Bismillaah, Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim.
Saudara Agus Nizami, semoga Allah melimpahkan kearifan di dalam hati Anda.

Maafkan, saya ikut menanggapi e-mail Anda yang simpatik ini. Nabi kita Muhammad 
(SAW) diutus oleh Allah ke bumi ke tengah-tengah manusia, salah satu tugas 
utamanya adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Tugas itu dilakukannya 
sangat berhasil dengan contoh tauladan hidup dan peringatan-peringatan yang 
simpatik. Dia mengajarkan dan menjadi contoh akhlak yang mulia. Para sahabat 
beliau pun melakukan hal yang sama, menjadi contoh tauladan yang baik, sesuai 
dengan tingkat dan kedudukan mereka masing-masing di masyarakatnya. 
Mudah-mudahan jika kita mau mencontoh para shahabat nabi kita itu, maka kita 
pun tidak akan meninggalkan akhlak yang mulia dalam berjihad dan beramal : 
tetap santun, menyayangi dan mengasihi, tegas dan istiqamah dalam beraqidah dan 
melaksanakan agama Allah ini.

Dulu ketika kakek dan ninen kita Adam dan Hawa akan "diberangkatkan" ke bumi, 
Allah mewasiatkan kepada mereka, yang bila wasiat itu tetap mereka pegang 
niscaya mereka tidak akan berada dalam "kekhawatiran dan kesedihan". 
Kekhawatiran dan kesedihan adalah penyakit sekaligus penjara bagi manusia yang 
akan menyengsarakan mereka. Dua hal itu akan berimbas sangat luas : iri dengki, 
orang senang kita marah, mengadu domba dan lain sebagainya. Apa yang 
diwasiatkan Allah kepada mereka, yang rasanya layak juga menjadi pegangan bagi 
kita ? 

Allah berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang 
petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya 
tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS 
2:38)

Saudaraku Agus dan Saudara-Saudaraku seiman semuanya ...
Wasiat itu sungguh singkat tetapi sangat padat. Jika datang petunjuk Allah, 
maka ikutilah ! Bagaimana kita memahami pesan SMS (pesan singkat) Allah ini ? 
Al-Qur'an, kitab sucinya orang Islam, disebut juga Kitab Petunjuk Allah. 
Al-Hadits dari Nabi Muhammad (SAW) juga disebut petunjuk bagi manusia. Kapan 
kedua hal penting itu dapat dianggap sebagai "petunjuk Allah yang datang kepada 
manusia" yang dengannya manusia itu bisa terbebas dari kekhawatiran dan 
kesedihan ?

Nah di situlah letak permasalahan kita sesungguhnya. Seribu kita yang 
membacanya, bisa seribu juga memahaminya, padahal berasal dari ayat yang sama. 
Karena pemahaman itu tergantung kepada kondisi hati kita masing-masing 
(kesuciannya dalam bertuhankan Allah, keilmuannya dalam memahami bagaimana 
Allah mendidik dan mengajarinya beribadah dan juga lingkungan pergaulannya), 
maka pemahaman masing-masing mereka sesungguhnya juga berdasarkan hati mereka 
masing-masing. Maka mensucikan hati menjadi sangat penting, agar kita bisa 
menerapkan petunjuk itu sesuai dengan situasi dan kondisi kita masing-masing.

Karena begitu banyaknya perbedaan "situasi dan kondisi" masing-masing kita ini, 
ada satu wasiat lagi yang penting dari Allah dituturkan (diilhamkan ke dalam 
hati) kepada Nabi Muhammad (saw) agar disampaikan kepada kita manusia :

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan 
kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. 
Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi  
yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri 
[mencela sesama orang beriman] dan jangan memanggil dengan gelaran yang 
mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk 
sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah 
orang-orang yang zalim". (QS 49:11)

Nah, boleh jadi kita sekarang ini masuk dalam suatu kelompok pengajian 
tertentu, maka tidak layak bagi kita untuk mengejek sekelompok orang yang 
berbeda pendepat karena perbedaan pengajian kita, karena boleh jadi yang kita 
ejek itu lebih baik amal ibadahnya daripada kita. Misalnya, kita warga 
pengajian Salafi lalu mengejek sekelompok warga sesama beriman kepada Allah 
yang mengaji tasawuf dan lain sebagainya atau sebaliknya. Bila itu yang 
terjadi, berarti kita telah melanggar wasiat Allah yang disampaikan melaluia 
rasul-Nya.

Saudara Agus, maafkan saya. Agaknya sampai di sini dulu pendapat saya mengenai 
e-mail simpatik Anda. Semoga bermanfaat bagi kita, terutama untuk diri pribadi 
saya sendiri.

As-Salamun alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Syaifuddin Ma'rifatullah - Medan.
SMS : +628527 567 0043, +62812 643 1657



----- Original Message ----- 
From: "A Nizami" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "is-lam" <[email protected]>
Sent: Monday, April 23, 2007 8:57 AM
Subject: [is-lam] Belajar Islam yang Benar


> Belajar Islam yang Benar
> 
> Assalamu'alaikum wr wb,
> Beberapa waktu lalu ada yang menanyakan, siapakah yang
> Islamnya paling benar? Jika ada harap japri ke dia.
> 
> Menurut saya tidak ada manusia saat ini yang bisa
> mengklaim dia Islamnya paling benar. Tapi sebagai
> Muslim kita wajib mengakui bahwa Allah Maha Benar, Al
> Qur'an adalah benar, dan Muhammad Rasulullah juga
> benar.
> 

_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke