Mas BS,

Anda benar kalimat ini tidak perlu (Ahh, tuan guru yang jangan lalu
stereotipe seperti itu, apa setiap komentar selalu karena sifat explosive,
flamable), tapi kadang-kadang pengalaman mengajarkan hal yang lain. Banyak
yang belum paham betul isi posting dan sudah memberikan komentar. Ada pula
yang jadi peramal, spt kasus posting "khataman nabiyin" tidak ada tertulis
bantahan bahwa bla..bla.. tapi sudah diramal macam-macam, nah apa tidak
keluar istilah childish. Tapi memang itu dimaklumi, jika seseorang misalnya
baru belajar kungfu/ silat maka sedikit-dikit pamer, tapi tidak banyak yang
beginian. Saya jadi teringat ketika saya posting masalah FATWA MUI, banyak
juga yang jadi peramal. Tapi kadang-kadang perlu juga di-TEGAS-kan agar yang
bersangkutan jadi SADAR, kalau mau komentar baca dulu email itu kalau perlu
3x baru setelah itu beri komentar. Ibaratnya diskusi dalam sebuah seminar
ataupun simposium, jangan pribadi orangnya yang disentil tapi makalahnya,
karena kalau kita menyentil orangnya berarti kita tidak tahu ETIKA
berdiskusi. mBok ya kalau belum tahu belajar dulu.

 

Alkhori M

Alkhor Community

Qatar

  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of Bango Samparan
Sent: Friday, May 01, 2009 5:30 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] KENAPA AGAMA BERBEDA? PADAHAL SUMBERNYA SAMA, lanjutan
2

 


Tuan guru Alkhori:

 

Jika agama sebagai TOOL sebenarnya yang terpenting adalah tujuan akhirnya.
Ibarat 

dari Doha ingin ke Jakarta bukan pesawatnya yang terpenting tapi yang sangat
penting adalah tiba di Jakarta itu adalah yang lebih utama yaitu tepat waktu
ditambah option-option yang lain 

 

Murid Bango Samparan:

 

Menurut hemat saya, tuan guru, tujuan itu justru kemudian menjadi tidak
penting lagi. Yang penting adalah bagaimana MEMASTIKAN apakah PESAWAT memang
LAIK membawa kita ke tujuan tersebut.

 

Semua pesawat bisa saja diiklankan atau diklaim akan membawa kita ke
Jakarta, tetapi kalau yang diiklankan adalah pesawat lama yang kondisinya
sudah dedel duwel, masak tuan guru berani naik ke dalamnya.

 

Tuan guru Alkhori:

 

(statement ini akan banyak mengandung komentar, terutama dari mereka-mereka
yang explosive dan flamable dan mau menang sendiri, yang merasa paling benar
diri sendiri, kalau memberikan komentar meledak-ledak, seolah-olah beliau
sendirilah calon penghuni surga, orang lain sesat semua) subhanallah &
astaghfirullah.

 

Murid Bango Samparan:

 

Ahh, tuan guru yang jangan lalu stereotipe seperti itu, apa setiap komentar
selalu karena sifat explosive, flamable, dan mau menang sendiri. Rasanya
paragraf-paragraf semacam itu tak menguntungkan dalam diskusi, orang malah
punya kesan tuan guru mengklaim diri sebagai yang paling siip, orang lain
sebagai tidak siip. 


Salam hangat
B. Samparan

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke