----- Original Message ----- From: altaufan_riza To: hendrik ; yuda ; cicuk (IT Support) ; saidi ; wahyu Cc: alf - ana ; alf - dena ; M Surrez Maulana ; ade yartadinata Sent: Wednesday, December 10, 2008 7:59 AM Subject: zimbabwe .. Now!!!
Anak-anak Tak Boleh Lagi Bermain AP photo / Kompas Images Sebuah pasar swalayan yang menjual produk dengan harga dalam mata uang asing di Harare, Zimbabwe, Senin (8/12). Zimbabwe yang dilanda kolera praktis bangkrut secara ekonomi. Produk menipis dengan tingkat inflasi mencapai 231 juta persen. /Rabu, 10 Desember 2008 | 04:07 WIB Roselyn Moyo tidak lagi memperbolehkan kedua anaknya bermain di luar rumah. Dia takut mereka akan terkena kolera saat berlarian di sepanjang jalan kota Harare, Zimbabwe, yang dijajari tumpukan sampah yang telah berbulan-bulan tidak diangkut. ”Anak-anak saya tidak lagi ke luar untuk bermain dengan teman-teman mereka,” kata ibu rumah tangga itu kepada AFP. ”Saya takut mereka bisa terkena kolera. Sampah menumpuk berserakan di seluruh kawasan kami dengan lalat beterbangan. Saya tidak bisa membiarkan anak-anak saya bermain di luar,” kata Moyo. Kolera telah mengambil korban hampir 600 jiwa di seluruh Zimbabwe sejak akhir Agustus. Dari 13.960 kasus yang tercatat, lebih dari 6.000 kasus teridentifikasi di Harare. Badan PBB untuk Anak-anak, Unicef, pekan lalu, memperingatkan bahwa dalam minggu-minggu mendatang kasus kolera itu bisa meningkat menjadi 60.000 yang bisa membuat jumlah korban tewas juga naik lima kali lipat. Pemerintah Zimbabwe telah menyatakan darurat nasional karena berjangkitnya kolera. Di sisi lain, Zimbabwe hanya memiliki sedikit sumber daya untuk menghadapi kolera akibat kemerosotan ekonomi yang membuat negara itu miskin. Badan-badan kesehatan mengatakan, ribuan warga Zimbabwe sekarat dan lebih banyak lagi yang tewas. Rumah-rumah sakit tutup, klinik-klinik kehabisan obat-obatan, dan sebagian besar tidak mampu membayar layanan medis swasta. Bahkan, ketika korban jiwa karena wabah kolera di Zimbabwe naik mencapai angka ratusan, badan-badan lokal dan internasional mengatakan bahwa korban yang tewas sia-sia di Zimbabwe sebenarnya lebih besar lagi. ”Jumlah korban tewas sebenarnya tidak akan pernah diketahui,” ujar Itai Rusike, Direktur Eksekutif Community Working Group on Health—sebuah jaringan masyarakat madani yang mengumpulkan 35 organisasi nasional. ”Zimbabwe dulunya memiliki salah satu sistem pengawasan terbaik di kawasan ini,” kata Rusike lewat telepon dengan AP. ”Namun, telepon tidak berfungsi, perawat-perawat tidak ada di sana, jadi sistem informasi mereka telah gagal. Sangat sulit untuk mengatakan berapa banyak orang yang telah meninggal.” ”Ini adalah gejala-gejala dari sebuah negara yang gagal,” katanya. ”Tak ada yang berfungsi.” Organisasi sosial Inggris, Oxfam, sepakat dengan perkiraan ribuan korban tewas yang tak dilaporkan karena gagalnya sistem kesehatan. Dikatakan, situasi akan bertambah buruk dengan datangnya musim hujan yang akan berlangsung sampai Februari. Zimbabwe yang pernah menjadi eksportir besar pangan itu kini menderita kekurangan bahan kebutuhan, seperti pangan dan obat-obatan. Adapun Presiden Robert Mugabe, pemimpin Zimbabwe sejak kemerdekaan dari Inggris tahun 1980, berupaya dengan segala cara untuk tetap berkuasa. Ambruknya dunia usaha membuat total pengangguran menjadi 80 persen dari 13,3 juta penduduk. Mayoritas penduduk bergantung pada kiriman dari kerabat yang merantau. Lebih dari sepertiga penduduk telah meninggalkan negara itu, sebagian besar ke Afrika Selatan dan Inggris. Jangan jabat tangan Rumah-rumah sakit bahkan tidak punya obat-obatan dan peralatan dasar untuk merawat pasien, memaksa Pemerintah Zimbabwe memohon bantuan internasional. Menkes David Perirenyatwa mendesak orang Zimbabwe untuk tidak lagi berjabatan tangan. Langkah ini untuk mencegah penyebaran penyakit kolera akibat kolera yang praktis sudah merambah ke setiap lini kehidupan. Mencuci adalah hal yang mustahil bagi banyak orang di Harare karena pasokan air tidak bisa diandalkan. Pekan lalu, selama lebih dari dua hari tidak ada aliran air sama sekali. Berbagai pihak menyalahkan Pemerintah Mugabe sebagai penyebab bencana yang dialami Zimbabwe. Rusilke, dari jaringan organisasi kesehatan, menyebutkan wabah kolera bisa dihubungkan langsung dengan kegagalan pemerintah, yaitu dengan tak berfungsinya layanan air bersih dan limbah. Harapan akan berakhirnya krisis negara itu membubung ketika Mugabe dan pemimpin oposisi, Morgan Tsvangirai, menandatangani sebuah kesepakatan berbagi kekuasaan tanggal 15 September lalu. Namun, perundingan implementasinya menemui jalan buntu dengan masing-masing pihak bersikeras pada pendiriannya. ”Para pemimpin politik harus sepakat... untuk mengatasi masalah ekonomi dan sosial yang dihadapi negara ini,” kata warga Harare, Thomas Mudimu. Sayangnya, kolera tak mau menunggu sampai para pemimpin Zimbabwe bersepakat.(AFP/AP/DI) Sumber : Kompas Cetak Trims Taufan
<<040946p.jpeg>>
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
