he..he..he.... ini sih gak bertentangan namanya.....
Ini namanya proses yg bertahap. Si guru sdh ada di dalam pesawat, sedangkan si murid masih ada ruang tunggu. .... kalo gak salah interpret lho..

:)
salam hangat


On May 1, 2009, at 9:29 AM, Bango Samparan wrote:

Tuan guru Alkhori:

Jika agama sebagai TOOL sebenarnya yang terpenting adalah tujuan akhirnya. Ibarat dari Doha ingin ke Jakarta bukan pesawatnya yang terpenting tapi yang sangat penting adalah tiba di Jakarta itu adalah yang lebih utama yaitu tepat waktu ditambah option-option yang lain

Murid Bango Samparan:

Menurut hemat saya, tuan guru, tujuan itu justru kemudian menjadi tidak penting lagi. Yang penting adalah bagaimana MEMASTIKAN apakah PESAWAT memang LAIK membawa kita ke tujuan tersebut.

Semua pesawat bisa saja diiklankan atau diklaim akan membawa kita ke Jakarta, tetapi kalau yang diiklankan adalah pesawat lama yang kondisinya sudah dedel duwel, masak tuan guru berani naik ke dalamnya.

Tuan guru Alkhori:

(statement ini akan banyak mengandung komentar, terutama dari mereka- mereka yang explosive dan flamable dan mau menang sendiri, yang merasa paling benar diri sendiri, kalau memberikan komentar meledak- ledak, seolah-olah beliau sendirilah calon penghuni surga, orang lain sesat semua) subhanallah & astaghfirullah.

Murid Bango Samparan:

Ahh, tuan guru yang jangan lalu stereotipe seperti itu, apa setiap komentar selalu karena sifat explosive, flamable, dan mau menang sendiri. Rasanya paragraf-paragraf semacam itu tak menguntungkan dalam diskusi, orang malah punya kesan tuan guru mengklaim diri sebagai yang paling siip, orang lain sebagai tidak siip.

Salam hangat
B. Samparan

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke