Sebuah notes dari salah seorang sahabat saya dalam mengungkapkan pergulatan menempuh jalan berliku di medio 2005. Khususon buat Mas Bango : ini adlh contoh kecil dari the Real War yang terjadi pada sohibz yg satu ini (yg tempohari pernah saya kirimkan catatan doski mslh PKS)
Tenkyu Ninik, dirimu bisa men-share dalam bentuk tertulis sementara lidahku terasa kelu utk mengungkapkan apa yg pernah kurasakan. :) salam hangat Maka itulah... Ada tiga perubahan yang terjadi pada diri roh : Roh akan menjadi seekor unta, unta berubah menjadi seekor singa, dan singa ahirnya menjadi sesosok anak. Namun ada yang memberatkan roh, bagi roh pembawa beban, yang di dalamnya berdiam kemuliaan, kehormatan dan rasa segan, kekuatannya merindukan yang berat-berat, yang maha berat. Apa itu berat ? demikianlah roh pembawa beban bertanya, demikianlah ia berlutut bagai unta yang menginginkan beban berat sepantasnya. Apakah hal yang paling berat, hai pahlawan ? demikianlah roh pembawa beban bertanya, sehingga aku boleh memanggulnya dan bergembira dengan kekuatanku ***** Sekarang ini, kita hanya menjadi unta yang membawa beban dari segala bentuk kewajiban dengan apa yang kau sebut syariah, rukun, kebaktian, atau apapun namanya. Bagimu, mencintai kewajiban itu adalah kesucian tertinggi. Kau ke masjid karena kewajiban, ke gereja karena keharusan, ke pura, ke wihara, ke klenteng semua karena kemestian tanpa kehendak bebas. Kau menjadi sombong karena kini kau sudah memiliki sedikit ilmu lantas menjadi arogan karena memiliki makmum. Jika ada yang berbeda, kau langsung memaki kafir, murtad, sesat lantas kau memberi label mereka sebagai penghuni kloset karena kini engkau merasa pengetahuanmu-lah yang paling suci. Kau begitu mabuk dengan perayaan ketika seseorang kini mengganti tulisan agama di KTP-nya entah itu melalui proses yang kau katakan kristenisasi, islamisasi, hindunisasi, budhanisasi, bla..bla..blanisasi. Kau begitu senang menciptakan perang dan teror demi apa yang kau namakan mati syahid. Tak peduli trauma apa yang akan merasuk ketika Keberadaan memaksa mereka yang menjadi korban untuk tetap melacur dalam kehidupan tanpa keberdayaan. Dan akhirnya, Zarathustra hanya akan mengucapkan selamat kepadamu karena kau masihlah manusia kerdil yang tidak punya kuasa apapun selain sebagai unta pembawa beban. Meskipun selanjutnya engkau bertanya ketika engkau “merasa” sudah dekat dengan sang penguasa alam, masih perlukah pengakuan bagi kekuasaan ? Kuasa apa yang kau dongengkan ? apakah kau mengira sudah memiliki kuasa hanya karena pernah bercakap dengan sang penguasa ? Tentu kini kau hendak memaki jalang Zarathustra. Sabar sedikit sobat, masih ada jalan keluar agar selamanya kau tidak menjadi manusia kerdil yang asyik masyuk dalam keharusan. Mari mendengar sabdanya ! ***** Bukankah yang terberat itu : merendahkan dirimu sendiri agar melukai kesombonganmu ? membiarkan kegilaanmu keluar agar mengejek kearifanmu ? Ataukah itu : meninggalkan perjuangan kita ketika ia sedang merayakan kemenangannya untuk mendaki pegunungan tinggi agar merayu si perayu ? Ataukah itu : menggantungkan makan pada pohon eik dan rumput pengetahuan dan demi kebenaran, jiwa menderita kelaparan ? Ataukah itu : jatuh sakit lalu menyuruh pergi para takziah dan berkawan dengan si tuli, yang tak pernah mendengar apa yang diminta ? Ataukah itu : mencemplungkan diri ke dalam air got yang kotor apabila air itu air kebenaran, tanpa menghiraukan katak-katak yang dingin atau yang menyengat ? Ataukah itu : mencintai mereka yang memusuhi kita dan mengulurkan tangan kita pada setan yang hendak menakuti kita ? Semua beban maha berat itu ditanggung sepenuhnya oleh roh pembawa beban. Seperti unta yang terengah-engah lari menuju gurun setelah mendapatkan beban dari tuannya. Tetapi di gurun yang sunyi senyap terjadi perubahan kedua : roh menjadi singa, ia ingin merdeka dan menjadi tuan bagi gurun tersebut. Ia mencari Tuhannya yang sempurna di tempat itu : ia akan menjadi seorang musuh bagi diri dan bagi Tuhannya, ia bertekad akan bertempur untuk mengalahkan si naga besar. Lalu siapakah naga besar yang oleh roh tak lagi diakuinya sebagai tuan dan Tuhan ? Naga besar dinamai “ Engkau Harus”. Tapi roh si singa berkata “aku hendak” ! “Engkau harus” berdiam di jalurnya, bagai seekor binatang buas yang bersisik emas, dan pada setiap sisik berkilauan “engkau harus” keemasan. Nilai-nilai ribuan tahun berkilau pada sisik-sisik itu, dan demikian berkata naga yang paling berkuasa dari sesamanya : “seluruh nilai benda-benda itu – menjadi cahaya bagiku”. “Semua nilai yang telah diciptakan, dan semua nilai ciptaan – semua ada padaku. Sungguh tak akan ada lagi ‘aku hendak’ !”Demikianlah sang naga berkata. ***** Ya, itulah beban yang harus kau pikul jika memang ingin menjadi singa sang pencuri kebebasan. Kenapa takut mendapat status gila diantara segala kebohongan yang kau nobatkan sebagai kewarasan seperti sisik emas sang naga yang telah menjadi suci karena menjelma menjadi kemapanan sebuah nilai selama ribuan tahun? Kenapa harus takut dengan perbedaan jika itu dapat menghancurkan egomu yang menjadi terlalu hygienis dengan apa yang kau anggap comberan namun ternyata adalah kebenaran dengan K besar ? Atau kau tidak sanggup mencintai mereka yang memusuhimu dan berdamai dengan apa yang kau pahamai sebagai setan ? Atau mungkin engkau terlalu mabuk dengan perayaan akan jalan tol yang kau ciptakan demi apa yang kau sebut kenyamanan padahal kecelakaan beruntun telah terjadi di ujung sana ? Tidak, kita semua sanggup untuk menjadi singa yang mampu menjadi penguasa dengan segala kehendak bukan lagi keharusan. Di sini engkau mampu menghacurkan berhala-berhalamu yang kau ukir sedemikian rupa berabad-abad hingga kau bisa mengatakan dengan bangga itulah Tuhan. Lalu kenapa harus menjadi singa ? lihat apa sabda Zarathustra. ***** Saudara-saudaraku, mengapa singa diperlukan oleh roh ? Mengapa tidak cukup sebagai binatang pembawa beban saja, yang patuh dan tidak menuntut apa-apa. Apakah itu tidak mencukupi ? Untuk menciptakan nilai-nilai baru –bahkan singa pun tak mampu : tapi untuk menciptakan kebebasan bagi penciptaan baru – itu dapat dilakukan oleh kuasa sang singa. Untuk menciptakan kebebasan bagi diri sendiri dan kata TIDAK yang suci walaupun terhadap tugas : sosok singa diperlukan untuk itu, Saudara – saudaraku. Untuk mendapatkan hak akan nilai - nilai baru – adalah pekerjaan yang paling mengerikan bagi roh pembawa beban yang patuh. Sungguh, bagi roh, hal semacam itu adalah pencurian dan merupakan pekerjaan binatang pemangsa. Baginya mencintai “Engkau harus” merupakan hal paling suci : dan kini ia harus menemukan ilusi dan perubahan pikiran mendadak bahkan di tempat yang paling suci sekalipun, supaya bisa mencuri kebebasan dari CINTA : singa diperlukan untuk mengahadapi tugas pencurian ini. ***** Betul, kau perlu menjadi singa karena hanya singa yang sanggup mencuri kebebasan yang terlepas dari segala dogma. Singa yang telah menjadi musuh bagi belenggu kewajiban dari nilai yang telah mapan dan mencari Tuhan yang sempurna sekaligus menjadi musuh bagi segala sesuatu yang ‘Di-Tuhan-kan’ termasuk musuh bagi dirimu sendiri. Itulah kenapa kau membutuhkan sang singa karena unta terlalu mencintai kesucian dari apa yang selama ini disabdakan para ulamamu, para pendetamu, para pemuka agamamu sebagai kewajiban yang jika meninggalkannya adalah dosa dan neraka. Hanya dengan menjadi singa yang memiliki kuasa akan kehendak, maka engkau akan mampu melewati tahapan LAA ILAA HA…Tiada sesuatu pun selain ketiadaan mutlak itu sendiri, inilah TIDAK yang suci sebagaimana sabda Zarathustra. ***** Tapi katakan padaku, saudara-saudaraku, apa yang dapat dilakukan oleh anak yang bahkan sang singa pun tak dapat melakukan apa-apa ? Lalu mengapa singa pemangsa itu masih harus menjadi sesosok anak manusia ? Anak itu lugu dan pelupa, satu awal baru, suatu permainan, sebuah roda yang berputar sendiri, satu gerak pertama, satu YA yang suci. Memang untuk permainan penciptaan, saudara-saudaraku diperlukan satu YA yang suci : dan kini roh menghendaki kehendaknya sendiri, sang roh memisahkan diri dari dunianya untuk memenangkan dunianya sendiri. Begitulah tiga perubahan yang terjadi : bagaimana roh menjadi seekor unta, unta berubah menjadi seekor singa, dan singa pada akhirnya menjadi sosok anak manusia. Demikianlah kata Zarathustra yang tinggal di kota bernama lembu belang. ***** Sebagaimana trilogy Qul yang kau kenal dalam islam, maka seperti itulah permainan penciptaan. Hanya pada saat kau sudah melewati LAA ILAA HA sebagai singa, maka kau harus terlahir kembali sebagai anak manusia untuk mencapai ILLA ALLAH. Ketika engkau telah berada dalam ketiadaan mutlak maka secara simultan kau dengan K besar akan mengaku dengan segala ketulusan tanpa silogisme akan kebenaran ALLAH AHAD. inilah trilogy Qul pertama untuk mendapat Falaq sebagai trilogy Qul ke dua. Selanjutnya kau layak menjadi manajer kehidupan sebagaimana trilogy Qul ke tiga yakni An-Naas yang akan mengatakan YA yang suci bagi kalimah ILLA ALLAH setelah engkau melampaui keadaan LAA ILAA HA. Karena demikianlah sabda Sang Nabi. Arbania Fitriani _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
