Kebenaran itu adanya di Tuhan, sedangkan kesalahan adanya numplek di manusia. Sedangkan agama adalah merupakan jalan atau cara utk mencapai kebenaran tersebut. Jadi agama itu bukan merupakan tujuan akhir, ia hanyalah merupakan tuntutan atau rambu-rambu yg hendaknya harus diikuti jika manusia memang ingin mencapai kebenaran, mencapai Tuhan.

Jalan yg ditempuh oleh seluruh para nabi dan orang-orang sholeh terdahulu adalah jalan islam, yaitu dengan mematuhi semua perintah Tuhannya dan meninggalkan semua larangan dari Tuhannya; tujuannya tidak lain adalah semata utk balik kembali kepada Tuhannya, di dunia dan di akhirat.

Sudah merupakan gejala alamiah jika penganut agama apapun akan menyatakan bhw jalan yg ditempuhnya adalah jalan yg tepat, oleh krn hal ini memang berguna sebagai fungsi afirmatif (pembenar) serta fungsi kondensasi (pengokoh) didalam dirinya agar ia tidak mudah gamang, sehingga dalam menyusurinya tsb ia tidak mudah terganggu oleh keadaan jalan itu sendiri. Hal ini sudah mulai terpupuk semenjak dari awal anak masih bayi dalam didikan orangtuanya hingga didikan lingkungan sosial. Orangtua dgn latarbelakang agama apapun tentu semua melakukan ini.

Si A tekun menyusuri jalan A, dia hidup diwarnai oleh jalan itu. Begitu juga dengan si B yg tekun ngikuti jalannya (jalan B), pun dengan warna gaya yg berbeda sedikit atau banyak dengan warna gaya jalan A. Tentu saja si A yakin 100% dengan jalannya ini akan membawa kpd tujuannya. Pun si B juga 100% yakin akan membawa kpd tujuaannya pula.

Sampai disini tdk ada masalah, semua oke-oke aja krn memang tdk ada persinggungan atau kontak. Permasalahan justru mulai muncul ketika si A tak sengaja mengintip track jalan si B dan kemudian berkomentar sinis menyalahkan track jalan yg ditempuh B. Lho apa urusanmu A kog jalan saya kamu bilang sesat? Memangnya kamu saat ini berada di jalan ku tha? Kalo kamu mau benar-benar membuktikan kesesatan jalan B yg aku tempuh ini ya seharusnya kamu ikuti track B ini sampai ke ujung.... agar kamu tahu persis sesat-tidaknya, jadi bukan sekedar berteori atau menduga-duga lantaran yg kamu tahu selama ini hanya jalan mu sendiri saja.. !!!

Nah lho? Si A yg juga seorang ahli teori dan dengan pengetahuan yg segunungnya ttg berbagai ragam seluruh agama dan kepercayaan di kolong langit ini pun terdiam sejenak.... hmm... bener juga apa kata B. Sungguh selama ini aku menyalahkan jalan B adalah berdasarkan pengetahuan teoritis ku saja, menurut kata si ahli ini dan si ahli itu yg kudapat dalam bacaan buku... sedangkan aku sendiri sebetulnya tidak pernah menyusuri jalan B dengan sepenuh hatiku. Dus itu artinya aku telah berbohong terhadap B, karena aku telah mengatakan apa-apa yg sesungguhnya tidak aku lakukan. Mulutku mengatakan apa-apa yg tidak dilakukan oleh tangan dan kaki ku.

:)
salam hangat


On Apr 28, 2009, at 10:22 AM, hamami wrote:

Mudah2an saya gak salah tangkap, inti topiknya adalah “Tujuan akhir semua agama itu sama, yaitu kemuliaan, kebaikan, dan keselamatan di dunia dan di akhirat, namun kenapa cara yang ditempuh masing2 pemeluknya kok ber-beda2, ya..? kitab panduannya berbeda, dan nama agamanyapun berbeda” dan yang lebih seru lagi Tuhannyapun berbeda padahal sumbernya sama yaitu dari Tuhan (?).

Masing2 merasa agamanyalah yang benar sehingga pemeluknya merasa punya kewajiban untuk menyebarkannnya lepada orang lain yang sudah barang tentu sesuai panduan kitab sucinya.

Ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya dan itu menjadi Pertanyaan Besar untuk saya secara pribadi, pertanyaan itu adalah:

Mungkinkah semua agama yang ada di dunia ini benar…? atau
Mungkinkah semua agama yang ada di dunia ini salah…?  atau
Mungkinkah hanya satu yang salah…? atau
Mungkinkah hanya satu yang benar…?

Logika saya mengatakan:
Kalau kebenaran itu kita katakan mutlak keberadaannya, tidak mungkin semua agama itu benar. Karena kebenaran yang mutlak, absolute, dan hakiki pastilah hanya ada satu.
Semua agama salah itu juga tidak mungkin.
Juga tidak mungkin hanya satu agama yang salah.
Yang paling mungkin hanya satu agama yang benar.

Persoalan/pertanyaan barupun timbul………AGAMA MANA yang benar itu? karena masing2 pemeluk agama akan mengatakan agamnyalah yang paling benar. Kalaupun ada orang yang mengatakan semua agama itu benar, ini berarti orang itu telah mengalami split personality dimana dia sendiri tidak yakin dengan kebenaran agama yang dia anut, terbukti dia juga mengakui kebenaran agama orang lain.

Ini sesuatu yang membingungkan, mana mungkin agama yang kitab sucinya beda, Tuhannya beda, serta ajarannyapun beda kita katakana sama2 benar. Kalaupun itu dikatakan benar kebenarannya pastilah bersifat relative, sementara kita mendambakan kebenaran yang mutlak, absolute, dan hakiki.

Wassalam
Hamami

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke