http://warnaislam.com/rubrik/muamalat/2009/2/7/1020/Muslihat_Uang_Kertas.htm

Muslihat Uang Kertas
Zaim Saidi
Sabtu, 07 Februari 2009 00:17

Tulisan ini merupakan kelanjutan dua tulisan sebelumnya mengenai Riba.

Urwah, salah seorang  Sahabat Rasul, sallalahu alayhi wa sallam,   meriwayatkan 
 bahwa ia diberi uang satu dinar  untuk membeli   seekor domba. Tapi dengan 
uang itu Urwah berhasil memperoleh  dua ekor. Maka ia menjual salah satunya 
senilai satu dinar dan membawa seekor yang lain, beserta sekeping dinarnya, 
kepada Rasul , sallalahu alayhi wa sallam, .  Atas kecerdikan Urwah tersebut 
Rasulullah , sallalahu alayhi wa sallam,  memintakan berkah Allah , subhanahu 
wa ta’ala,  atasnya, dan menyatakan bahwa “Ia akan menjadi seseorang yang 
selalu mendapatkan laba bahkan  bila ia berdagang debu sekalipun, “ (HR  
Bukhari).

Nilai satu dinar emas saat ini setara dengan  sekitar Rp 1.4 juta, yang di 
Jakarta dapat dibelikan 1-2 ekor domba.  Jadi, selama lebih dari  1400 tahun 
nilai tukar sekeping dinar tidak berubah. Sebaliknya, nilai jual seekor domba, 
juga tidak berubah.  Jual beli  domba, atau komoditas apa pun, dengan dinar 
emas tidak  menyertakan inflasi. Dengan kata lain  yang terjadi sepanjang zaman 
ini bukan harga komoditas yang naik, melainkan nilai uang kertas yang terus 
merosot..

Dengan menggunakan dinar emas  kita melepaskan kaitan antara komoditas  dan 
uang kertas. Dengan memakai dinar kita kembalikan  hubungan fitrah 
antarkomoditas. Kita ambil contoh lain  antara  minyak dan emas. Akan kita 
buktikan, antara keduanya, tidak terjadi pergeseran nilai tukar. Inflasinya 0%. 
Kalau terjadi pergeseran karena faktor alamiah, kelangkaan atau kelebihan 
pasok, dalam waktu segera akan mengalami keseimbangan baru, sesuai fitrah. 
Dengan intervensi uang kertas, sebagai pengganti salah satu komoditas yang 
dipertukarkan, dengan nilai nominal yang dipaksakan oleh hukum manusia, 
rusaklah  fitrah supply-demand ini.

Lihatlah harga minyak mentah (Indonesia) yang terus naik dalam lima tahun 
terakhir, sejalan dengan ’krisis minyak’ saat ini, dari 37.58 dolar AS (2004) 
menjadi 53.4 dolar AS (2005), menjadi 64.29 dolar AS (2006), menjadi 72.36 
dolar AS (2007), dan terakhir melonjak menjadi 95.62 dolar AS/barel (2008). 
Kenaikannya adalah 154% (dari 37.58 menjadi 95.62 dolar AS/barel).  Secara flat 
 kenaikan rata-rata harga minyak mentah Indonesia per tahunnya (dalam dolar AS) 
 adalah  38.5%.

Sementara itu, kurs dinar emas sendiri dari tahun ke tahun juga terus naik. 
Pada tahun 2004 satu dinar adalah 54 dolar AS, menjadi 60 dolar AS (2005), 
berikutnya (2006) menjadi 85 dolar AS, lalu 95 (2007), dan saat ini (2008) 
menjadi 127 dolar AS, sebelum kembali turun ke 117 dolar AS (Mei 2008).  Awal 
Februari 2009 nilai tukar dinar mencapai  121 dolar AS dan dalam rupiah 
melewati angka Rp 1.460.000. Jadi, dinar emas sendiri mengalami apresiasi cukup 
besar, meskipun lebih rendah dari kenaikan harga minyak mentah,  yaitu 135% 
(dari 54 dolar AS menjadi 117 dolar AS/dinar). Rata-rata apresiasi dinar emas 
per tahun, dalam periode ini, adalah 29.16%, terpaut sekitar 9% dari rata-rata 
kenaikan harga minyak mentah Indonesia di atas.

Sekarang kita lihat harga minyak mentah ini dalam periode yang sama dalam dinar 
emas. Pada 2004 harga minyak mentah Indonesia adalah 0.7 dinar emas/barel, yang 
sesudah mengalami kenaikan lumayan tinggi setahun kemudian (2005) yakni 28%, 
menjadi 0.9 dinar emas/barel, kembali turun 11% setahun kemudian (2006) menjadi 
0.76 dinar emas/barel. Dalam kurun tiga tahun terakhir (2006-2008), ketika 
situasi sangat tidak stabil – yang selalu ditampilkan kepada kita sebagai 
’krisis’ – harga minyak dalam dinar emas justru  sangat stabil, tidak beranjak 
dari 0.76 dinar emas/barel. Dalam periode ini  harga minyak mentah dalam dolar 
AS naik secara drastis, sekitar 49%! (dari 64.29 ke 95.62 dolar AS/barel), 
dalam dinar emas tidak berubah  alias kenaikannya 0%! Memasuki tahun 2009 harga 
minyak mentah dunia kembali turun drastis, tetapi dinar emas justru masih naik. 
Dalam dolar harga minyak mentah  turun dari 92.62 dolar ke tingkat sekitar 43 
dolar AS  atau 55%.
 Kalau diukur dengan dinar emas maka harga  minyak mentah internasional  saat 
ini sekitar 0.35 dinar/barel, turun dari  posisi 0.82 dinar/barel.  Angka 
penurunannya hampir persis sama dengan penurunannya dalam dolar AS, yakni 
54-55%.

Untuk kurun  waktu yang lebih panjang dan dalam perbandingan dengan komoditi 
yang jauh lebih luas cakupannya hadits Rasul , sallalahu alayhi wa sallam,  di 
atas telah pula dibuktikan secara ilmiah oleh Prof. Roy  Jastram, dalam bukunya 
The Golden Constant, bahwa selama sekitar 500 tahun (1560-1997) nilai tukar 
emas atas komoditas adalah konstan. Yang ada adalah nilai uang kertas yang 
terus merosot, menuju kepada asalnya sebagai selembar kertas tak bernilai.

Maka, awaslah, uang kertas adalah tipu muslihat riba belaka!  Kembalilah kepada 
dinar emas dan dirham perak.
===
Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490
ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media-islam.or.id
Ingin belajar Islam?
Kirim email ke: [email protected]


      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke