, kajian bahasa terhadap ungkapan-ungkapan yang beredar di kalangan
pengamal tasawuf. Apakah itu termasuk ungkapan simbolis sastra (majaz
hiperbolisme atau sarkasme) ? Apakah itu termasuk syatahat (igauan yang keluar
karena hilangnya kesadaran) ? Apakah itu memang diyakini sebagaimana meyakini
dalil ? Dalam hal ini perlu dipergunakan tools-tools pengkajian interdisipliner
secara utuh dan komprehensif, termasuk kritik sastra, jadi tidak hanya
mengandalkan ilmu fiqh semata.

Jadi belajar Islam yang benar mencakup belajar bersikap adil, tidak terburu-buru
mengambil kesimpulan berdasarkan asumsi-asumsi atau analisa yang terlalu naif
simplisistis. Untuk itu wawasan perlu dibuka seluas-luasnya, sikap obyektif
mesti dilatih, tentunya setelah dasar-dasarnya (kalau dalam sekolahan istilahnya
MKDU=mata kuliah dasar umum) dikuasai secara mendalam. Setelah itu hipotesa,
premis dan teori yang diajukan mesti rela diuji secara mendalam.

Wallahul musta'an,

= Wizh =





A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> on 04/23/2007 09:57:37 AM

Please respond to Milis is-lam <[email protected]>

To:   is-lam <[email protected]>
cc:    (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv)

Subject:  [is-lam] Belajar Islam yang Benar



Belajar Islam yang Benar

Assalamu
Æalaikum wr wb,
Beberapa waktu lalu ada yang menanyakan, siapakah yang
Islamnya paling benar? Jika ada harap japri ke dia.

Menurut saya tidak ada manusia saat ini yang bisa
mengklaim dia Islamnya paling benar. Tapi sebagai
Muslim kita wajib mengakui bahwa Allah Maha Benar, Al
Qur
Æan adalah benar, dan Muhammad Rasulullah juga
benar.

Kita juga harus yakin bahwa sumber agama Islam adalah
Al Qur'an dan Hadits yang sahih (yang dloif/maudlu
ditolak):

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan
Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. " [An
Nisaa":59]

Sabda Rasulullah Saw: "Aku tinggalkan padamu dua hal,
yang tidak akan sesat kamu selama berpegang teguh
kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan sunnah
Nabi-Nya."(HR Ibnu 'Abdilbarri)

Oleh karena dalam belajar Islam, kita harus mengetahui
dalilnya. Misalnya jika ada orang yang bilang bahwa
Islam itu terdiri dari Iman (Tauhid), Islam (Fiqih),
dan Tasawuf, kita tidak bisa taqlid atau membebek
begitu saja. Tanya apa dalilnya? Tanya surat Al Qur
Æan
ayat berapa yang mendukung pernyataan itu. Jika tak
ada, tanya hadits manakah (misalnya: HR Bukhari atau
Muslim) yang memuat pernyataan itu.

Tidak bisa kita membebek begitu saja:
äDan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya.
ô [Al Israa
Æ:36]

äMereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib
mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka
mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka
hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci
Allah dari apa yang mereka persekutukan.
ô [At
Taubah:31]

Ayat di atas menjelaskan kesesatan kaum Yahudi dan
Nasrani karena: mereka mematuhi ajaran-ajaran
orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi
buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu
menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.
Mereka mengikuti ulamanya tanpa dalil. Sehingga begitu
para ulamanya menyatakan Yesus anak Tuhan atau
mengadakan bid
Æah, para ummatnya mengikuti begitu
saja. Ulama mereka kan lebih alim. Begitu pikirannya.

Kembali pada Tawasuf, di Al Qur
Æan mau pun hadits
tidak ada disebut kata tasawuf. Bahkan kata Tasawuf
itu sama sekali bukan berasal dari bahasa Arab. Dalil
Tasawuf pun kebanyakan justru kisah-kisah/mimpi orang
yang dianggap sufi atau wali yang sering bertentangan
dengan ajaran Islam.

Paham Tasawuf seperti Wihdatul Wujud (bersatunya
manusia dengan Allah) itu menyesatkan. Al Hallaj
mengaku sebagai Allah. Ana al Haq (Akulah Allah)
begitu katanya. Demikian pula tokoh sufi lain seperti
Syekh Siti Jenar yang mengaku sebagai Allah. Terakhir
Ahmad Dhani, Dewa, dalam lagunya "Satu" berkata "Aku
ini adalah diriMu (Allah)." Mungkin orang sufi
berpendapat itu karena teramat dekatnya mereka dengan
Allah sehingga sampai mengaku sebagai Allah. Padahal
Nabi Muhammad SAW yang merupakan manusia sempurna dan
paling dekat kepada Allah SWT tidak pernah sekalipun
mengaku sebagai Allah. Bukankah Nabi dan ummat Islam
selalu berkata "Iyyaka na'budu" (kepadaMu kami
menyembah)? Itulah salah satu arogansi sufi. Mengaku
Tuhan seperti Fir'aun. Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar
difatwa sesat dan dihukum mati oleh para ulama.

Sufi Abu Yazid al-Bustami (meninggal diBistam,Iran,261
H/874 M.) Dia adalah pendiri tarekat Naqsyabandiyah.
Mengaku berguru pada Imam Ja'far padahal dia baru
lahir 40 tahun setelah Imam Ja'far meninggal dunia.
Pada suatu waktu dalam pengembaraannya, setelah shalat
Subuh Yazid Al-Bustami berkata kepada orang-orang yang
mengikutinya,"Innii ana Allah laa ilaaha illaa ana
fa`budnii (Sesungguhnya aku ini adalah Allah,tiada
Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku)." Mendengar
kata-kata itu, orang-orang yang menyertainya
mengatakan bahwa al-Bustami telah gila.Menurut
pandangan para sufi, ketika mengucapkan kata-kata
itu,al-Bustami sedang berada dalam keadaan ittihad,
suatu maqam (tingkatan) tertinggi dalam paham tasawuf.

Al-Bustami juga pernah mengucapkan kata-kata,"Subhani,
subhani, ma a`dhama sya`ni (mahasuci aku,mahasuci aku,
alangkah maha agungnya aku)." Nah jika Nabi
mengajarkan dzikir "Subhanallahu" (Maha Suci Allah),
maka syekh Tasawuf mengajarkan "dzikir" Subhani" (Maha
Suci aku). Ini jelas kesombongan yang besar yang
dibenci Allah:

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia
(karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka
bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."
[Luqman:18]

Al-Bustami juga berkata,"Laisa fi al-jubbah illa Allah
(tidak ada didalam jubah ini kecuali Allah)."

Itulah satu contoh kesesatan jika kita mempelajari
ilmu agama yang bukan berasal dari Al Qur
Æan dan
Hadits.

Nabi berkata bahwa setiap hal yang baru/diada-adakan
(di bidang agama) adalah bid'ah dan sesat:

"Sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab
Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ,dan perkara
yang paling buruk adalah perkara yang baru dan setiap
bid'ah adalah tersesat" ( H.R Muslim ) .

Bid
Æah yang dimaksud adalah bid
Æah dalam hal agama.
Selain Allah dan Rasulnya, tidak bisa orang membuat
ibadah sendiri-sendiri. Misalnya selain sholat 5 waktu
dia buat lagi sholat wajib misalnya sholat pagi.

Allah mengatakan agama Islam sudah sempurna. Jadi tak
perlu lagi ditambah bid'ah seperti Tasawuf:

"
àPada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan
telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu
à." [Al
Maa-idah:3]

Ciri dari kelompok ahli bid
Æah adalah kitab yang
mereka pelajari tidak menyebut dalil Al Qur
Æan dan
Hadits secara jelas. Sehingga sulit bagi kita
membedakan mana yang perkataan orang dan mana yang
dari Al Qur
Æan dan Hadits. Bahkan bisa jadi seluruh
kitabnya itu hanya karangan manusia biasa tanpa ada
dalil dari Al Qur
Æan dan hadits sedikitpun.

Sebagai contoh tahlil pada hari kematian, 7 hari, 40
hari, 100 hari, dan 1000 hari sama sekali tidak ada
dalilnya di Al Qur
Æan dan Hadits. Ini juga tidak ada
di kitab 
äAl Umm
ô susunan Imam Syafi
Æi. Melainkan
hasil pengaruh agama Hindu yang lebih dulu bercokol di
Indonesia. Namun karena orang tua dulu melakukannya,
akibatnya kita juga ikut-ikutan. Kalau disuruh
menyebut dalil Al Qur
Æan dan Hadits, tak ada yang bisa
menyebutkannya.

Pernah juga ada ulama yang bilang bahwa Umar ra
menyatakan wajib merayakan Maulid, kemudian Imam
Syafi
Æi berkata barang siapa merayakan Maulid dia
masuk surga. Terlepas dari kontroversi Maulid, saya
hanya menyampaikan bahwa Perayaan Maulid itu
pertamakali diadakan oleh sultan Salahuddin Al Ayubi
yang hidup 700 tahun setelah wafatnya Nabi
(http://kompas.com/kompas-cetak/0504/18/Jabar/1691528.htm).
Jadi bagaimana mungkin Umar Ra dan Imam Syafi
Æi
berkata Maulid itu wajib padahal perayaan Maulid di
zaman mereka belum ada? Itulah salah satu kebohongan
ahli bid
Æah yang mampu mengarang-ngarang sesuatu.

Oleh karena itu marilah kita mempelajari Islam dengan
berpedoman pada Al Qur
Æan dan Hadits yang sahih. Insya
Allah dengan dua sumber itu kita tidak akan tersesat.
Karena ulama pun sebagaimana disebut Al Qur
Æan ada
juga yang menyesatkan hingga kaum Yahudi dan Nasrani
sesat seperti sekarang. Imam Ghazali sendiri berkata
bahwa ulama itu terdiri dari 2: Ulama Akhirat dan
Ulama Dunia/Ulama Jahat/Ulama Su
Æ.

Wassalam

_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke