mmmm......
lama-lama jadi sembrono nih ngomongnya hehehe...
btw, saya jadi inget soal si ikhwan yang sudah istikhoroh 99% yakin tapi
tiba-tiba aja si akhwat memutuskan untuk tidak melaju ke pinangan karena beda
harokah...
fenomena ini memang tergolong baru, karena insya Allah di jaman Rasul SAW belum
ada. Rasul hanya menganjurkan agar kita mencari pasangan hidup berdasarkan
agamanya, kesalehannya.
fenomena ini muncul ketika kemudian bermunculan wasilah dakwah yang disebut
harokah. memang pembahasan tentang masalah ini bukan masalah benar salah suka
tidak suka.
sebelum menentukan pasangan sejatinya memang kita minimalisir perbedaan agar
mudah untuk mewujudkan sakinah mawaddah warohmah. apalagi jika dakwah fi
sabillah menjadi kerangka pernikahan menuju ridho Allah. walaupun perbedaan itu
mutlak tetap akan ada.
efek dari fenomena ini sebenarnya banyak dirasakan oleh para akhwat. maklum,
seorang akhwat ketika memasuki jenjang pernikahan statusnya makmum, artinya
dia berharap agar imamnya biasa menjadi nahkoda yang baik sesuai visi dan misi
dakwah yang dia geluti.
persoalannya, jumlah ikhwan militan tidak sebanding dengan stok akhwat militan
yang membludag. tak heran jika akhirnya banyak akhwat yang masih melajang di
usia paruh baya. kalau saya membincangkan hal ini, pasti akan ada seloroh
"Itulah pentingnya poligami, ada yang mau menjadi penolong bagi akhwat-akhwat
itu?"
Well, apa semudah itu? realitasnya, ikhwan yang tersedia kadangkala kondisi
ekonominya masih kocar-kacir, apa iya mau tetap dipaksakan? nggak semua akhwat
mau lho dijadikan istri kedua...
Saya jadi ingat cerita tentang seorang akhwat yang protes dan minta pertanggung
jawaban murobbinya yang telah menjodohkannya dengan seorang ikhwan yang jauh
sekali dari bayangannya.
Ikhwan itu ternyata tilawah Qur'annya payah, hapalan Qur'an dan hadistnya
memprihatinkan, bangunnya selalu siang, diajak tahajud banyak
nolaknya...bla...bla...bla...
Saya jadi ketawa dalam hati. Sebenarnya akhwat itu harus bersyukur karena dia
jauh lebih beruntung dari saudari-saudarinya yang belum bertemu jodoh di usia
paruh baya, yang dapat suami keji, fasik, musyrik, bahkan kafir seperti nasib
istri fir'aun.
Jika memang suami masih belum 'sempurna', yang terpenting dia menjalankan
kewajibannya sebagai muslim, dan suami serta ayah dari anak-anak. Itu dulu.
selebihnya, manfaatkan kondisi ini sebagai ladang dakwah karena dakwah yang
paling utama bukankah dari lingkungan terkecil seperti keluarga...?
Wallahu'alam bishowab..
Wassalamu'alaikum wr wb
Echy Pamungkas
Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis.
Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam