kalo di jepang kalo ada sesesorang gagal langsung bunuh diri....mungkin menurut 
mereka daripada hidup tak berguna lebih baik mati sekalian.....hehehe
Alhamdulillah kita gak menganut paham itu....hiiii serem...:)))

-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[email protected]]on Behalf Of A Nizami
Sent: Thursday, July 16, 2009 3:30 PM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: [Is-lam] Bls: Fw: Orang Miskin Dilarang Sakit


Kalau di Jepang ada pemimpin gagal, dia akan malu dan mengundurkan diri dari 
jabatannya.

Kalau di sini sih ngotot untuk berkuasa kembali sambil memberi janji-janji 
palsu. Mudah2an itu tidak terulang lagi. Begitu...:)

===
Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id


--- Pada Kam, 16/7/09, [email protected] <[email protected]> menulis:

> Dari: [email protected] <[email protected]>
> Judul: [Is-lam] Fw: Orang Miskin Dilarang Sakit
> Kepada: "Yandi Dwiputra F" <[email protected]>
> Cc: [email protected]
> Tanggal: Kamis, 16 Juli, 2009, 2:01 AM
> Hmmm,
> Ya sudah. Itulah sebabnya rakyat kita lebih suka berobat ke
> Ponari atau dukun-dukun kampung yang kadang-kadang pada
> beberapa kasus, dukun kampung lebih sosial daripada dokter
> kota atau rumah sakit 
> 
> Ampun deh. . . Cape deh. . . 
> 
> 
> 
> -- pesan orisinal --
> Subyek:    Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin
> Dilarang Sakit
> Dari:    "Yandi Dwiputra F" <[email protected]>
> Tanggal:        16-07-2009
> 14.09
> 
>  
> betul  kang.....untuk mempertanggungjawabkan 5 th yang
> sudah lalu diperlukan 5th yang  akan datang.....oleh
> karena itu presiden yang sekarang mempunyai slogan 
> LANJUTKAN....itu maksudnya sebagai pertanggungjawaban beliau
> terhadap 5th yang  sudah lalu...... 
> InsyaAllah di kemudian hari tidak akan terjadi hal yang
> sama.......karena  menurut saya itu tidak mungkin kan
> khoirunnisa sudah meninggal.....hehehe sorry  just
> kidding.......
>    
> -----Original Message-----
> From:   [email protected]   [mailto:[email protected]]on
> Behalf Of   hamami
> Sent: Thursday, July 16, 2009 2:00 PM
> To:   [email protected]
> Subject: Re: [Is-lam] Fw: Orang
> Miskin   Dilarang Sakit
> 
>   
>   
>    
> Bagaiamana 5 th yang
> sudah   berlalu…?  
> Bukankah, kasus Khoirunnisa, bocah
> yang   bunuh diri karena malu gak bisa bayar
> uang sekolah, dan beberapa kasus
> yang   diberitakan di Kompas.com itu
> terjadinya pada masa kepemmpinan presiden
> yang   menang sekarang
> ini…?   
> Apakah kita akan melihat hal yang
> sama   untuk kedua kalinya nanti….? Soal
> berharap dan berdo’a itu sudah menjadi
> suatu   keharusan, namun kita juga dalam
> bertindak harus melihat kebelakang
> sebagai   bahan pelajaran dan bagaimana
> probabilitas   kedepannya.  
>    
>    
>   
>   
>   
>   
> From:   Yandi Dwiputra
> F   [mailto:[email protected]]
> 
> Sent: Thursday, July 16, 2009 1:20   PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [Is-lam] Fw: Orang
> Miskin   Dilarang Sakit
>   
>    
>   
> yup setuju   kang......  
>   
>    
>   
> insyaAllah   pemerintahan 5 th mendatang
> lebih punya kepedulian untuk
> memakmurkan   rakyat.....amien  
>   
> yuk kita sama-sama ikut berperan
> sesuai   porsi kita masing-masing........
>     
> -----Original   Message-----
> From:   [email protected]   [mailto:[email protected]]on
> Behalf Of A Nizami
> Sent: Thursday, July 16, 2009 1:12   PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [Is-lam] Fw: Orang
> Miskin   Dilarang Sakit     
>     
> Segala musibah yang terjadi itu tak lepas
> dari   kesalahan kita (atau sebagian dari
> kita) sendiri.
> 
> Misalnya   kenapa Khoirunnisa meninggal dan
> tidak dapat pengobatan. Kenapa ada   wanita
> yang diperkosa dan meninggal karena ditolak RS.
> 
> Itu   semua karena pemimpinnya tidak bisa
> melindungi rakyatnya dan memberi   pengobatan
> gratis.
> 
> Belum lagi gempa Yogya yang menewaskan
> 5000   orang dalam semalam karena tertimpa
> rumah yang ambruk. Rumah itu   ambruk karena
> rakyatnya miskin dan tidak punya cukup uang
> untuk   membangun rumah beton dengan tulang
> kawat dan semen yang   cukup.
> 
> Itu karena pemimpinnya tidak mampu
> memakmurkan   rakyatnya.
> 
> Salahkah pemimpinnya? Salah.
> Salahkah rakyat yang   memilih pemimpin
> itu?
> Ya salah juga.. Harusnya rakyat
> memilih   pemimpin yang betul2 punya
> kepedulian untuk memakmurkan   mereka...
> 
> Jadi itu tak lepas dari kesalahan kita juga.
> "Azab   yang demikian itu adalah disebabkan
> perbuatan tanganmu sendiri, dan   bahwasanya
> Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba- Nya."
> [Ali   'Imran:182]
> 
> "Demikian itu disebabkan oleh perbuatan
> tanganmu   sendiri. Sesungguhnya Allah
> sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya"   [Al
> Anfaal:51]
> 
> "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu
> maka   adalah disebabkan oleh perbuatan
> tanganmu sendiri, dan Allah
> memaafkan   sebagian besar (dari
> kesalahan-kesalahan mu)." [Asy Syuura:30]   
> 
> Bukan Allah yang menyiksa kita. Tapi itu karena perbuatan
> kita   sendiri.
> 
> Allah telah memerintahkan kita untuk memilih
> pemimpin   yang saleh dan peduli kepada
> rakyat. Kenapa kita tidak melakukan   itu?
> 
> Mudah2an kali ini kita mendapat pemimpin yang saleh
> dan   peduli pada rakyatnya.
> 
> ===
> Ayo Belajar Islam sesuai Al   Qur'an dan
> Hadits
> http://media-islam.or.id
> 
> --- Pada Rab, 15/7/09, hamami <[email protected]>   menulis: 
> 
> 
> Dari:   hamami <[email protected]>
> Judul: Re: [Is-lam] Fw:   Orang Miskin
> Dilarang Sakit
> Kepada: [email protected]
> Tanggal:   Rabu, 15 Juli, 2009, 10:57
> PM  
>   
>   
> Lho….bukannya team kampanye   maupun sang
> capres pada pilpres kemarin dengan bangganya
> mengatakan   jumlah/populasi orang miskin
> sudah banyak   berkurang…...?  
>  Atau barangkali   “berkurang” maksudnya
> sudah banyak yang mati karena gak mampu
> berobat   gitu, ya……? 
>    
>   
>   
>   
>   
> From:   saidi [mailto: [email protected]
> ] 
> Sent: Saturday, July 11, 2009   5:00 PM
> To:   [is-lam]
> Subject:   [Is-lam] Fw: Orang Miskin
> Dilarang   Sakit
>   
>  --   Original Message
> -----   
> From:   cicuk   kriswanto 
>    
> Subject: Orang   Miskin Dilarang Sakit 
> 
>   
>    
>   
>   
> Orang Miskin Dilarang   Sakit  
>   
>   
>   
> 
>   
>   
> KOMPAS/LASTI   KURNIA
>   
> /  
>   
> Jumat, 26 Juni 2009 |   11:57 WIB  
>   
> KOMPAS.com —   Dua hari Achmad (68)
> tergeletak di lorong rumah sakit. Hari
> ketiga,   setelah keluarganya menemui seorang
> perawat senior yang masih punya   hubungan
> kerabat dengan mereka, ia akhirnya bisa mendapat tempat
> di   salah satu bangsal rumah sakit. Akan
> tetapi, baru beberapa hari   dirawat,
> penderita gangguan serius pada organ hatinya itu
> ”dipaksa”   pulang.
> 
> Sudah sembuhkah Achmad? ”Jauh panggang dari
> api.   Tetapi, tidak ada yang bisa kami
> lakukan agar tetap bertahan. Sebagai   pasien
> yang berobat gratis, kami tentu tak bisa ngotot sebab
> menurut   mereka tempat perawatan akan
> digunakan orang lain,” kata Umar,
> kerabat   pasien, yang mengaku hanya bisa
> pasrah terkait kepulangan saudara   sepupunya
> tersebut dari Rumah Sakit Muhammad Hoesin
> di   Palembang.
> 
> Sejak Pemerintah Provinsi Sumatera
> Selatan   menerapkan sistem berobat gratis,
> masyarakat golongan bawah di wilayah   ini
> memang bisa mengakses layanan kesehatan di sejumlah rumah
> sakit   tanpa harus mengeluarkan biaya
> perawatan medis.
> 
> Namun,   membeludaknya jumlah orang
> sakit—di tengah berbagai
> keterbatasan   sarana dan prasarana
> kesehatan, juga tenaga dokter
> dan   paramedis—membuat pelayanan tidak
> optimal. Di tengah situasi semacam   ini, tak
> jarang perlakuan kurang manusiawi dialami
> banyak   pasien.
> 
> Apa yang terjadi pada Achmad bisa menimpa siapa
> pun.   Jangankan pasien dari keluarga miskin
> yang memanfaatkan sistem layanan   berobat
> gratis, pegawai negeri peserta asuransi kesehatan (Askes)
> pun   kerap dipandang sebelah mata oleh pihak
> rumah sakit.
> 
> Bahkan,   pelayanan buruk juga bisa menimpa
> seorang dokter peserta Askes yang   sekali
> waktu harus dirawat di rumah sakit terkemuka di negeri
> ini,   tempat ia dulu justru pernah bertugas
> (Surat Pembaca Kompas, 4 Maret   2009).
> 
> Lain lagi kisah yang menimpa sastrawan Radhar
> Panca   Dahana. Bukan soal perlakuan petugas
> medis, tetapi lebih menyangkut   bagaimana
> status pasien yang kerap menjadi semacam obyek dari apa
> yang   ia sebut korban fait accompli.
> Dalam   konteks ini, pasien hanya bisa pasrah
> karena memang tidak ada   pilihan.
> 
> Satu ketika ia menjalani operasi pengangkatan tumor
> di   pundak.. Seusai operasi, ia segera
> ”diperbolehkan” pulang. ”Betapa
> pun   saya minta diinapkan,” kata Radhar.
> Belum setengah perjalanan pulang,   luka
> bekas operasi terbuka dan darah mengalir. Ia kembali,
> operasi   ulang pun dilakukan. Hasilnya tak
> banyak menolong: luka tetap terbuka   dan
> darah tiada henti mengalir.
> 
> Ia kemudian diinapkan dan   diberi pilihan
> untuk operasi ketiga dengan kondisi dibius
> total.   Menurut dokter bedah yang
> menanganinya, kondisi ini (dibius
> total)   bagi orang seperti Radhar—yang
> memiliki penyakit akut lain,
> gagal   ginjal—hanya punya dua opsi: hilang
> sadar total alias maut atau masuk   ruang
> ICCU!
> 
> ”Saya terpana. Lantaran kesalahan operasi,
> saya   mesti berada pada sebuah dilema yang
> komikal: maut dan hampir maut,”   tutur
> Radhar.
> 
> Ketika hal ini dipertanyakan, sekaligus
> menggugat   di mana tanggung jawab para
> dokter yang membuat situasi hidup dan
> mati   sang pasien dipertaruhkan, ”Mereka
> tak bisa menjawab.. Yang ada
> hanya   pernyataan pendek: ’Semua terserah
> kepada keputusan Bapak’. Saya   terdiam dan
> mereka pergi.” Bahwa akhirnya ia selamat dari
> situasi   ”komikal” tersebut, Radhar
> percaya hal itu bisa terjadi hanya
> berkat   tangan Tuhan yang ikut bermain.
> 
> Dalam situasi dan kasus yang   berbeda,
> kisah Prita Mulyasari dan Juliana—yang akhirnya
> bersengketa   dengan pihak rumah sakit
> pascalayanan kesehatan yang
> mereka   terima—adalah sisi lain bagaimana
> potret hubungan pasien dan rumah   sakit
> sebagai penyedia jasa layanan kesehatan. Sudah sejak
> lama   dirasakan adanya ketimpangan hubungan
> antara pasien dan penyedia jasa   layanan
> kesehatan.
> 
> Pasien selalu diposisikan sebagai orang
> yang   paling membutuhkan, sementara rumah
> sakit cenderung tampil bagai dewa   yang akan
> menentukan nasib sang pasien. Bahkan, di
> tengah   ketidakpahaman pasien tentang sakit
> dan penyakitnya, tak jarang   hak-hak mereka
> dikebiri oleh pihak rumah   sakit.
> 
> Liberalisasi dunia   kesehatan
> 
> Ada apa dengan   sistem pelayanan kesehatan
> di negeri ini? Mengapa citra rumah
> sakit   yang dulu kental akan fungsi
> sosialnya kini redup, berganti wajah
> dan   tampilan barunya yang lebih
> berorientasi untuk kepentingan   bisnis?
> 
> Bukan saja kini bermunculan rumah sakit
> swasta   (beberapa di antaranya memasang
> label ”internasional”)
> dengan   target-target pendapatan lewat jasa
> layanan kesehatan dan tingkat   hunian kamar
> seperti layaknya dunia perhotelan, rumah sakit
> pemerintah   (pusat) pun mulai ikut-ikutan.
> 
> Lebih ironis lagi, banyak   pemerintah
> daerah—baik provinsi maupun kabupaten/kota—yang
> mulai   mengalokasikan dana untuk membangun
> rumah sakit yang berorientasi   keuntungan.
> 
> Kesenjangan pengetahuan medis tentang
> masalah   kesehatan dan penanganannya memang
> menjadi salah satu faktor lemahnya   posisi
> pasien (baca: konsumen) berhadapan dengan pengelola
> jasa   layanan kesehatan.
> 
> Namun, banyak kalangan percaya bahwa
> akar   dari semua itu berawal dari sistem
> layanan kesehatan di negeri ini   yang
> sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar. Akibatnya,
> aroma   komersial terasa kental pada hampir
> setiap tindakan terhadap pasien,   sementara
> fungsi sosial layanan kesehatan tertinggal jauh
> di   belakang.
> 
> ”Cuma dari luar, rumah sakit kelihatannya kini
> makin   komersial dan meninggalkan
> fungsi-fungsi sosial. Sebetulnya
> fungsi   sosial tetap jalan. Gawat darurat
> kan   selalu dilayani,” kata dr Adib
> Abdullah Yahya, Ketua Umum
> Perhimpunan   Rumah Sakit Seluruh Indonesia
> .
> 
> Menurut   Adib, aroma komersial itu
> dirasakan pihak luar lantaran rumah
> sakit   harus menghidupi dirinya sendiri.
> Rumah sakit, kan , harus   hidup sehingga
> menerapkan tarif-tarif sesuai dengan biaya
> per   unit.
> 
> Sebaliknya, dokter Kartono Mohamad—pakar kesehatan
> yang   juga mantan Ketua Umum Pengurus Besar
> Ikatan Dokter   Indonesia
> —melihat   pelayanan kesehatan di Indonesia
> memang cenderung   liberal. Semua diserahkan
> kepada pasar. Malah tiap langkah
> layanan   dikenai tarif tanpa ada aturan yang
> jelas. Pemodal yang membuka jasa   layanan
> kesehatan kini cenderung hanya berorientasi
> mencari   keuntungan.
> 
> Bahkan, kata Kartono, untuk mengangkat
> jahitan   seusai operasi pun dikenai tarif
> terpisah dari operasi itu sendiri.   Demikian
> pula kontrol atas keadaan seusai tindakan sepertinya
> dianggap   bukan merupakan bagian dari
> tanggung jawab pascatindakan,
> tetapi   sebagai langkah baru yang dikenai
> tarif tersendiri.
> 
> Bukan hanya   pengenaan tarif terpisah yang
> dipersoalkan. Besaran tarif juga
> tidak   jelas karena ditentukan sendiri oleh
> pengelola jasa layanan   kesehatan.
> 
> Seharusnya, kata Kartono, model layanan
> kesehatan   yang berasaskan fee for
> service   semacam ini—di mana tiap langkah
> layanan dikenai tarif   tersendiri—diubah
> menjadi sistem asuransi dengan segera
> memberlakukan   UU Sistem Jaminan Sosial
> Nasional yang sudah lima
> tahun   ”ditidurkan”.
> 
> Dalam perspektif pasar, segala sesuatu
> memang   diukur dari seberapa besar
> kapitalisasi bergulir. Kenyataan ini,
> meski   kerap disanggah oleh pemerintah, yang
> secara umum berlaku dalam sistem   pelayanan
> kesehatan di negeri ini. Dalam bahasa Radhar,
> esensi   pelayanan termanipulasi oleh
> fasilitas dan harga, sementara   diskriminasi
> terhadap pasien justru kian ditegakkan.
> 
> Lebih   celaka lagi, tentu saja bagi pasien,
> tidak ada lembaga pengawas yang   mengoreksi
> kalau ada kesalahan dalam pelayanan. Belum
> ada   perundang-undangan yang khusus mengatur
> soal layanan kesehatan di   rumah sakit,
> termasuk di dalamnya terkait kontrol dan
> prosedur   pelayanan terhadap pasien.
> Pemerintah yang seharusnya
> bertindak   sebagai regulator dan wasit malah
> ikut bermain.
> 
> Membaca   berbagai kasus yang muncul ke
> permukaan, Hasbullah
> Thabrany—ahli   kesehatan masyarakat dari
> Universitas Indonesia
> —mengingatkan   pemerintah agar segera
> menyadari bahwa ada kegagalan pasar
> dalam   pelayanan kesehatan. Penerapan
> mekanisme pasar dalam pelayanan rumah   sakit
> dan pelayanan kesehatan, tambahnya, tidak akan dan tidak
> pernah   menguntungkan konsumen.
> 
> Peringatan serupa juga
> disampaikan   sejumlah ahli kesehatan yang
> tergabung dalam Forum Peduli
> Kesehatan   Rakyat. ”Seluruh literatur
> telah membuktikan kegagalan mekanisme
> pasar   dalam pelayanan kesehatan. Fakta di
> dunia, semakin banyak dokter dan   rumah
> sakit, harga pelayanan semakin mahal. Bahkan, rumah sakit
> publik   milik pemerintah ikut bersaing dalam
> (sistem) mekanisme pasar,”   demikian
> antara lain bunyi seruan Forum Peduli Kesehatan Rakyat
> untuk   menggugah kepedulian para calon
> presiden dan calon wakil presiden
> yang   masih memarjinalkan isu kesehatan
> dalam kampanye- kampanye   mereka.
> 
> Pertanyaannya, di tengah kuatnya isu liberalisasi
> di   hampir semua sektor kehidupan berbangsa
> seperti sekarang, masihkah ada   yang peduli?
> Masih adakah peluang UU Sistem Jaminan Sosial
> Nasional,   yang antara lain berisikan
> jaminan kesehatan bagi seluruh
> lapisan   masyarakat—tanpa memandang
> kaya-miskin—benar-benar   dilaksanakan?
> 
> Kita hanya bisa menunggu. Ataukah
> pemerintahan   ini tega membiarkan aspek
> pelayanan kesehatan sebagai ladang
> bisnis   yang kian meruyak, sementara lebih
> dari dua pertiga rakyat yang   menggunakan
> jasa pelayanan kesehatan menjadi dan atau bertambah
> miskin   serta menderita karena tidak mampu
> lagi ”membeli” produk layanan   kesehatan
> yang dibutuhkan? Kita hanya bisa   menunggu!
>   
>   
> Thanx
> 
> 
>   
> 
> -----Berikut adalah Lampiran
> dalam   Pesan-----  
>   
> _______________________________________________
> Is-lam   mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>   
>    
>   
>   
>   
> Selalu bisa chat di profil jaringan,   blog,
> atau situs web pribadi! 
> Yahoo! memungkinkan   Anda selalu bisa chat
> melalui Pingbox.   Coba!
>  
> <<Attachment.html>>
> 
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
> 


      Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads..yahoo.com/id/internetexplorer/

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke