akhirnya ... 'jabariyan' lbh pengen sampeyan promosikan. dari awal topik juga sdh bisa terlacak logika pemikiran antum.
dari berbagai bentuk ayat kejadian, kalo saya tuh pengennya dikonvergankan sbg SATU paket ketauhidan. dengan prinsip "maa khalaqta haadza bathiila .." semua kejadian yg pahit & manis itu baik! differensiasi pemikiran itu yg seringkali buat sebagian tinggi hati, sombong & congkak dan itu JELEK & SANGAT JELEK! ya .. saya ingat bbrp tahun lalu masih jamannya nurchlois masih bernyawa, entah bgmana dalam jama'ah Islam itu muncul istilah "muslim ekslusif ". arahannnya adlh semacam pengklasifikasian jama'ah muslim menurut cara berpikirnya. kalo di-manajemen kantor-kan, ummat Islam itu ada kalangan ekslusif, operasional, hingga teknisi. bila kalangan muslim yg tidak mau menerima arahan berpikir mereka, akan masuk keranjang islam terbelakang, ortodok, kontemporer .. dsbgnya yg saya khawatirkan itu adlh pemahaman pola pikir ISLIB, yg kalo diwolak-walik itu adlh IBLIS. --- direct question to Mr. Al-Khori: apakah antum setuju gagasan nurcholis majid? jawaban pilihan: YA atw TIDAK. salam, Fahru ________________________________ From: Alkhori M <[email protected]> To: [email protected]; [email protected] Sent: Tuesday, February 17, 2009 6:09:24 AM Subject: Re: [is-lam] Alyaum akmaltu ... dan Kuridhai Islam itu jadi agamabagimu (dilihat dari 2 sudut yg berbeda Mas Bango, Benar seperti yg diungkapkan. Memang dalam kehidupan ini kadang kala kita harus Fiqih minded dan dilain waktu bisa beralih pula menjadi Tasauf minded. Dan itulah yang dimaksud dgn Situated Management. Ada juga yang dikenal dengan istilah push-pull management tapi sebaliknya hindarilah panicking management. Dalam hidup hari-hari kita harus bisa dan mampu melihat dari dua sisi yang berbeda yaitu yang tersurat (fiqih) dan yang tersirat (tasauf). Tidak ada salahnya Fiqih dan tidak ada benarnya Tasauf, tapi memang kedua ilmu itu berbeda sudut pandangnya. Kalau dilihat secara Fiqih ini hasilnya dan sebaliknya kalau dilihat dari Tasauf bakal ini hasilnya. Begitu pula dalam hidup kita ini kapan harus memakai Fiqih dan kapan harus memakai Tasauf. Ibarat hari, kalau terus saja siang dan tak pernah ada malamnya, kapan jasad tubuh kita harus istirahat. Maka siang dan malam terus berganti sesuai dengan orbit bumi terhadap matahari, ada musim panas ada musim dingin dst dst. Salam kompak selalu dari Qatar. Alkhori M Alkhor Community Qatar -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Bango Samparan Sent: Tuesday, February 17, 2009 1:10 AM To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] Alyaum akmaltu ... dan Kuridhai Islam itu jadi agamabagimu (dilihat dari 2 sudut yg berbeda Mohon maaf, panjenengan terlalu memaksakan cara pandang differensiasi FIKIH dan TASAUF. Yang gembira, saya terus terang kurang info tentang ini, tapi kalau hal ini disebabkan karena pandangan secara fikih, wah waktu itu fikih dan ushul fikih belum dikodifikasi. Yang sedih dalam kitab-kitab sirah dijelaskan karena mereka "cukup cerdas" untuk mengerti bahwa Rasulullah hakekatnya juga sedang melakukan pidato perpisahan. Dien sudah paripurna, berarti tugas pembawanya telah selesai, dus beliau akan segera dipundhut Allah SWT. IMHO, meminjam istilah mas Alkhori, tampaknya mas juga terlalu FIKIH dalam melihat pendekatan differensiasi FIKIH dan TASAUF yang panjenengan ciptakan. Salam hangat B. Samparan _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
