Assalaamu'alaikum wr. wb.
Rasanya kalau mikir jadi presiden dan yang sejenisnya kok melompat
banget ya. Rasulullah SAW ditawari jadi raja saja tidak mau, mengapa?
Sebab kalau hanya sekedar jadi raja ya percuma, wong calon pamong
prajanya saja belum ada. Sistem tak akan berubah. Lain kalau calon
pamong prajanya sudah ada.
Langkah awal, IMHO, adalah membangun kekuatan.
Soal keberagaman, kalau kelompok-kelompok Islam sering dialog dan mau
melihat ruang dan waktu Indonesia secara serius (SWOT), persamaan gerak
(proyek) akan mudah diupayakan.
Inti dari membangun kekuatan adalah proyek bina serta umat agar mereka
sadar akan tugas dan kemudian berperan dalam penegakan dien (Asy Syuro
13).
Kata kunci: kalau kita memiliki SDM yang sedikit, maka kita harus
fokus. Menyebar SDM yang sedikit di berbagai lini aktivitas, malah akan
melemahkan.
Renungkan: sebuah partai Islam akhirnya harus main kontrak-kontrakan
dengan SDM-SDM yang tidak jelas, karena tidak berani mencalonkan
SDM-nya sendiri. Alasannya, SDM-nya belum layak jual (belum siap?)!
Wassalaamu'alaikum wr. wb.
B. Samparan
--- hamami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kenyataan untuk menjadi seseorang yang memiliki kekuasaan dijaman
> seperti sekarang ini, nampaknya yang paling dominan menentukan adalah
> kesiapan dari segi finansial.
>
> Namun akan sangat sulit sekali mempertahankan "IDEALISME" seseorang
> manakala sudah memiliki kekuasaan.
> Boleh jadi, seseorang saat belum memiliki kekuasaan bercita2 luhur
> untuk
> berbuat ini dan itu guna kemaslahatan ummat atau bangsa.
> Tapi itu semua cita2 saat belum berkuasa.
>
> Bak filosofi nyamuk, yang selalu bersuara mendengung saat belum
> mendapatkan mangsa, tapi manakala sudah dapat mangsa dan sempat
> menancapkan moncongnya dan menghisap darah, hilang sudah suaranya.
>
> Mudah2an tidak demikian untuk kedepannya bagi para pemimpin/aparat
> kita.
>
> Wassalam
> Hmm
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam