INNALILLAHIWAINNAILLAHIROJIUN,

Inilah korban Globalisasi...
Nikmat Tuhan yang manakah yang telah kita dustakan...?




  ----- Original Message ----- 
  From: saidi 
  To: [is-lam] 
  Sent: Thursday, July 09, 2009 4:35 PM
  Subject: [Is-lam] Fw: PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA


          
  ----- Original Message ----- 
  From: regina 










                Dari milis tetangga...semoga ini jadi pembelajaran buat kita.



                  PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA
                  Salemba, Warta Kota

                  PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus 
menggendong
                  mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang 
kereta
                  rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger Minggu 
(5/6).
                  Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono 
(38 thn)
                  tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono 
akan
                  memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan 
menggunakan jasa
                  KRL.

                  Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, 
lantas
                  dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban
                  kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak 
tewas
                  karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan 
memaksa
                  Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

                  Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat 
hari
                  terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk 
berobat ke
                  Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa 
Khaerunisa ke
                  puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke 
puskesmas,
                  meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, 
gelas dan
                  botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per 
hari,” ujar
                  bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel 
KA di
                  Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh 
dengan
                  sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti 
ayah dan
                  kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di 
Manggarai
                  hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

                  Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa
                  menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
                  Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di 
dalam
                  gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada
                  siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan 
Muriski
                  termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup 
beli kain
                  kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi 
sampai
                  harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak.
                  Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak 
berisikan mayat
                  itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat
                  menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia 
berharap
                  di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

                  Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di 
Stasiun Tebet.
                  Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai 
membungkus
                  jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan
                  terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap 
Sang
                  Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, 
Supriono
                  menggendong Khaerunisa menuju stasiun.

                  Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang
                  menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan 
oleh
                  Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke 
Bogor
                  spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono 
langsung
                  berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi 
Tebet. Polisi
                  menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan 
menumpang
                  ambulans hitam.

                  Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera 
dimakamkan.
                  Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan 
surat
                  permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat 
Khaerunisa yang
                  terbujur kaku.

                  Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau 
adiknya
                  telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang 
tubuh
                  adiknya.

                  Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat 
tersebut,
                  lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, 
Supriono
                  harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain 
sarung
                  sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba 
memberikan
                  uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para 
pedagang di
                  RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono 
dan
                  Muriski di perjalanan.

                  Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan 
mengaku
                  benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis 
tersebut
                  karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak 
lagi
                  perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa 
masyarakat yang
                  seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah 
Khaerunisa.
                  Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK 
atau bahkan
                  tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk 
bangsa
                  Indonesia,” ujarnya.

                  Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan 
peristiwa
                  itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan 
pelayanan
                  kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama 
ini,
                  pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang 
miskin
                  kata Wardah.
               




----------------------------------------------------------------------
          Get your preferred Email name! 
          Now you can @ymail.com and @rocketmail. com. 
       



  __._,_.___
  Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
  Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar 
   
  Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
  Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
  Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity
    a..  20New Members
  Visit Your Group 
  Give Back
  Yahoo! for Good

  Get inspired

  by a good cause.

  Y! Toolbar
  Get it Free!

  easy 1-click access

  to your groups.

  Yahoo! Groups
  Start a group

  in 3 easy steps.

  Connect with others.
  . 

  __,_._,___


------------------------------------------------------------------------------
  Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger
  Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!


------------------------------------------------------------------------------
  Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman
  Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! 


------------------------------------------------------------------------------


  _______________________________________________
  Is-lam mailing list
  [email protected]
  http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke