> Dua hari lalu ceramah Tarawih di Surau dekat tempat tinggal saya
> diisi oleh Muslim Malaysia keturunan India. Ceramahnya cukup pedas, kalo
> didengar oleh India lain akan 'membakar' telinganya.

Menyedihkan melihat agama Islam ini, "rahmatan lil 'alamin", oleh para
pemeluknya - para "ulama" nya, dijatuhkan menjadi agama kebencian.

Saya juga miris mendengar laporan-laporan serupa disini. Berbagai
mesjid menyiarkan ceramah-ceramah para ustadznya melalui sound
systemnya dengan sangat keras, sedangkan isi ceramahnya sangat
provokatif dan menghina para penganut agama lainnya.

Bayangkan jika ada gereja yang menyiarkan isi khotbah pastur mereka ke
publik, sedangkan isinya mencaci maki Islam & penganutnya.

Banyak para ulama kita yang sekarang menyebarkan agama ini dengan
penuh kebencian di dalam hatinya. Apa yang akan dihasilkan dari ini ?
Umat yang bodoh dan emosional.

Tidak heran kita hanya menjadi buih di lautan. Para musuh Islam bisa
dengan mudah mempermainkan kita semua.


Salam, HS




On 9/8/09, Imran Mansur <[email protected]> wrote:
> Memang sulit menjelaskan hal ini ke masyarakat kita. Karena telah tertutup
> 'kepekaannya' oleh berita media cetak maupun elektronik. Media kita kompak
> semua. Kompak untuk memprovokasi.
> 40% penduduk Malaysia adalah non-Melayu, dari non-Melayu ini juga ada yang
> Muslim. Dua hari lalu ceramah Tarawih di Surau dekat tempat tinggal saya
> diisi oleh Muslim Malaysia keturunan India. Ceramahnya cukup pedas, kalo
> didengar oleh India lain akan 'membakar' telinganya.
>
> Saya juga punya kenalan orang Malaysia non-Melayu keturunan India, beragama
> Kristen. Minggu yg lalu dia menulis di wall Facebooknya, lebih kurang begini
> 'Bendera kita dibakar di Indonesia dan kedutaan Malaysia dilempari telur.
> China and India yang membangun negara ini selama 4 - 5 generasi belum bisa
> memdapatkan haknya. Indonesia yang tinggal 3-5 tahun di sini, kemudian jadi
> WN Malaysia bisa mendapatkan fasilitas penuh dari Kerajaan (pemerintah)'.
> .
> Di Facebook juga beredar belakangan ini grup2/kumpulan yang mengajak untuk
> membenci Malaysia, We Hate Malaysia, Ganyang Malaysia, Malingsia Truly
> Maling asia, etc. Dan kalau dilihat creator/admin dari grup2 tersebut,
> rasanya sulit mengatakan mereka itu Muslim, terlihat dari namanya. Lucunya
> nama2 membernya banyakan yg Muslim.
>
> Di Jakarta juga 'beredar' tokoh2 yg seolah-olah membela Indonesia. Mengajak
> perang, seringan mengajak teman makan siang. Dan komentarnya juga disiarkan
> langsung oleh televisi, komentar-komentar 'kosong'. Kalau lah saya berada di
> sebelah dia, rasanya mau taruhan potong telinga kalau dia mampu membuktikan
> apa-apa yg diucapkannya, data bohong!!.
>
> Keadaan sekarang ini, Indonesia Muslimnya ramai, 85%. Dan Malaysia Muslimnya
> kuat. Kalau lah Ramai + Kuat, tentu akan membuat gerah banyak pihak.
>
> Wallahu'alam
> Imran
> w...@malaysia
>
>
>
>
> ________________________________
> From: A Nizami <[email protected]>
> To: [email protected]
> Sent: Tuesday, 8 September 2009 12:15:15
> Subject: Re: [Is-lam] Mewaspadai Berita Orang Fasik dan Adu Domba
>
> Iya akh.
> Islam itu kan agama damai.
> Jika bisa berdamai dgn orang kafir, kenapa kita justru ingin berperang dgn
> sesama Muslim?
>
> Menurut saya ini memang ada skenario adu domba yang jika kita tidak hati2,
> bisa timbul perang lagi antara Indonesia dan Malaysia.
>
> Wassalam
>
> ===
> MIFTA (Muslim IT Association - www.mifta.org)
> Untuk bergabung kirim email ke: [email protected]
>
>
> --- Pada Sen, 7/9/09, Harry Sufehmi <[email protected]> menulis:
>
>> Dari: Harry Sufehmi <[email protected]>
>> Judul: Re: [Is-lam] Mewaspadai Berita Orang Fasik dan Adu Domba
>> Kepada: [email protected]
>> Tanggal: Senin, 7 September, 2009, 9:01 PM
>> > Jika “hilangnya” pulau
>> Sipadan dan Ligitan ke Malaysia yang luasnya kurang
>> > dari 1 km2 kita marah besar. Sebaliknya kita adem-ayem
>> saja terhadap
>> > Singapura yang “mengimpor” pasir pantai sehingga
>> luas negaranya bertambah
>> > 100 km2 dan akan terus bertambah jadi 500 km2 sesuai
>> rencana mereka. Rakyat
>> > Indonesia justru bersahabat dengan Singapura yang
>> telah mengurangi wilayah
>> > Indonesia dan merupakan agen Yahudi di Asia Tenggara.
>>
>> > "Bukan termasuk Ummatku orang yang mengajak pada
>> Ashabiyah, dan bukan
>> > termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar
>> Ashabiyah, dan bukan
>> > termasuk ummatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah"
>> (HR Abu Dawud).
>>
>> > Nah terhadap Muslim saja kita harus berhati-hati dalam
>> menerima satu berita.
>> > Karena bisa jadi laporan itu tidak benar. Apalagi
>> terhadap berita-berita
>> > yang disampaikan oleh orang-orang kafir atau sekuler
>> yang membenci Islam.
>>
>> Nasihat yang bagus pak. Di tengah emosi dan
>> provokasi-provokasi yang
>> sangat liar & kasar terhadap saudara-saudara kita
>> sendiri sesama
>> Islam, mudah-mudahan artikel ini bisa membantu kita untuk
>> kembali
>> rasional dan obyektif dalam melihat berbagai perkara yang
>> ada.
>>
>> Terimakasih.
>>
>>
>> Salam, HS
>>
>>
>>
>>
>> On 9/8/09, A Nizami <[email protected]>
>> wrote:
>> > Assalamu'alaikum wr wb,
>> > Mewaspadai Berita Orang Fasik dan Adu Domba
>> > Gambar adu domba ada di:
>> > http://syiarislam.wordpress.com
>> >
>> > “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu
>> orang fasik membawa
>> > suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu
>> tidak menimpakan suatu
>> > musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya
>> yang menyebabkan kamu
>> > menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al Hujuraat:6]
>> > Ayat di atas menjelaskan satu kejadian di zaman Nabi.
>> Ketika itu Al Harits
>> > menghadap Nabi. Dan Nabi mengajaknya masuk ke dalam
>> Islam. Al Harits pun
>> > bersyahadah masuk ke dalam Islam. Nabi mengajaknya
>> untuk membayar zakat.
>> > Al Harits menyanggupinya dan berkata: “Ya
>> Rasulullah, aku akan pulang kepada
>> > kaumku dan mengajak mereka masuk Islam dan membayar
>> zakat. Aku akan
>> > mengumpulkan zakatnya. Jika telah tiba waktunya,
>> kirimlah utusan untuk
>> > mengambil zakat.”
>> > Akhirnya Nabi mengutus Al Walid bin ‘Uqbah untuk
>> mengambil zakat pada Al
>> > Harits. Namun sebelum sampai di tempat, Al Walid takut
>> dan akhirnya pulang
>> > dan memberi laporan palsu pada Nabi. Katanya Al Harits
>> tidak mau membayar
>> > zakat bahkan mengancam akan membunuhnya.
>> > Kemudian Nabi mengirim utusan yang lain untuk menemui
>> Al Harits guna
>> > memeriksa kebenaran berita itu. Di tengah perjalanan,
>> utusan tersebut
>> > bertemu Al Harits  beserta sahabatnya yang sedang
>> pergi untuk menemui Nabi.
>> > Al Harits bertanya kepada utusan itu: “Kepada siapa
>> kamu diutus?”
>> > Utusan itu menjawab: “Kami diutus kepadamu.”
>> > Al Harits bertanya: “Mengapa?”
>> > Mereka menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah
>> mengutus Al Walid bin
>> > ‘Uqbah. Namun ia berkata bahwa engkau tidak mau
>> membayar zakat dan bahkan
>> > ingin membunuhnya.”
>> > Al Harits berkata: “Demi Allah yang telah mengutus
>> Muhammad, aku tidak
>> > melihatnya. Tidak ada yang datang kepadaku.”
>> > Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah SAW,
>> bertanyalah beliau: “Mengapa
>> > engkau tidak mau membayar zakat dan ingin membunuh
>> utusanku?”
>> > Al Harits menjawab: “Demi Allah yang mengutus engkau
>> dengan
>> > sebenar-benarnya. Aku tidak berbuat demikian.” Maka
>> turunlah ayat Al
>> > Hujuraat:6 sebagai peringatan kepada kaum mukminin
>> agar tidak mempercayai
>> > satu berita secara sepihak tanpa memeriksanya kepada
>> kaum yang dituduh. (HR
>> > Ahmad).
>> > Nah terhadap Muslim saja kita harus berhati-hati dalam
>> menerima satu berita.
>> > Karena bisa jadi laporan itu tidak benar. Apalagi
>> terhadap berita-berita
>> > yang disampaikan oleh orang-orang kafir atau sekuler
>> yang membenci Islam.
>> > Jika kita langsung mempercayai beritanya, bisa saja
>> akhirnya kita marah dan
>> > membunuh orang yang dituduh berbuat jelek/difitnah
>> padahal ternyata tidak
>> > benar. Kita harus memeriksanya langsung kepada orang
>> yang dituduh/difitnah
>> > tersebut apa benar begitu.
>> > Sebagai contoh kita sering marah kepada Malaysia yang
>> dianggap merebut pulau
>> > Sipadan dan Ligitan dari Indonesia. Padahal kasus itu
>> telah dibawa ke
>> > Mahkamah Internasional dan MI memutuskan Malaysia yang
>> berhak. Selain itu,
>> > jika kedua pulau itu benar-benar milik Indonesia,
>> kenapa tidak ada nelayan
>> > atau pun tentara Indonesia yang berjaga di situ
>> sehingga tidak ada seorang
>> > pun yang bisa membangun tanpa izin di sana? Kita
>> menelantarkannya,
>> > sebaliknya Malaysia justru membangunnya jadi tempat
>> wisata yang indah. Jika
>> > Indonesia menjaganya, tak mungkin hal itu terjadi.
>> > Jika “hilangnya” pulau Sipadan dan Ligitan ke
>> Malaysia yang luasnya kurang
>> > dari 1 km2 kita marah besar. Sebaliknya kita adem-ayem
>> saja terhadap
>> > Singapura yang “mengimpor” pasir pantai sehingga
>> luas negaranya bertambah
>> > 100 km2 dan akan terus bertambah jadi 500 km2 sesuai
>> rencana mereka. Rakyat
>> > Indonesia justru bersahabat dengan Singapura yang
>> telah mengurangi wilayah
>> > Indonesia dan merupakan agen Yahudi di Asia Tenggara.
>> > Indonesia juga diam terhadap negara-negara AS dan
>> Eropa yang mengambil
>> > kekayaan alam Indonesia seperti minyak, gas, emas,
>> perak, tembaga, batubara,
>> > dan sebagainya. Menurut PENA, pada tahun 2008 sebesar
>> Rp 2.000 trilyun/tahun
>> > kekayaan alam Indonesia dinikmati oleh negara-negara
>> asing tersebut.
>> > Ummat Islam harus berpikir, kenapa mereka terhadap
>> orang kafir begitu baik
>> > sehingga membiarkan luas negara berkurang sampai 100
>> km2 lebih dan Rp 2.000
>> > trilyun/tahun lari ke kantong asing, sementara
>> terhadap Malaysia yang
>> > sama-sama Muslim bersikap begitu garang sehingga di
>> zaman Bung Karno pernah
>> > perang dengan Malaysia?
>> > Karena adu-domba yang dilakukan oleh media massa
>> kafir, akhirnya ummat Islam
>> > jadi melanggar perintah Allah dalam Al Qur’an. Ummat
>> Islam justru jadi keras
>> > terhadap sesama Muslim dan lembut terhadap orang-orang
>> kafir yang sebenarnya
>> > telah menzalimi mereka:
>> > “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara
>> kamu yang murtad dari
>> > agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu
>> kaum yang Allah mencintai
>> > mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah
>> lembut terhadap orang
>> > yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang
>> kafir...” [Al
>> > Maa-idah:54]
>> > Jika Allah mengatakan orang-orang beriman itu
>> bersaudara, sebaliknya
>> > sebagian Muslim justru menganggap orang Muslim lainnya
>> yang beda negara
>> > seperti musuh besar sementara mereka justru seperti
>> saudara dengan
>> > orang-orang kafir:
>> > “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.
>> Sebab itu damaikanlah
>> > (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan
>> takutlah terhadap
>> > Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [Al
>> Hujuraat:10]
>> > Ada Muslim Indonesia yang dengan lantang meneriakkan
>> “Ganyang Malaysia”
>> > Adakah dia sudah tidak takut dengan siksa neraka
>> karena jika dua Muslim
>> > saling bunuh, maka keduanya masuk neraka. Jangankan
>> dibakar dengan api
>> > neraka yang mampu mendidihkan otak sehingga manusia
>> jadi seperti orang gila
>> > ketika dibakar hingga semata kaki selama-lamanya.
>> Dibakar api lilin yang
>> > kecil pun selama 10 menit cukup membuat kita
>> menderita.
>> > Jika terjadi saling bunuh antara dua orang muslim maka
>> yang membunuh dan
>> > yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat
>> bertanya, "Itu untuk si
>> > pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?" Nabi
>> Saw menjawab, "Yang
>> > terbunuh juga berusaha membunuh kawannya." (HR.
>> Bukhari)
>> > Bayangkan seandainya 1 juta rakyat Indonesia
>> dikerahkan menyerang Malaysia
>> > yang berpenduduk 25 juta jiwa. Menang tidak, yang
>> jelas ribuan nyawa akan
>> > melayang. Jangankan Indonesia yang senjatanya pantas
>> masuk musium, AS yang
>> > penduduknya lebih besar dan persenjataan paling
>> canggih dengan dibantu
>> > sekutunya saja kewalahan menghadapi rakyat Iraq yang
>> hanya berpenduduk 16
>> > juta jiwa sehingga memutuskan mundur dari sana. Perang
>> telah menelan lebih
>> > dari 4.000 tentara AS dan uang lebih dari Rp 9.000
>> trilyun. Kalau Indonesia
>> > yang APBNnya cuma Rp 1.037 trilyun/tahun memaksakan
>> diri untuk berperang,
>> > dijamin langsung bangkrut dan jumlah rakyat yang mati
>> akibat kelaparan macam
>> > di Aceh, Papua dan NTT akan bertambah banyak.
>> > Kenapa ummat Islam miskin dan terbelakang? Ya karena
>> mereka mudah
>> > diadu-domba untuk perang terhadap sesama. Ummat Islam
>> tidak punya media TV
>> > Nasional yang membawa kepentingan Islam. Oleh karena
>> itulah mereka cuma jadi
>> > obyek gosip dan adu domba.
>> > Patut disadari oleh umat ini bahwa pihak lain akan
>> senantiasa iri dan dengki
>> > kalau umat ini hidup bersatu dan menjadi kuat dengan
>> agamanya. Mereka tidak
>> > akan pernah rela hingga umat itu ter-cerabut dari
>> agamanya dan mengikuti
>> > cara hidup mereka.
>> > Berikut Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya) surat Ali
>> ‘Imran:103:
>> > Sejarah para sahabat Rasulullah SAW. di kota Madinah,
>> bahkan masih di masa
>> > Baginda Rasulullah SAW masih hidup mengajarkan hal
>> itu. Ketika masyarakat
>> > dan negara Islam baru tumbuh di kota Madinah. Dan
>> kedudukan politik dan
>> > kekuatan ekonomi mereka menggeser kepentingan dan
>> posisi kaum Yahudi, maka
>> > Yahudi membuat makar. Salah seorang tokoh Yahudi yang
>> bernama Syas bin Qais
>> > yang sangat benci dengan bersatunya dua suku besar
>> penghuni   kota Madinah
>> > Aus dan Khazraj dalam ikatan Islam, membuat makar
>> dengan mengirim seorang
>> > penyair agar mem-bacakan syair-syair Arab Jahiliyah
>> yang biasa mereka pakai
>> > dalam perang Buats.  Perang Buats adalah perang
>> yang terjadi selama 120
>> > tahun (Ibnu Ishaq dalam Tafsir Al Mawardi)
>> antara kaum Aus dan Khazraj. Dan
>> > selama musim perang tersebut, pihak Yahudilah yang
>> meng-ambil keuntungan
>> > politik maupun ekonominya.
>> > Penyair suruhan Syas berhasil mempengaruhi jiwa
>> sekumpulan kaum Anshar dari
>> > kalangan Aus dan Khazraj di suatu tempat di kota
>> Madinah.  Syair jahiliyah
>> > tersebut mengantarkan mereka kepada perasaan
>> kebanggaan dan kepahlawanan
>> > mereka di masa jahiliyah dalam medan perang Buats.
>> Perasaan kebangsaan dan
>> > kepahlawanan kaum Aus maupun Khaz-raj itu memuncak
>> hingga mereka lupa bahwa
>> > mereka sesama muslim.  Yang Aus merasa Aus dan
>> yang Khazraj merasa Khazraj.
>> > Dalam puncak emosi perang itu mereka akhirnya
>> berteriak-teriak histeris :
>> > ”Senjata-senjata!”.
>> > Dalam situasi kritis itulah, Rasulullah datang bersama
>> pasukan kaum muslimin
>> > untuk melerai mereka.  Rasulullah SAW bersabda:
>> > “Wahai kaum muslimin, apakah karena seruan jahiliyah
>> ini (kalian hendak
>> > berperang) padahal aku ada di tengah-tengah kalian.
>> Setelah Allah memberikan
>> > hidayah Islam kepada kalian. Dan dengan Islam itu
>> Allah muliakan kalian dan
>> > dengan Islam Allah putuskan urusan kalian pada masa
>> jahiliyyah. Dan dengan
>> > Islam itu Allah selamatkan kalian dari kekufuran. Dan
>> dengan Islam itu Allah
>> > pertautkan hati-hati kalian. Maka kaum Anshar itu
>> segera menyadari bahwa
>> > perpecahan mereka itu adalah dari syaithan dan tipuan
>> kaum kafir sehingga
>> > mereka menangis dan berpelukan satu sama lain. Lalu
>> mereka berpaling kepada
>> > Rasulullah SAW. dengan senantiasa siap mendengar dan
>> taat...” (Sirah Ibnu
>> > Hisyam Juz 1/555).
>> > http://suara-islam.com/index.php/Ibrah/Menjaga-Kesatuan-Umat.html
>> > Karena itulah Allah menurunkan surat Ali ‘Imran ayat
>> 103:
>> > “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama
>> Allah, dan janganlah kamu
>> > bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah
>> kepadamu ketika kamu dahulu
>> > masa Jahiliyah bermusuh-musuhan, maka Allah
>> mempersatukan hatimu, lalu
>> > menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang
>> bersaudara; dan kamu
>> > telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
>> menyelamatkan kamu dari
>> > padanya...” [Ali ‘Imran:103]
>> > Ada pun surat Ali ‘Imran ayat 99 turun berkenaan
>> dengan tokoh Yahudi, Qais,
>> > yang gemar mengadu-domba ummat Islam:
>> > “Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu
>> menghalang-halangi dari jalan
>> > Allah orang-orang yang telah beriman, kamu
>> menghendakinya menjadi bengkok,
>> > padahal kamu menyaksikan?." Allah sekali-kali tidak
>> lalai dari apa yang kamu
>> > kerjakan.” [Ali ‘Imran 99]
>> > Rasulullah SAW juga melarang keras sikap ashabiyah
>> (Nasionalisme dan
>> > tribalisme) seperti itu. Sebagaimana yang tercermin
>> dalam sabdanya:
>> > "Bukan termasuk Ummatku orang yang mengajak pada
>> Ashabiyah, dan bukan
>> > termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar
>> Ashabiyah, dan bukan
>> > termasuk ummatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah"
>> (HR Abu Dawud).
>> > http://suarapembaca.detik.com/read/2009/09/02/173923/1195126/471/merangkul-malaysia
>> > Syiar Islam
>> > http://syiarislam.wordpress.com
>> >
>> > Silahkan kunjungi:
>> > http://kabarislam.wordpress.com
>> > http://islamicbroadcasting.wordpress.com
>> >
>> >
>> > ===
>> > MIFTA (Muslim IT Association - www.mifta.org)
>> > Untuk bergabung kirim email ke:
>> > [email protected]
>> >
>> _______________________________________________
>> Is-lam mailing list
>> [email protected]
>> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>>
>
>
>       &quot;Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya
> sekarang!
> http://id.mail.yahoo.com";
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
>
>
>
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke