Makanya itu dia Mas, siapa bilang mimpin itu gampang, gak bisa asal-asalan kayak nganggap menggembala bebek. Tapi juga ada yg bilang menjadi yang dipimpin itu juga nggak gampang, gak bisa asal-asalan manut apa kata yang memimpinnya.
Tetapi sesulit apapun itu ya kudu tetep ikuti pakemnya juga kan, persifatan Gusti Allah itu kan ADIL ya wis kudu dimituruti aja sebab ini pasti tidak akan meleset. Adil adalah wajib, sementara yang fardhu adalah sifat-sifat Rasulullah yang empat itu. Nah, sekarang permasalahan gender saya tidak melihat ini sebagai sesuatu yang patut dipermasalahkan diawal, bahkan justru ini malah bisa menjadi distractor (pengganggu) umat untuk tetap suhud pada melihat kriteria sifat-sifat diatas. Biasalah idajil sukanya pada nyalip ditikungan manakala situasi dah runyam & kepepet akhirnya dia cs bisik-bisik "daripada repot-repot, dah yang penting pilih laki-laki aja dah....". Padahal kalo kita mo jujur nengok kebelakang indonesia ini presidennya yo mayoritas laki-laki, tapi sampeyan bisa menilai sendiri selama ini keadilan sudah tegak apa belum... ngusut yg jelas-jelas korupsi aja susah amir, tapi kalo maling ayam aja yg ngegebukin orang sekampung... :):) Perkara maraknya gerakan persamaan gender seperti feminisme yg bahkan dalam scope internasional sekalipun kalo nurut saya ya muaranya dari kegagalan penegakan keadilan oleh manusianya juga. Jadi gerakan sosial semacam ini hanya ekses saja sebetulnya, dan bukan gerakan yg murni ditujukan betul-betul utk menumbangkan dominasi kaum berkumis. Namun semakin kesini baunya tercium semakin kuat oleh karena ya itu tadi, idajil ikutan kampanye... supaya manusia pada-pada lupa memandang ke persifatan Gusti Allah dan RasulNYA. :) salam hangat 2009/3/16 Mawan Sugiyanto <[email protected]>: > > Masalahnya adil itu kan proses. Jadi ketika menentukan pilihan ya kriteria > adil itu belum bisa dibuktikan, walaupun track record sudah bilang adil. > > Jadi ketika memilih ya akan tetap hanya kriteria pertama saja yang bisa > dideteksi. > > > > --- On Mon, 3/16/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote: > > From: Dewa Gede Permana <[email protected]> > Subject: Re: [is-lam] Rijal secaralughot dan syari'at/Keterbukaan --c| > To: [email protected], [email protected] > Date: Monday, March 16, 2009, 1:33 PM > > Coba kalo di breakdown masalah aspek kepemimpinan ini coba kita > simulasikan secara sederhana saja lewat pooling: > > Mana kira-kira yg akan lebih dipilih dari opsi berikut ini: > > a. Lelaki - adil > b. Perempuan - adil > c. Lelaki - tidak adil > d. Perempuan - tidak adil > > Silahkan diurut berdasarkan prioritas dari yg sangat setuju sampai > sangat tidak setuju..... monggo... :):) > > kalo saya : a-b-c-d ( Wajibnya adalah "Adil" dulu) > > :) > wassalam > > 2009/3/15 <[email protected]>: >> dalam al-Quran memang ada ayat yang berbunyi "arrijalu kawamuna >> 'alannisa", >> apakah makna tekstual dan kontekstual dari ayat ini memang mengharuskan >> bahwa pria lah yang memimpin, atau spt yang mas Fakhru tulis "kalo ada >> wanita yg 'nglanangi' (tomboy?) itu boleh mimpin"..apakah bila ini terjadi >> kemudian masyarakat Indonesia yang mayoritas notabene ISLAM akan >> menghantam >> dengan dalil "bila suatu kaum di pimpin oleh bukan ahlinya maka tunggulah >> kehancurannya"...terlepas bahwa seorang wanita muncul ke permukaan baik >> yang >> melatar belakanginya adalah keadaan (anaknya si Fulan) atau karena >> kedudukan(usaha dan kerja keras/cerdas) toh pasti alam (kauniy qadariy) >> yang >> akan menyeleksi nya. Mengapa?, karena sebenarnya saya yakin ada kesesuaian >> antara kauniy qadariy dan dinniy syar'i(alQuran, hadits, dll). maksud saya >> bisakah kita kaum laki-laki menerima dengan keridhoan bahwa apa yang harus >> terjadi memang pasti terjadi tanpa harus melakukan penolakan minimal dalam >> hati yang menunjukkan adalah selemah-lemahnya iman.Bahwa hasil suatu >> proses >> adalah tergantung masukan saya probadi meyakini spt itu. terlepas bahwa >> proses nya di nilai ada kecacatan mungkin itu permasalahan yang berbeda, >> tetapi disini justru ada indikasi bahwa dalam rububiyah memang akan selalu >> terjadi dinamika-dinamika sampai dengan waktu yang telah di tentukan >> oleh-Nya.bila pada suatu masa memang akan munucul para wanita2 ke >> permukaan >> yang salah satunya adalah dalam bentuk panggung politik ya bisa saja, >> hanya >> saja lantas timbul pertanyaan ada apa dengan kaum pria nya?.. >> ini hanya trigger saja, bisa saja poin lain saya munculkan adalah masalah >> fiqih waris (faroidh) misal. nash2 yang ada bahwa wanita mendapat 1/2 dari >> pria, bagaimana jika kondisinya orang tua yang meninggal memiliki seorang >> anak laki(yang telah berkeluarga) dan dua orang anak wanita yang juga >> telah >> berkeluarga dimana salah satu anak wanitanya adalah janda yang juga >> memikliki anak, jika mengikuti nash yang tersurat bahwa wanita mendapatkan >> 1/2 pria, dan apalagi jika 1/2 ini adalah keseluruhan yang maksudnya 1/2 >> tsb >> akan di bagi untuk 2 orang wanita sementara anak laki yang sorang tsb >> hidup >> layak krn memiliki pekerjaan yang baik..mungkinkah akan timbul pertanyaan >> ADIL kah ISLAM? ya memang ada dalil lain berkaitan degnan masalah anak >> yatim >> dan apalagi anak yatim tsb adalah ponakannya, hanya saja beranikah kita >> para >> orang tua yang memiki anak melakukan sesuatu demi kemaslahatan walaupun >> terkesan ada penentangan/pengabaian pada nash2 yang tersurat?..(jgn >> dianggap >> berlebihan pro feminis dgn maksud mencari untung lho..bersyukur walaupun >> 1, >> mudah2an ndak terpikir untuk 2,3,4..he..he..he..). >> bila kita kembali pada fitrah(kesengsaraan/kebahagiaan,keadilan, dll) saya >> yakin bahwa walaupun tidak tersurat tapi insyaAllah tersirat pada >> kalam-Nya >> yang mulia tsb. bukankah ada nash yang berbunya 'wama arsalnaka illa >> rahmatan lil 'alamiin"...bgm kita menginterpretasikannya >> (tafsir/takwil)?.. >> saya melihat dan mendengar terkadang banyak dari kita yang takut melakukan >> sesuatu bila terkesan bertentangan degnan ayat2 yang muhkamat, tidakkah >> ini >> menunjukkan bahwa kita masih terBELENGGU?..oleh apa? oleh sesuatu yang >> merupakan hasil pemikiran orang2 yang hidup ratusan tahun lampau dan jarak >> ribuan kilometer,bahwa kaidah ILMU dalam ISLAM adalah dengan menuturkan >> riwatnya, silsilahnya bahkan kalo bisa dari sumber pertama saya tidak >> menafikannya, bahwa selalu akan muncul dikotomi itu adalah >> sunnatulloh.apakah saya menolak produk pemikiran para ulama masa >> lampau?.jelas tidak, tapi jsutru bagmna kita bersikap dengan bijak dalam >> menyikapi "turats", toh rosul yang mulia pun pernah mengatakan "urusan >> duniamu kamu lebih mengetahui"..dan para sahabat yang mulia pun ketika >> menjabat khalifah pernah melakukan sesuatu yang terkesan bertentangan >> dengan >> nash yang muhkamat spt yang di lakukan oleh kedua Umar (bin khattab dan >> bin >> aziz) baik dalam maslah ghanimah ataupun zakat profesi, begitu juag dengan >> Ali r.a demi kemaslahatan pada saat itu. >> dalam suatu hadits rasul saw pernah mengatakan bahwa mengapa beliau sehari >> istigfar 70/100 kali karena dalam hati itu ada TUTUPAN, dan lawan dari >> tutupan adalah BUKAAN, lantas apakah KETERBUKAAN itu?.. >> sekedar brain storming, tidak ada maksud lain. >> wassalam. >> a.s. >> >> --- Pada Kam, 12/3/09, AFR <[email protected]> menulis: >> >> Dari: AFR <[email protected]> >> Topik: Re: [is-lam] Rijal secaralughot dan syari'at/Keterbukaan --c| >> Kepada: [email protected] >> Tanggal: Kamis, 12 Maret, 2009, 9:14 AM >> >> ya sudah, gak usah melebar kemana-mana. wong pembicaraan ini gak ngomongin >> soal dza atw zat. >> bukan soal 0 dan 1, tapi soal penjelasan yang dimaksud lanang iku >> berdasarkan kelamin atau sifatnya? >> >> konsekuensinya, >> kalo ada wanita yg 'nglanangi' (tomboy?) itu boleh mimpin --> wanita boleh >> ngimami shalat. >> tapi kalo yg ditanya nggak njawab tapi malah 'cerita' protokol nyuruh >> audience duduk kanan-kiri, >> ya duduk saja yg anteng. simak pelan2 pelajaran bhs Arab asuhan kang >> Bango. >> >> monggo kang Bango diteruskan eposide yg ke-3 ... saya ikhlas ngikutinya. >> >> >> salam, >> Fahru >> ________________________________ >> From: Dewa Gede Permana <[email protected]> >> To: [email protected] >> Sent: Wednesday, March 11, 2009 5:50:50 PM >> Subject: Re: [is-lam] Rijal secaralughot dan syari'at/Keterbukaan >> >> Teropongan ente benul…. makanya pas diinget-inget lagi… ni ane nulis >> apaan >> neh..…. JJ >> >> >> >> From: [email protected] >> [mailto:[email protected]] >> On Behalf Of Agus Safudi >> Sent: Wednesday, March 11, 2009 1:35 PM >> To: [email protected] >> Subject: [is-lam] Rijal secaralughot dan syari'at/Keterbukaan >> >> >> >> Beli Dewa, ente kayanya mengarah pada dzat, sifat, asma, af'al-Nya ya?, >> (maaf bukan neropong ntar dikira paranormal he..he..he..) >> >> >> --- Pada Sel, 10/3/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> >> menulis: >> >> Dari: Dewa Gede Permana <[email protected]> >> Topik: Re: [is-lam] Bls: LA .... ILLA Tinjauan dari Perfektive/Rijal >> secaralughot dan syari'at --??| >> >>>Lha kalo rijal jadi dzat…. wah.. wah… wah… blaen iki… ntar ada yang >>> >kerjanya suka ngeraba-raba selangkangan lageee…. JJ >> >>>Kan sudah jelas lah yaw… Dzat sudah ketutup – tup. Yang tahu Allah ya >>> Allah >>> >sendiri. Muhammad SAW pun juga tidak tahu Dzat, meskipun kalo berdo’a >>> > blio >>> >suka bilang “Wahai Dzat yang diriku berada dalam genggamanNYA…”.. Itu >>> >menggambarkan betapa akrab – karib dan tak berdayanya blio dihadapan >>> >Allah. >> >>>Yang namanya SIFAT kan ya sudah gumelar dan netes ke kita-kita sebagai >>> >mahkluk…. ada hidup, daya, kehendak, lihat, dengar, rahman, rahiim, >>> dst..dst… >> >> >> >> mungkin saya rubah saja kata dzat/zat menjadi wujud materi yang bisa di >> tangkap oleh pancaindera, piye nek ngono beli? >> >> sebenarnya maksud saya glontorkan topik ini bisa saja nanti mengarah pada >> keTERBUKAan umat ini dalam menyikapi segala sesuatu,...atau mungkin masih >> adanya keterBELENGGUan pada sebagian umat kita (mudah2an tidak menuai >> badai >> nulis gene..he..he..he..) >> >> >> >> bahwa negeri ini pernah di pimpin oleh wanita itu adalah suatu >> realitas,artinya hal tsb terjadi tentu saja atas kehendak-Nya dan umat >> Islam >> tidak bisa menganggap itu sebagai sesuatu yang absurd(mustahil/tidak masuk >> akal) karena terjadi, suka tidak suka, ridho atau tidak...tapi point ini >> hanya perjalanan dari topik ini bukan tujuan..walaupun judul lebih >> nmengarah >> ke situ.maaf ndak pinter bikin judul lha wong belum pernah jadi >> editor/redaktur,dll.ini cuma tulisan secangkir kopi, pake rokok gak ya >> ntar >> haram lagi....(sampe sini dulu he...he..he..) >> >> >> >> kalo topik saya glontorkan ada di titik nol (0), maka penjelasan mas >> Fakhru >> ada di titik satu (1),..dst mungkin kalo DIA berkehendak bisa berlanjut >> sampe titik n, atau ~, atau mungkin dicukupkan saja karena hanya wasting >> time...monggo kersa (kumaha kersana wae,hi..hi..hi.) >> >> >> >> wasslam. >> >> a.s. >> >> >> >> From: [email protected] >> [mailto:[email protected]] >> On Behalf Of AFR >> Sent: Tuesday, March 10, 2009 5:39 AM >> To: [email protected] >> Subject: Re: [is-lam] Bls: LA .... ILLA Tinjauan dari Perfektive/Rijal >> secaralughot dan syari'at --??| >> >> >> >> pertanyaan kang Agus sdrhn: rijal itu mewakili dzat atw sifat? >> >> Alkhoir, >> tak bantu njelasin kalo belom ngerti maksud pertanyaan kang Agus. >> kalo rijal sbg dzat, maksude dpt dilihat dari cirinya punya anu >> diselangkangannya. >> kalo rijal itu sbg sifat, itu Dorce .... >> --- >> >> 1. dua titik kalo dihubungkan, selain jaraknay terdekat juga akan >> membentuk >> garis >> lurus serupa angka 1 (SATU). simbol KETAUHIDAN, bahwa semua yg mudah, >> sederhana >> dan tidak harus mbulet, kompleks atw rumit. >> >> 2. ular itu binatang yg dzat-nya dikenal hanya punya kepala & ekor, >> selebihnya adalah badan. wajar jika utk berjalan selalu meliuk-liuk. bila >> ada 2 titik sesederhana kepala & ekor spt ular tapi jadi panjang >> meliuk-liuk >> atw malah mbulet, itu cara/gaya hidup ular. >> >> 3. iblis itu bermanifesatsi sbg ular yg melilit di pohon, yg dgn segala >> tipu >> dayanya >> sebabkan Adam & Hawa keluar surga. >> >> 4.. kalo mengira diri sdh pinter dan ternyata ada yg lbh pinter itu bijak >> shg semakin tawadlu', tidak sombong & rendah hati. wal hasil, >> boleh jadi diri ini yg paling bodo, ternyata masih ada yg lebih ... >> >> >> saya ikut mas Agus: >> a'udzubilllahi min asyaithaani rajiim, iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin >> >> >> salam, >> Fahru >> >> ________________________________ >> >> From: Alkhori M <[email protected]> >> To: [email protected] >> Sent: Monday, March 9, 2009 8:47:15 PM >> Subject: Re: [is-lam] Bls: LA .... ILLA Tinjauan dari Perfektive/Rijal >> secaralughot dan syari'at >> >> Agus Safudi (AS), komentar anda panjang juga, tapi yang ingin saya >> tanggapi >> adalah soal “RIJAL” dan saya menjawabnya adalah sbb: “Pada sebuah acara >> Maulidan oleh protokol diumumkan, kepada adik-adik dan juga anak-anak >> diharapkan duduk dibagian depan dan untuk ibu-ibu diharapkan mengambil >> tempat duduk disebelah kiri dan yang terakhir untuk bapak-bapak diharapkan >> mengambil tempat duduk disebelah kanan” diharapkan AS akan paham maksud >> saya >> tentang arti “RIJAL” sekarang bagaimana pemahaman anda AS tentang jawaban >> saya. >> >> >> >> Alkhori M >> >> Alkhor Community >> >> Qatar >> >> ________________________________ >> >> From: [email protected] >> [mailto:[email protected]] >> On Behalf Of Agus Safudi >> Sent: Monday, March 09, 2009 2:39 PM >> To: [email protected] >> Subject: [is-lam] Bls: LA .... ILLA Tinjauan dari Perfektive/Rijal >> secaralughot dan syari'at >> >> >> >> (^_^) ......,??@@#$%^zzzz ,....., ketika ada email masuk inbox, suka >> atawa >> tidak, terpaksa ato tidak (IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN) , pasti >> saya >> buka, baca,..dst..terkadang ada rasa senang, kadang ada rasa kesal, >> dst......he.he.he.. >> >> >> --- Pada Sen, 9/3/09, Alkhori M < [email protected] > menulis: >> >> Dari: Alkhori M < [email protected] > >> >>>Kalimat LA ILA (ha) ILLA ALLAH (hu), bisa ditambahkan menjadi super >>> >kompleks yang berdasarkan riwayat singkat diatas yaitu: >> >>>LA ILA (ha) ILLA ALLAH (hu), >> >> >> >> mas, coba di lihat lagi tekstual arab nya bgm, coba anda liat di Qur'an, >> saya lupa ayat nya tapi bunya nya begini:.."fa'lam anahu laa ilaha >> illallahu".. >> >> Pertama: apakah betul terjemah "ila" dalam bahasa indonesia adalah ALLAH? >> >> Kedua: apakah anda tidak salah dalam melakukan pemenggalan lafadz, >> seharusnya : laa ilaha, ..jangan di penggal la ila, ha nya dalam kurung.. >> >> maksud judul mungkin perspektif ngkali ya.. >> >> >> >> mas, dalam al-Qur'an ada ayat yang berbunyi "laa takfuma laysa laka bihi >> 'ilmun",..kalo gak salah surah al-Israa..dan banyak dalil2 lain yang >> mengatakan jangan berbicara tentang AKU bila tidak mengetahui..... >> >> pada ayat di atas ada kata "fa'lam",..maka keTAHUilah...sebenarnya >> mengucapkan "laa ilaha illallahu" pun harus dengan ILMU. >> >> >> >>>LA ILA (ha) ILLA ALLAH (hu), Allah minimal 5x sebagai muslim anda >>> >menghadapnya atau minimal 34x anda sujud dihadapanya, pada saat itu, >>> >Subhanallah, Masyalaah kita-kita bisa langsung berkomunikasi dengan >>> > >Allah. >> >> Dzikron katsiiro... >> Jangankan cuma komunikasi, bahkan bisa mendapati-NYA... >> ada sebuah hadits qudsi " wahai anak adam carilah AKU, NISCAYA kamu akan >> mendapati-KU. Bila kamu mendapati-KU maka kamu akan mendapati segala >> sesuatu, bila kamu tidak mendapati-KU, maka kamu tidak akan mendapati >> segala >> sesuatu. sesungguhnya AKU lebih mencuntai kepada kamu dari pada kepada >> segala sesuatu"..mo tahu bgmana mendapati-NYA. bung Khori?.. >> >> "menurut saya" .... sampeyan ini sedang ber "tholabul ilmi", tapi kok kaya >> nya kurang tepat dalam hal positioning nya.... >> >> _____________________________________________________________________________ >> >> menjelang pesta demokrasi ini ada hal yg ingin saya diskusikan sbb: >> pada suatu saat saya pernah menonton di salah satu tv, waktu itu yg di >> diskusikan adalah kata "rijal", pada saat itu JIL di wakili oleh DR. >> musdah >> mulia, dan ada seorang ustadz (laki2) dan juga wanda hamidah.. >> >> yang ingin saya diskusikan/tanyakan apakah kata "rijal" dalam al Quran >> mutlak melekat pada dzat, artinya harus laki-laki, atau bisa saja melekat >> pada sifat, bila demikian maka perempuan pun bisa saja. bila kata rijal >> bisa >> melekat pada sifat (mungkin baru wacana) maka ada dalil naqli lain yang >> memang mendukungnya. >> mungkin ada yang punya kumpulan tafsir, kamus, dll..untuk ber sharing >> ria.. >> >> syukron katsiir >> wassalam. >> a.s. >> >> >> >> ________________________________ >> >> Nama baru untuk Anda! >> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan >> @rocketmail. >> Cepat sebelum diambil orang lain! >> >> >> >> -----Berikut adalah Lampiran dalam Pesan----- >> >> _______________________________________________ >> Is-lam mailing list >> [email protected] >> http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam >> >> >> >> ________________________________ >> >> Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! >> Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah >> >> -----Berikut adalah Lampiran dalam Pesan----- >> >> _______________________________________________ >> Is-lam mailing list >> [email protected] >> http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam >> >> ________________________________ >> Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan Gratis. >> _______________________________________________ >> Is-lam mailing list >> [email protected] >> http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam >> >> > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
