kalimat org baik masuk surga, kalau penilaian baik itu dari manusia,
kalimat itu byk kemungkinan bisa tidak benar. tapi yg siapa yg masuk surga
itu adlh org2 yg baik, niscaya  itu yg benar.


pengetahuan ssorg bhw ssorg itu baik sebenarnya semu dan hakikatnya
Allah SWT
yg paling tahu. dlm satu hadist Qudsi diterangkan, di padang Mahsyar kelak ada 
ssorg yg amalan
baiknya begitu byk namun ditolak Allah SWT. bukan main2 pula bhw yg menilai 
baik itu adlh malaikat melalui catatan2 keseharian si fulan ini. lalu malaikat 
penghitung ini bertanya apa
sebab, ya Allah? 

Allah SWT menjawab amalannya bukan utk mencari ridhaKu.

---

mengenal 'asma al-husna, 
itu amat bagus utk memelihara jiwa/mental muslim. byk ayat yg serukan agar 
muslim byk2 sebut 'asma-Nya diantara 99 itu. 

disebutkan bahwa tiap amalan sekecil dzarrah tak akan ada yg lengah dari 
catatan. kejahatan diganjar sebatas itu & kebaikan akan dapat imbalan hingga 
700x. aturan itu dijamin keberlakuannya bagi ummat Islam. 

andai dgn logika matematika sederhana ternyata bobot kejahilan ssorg masih 
lebih berat, maka dalam keadaan terjepit spt itu  seruan apa lagi yg diharap 
agar tidak tergelincir? memang ada sedikit harapan dr syafa'at Rasulullah SAW 
tapi itu masih perlu izin Allah SWT. 

disitulah hikmah pemahaman sifat-sifatNya. 



salam,
Fahru

--- On Thu, 9/4/08, Alkhori M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Alkhori M <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [is-lam] (no subject)
To: [email protected]
Date: Thursday, September 4, 2008, 12:18 AM




 
 

 

 

 







Menarik juga
yang dipostingkan. Tapi sayangnya tulisan ini jauh dari KEBENARAN. 

   

Al-qur’an
diturunkan adalah untuk PETUNJUK buat manusia agar menjadi manusia yang baik.
Tidak ada yang sangat PENTING untuk mengetahui SIFAT SIFAT Tuhan. Tuhan juga
tidak memaksa atau menyuruh manusia untuk mengetahui SIFAT SIFAT Tuhan. Jadi
manusia yang baik adalah calon calon penghuni SURGA, tanpa melihat apakah dia
mengetahui SIFAT SIFAT TUHAN. Manusia yang baik adalah calon calon penghuni 
SURGA
tanpa melihat AGAMA yang dinamakan oleh manusia itu sendiri. 

   



Alkhori M 

Alkhor
Community 

Qatar 











From:
[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Achmad Saidi

Sent: Tuesday, September 02, 2008
7:52 AM

To: [is-lam]

Subject: [is-lam] (no subject) 



   



Benarkah Orang
Baik Belum Tentu Masuk Surga ? 





http://www.kebunhikmah .com/php/ 

Apakah Bunda Theresa yang sepanjang usia
nya dibaktikan untuk umat miskin 




India harus masuk neraka ? Apakah Paus Paulus
II yang pernah menjamu calon pembunuhnya dengan baik hingga si calon
pembunuhpun membatalkan rencana pembunuhan tersebut juga tak pantas masuk surga
? Apakah Mahatma Gandi yang secara lembut, sabar dan selalu menggunakan jalan
damai untuk membela kemerdekaan rakyat 




India juga harus masuk neraka ? Bagaimana pula
dengan sebagian dari milyaran umat manusia non Islam yang baik hati, apakah
mereka harus masuk neraka dibanding sebagian dari milyaran umat Islam tapi
buruk perilakunya ?



Apakah Akhlak Menentukan Seseorang Masuk
Surga atau Tidak ?






Ada satu jawaban yang singkat, jelas dan
tegas untuk pertanyaan tersebut yaitu, “kalau
memang akhlak dijadikan patokan oleh Tuhan untuk menentukan pantas tidaknya
seseorang masuk surga, maka agama tidak diperlukan lagi di muka bumi ini”

Kalau memang akhlak kriteria utama menentukan masuk surga atau tidaknya
seseorang, maka untuk apa lagi agama, karena tanpa agama saja orang bisa
berbuat baik. Di negeri atheis seperti 



di Rusia, 

China, atau di negeri sekuler seperti Eropa
dan Amerika, ditemukan banyak orang yang tak beragama tapi memiliki akhlak yang
luar biasa baiknya. Tidak usah jauh-jauh, pasti kita sering menemukan diantara
teman atau tetangga kita akhlaknya sangat baik, ia mengaku punya agama tapi tak
pernah sholat atau ke gereja, tapi nyatanya akhlaknya lebih baik dari umat
Islam yang rajin beribadah.



Sifat baik adalah fitrah yang diberikan Allah sejak kita didalam kandungan.
Fitrah (sifat-sifat baik) adalah kecenderungan manusia untuk berbuat kebaikan,
seperti halnya binatang buas diberi Allah kecenderungan untuk bersifat buas,
mereka akan tetap buas walaupun manusia berusaha menjinakkannya. Hawa nafsu dan
pilihan manusia sendiri yang membuat seorang manusia menjadi jahat dan
berperilaku buruk. 



Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Aku menciptakan 
hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif
(lurus) semuanya. Dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan yang menyebabkan
mereka tersesat dari agama mereka” (HR Muslim).

Allah menganugerahi manusia kesempatan untuk memilih yang baik atau yang buruk
sesuai firman Allah : “Dan Kami telah
menunjukkan kepadanya dua jalan. (QS, Al-Balad 90 : 10). “Sesungguhnya Kami 
telah menunjukinya jalan
yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS,
Al-Insaan 76 : 3).

Kemudian setan berusaha mengaburkan jalan yang benar sehingga jalan yang baik
oleh manusia dikira sesat, dan jalan yang sesat dikira benar. Allah SWT
berfirman dalam Al-Quran 



surat Al Baqarah 2 : 216) : “Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui.”



Namun tujuan tulisan ini sama sekali bukan untuk menyatakan bahwa akhlak yang
baik tidak penting, atau menjadi muslim yang berperilaku buruk lebih baik
daripada non-Islam yang baik hati. Tujuan tulian ini agar kita menyadari bahwa
Tuhan tidak menuntut dari manusia sekedar akhlak yang baik, tapi juga ada hal
lain yang lebih utama dibanding akhlak. 



Bahkan Akhlak Seorang Muslim Yang Baik
Sekalipun Tidak Cukup Untuk Membuatnya Masuk Surga.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak
muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya
kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu :
"Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah
udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya
melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika
istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda
itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang
yang sudah berbakti kepada orang tua?" Nabi SAW sangat terharu
mendengarnya, sambil memeluk anak muda itu ia berkata : "Sungguh Allah
ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku
ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan
kebaikanmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah
kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita
terhadap anaknya. Kita merasa sudah cukup, tapi dalam perhitungan Allah nilai
jasa kedua orang tua pada anaknya jauh lebih besar nilainya dari yang
dibayangkan manusia. Pasti ada sesuatu perbuatan lain yang harus kita lakukan
untuk memperbanyak balas budi kita pada kedua orang tua kita. Diantaranya
dengan cara menjadi anak yang sholeh dan selalu mendoakan kedua orangtua kita. 



Untuk membalas budi kedua orang tua saja kita tidak akan pernah sanggup,
apalagi membalas kebaikan Tuhan yang mengkaruniakan kita fitrah kasih sayang
pada kedua orang tua kita, yang mengkaruniakan kita mata yang mampu melihat,
telinga yang mampu mendengar, lidah yang mampu merasakan kelezatan makanan,
yang telah mengkaruniakan kita udara secara gratis.






Ada perspektif yang sama antara hadits tersebut barusan dengan
hadits berikut ini. Rasulullah SAW pernah berkata, “Amal soleh yang
kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat
bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab
Rasulullah SAW : “Amal soleh sayapun juga tidak cukup”. Lalu para
sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk
surga?” . Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya
karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. Jadi sholat kita, puasa kita,
taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan
rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Amal
soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan
sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh
sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan
nikmat surga yang dijanjikan Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari
rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena
rahmat Allah.



Apa makna dari kedua hadits tersebut diatas ? Yaitu bahwa perbuatan baik
(akhlak) dan ibadah kita ternyata tidak mampu untuk mendapatkan tiket ke surga.
Hanya karena rahmat-Nya lah kita bisa ke surga. Akhlak dan amal ibadah juga
tidak cukup menjamin kita terbebas dari api neraka, hanya ampunan-Nya lah yang
bisa membuat kita terbebas dari api neraka. Karena itu kita diminta banyak
memohon rahmat dan ampunan Allah. 



Pertanyaan berikutnya (dikaitkan dengan judul tulisan ini) adalah apa syaratnya
agar doa kita untuk memohon rahmat dan memohon ampunan Allah bisa diterima ?

Tidak semua orang diberi rahmat surga, dan tidak semua orang diberi ampunan
dari ancaman neraka. Karena itu Allah menentukan syarat utamanya adalah beriman
kepada-Nya dan rasul-Nya (melalui syahadat). Ia harus memiliki aqidah yang 
benar,
memahami siapa Tuhan yang disembahnya dengan benar, apa yang dimaui-Nya,
bagaimana cara mencintai-Nya. Inilah syarat utama agar permohonan rahmat dan
ampunan kita bisa diterima.



Apakah Benar Anggapan Bahwa Sifat Allah yang
Maha Pengasih dan Penyayang Akan Membuat Allah Tidak Mungkin (Tega) Menghukum
Orang Yang Baik Hati ? 



Di akhirat kelak orang yang tidak beriman kepada Allah akan membawa amal
kebaikannya ke hadapan Allah, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, seperti
tersebut dalam Al Qur’an surat Al Furqan ayat 23, “Dan Kami hadapi segala amal 
yang mereka
kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”.



Ibarat seorang pembantu yang bekerja keras pada majikannya, setiap hari ia
bangun pagi membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyapu halaman, menjaga
keselamatan anak majikan selama majikan bekerja diluar. Namun sang pembantu
yang rajin ini ternyata tidak sopan dalam kata dan perilaku, Sang pembantu tidak
mau berusaha memperbaiki sikapnya ini pada atasannya, karena ia mempunyai
pendapat sendiri tak mungkin majikan akan memecatnya karena ia sudah bekerja
sangat keras dan merawat anak-anak majikannya dengan baik. Ia tidak juga
berusaha mencari tahu apa yang diinginkan sang majikan. Padahal jelas sang
majikan sudah menulis tatatertib dan uraian kerja pembantu rumah tangga,
diantaranya disebutkan bahwa kesopanan adalah syarat terpenting bekerja di
rumah majikan tersebut. Bahkan terkadang ia sombong dan keras hati serta
menyimpulkan sendiri bahwa sebagai orang yang berintelektual tinggi seharusnya
majikannya bisa menerima kekurangan sang pembantu. Iapun kaget ketika di akhir
bulan, sang majikan memecatnya dengan alasan tidak sopan. Ia protes tapi
majikannya punya hak.



Analogi sederhana ini, menyiratkan bahwa agar doa, ampunan, amal dan ibadah
kita bisa diterima Allah hendaknya kita mengenal Allah secara baik, melalui
perenungan dan makrifatullah. Kitapun sebagai hamba Allah perlu mencari tahu
apa sebenarnya syarat utama yang diinginkan Allah agar segala amal ibadah dan
akhlak baik kita diterima Allah. Tidak susah mengenal Allah karena karya-Nya
ada disekeliling kita, yaitu alam semesta ini, bahkan Ia telah memperkenalkan
diri-Nya pada manusia melalui kitab-kitab suci dan ajaran nabi-Nya. Dengan
mengenal allah secara baik kita akan tahu bahwa Allah sangatlah penyayang,
demikian sabar dengan kelemahan manusia, terlalu banyak kesalahan kita yang
dimaafkan-Nya, bahkan kita akan tahu bahwa terlalu berlebihan kalau keimanan,
amal ibadah dan kebaikan kita dibalas dengan surga yang luar biasa nikmatnya.
Dengan hati yang bersih dan ilmu yang cukup juga akan memudahkan kita memahami
mengapa Allah mengancam orang-orang tidak beriman dan yang buruk akhlaknya
dengan neraka. 



Memahami Allah dengan menggunakan kemampuan akal manusia adalah sia-sia, karena
hakikat sifat-sifat Allah tidak dicerna oleh akal manusia, tapi oleh hati
manusia. Hati manusia akan membantu kita memahami Allah, karena didalam hati
bersemayam fitrah manusia yang salah satunya memiliki sifat-sifat cinta kepada
Allah. Hatipun perlu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran (sifat sombong,
dengki, kikir, dsbnya) agar fitrah manusia bisa diaktifkan untuk memahami
sifat-sifat Allah dengan baik.



Tanpa Mengenal Sifat Allah Dengan Baik Maka
Sia-sialah Akhlak Baik, Amal dan Ibadah Kita



Melalui pengenalan yang baik terhadap Allah melalui cara-cara yang diatur dalam
Qur’an dan hadits, akan kita temukan bahwa Allah mensyaratkan aqidah
Islam yang benar sebelum segala amal ibadahnya diterima. 



Aqidah adalah hal yang pokok yang membedakan Islam dengan agama lainnya. Aqidah
adalah fondasi bangunan seorang umat Muslim, sedang ibadah (syariah) adalah
dinding bangunan seorang Muslim, lalu akhlak adalah atapnya. Tanpa fondasi maka
ia pun tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang Muslim, tanpa aqidah yang
benar dan lurus iapun tidak pantas disebut seorang Muslim. Tanpa ibadah yang
sesuai syariah Islam, iapun belum sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah
bangunan yang bernama Muslim. Demikian pula, tanpa Atap yang bernama akhlak,
bangunan yang bernama Muslim ini belum utuh dan akan mudah rusak oleh hujan dan
panas. Muslim yang baik wajib memiliki ketiga
syarat ini (aqidah, ibadah dan akhlak) secara lengkap, tidak kurang satupun,
dan harus sempurna. Bila aqidahnya salah, maka kekal lah ia di neraka, bila
ibadah dan akhlak buruk maka ia ‘mungkin’ masih berpeluang masuk
surga setelah di’cuci’ dulu di neraka. Semoga kita tidak termasuk
sebagai orang yang di’cuci’ dulu, apalagi kekal, di neraka. Mumpung
kita masih hidup di dunia ini, semoga kita diberi ilmu oleh Allah SWT mengenai
kedahsyatan akhirat dan neraka, supaya kita tidak menggampangkan diri untuk
menganggap bahwa di’cuci’ di neraka adalah bukan masalah besar.
Tidak untuk sedetikpun ! Naudzu billah min dzalik.



Aqidah adalah apa yang diyakini seseorang, bebas dari keraguan. Aqidah adalah
iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang
meyakininya. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan
pembenarannya kepada sesuatu. Aqidah Islam merupakan syarat pokok menjadi
seorang mukmin, dan merupakan syarat sahnya semua amal kita. Untuk memperoleh
aqidah yang lurus kita perlu mempelajari dan memahami sifat-sifat Allah dan
apa-apa yang disukai dan dibenci Allah. Tanpa aqidah yang lurus maka amal
ibadah kita tidak diterima-Nya. Salah satu hal yang paling dibenci Allah SWT
adalah syirik, yaitu mensejajarkan diri-Nya dengan makhluk atau benda
ciptaan-Nya. Allah berfirman, “Jika
kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu
termasuk orang yang merugi” (QS, Az-Zumar: 65). 



Aqidah adalah tauqifiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil,
dan tidak ada medan ijtihad atau berpendapat didalamnya. Sumbernya hanya
al-Qur’an dan as-Sunnah, sebab tidak ada yang lebih mengetahui tentang
sifat-sifat Allah selain Allah sendiri. Aqidah Islamiyah adalah keimanan yang
teguh dan bersifat pasti kepada Allah SWT dengan segala pelaksanaan kewajiban,
bertauhid dan ta’at kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-Malaikat-Nya,
Rasul-Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, hari akhir, taqdir baik dan buruk dan
mengimani seluruh apa-apa yang sudah shahih tentang Prinsip-Prinsip Agama
(Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi
ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita
qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah
ditetapkan menurut al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih serta ijma’
Salafush Shalih.



Begitu pentingnya aqidah dalam Islam, sehingga pelurusan aqidah adalah dakwah
yang pertama-tama dilakukan para rasul Allah, setelah itu baru mereka
mengajarkan perintah agama (syariat) yang lain. Didalam Al Qur’an, surat
Al-A’raf ayat 59, 65, 73 dan 85, tertulis beberapa kali ajakan para nabi,
“Wahai kaumku, sembahlah Allah,
sekali-kali tidak ada Tuhan selain-Nya”. Dengan demikian ilmu
Tauhid sebagai ilmu yang menjelaskan aqidah yang lurus, merupakan ilmu pokok
yang harus dipahami sebaik mungkin oleh setiap umat Islam yang ingin memperdalam
ilmu agamanya. Tanpa aqidah yang benar seseorang akan terbenam dalam keraguan
dan berbagai prasangka, yang lama kelamaan akan menutup pandangannya dan
menjauhkannya dari jalan hidup kebahagiaan. Tanpa aqidah yang lurus seseorang
akan mudah dipengaruhi dan dibuat ragu oleh berbagai informasi yang menyesatkan
keimanan kita.



Wallahu a’lam bish shawab.



Sumber : tulisan oleh Abdillah M.U & diedit sedikit oleh Penjaga Kebun. 





 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke