Assalamu'alaikum wr wb,

Ketika mayoritas ulama (termasuk 55 ulama Arab Saudi)
menyerukan boikot terhadap produk AS dan Israel,
ternyata ada Mufti Arab yang digaji oleh raja Arab
yang mengatakan Boikot tak berguna. Dia ingin agar
ummat Islam terus membeli produk AS dan Israel
sehingga akhirnya AS dan Israel bisa mendapat banyak
uang dari ummat Islam. Uang itu akhirnya bisa dipakai
untuk membuat senjata guna membantai ummat Islam di
Iraq, Afghanistan, Palestina, dan sebagainya.

Hendaknya ummat Islam mewaspadai ulama yang membela
Yahudi sambil justru menyerang sesama Muslim. Ulama
yang digaji pemerintah Arab Saudi ini diam ketika Raja
Arab mengundang tentara kafir AS ke negeri Arab.
Mereka juga diam tidak menyeru jihad untuk melawan
Israel guna membantu rakyat Palestina. Sebaliknya
mereka justru mengkafirkan para mujahidin seperti
Hamas, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan
sebagainya.

Ulama antek Yahudi tersebut keras terhadap orang
beriman dan sayang terhadap Yahudi. Tidak pernah
menyeru jihad guna melawan Yahudi:

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang
bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang
kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..." [Al
Fath:28]

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara
kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan
mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka
dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut
terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras
terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan
Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang
suka mencela..." [Al Maa-idah:54]


Nabi Muhammad sendiri menghadapi orang kafir yang
memerangi mereka tidak membeli produk orang kafir.
Bahkan menyerang kafilah dagang mereka agar mereka
lemah dan tidak bisa membeli senjata atau membayar
tentara sehingga tidak bisa menyerang ummat Islam
lagi.

Selamatlah Kafilah Dagang Quraisy

Abu Sufyan tidak hanya berpangku tangan menanti uluran
bantuan dari penduduk Quraisy. Ia curahkan segenap
kepiawaian yang ia miliki agar mereka tidak jatuh ke
tangan kaum muslimin. Semua informansi dan peristiwa
yang ada ia kumpulkan dan dianalisis hingga akhirnya
ia tahu kapan pasukan muslimin pergi menghadang
kafilah dagang mereka.

http://www.dakwatuna.com/2008/perang-badar-kubra-bagian-1/
Diriwayatkan bahwa Abu Sufyan bertemu dengan Majdi bin
‘Amr dan bertanya kepadanya, ”Apakah engkau
berjumpa dengan seseorang?” Ia menjawab, ”Aku
tidak menjumpai seorang pun yang tidak kukenal kecuali
dua orang penunggang unta yang berhenti di bukit itu.
Kemudian mereka mengambil air dan meletakkannya di
tempat air mereka lalu pergi.” Abu Sufyan mendatangi
tempat tersebut dan mengambil beberapa buah sisa
kotoran hewan mereka. Lalu ia pisahkan dan di dalamnya
terdapat biji. Ia berkata, ”Demi Tuhan, ini adalah
makanan hewan penduduk Yatsrib (Madinah).” Ia pun
akhirnya tahu bahwa kedua orang tersebut tak lain
adalah sahabat Nabi Muhammad saw. dan pasukan kaum
muslimin ternyata sudah begitu dekat dari
tempat.”[5] Abu Sufyan segera kembali ke tengah
kafilah sambil memukuli mukanya. Ia alihkan jalur
perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, yaitu
pesisir pantai demi menghindari daerah Badar menuju ke
kiri sehingga kafilah pun terselamatkan.

Sikap Keras Kepala Kaum Musyikin untuk Berperang

Pasukan musyrik Quraisy bergerak dengan penuh
kesombongan di tengah hamparan padang pasir, di antara
sekian banyak kabilah Arab yang terdapat di sepanjang
jalur yang menghubungkan Kota Makkah dan Madinah
diiringi nyanyian biduan wanita. Mereka begitu bangga
dengan kekuatan dan pasukan yang ada. Mereka bermaksud
hendak menyelamatkan Abu Sufyan dan kafilah dagang
dari tangan umat Islam. Namun ternyata kafilah
tersebut telah terselamatkan. Abu Sufyan sendiri yakin
bahwa ia telah berhasil menyelamatkan kafilah dagang
mereka dari kepungan dan incaran umat Islam. Ia pun
mengirim pesan kepada pasukan Quraisy, ”Sesungguhnya
kalian keluar untuk melindungi perdagangan,
orang-orang, dan harta benda kalian. Mereka semuanya
telah terselamatkan. Maka kembalilah!” Utusan Abu
Sufyan pun akhirnya bertemu dengan pasukan Quraisy di
perjalanan. Ia sampaikan berita selamatnya kafilah
dagang mereka. Mendengar berita ini Abu Jahal berkata,
”Demi Tuhan! Kita tidak akan kembali kecuali setelah
sampai di Badar dan tinggal di sana selama tiga hari.
Kita akan memotong hewan sembelihan, memberi makan,
menuangkan khamr, dan mendengarkan lagu dari para
biduan. Dan orang-orang Arab pun akan mendengar
ekspedisi dan perkumpulan kita ini sehingga mereka
akan senantiasa segan kepada kita untuk
selama-lamanya.”[6]

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8473:mufti-arab-malah-anggap-tak-berguna-seruan-boikot&catid=67:internasional&Itemid=55

Mufti Arab Malah Anggap “Tak Berguna” Seruan
Boikot
Tuesday, 27 January 2009 05:34

Seorang mufti Saudi menolak Boikot produk Israel dan
Amerika. Katanya, sebagai "tindakan tak berguna"

 

Hidayatullah.com--Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia
as-SyeikhAbdul Aziz ibn Abdullah Ali as-Syeikh
mengkritik keras ulama-ulama dan para penyeru
pemboikotan atas produk-produk Israel dan Amerika,
juga produk-produk Barat lainnya yang memiliki
jaringan bisnis Zionis.

Sebagaimana dilansir situs Islam rujukan Islamonlione
(24/1), dalam keterangan resminya as-Syeikh mengatakan
jika ulama-ulama dan para penyeru tindakan pemboikotan
tersebut sebagai "kalangan 'mutha'tha'in', atau
golongan yang asal bicara tanpa didasari oleh ilmu",
sekaligus menganggap aksi boikot sebagai "tindakan tak
berguna."

"Memboikot produk dagang tidak akan berguna sama
sekali. Sebaiknya, sebagai seorang Muslim, kita tidak
boleh tha'tha'ah, tidak boleh asal bicara," ungkap
as-Syeikhsaat memberikan pengajian umum di Mesjid
Turki ibn Abdullah di Riyadh.

Ungkapan kontroversial Mufti Agung Saudi Arabia ini
dikeluarkan menyusul pernyataan sikap 55 ulama besar
Saudi Arabia yang menegaskan wajib hukumnya untuk
memboikot produk-produk Israel dan Amerika. Hemat 55
ulama, boikot adalah salah satu "jihad" yang dipercaya
dapat melumpuhkan roda perekonomian Zionisme.

Selain itu, ke-55 ulama Saudi Arabia juga menyerukan
agar negara-negara Muslim yang memiliki hubungan
diplomatik dengan Israel untuk segera memutuskan
hubungan tersebut. Sebelumnya, langkah pemutusan
hubungan ekonomi dan politis dengan Israel telah
dilakukan oleh Qatar dan Muritania pada minggu lalu.

Sejak invasi brutal Israel ke jalur Gaza, para ulama,
cendikiawan, akademisi, dan beberapa pejabat kerajaan
Saudi Arabia menandatangani kesepakatan gerakan "Gaza
Terbakar dan Remuk Redam, Matikan Api dan Bangun
Kembali dengan Boikot Produk Israel".

Dr. Aidh al-Qarni, penasihat utama gerakan tersebut
menyatakan jika "boikot adalah senjata yang ampuh. Ini
adalah perang ekomoni."

Al-Qarni menambahkan, jika dalam teks-teks primer
hukum Islam, dapat ditemukan jika aspek enomoni dapat
menjadi senjata utama yang dapat melumpuhkan kekuatan
musuh.

"Dalam kacamata fikih, hukum boikot adalah mubah, dan
tak ada asal pengharaman atasnya. Namun hukum boikot,
melihat kondisi saat ini, adalah menjadi wajib
hukumnya," tegas al-Qarni.
[atj/iol/www.hidayatullah.com]

Bagi yang ingin tahu produk AS-Israel yang diboikot:
http://media-islam.or.id/2009/01/19/daftar-produk-as-yang-diboikot-para-ulama-dan-kekuatan-ekonomi-yahudi-as/

===
Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490
ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
Informasi selengkapnya ada di:
http://syiarislam.wordpress.com
http://www.media-islam.or.id


      Pamer gaya dengan skin baru yang keren. Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru 
sekarang! http://id.messenger.yahoo.com

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke