Inggih, saya terima infonya.
Dulu saya berharap PKS jadi gerakan moral yang ada di dalam:-) Kini, harapan 
saya itu bubar. 
Ah, berjuang memang sering terpeleset menjadi BEras baJU dan uAng. Jadi, kayak 
lagunya Beatles, opo yo judule:
... so give me money ... that's what I want ..

Salam hangat

B. Samparan

--- On Wed, 4/29/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote:

From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
Subject: Re: [is-lam] Adu Domba - Bls: Khamenei Salahkan AS-Israel Atas Bomdi 
Irak --c2|
To: [email protected]
Date: Wednesday, April 29, 2009, 9:04 PM

Mas Bango ini sekedar info saja ya, semua partai-partai hijau besar itu dah 
ketutup gak berkutik oleh duit. Kita-kita disini dan juga rakyat kebanyakan yg 
dibawah itu gak bakal bisa nembus info mengenai konstelasi politik diatas-atas 
sana. Berita-berita di media itu berada di layer 3, sementara info aslinya 
berada di layer 5 atau 6 barangkali (dan kalo mau tembus ya sampeyan kudu masuk 
bersosialisasi langsung dengan orang2 dekat yang mengitari the top person nya); 
sedangkan masyarakat di pelosok sana hanya mendapatkan isyu info di layer 1. 
Jadi diskrepansinya jauh banget. Memang antara bottom layer dan top layer 
sama-sama membicarakan kekurangan uang dan kesejahteraan, tetapi uang yg 
dibicarakan ini adalah uang yg berbeda! Coba sampeyan bandingkan sendiri uang 
200 rb bagi seorang tukang ojek dipelosok dengan uang 900 milyar bagi satu 
partai; yang satu berbicara mengenai libur ngojek 2 hari, dan satunya lagi 
bicara jaminan hidup 5 tahun kedepan !!!??? Opo
 ora mblegedhes namanya. Jadi sama seperti yg pernah dulu saya singgung : "uang 
memang bukanlah segalanya, tetapi segalanya tetaplah membutuhkan uang".
Bagi Negara, yang disebut rakyat adalah para pejabat-pejabat yang duduk di 
eksekutif, legislatif, dan yudikatif itu. Dan bukan yang dibawah-bawah yg 
jumlahnya ratusan juta dimana justru disinilah yg punya kepolosan dan idealisme 
itu. Negara dijaman sekarang tak bisa dibandingkan dengan era orde lama yg 
memang situasinya betul2 penuh perjuangan hadapi intervensi fisik dari luar.

Kalo saya boleh ambil kesimpulan nyleneh, oh rupanya pejabat-pejabat yang 
sekarang inilah yang merasakan buah dari semua perjuangan orang-orang tempoe 
doeloe. Lantas bagaimana dengan rakyat yg dibawah? he..he.. yg namanya keset 
mah tetep aja diposisikan sebagai keset.... injek abis.
Lantas bagaimana dengan pilpres nanti ?Ini dah pasti gak beda prosesnya. Jual 
beli dukungan ditingkat atas. Siapa yg punya uang itulah yg menang. Sampeyan 
sdh tahu kan siapa-siapa aja mereka itu. jadi sama seperti yg pernah sampeyan 
katakan tempo hari, lupakan saja idealisme.... krn ternyata itu memang jauh 
dari realitas politik di lapangan. Uang 1 trilyun bisa lah membeli 5 partai.... 
lha kalo 17 trilyun ?



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke