> Jika “hilangnya” pulau Sipadan dan Ligitan ke Malaysia yang luasnya kurang
> dari 1 km2 kita marah besar. Sebaliknya kita adem-ayem saja terhadap
> Singapura yang “mengimpor” pasir pantai sehingga luas negaranya bertambah
> 100 km2 dan akan terus bertambah jadi 500 km2 sesuai rencana mereka. Rakyat
> Indonesia justru bersahabat dengan Singapura yang telah mengurangi wilayah
> Indonesia dan merupakan agen Yahudi di Asia Tenggara.

> "Bukan termasuk Ummatku orang yang mengajak pada Ashabiyah, dan bukan
> termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar Ashabiyah, dan bukan
> termasuk ummatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah" (HR Abu Dawud).

> Nah terhadap Muslim saja kita harus berhati-hati dalam menerima satu berita.
> Karena bisa jadi laporan itu tidak benar. Apalagi terhadap berita-berita
> yang disampaikan oleh orang-orang kafir atau sekuler yang membenci Islam.

Nasihat yang bagus pak. Di tengah emosi dan provokasi-provokasi yang
sangat liar & kasar terhadap saudara-saudara kita sendiri sesama
Islam, mudah-mudahan artikel ini bisa membantu kita untuk kembali
rasional dan obyektif dalam melihat berbagai perkara yang ada.

Terimakasih.


Salam, HS




On 9/8/09, A Nizami <[email protected]> wrote:
> Assalamu'alaikum wr wb,
> Mewaspadai Berita Orang Fasik dan Adu Domba
> Gambar adu domba ada di:
> http://syiarislam.wordpress.com
>
> “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
> suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu
> musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu
> menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al Hujuraat:6]
> Ayat di atas menjelaskan satu kejadian di zaman Nabi. Ketika itu Al Harits
> menghadap Nabi. Dan Nabi mengajaknya masuk ke dalam Islam. Al Harits pun
> bersyahadah masuk ke dalam Islam. Nabi mengajaknya untuk membayar zakat.
> Al Harits menyanggupinya dan berkata: “Ya Rasulullah, aku akan pulang kepada
> kaumku dan mengajak mereka masuk Islam dan membayar zakat. Aku akan
> mengumpulkan zakatnya. Jika telah tiba waktunya, kirimlah utusan untuk
> mengambil zakat.”
> Akhirnya Nabi mengutus Al Walid bin ‘Uqbah untuk mengambil zakat pada Al
> Harits. Namun sebelum sampai di tempat, Al Walid takut dan akhirnya pulang
> dan memberi laporan palsu pada Nabi. Katanya Al Harits tidak mau membayar
> zakat bahkan mengancam akan membunuhnya.
> Kemudian Nabi mengirim utusan yang lain untuk menemui Al Harits guna
> memeriksa kebenaran berita itu. Di tengah perjalanan, utusan tersebut
> bertemu Al Harits  beserta sahabatnya yang sedang pergi untuk menemui Nabi.
> Al Harits bertanya kepada utusan itu: “Kepada siapa kamu diutus?”
> Utusan itu menjawab: “Kami diutus kepadamu.”
> Al Harits bertanya: “Mengapa?”
> Mereka menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengutus Al Walid bin
> ‘Uqbah. Namun ia berkata bahwa engkau tidak mau membayar zakat dan bahkan
> ingin membunuhnya.”
> Al Harits berkata: “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad, aku tidak
> melihatnya. Tidak ada yang datang kepadaku.”
> Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah SAW, bertanyalah beliau: “Mengapa
> engkau tidak mau membayar zakat dan ingin membunuh utusanku?”
> Al Harits menjawab: “Demi Allah yang mengutus engkau dengan
> sebenar-benarnya. Aku tidak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat Al
> Hujuraat:6 sebagai peringatan kepada kaum mukminin agar tidak mempercayai
> satu berita secara sepihak tanpa memeriksanya kepada kaum yang dituduh. (HR
> Ahmad).
> Nah terhadap Muslim saja kita harus berhati-hati dalam menerima satu berita.
> Karena bisa jadi laporan itu tidak benar. Apalagi terhadap berita-berita
> yang disampaikan oleh orang-orang kafir atau sekuler yang membenci Islam.
> Jika kita langsung mempercayai beritanya, bisa saja akhirnya kita marah dan
> membunuh orang yang dituduh berbuat jelek/difitnah padahal ternyata tidak
> benar. Kita harus memeriksanya langsung kepada orang yang dituduh/difitnah
> tersebut apa benar begitu.
> Sebagai contoh kita sering marah kepada Malaysia yang dianggap merebut pulau
> Sipadan dan Ligitan dari Indonesia. Padahal kasus itu telah dibawa ke
> Mahkamah Internasional dan MI memutuskan Malaysia yang berhak. Selain itu,
> jika kedua pulau itu benar-benar milik Indonesia, kenapa tidak ada nelayan
> atau pun tentara Indonesia yang berjaga di situ sehingga tidak ada seorang
> pun yang bisa membangun tanpa izin di sana? Kita menelantarkannya,
> sebaliknya Malaysia justru membangunnya jadi tempat wisata yang indah. Jika
> Indonesia menjaganya, tak mungkin hal itu terjadi.
> Jika “hilangnya” pulau Sipadan dan Ligitan ke Malaysia yang luasnya kurang
> dari 1 km2 kita marah besar. Sebaliknya kita adem-ayem saja terhadap
> Singapura yang “mengimpor” pasir pantai sehingga luas negaranya bertambah
> 100 km2 dan akan terus bertambah jadi 500 km2 sesuai rencana mereka. Rakyat
> Indonesia justru bersahabat dengan Singapura yang telah mengurangi wilayah
> Indonesia dan merupakan agen Yahudi di Asia Tenggara.
> Indonesia juga diam terhadap negara-negara AS dan Eropa yang mengambil
> kekayaan alam Indonesia seperti minyak, gas, emas, perak, tembaga, batubara,
> dan sebagainya. Menurut PENA, pada tahun 2008 sebesar Rp 2.000 trilyun/tahun
> kekayaan alam Indonesia dinikmati oleh negara-negara asing tersebut.
> Ummat Islam harus berpikir, kenapa mereka terhadap orang kafir begitu baik
> sehingga membiarkan luas negara berkurang sampai 100 km2 lebih dan Rp 2.000
> trilyun/tahun lari ke kantong asing, sementara terhadap Malaysia yang
> sama-sama Muslim bersikap begitu garang sehingga di zaman Bung Karno pernah
> perang dengan Malaysia?
> Karena adu-domba yang dilakukan oleh media massa kafir, akhirnya ummat Islam
> jadi melanggar perintah Allah dalam Al Qur’an. Ummat Islam justru jadi keras
> terhadap sesama Muslim dan lembut terhadap orang-orang kafir yang sebenarnya
> telah menzalimi mereka:
> “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari
> agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
> mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang
> yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir...” [Al
> Maa-idah:54]
> Jika Allah mengatakan orang-orang beriman itu bersaudara, sebaliknya
> sebagian Muslim justru menganggap orang Muslim lainnya yang beda negara
> seperti musuh besar sementara mereka justru seperti saudara dengan
> orang-orang kafir:
> “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah
> (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap
> Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [Al Hujuraat:10]
> Ada Muslim Indonesia yang dengan lantang meneriakkan “Ganyang Malaysia”
> Adakah dia sudah tidak takut dengan siksa neraka karena jika dua Muslim
> saling bunuh, maka keduanya masuk neraka. Jangankan dibakar dengan api
> neraka yang mampu mendidihkan otak sehingga manusia jadi seperti orang gila
> ketika dibakar hingga semata kaki selama-lamanya. Dibakar api lilin yang
> kecil pun selama 10 menit cukup membuat kita menderita.
> Jika terjadi saling bunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan
> yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, "Itu untuk si
> pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?" Nabi Saw menjawab, "Yang
> terbunuh juga berusaha membunuh kawannya." (HR. Bukhari)
> Bayangkan seandainya 1 juta rakyat Indonesia dikerahkan menyerang Malaysia
> yang berpenduduk 25 juta jiwa. Menang tidak, yang jelas ribuan nyawa akan
> melayang. Jangankan Indonesia yang senjatanya pantas masuk musium, AS yang
> penduduknya lebih besar dan persenjataan paling canggih dengan dibantu
> sekutunya saja kewalahan menghadapi rakyat Iraq yang hanya berpenduduk 16
> juta jiwa sehingga memutuskan mundur dari sana. Perang telah menelan lebih
> dari 4.000 tentara AS dan uang lebih dari Rp 9.000 trilyun. Kalau Indonesia
> yang APBNnya cuma Rp 1.037 trilyun/tahun memaksakan diri untuk berperang,
> dijamin langsung bangkrut dan jumlah rakyat yang mati akibat kelaparan macam
> di Aceh, Papua dan NTT akan bertambah banyak.
> Kenapa ummat Islam miskin dan terbelakang? Ya karena mereka mudah
> diadu-domba untuk perang terhadap sesama. Ummat Islam tidak punya media TV
> Nasional yang membawa kepentingan Islam. Oleh karena itulah mereka cuma jadi
> obyek gosip dan adu domba.
> Patut disadari oleh umat ini bahwa pihak lain akan senantiasa iri dan dengki
> kalau umat ini hidup bersatu dan menjadi kuat dengan agamanya. Mereka tidak
> akan pernah rela hingga umat itu ter-cerabut dari agamanya dan mengikuti
> cara hidup mereka.
> Berikut Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya) surat Ali ‘Imran:103:
> Sejarah para sahabat Rasulullah SAW. di kota Madinah, bahkan masih di masa
> Baginda Rasulullah SAW masih hidup mengajarkan hal itu. Ketika masyarakat
> dan negara Islam baru tumbuh di kota Madinah. Dan kedudukan politik dan
> kekuatan ekonomi mereka menggeser kepentingan dan posisi kaum Yahudi, maka
> Yahudi membuat makar. Salah seorang tokoh Yahudi yang bernama Syas bin Qais
> yang sangat benci dengan bersatunya dua suku besar penghuni   kota Madinah
> Aus dan Khazraj dalam ikatan Islam, membuat makar dengan mengirim seorang
> penyair agar mem-bacakan syair-syair Arab Jahiliyah yang biasa mereka pakai
> dalam perang Buats.  Perang Buats adalah perang yang terjadi selama 120
> tahun (Ibnu Ishaq dalam Tafsir Al Mawardi)  antara kaum Aus dan Khazraj. Dan
> selama musim perang tersebut, pihak Yahudilah yang meng-ambil keuntungan
> politik maupun ekonominya.
> Penyair suruhan Syas berhasil mempengaruhi jiwa sekumpulan kaum Anshar dari
> kalangan Aus dan Khazraj di suatu tempat di kota Madinah.  Syair jahiliyah
> tersebut mengantarkan mereka kepada perasaan kebanggaan dan kepahlawanan
> mereka di masa jahiliyah dalam medan perang Buats. Perasaan kebangsaan dan
> kepahlawanan kaum Aus maupun Khaz-raj itu memuncak hingga mereka lupa bahwa
> mereka sesama muslim.  Yang Aus merasa Aus dan yang Khazraj merasa Khazraj.
> Dalam puncak emosi perang itu mereka akhirnya berteriak-teriak histeris :
> ”Senjata-senjata!”.
> Dalam situasi kritis itulah, Rasulullah datang bersama pasukan kaum muslimin
> untuk melerai mereka.  Rasulullah SAW bersabda:
> “Wahai kaum muslimin, apakah karena seruan jahiliyah ini (kalian hendak
> berperang) padahal aku ada di tengah-tengah kalian. Setelah Allah memberikan
> hidayah Islam kepada kalian. Dan dengan Islam itu Allah muliakan kalian dan
> dengan Islam Allah putuskan urusan kalian pada masa jahiliyyah. Dan dengan
> Islam itu Allah selamatkan kalian dari kekufuran. Dan dengan Islam itu Allah
> pertautkan hati-hati kalian. Maka kaum Anshar itu segera menyadari bahwa
> perpecahan mereka itu adalah dari syaithan dan tipuan kaum kafir sehingga
> mereka menangis dan berpelukan satu sama lain. Lalu mereka berpaling kepada
> Rasulullah SAW. dengan senantiasa siap mendengar dan taat...” (Sirah Ibnu
> Hisyam Juz 1/555).
> http://suara-islam.com/index.php/Ibrah/Menjaga-Kesatuan-Umat.html
> Karena itulah Allah menurunkan surat Ali ‘Imran ayat 103:
> “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu
> bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu
> masa Jahiliyah bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
> menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu
> telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari
> padanya...” [Ali ‘Imran:103]
> Ada pun surat Ali ‘Imran ayat 99 turun berkenaan dengan tokoh Yahudi, Qais,
> yang gemar mengadu-domba ummat Islam:
> “Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan
> Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok,
> padahal kamu menyaksikan?." Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu
> kerjakan.” [Ali ‘Imran 99]
> Rasulullah SAW juga melarang keras sikap ashabiyah (Nasionalisme dan
> tribalisme) seperti itu. Sebagaimana yang tercermin dalam sabdanya:
> "Bukan termasuk Ummatku orang yang mengajak pada Ashabiyah, dan bukan
> termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar Ashabiyah, dan bukan
> termasuk ummatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah" (HR Abu Dawud).
> http://suarapembaca.detik.com/read/2009/09/02/173923/1195126/471/merangkul-malaysia
> Syiar Islam
> http://syiarislam.wordpress.com
>
> Silahkan kunjungi:
> http://kabarislam.wordpress.com
> http://islamicbroadcasting.wordpress.com
>
>
> ===
> MIFTA (Muslim IT Association - www.mifta.org)
> Untuk bergabung kirim email ke: [email protected]
>
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke