Menarik juga yang dipostingkan. Tapi sayangnya tulisan ini jauh dari
KEBENARAN.

 

Al-qur'an diturunkan adalah untuk PETUNJUK buat manusia agar menjadi manusia
yang baik. Tidak ada yang sangat PENTING untuk mengetahui SIFAT SIFAT Tuhan.
Tuhan juga tidak memaksa atau menyuruh manusia untuk mengetahui SIFAT SIFAT
Tuhan. Jadi manusia yang baik adalah calon calon penghuni SURGA, tanpa
melihat apakah dia mengetahui SIFAT SIFAT TUHAN. Manusia yang baik adalah
calon calon penghuni SURGA tanpa melihat AGAMA yang dinamakan oleh manusia
itu sendiri.

 

Alkhori M

Alkhor Community

Qatar

  _____  

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Achmad Saidi
Sent: Tuesday, September 02, 2008 7:52 AM
To: [is-lam]
Subject: [is-lam] (no subject)

 

Benarkah Orang Baik Belum Tentu Masuk Surga ?

http://www.kebunhikmah .com/php/

Apakah Bunda Theresa yang sepanjang usia nya dibaktikan untuk umat miskin
India harus masuk neraka ? Apakah Paus Paulus II yang pernah menjamu calon
pembunuhnya dengan baik hingga si calon pembunuhpun membatalkan rencana
pembunuhan tersebut juga tak pantas masuk surga ? Apakah Mahatma Gandi yang
secara lembut, sabar dan selalu menggunakan jalan damai untuk membela
kemerdekaan rakyat India juga harus masuk neraka ? Bagaimana pula dengan
sebagian dari milyaran umat manusia non Islam yang baik hati, apakah mereka
harus masuk neraka dibanding sebagian dari milyaran umat Islam tapi buruk
perilakunya ?

Apakah Akhlak Menentukan Seseorang Masuk Surga atau Tidak ?

Ada satu jawaban yang singkat, jelas dan tegas untuk pertanyaan tersebut
yaitu, "kalau memang akhlak dijadikan patokan oleh Tuhan untuk menentukan
pantas tidaknya seseorang masuk surga, maka agama tidak diperlukan lagi di
muka bumi ini"
Kalau memang akhlak kriteria utama menentukan masuk surga atau tidaknya
seseorang, maka untuk apa lagi agama, karena tanpa agama saja orang bisa
berbuat baik. Di negeri atheis seperti di Rusia, China, atau di negeri
sekuler seperti Eropa dan Amerika, ditemukan banyak orang yang tak beragama
tapi memiliki akhlak yang luar biasa baiknya. Tidak usah jauh-jauh, pasti
kita sering menemukan diantara teman atau tetangga kita akhlaknya sangat
baik, ia mengaku punya agama tapi tak pernah sholat atau ke gereja, tapi
nyatanya akhlaknya lebih baik dari umat Islam yang rajin beribadah.

Sifat baik adalah fitrah yang diberikan Allah sejak kita didalam kandungan.
Fitrah (sifat-sifat baik) adalah kecenderungan manusia untuk berbuat
kebaikan, seperti halnya binatang buas diberi Allah kecenderungan untuk
bersifat buas, mereka akan tetap buas walaupun manusia berusaha
menjinakkannya. Hawa nafsu dan pilihan manusia sendiri yang membuat seorang
manusia menjadi jahat dan berperilaku buruk. 

Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman : "Sesungguhnya Aku
menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) semuanya. Dan
sesungguhnya mereka didatangi oleh setan yang menyebabkan mereka tersesat
dari agama mereka" (HR Muslim).
Allah menganugerahi manusia kesempatan untuk memilih yang baik atau yang
buruk sesuai firman Allah : "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.
(QS, Al-Balad 90 : 10). "Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang
lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (QS, Al-Insaan 76 : 3).
Kemudian setan berusaha mengaburkan jalan yang benar sehingga jalan yang
baik oleh manusia dikira sesat, dan jalan yang sesat dikira benar. Allah SWT
berfirman dalam Al-Quran surat Al Baqarah 2 : 216) : "Boleh jadi kamu
membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui."

Namun tujuan tulisan ini sama sekali bukan untuk menyatakan bahwa akhlak
yang baik tidak penting, atau menjadi muslim yang berperilaku buruk lebih
baik daripada non-Islam yang baik hati. Tujuan tulian ini agar kita
menyadari bahwa Tuhan tidak menuntut dari manusia sekedar akhlak yang baik,
tapi juga ada hal lain yang lebih utama dibanding akhlak. 

Bahkan Akhlak Seorang Muslim Yang Baik Sekalipun Tidak Cukup Untuk
Membuatnya Masuk Surga.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak
muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW
bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu
: "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah
udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya
melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika
istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda
itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang
sudah berbakti kepada orang tua?" Nabi SAW sangat terharu mendengarnya,
sambil memeluk anak muda itu ia berkata : "Sungguh Allah ridho kepadamu,
kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta
orangtuamu tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu". Dari
hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak
cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita terhadap anaknya.
Kita merasa sudah cukup, tapi dalam perhitungan Allah nilai jasa kedua orang
tua pada anaknya jauh lebih besar nilainya dari yang dibayangkan manusia.
Pasti ada sesuatu perbuatan lain yang harus kita lakukan untuk memperbanyak
balas budi kita pada kedua orang tua kita. Diantaranya dengan cara menjadi
anak yang sholeh dan selalu mendoakan kedua orangtua kita. 

Untuk membalas budi kedua orang tua saja kita tidak akan pernah sanggup,
apalagi membalas kebaikan Tuhan yang mengkaruniakan kita fitrah kasih sayang
pada kedua orang tua kita, yang mengkaruniakan kita mata yang mampu melihat,
telinga yang mampu mendengar, lidah yang mampu merasakan kelezatan makanan,
yang telah mengkaruniakan kita udara secara gratis.

Ada perspektif yang sama antara hadits tersebut barusan dengan hadits
berikut ini. Rasulullah SAW pernah berkata, "Amal soleh yang kalian lakukan
tidak bisa memasukkan kalian ke surga". Lalu para sahabat bertanya:
"Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal
soleh sayapun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau
begitu dengan apa kita masuk surga?" . Nabi SAW kembali menjawab : "Kita
dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata". Jadi
sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk
surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita
mendapatkan surga Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita
(walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan
tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur
hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan
karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Apa makna dari kedua hadits tersebut diatas ? Yaitu bahwa perbuatan baik
(akhlak) dan ibadah kita ternyata tidak mampu untuk mendapatkan tiket ke
surga. Hanya karena rahmat-Nya lah kita bisa ke surga. Akhlak dan amal
ibadah juga tidak cukup menjamin kita terbebas dari api neraka, hanya
ampunan-Nya lah yang bisa membuat kita terbebas dari api neraka. Karena itu
kita diminta banyak memohon rahmat dan ampunan Allah. 

Pertanyaan berikutnya (dikaitkan dengan judul tulisan ini) adalah apa
syaratnya agar doa kita untuk memohon rahmat dan memohon ampunan Allah bisa
diterima ?
Tidak semua orang diberi rahmat surga, dan tidak semua orang diberi ampunan
dari ancaman neraka. Karena itu Allah menentukan syarat utamanya adalah
beriman kepada-Nya dan rasul-Nya (melalui syahadat). Ia harus memiliki
aqidah yang benar, memahami siapa Tuhan yang disembahnya dengan benar, apa
yang dimaui-Nya, bagaimana cara mencintai-Nya. Inilah syarat utama agar
permohonan rahmat dan ampunan kita bisa diterima.

Apakah Benar Anggapan Bahwa Sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang
Akan Membuat Allah Tidak Mungkin (Tega) Menghukum Orang Yang Baik Hati ? 

Di akhirat kelak orang yang tidak beriman kepada Allah akan membawa amal
kebaikannya ke hadapan Allah, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, seperti
tersebut dalam Al Qur'an surat Al Furqan ayat 23, "Dan Kami hadapi segala
amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang
berterbangan".

Ibarat seorang pembantu yang bekerja keras pada majikannya, setiap hari ia
bangun pagi membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyapu halaman, menjaga
keselamatan anak majikan selama majikan bekerja diluar. Namun sang pembantu
yang rajin ini ternyata tidak sopan dalam kata dan perilaku, Sang pembantu
tidak mau berusaha memperbaiki sikapnya ini pada atasannya, karena ia
mempunyai pendapat sendiri tak mungkin majikan akan memecatnya karena ia
sudah bekerja sangat keras dan merawat anak-anak majikannya dengan baik. Ia
tidak juga berusaha mencari tahu apa yang diinginkan sang majikan. Padahal
jelas sang majikan sudah menulis tatatertib dan uraian kerja pembantu rumah
tangga, diantaranya disebutkan bahwa kesopanan adalah syarat terpenting
bekerja di rumah majikan tersebut. Bahkan terkadang ia sombong dan keras
hati serta menyimpulkan sendiri bahwa sebagai orang yang berintelektual
tinggi seharusnya majikannya bisa menerima kekurangan sang pembantu. Iapun
kaget ketika di akhir bulan, sang majikan memecatnya dengan alasan tidak
sopan. Ia protes tapi majikannya punya hak.

Analogi sederhana ini, menyiratkan bahwa agar doa, ampunan, amal dan ibadah
kita bisa diterima Allah hendaknya kita mengenal Allah secara baik, melalui
perenungan dan makrifatullah. Kitapun sebagai hamba Allah perlu mencari tahu
apa sebenarnya syarat utama yang diinginkan Allah agar segala amal ibadah
dan akhlak baik kita diterima Allah. Tidak susah mengenal Allah karena
karya-Nya ada disekeliling kita, yaitu alam semesta ini, bahkan Ia telah
memperkenalkan diri-Nya pada manusia melalui kitab-kitab suci dan ajaran
nabi-Nya. Dengan mengenal allah secara baik kita akan tahu bahwa Allah
sangatlah penyayang, demikian sabar dengan kelemahan manusia, terlalu banyak
kesalahan kita yang dimaafkan-Nya, bahkan kita akan tahu bahwa terlalu
berlebihan kalau keimanan, amal ibadah dan kebaikan kita dibalas dengan
surga yang luar biasa nikmatnya. Dengan hati yang bersih dan ilmu yang cukup
juga akan memudahkan kita memahami mengapa Allah mengancam orang-orang tidak
beriman dan yang buruk akhlaknya dengan neraka. 

Memahami Allah dengan menggunakan kemampuan akal manusia adalah sia-sia,
karena hakikat sifat-sifat Allah tidak dicerna oleh akal manusia, tapi oleh
hati manusia. Hati manusia akan membantu kita memahami Allah, karena didalam
hati bersemayam fitrah manusia yang salah satunya memiliki sifat-sifat cinta
kepada Allah. Hatipun perlu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran (sifat
sombong, dengki, kikir, dsbnya) agar fitrah manusia bisa diaktifkan untuk
memahami sifat-sifat Allah dengan baik.

Tanpa Mengenal Sifat Allah Dengan Baik Maka Sia-sialah Akhlak Baik, Amal dan
Ibadah Kita

Melalui pengenalan yang baik terhadap Allah melalui cara-cara yang diatur
dalam Qur'an dan hadits, akan kita temukan bahwa Allah mensyaratkan aqidah
Islam yang benar sebelum segala amal ibadahnya diterima. 

Aqidah adalah hal yang pokok yang membedakan Islam dengan agama lainnya.
Aqidah adalah fondasi bangunan seorang umat Muslim, sedang ibadah (syariah)
adalah dinding bangunan seorang Muslim, lalu akhlak adalah atapnya. Tanpa
fondasi maka ia pun tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang Muslim,
tanpa aqidah yang benar dan lurus iapun tidak pantas disebut seorang Muslim.
Tanpa ibadah yang sesuai syariah Islam, iapun belum sempurna untuk dikatakan
sebagai sebuah bangunan yang bernama Muslim. Demikian pula, tanpa Atap yang
bernama akhlak, bangunan yang bernama Muslim ini belum utuh dan akan mudah
rusak oleh hujan dan panas. Muslim yang baik wajib memiliki ketiga syarat
ini (aqidah, ibadah dan akhlak) secara lengkap, tidak kurang satupun, dan
harus sempurna. Bila aqidahnya salah, maka kekal lah ia di neraka, bila
ibadah dan akhlak buruk maka ia 'mungkin' masih berpeluang masuk surga
setelah di'cuci' dulu di neraka. Semoga kita tidak termasuk sebagai orang
yang di'cuci' dulu, apalagi kekal, di neraka. Mumpung kita masih hidup di
dunia ini, semoga kita diberi ilmu oleh Allah SWT mengenai kedahsyatan
akhirat dan neraka, supaya kita tidak menggampangkan diri untuk menganggap
bahwa di'cuci' di neraka adalah bukan masalah besar. Tidak untuk sedetikpun
! Naudzu billah min dzalik.

Aqidah adalah apa yang diyakini seseorang, bebas dari keraguan. Aqidah
adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi
orang yang meyakininya. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan
hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Aqidah Islam merupakan syarat pokok
menjadi seorang mukmin, dan merupakan syarat sahnya semua amal kita. Untuk
memperoleh aqidah yang lurus kita perlu mempelajari dan memahami sifat-sifat
Allah dan apa-apa yang disukai dan dibenci Allah. Tanpa aqidah yang lurus
maka amal ibadah kita tidak diterima-Nya. Salah satu hal yang paling dibenci
Allah SWT adalah syirik, yaitu mensejajarkan diri-Nya dengan makhluk atau
benda ciptaan-Nya. Allah berfirman, "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan),
niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang yang merugi"
(QS, Az-Zumar: 65). 

Aqidah adalah tauqifiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali dengan
dalil, dan tidak ada medan ijtihad atau berpendapat didalamnya. Sumbernya
hanya al-Qur'an dan as-Sunnah, sebab tidak ada yang lebih mengetahui tentang
sifat-sifat Allah selain Allah sendiri. Aqidah Islamiyah adalah keimanan
yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah SWT dengan segala pelaksanaan
kewajiban, bertauhid dan ta'at kepada-Nya, beriman kepada
Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, hari akhir, taqdir
baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang sudah shahih tentang
Prinsip-Prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman
kepada apa yang menjadi ijma' (konsensus) dari Salafush Shalih, serta
seluruh berita-berita qath'i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara
amaliyah yang telah ditetapkan menurut al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih
serta ijma' Salafush Shalih.

Begitu pentingnya aqidah dalam Islam, sehingga pelurusan aqidah adalah
dakwah yang pertama-tama dilakukan para rasul Allah, setelah itu baru mereka
mengajarkan perintah agama (syariat) yang lain. Didalam Al Qur'an, surat
Al-A'raf ayat 59, 65, 73 dan 85, tertulis beberapa kali ajakan para nabi,
"Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain-Nya".
Dengan demikian ilmu Tauhid sebagai ilmu yang menjelaskan aqidah yang lurus,
merupakan ilmu pokok yang harus dipahami sebaik mungkin oleh setiap umat
Islam yang ingin memperdalam ilmu agamanya. Tanpa aqidah yang benar
seseorang akan terbenam dalam keraguan dan berbagai prasangka, yang lama
kelamaan akan menutup pandangannya dan menjauhkannya dari jalan hidup
kebahagiaan. Tanpa aqidah yang lurus seseorang akan mudah dipengaruhi dan
dibuat ragu oleh berbagai informasi yang menyesatkan keimanan kita.

Wallahu a'lam bish shawab.

Sumber : tulisan oleh Abdillah M.U & diedit sedikit oleh Penjaga Kebun.

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke