>...seperti anak kecil, emosional, dan mudah tersulut.

Ini penyakit yg sedang diminati oleh masyarakat kita. Begitu jauhnya dari 
sabar. Selain partipasi dari media massa yang mendramatisir dan membubuhi, 
memainkan emosi untuk mudah mengutuk, menghina, bercarut-marut, menyumpah. 
Bayangkan bicara perang semudah dia mengajak makan siang.
Perhatikan egoisme kita di jalan raya, motor, mobil pribadi, bus kota. Tidak 
ada sikap untuk mengalah, 'yg penting gue dulu'.. Dan kita 'dilatih' 
sehari-haridengan situasi seperti ini.
Kembali saya bandingkan dengan keseharian masyarakat di sini. Hampir tidak ada 
klakson berbunyi, meskipun itu macet. Sepertinya klakson mereka pada rusak. 
Mengantri tidak saja dipraktekan di mesin ATM, tapi juga saat naik kendaraan 
umum, tanpa ada yg mengkomandoi. Di beberapa tempat makan sekelas kaki lima 
juga bisa terjadi antrian.
Sehingga berita membakar bendera Malaysia di Indonesia, lemparan telur ke 
konsulat tidak serta merta membuat mereka emosional dan marah. PM Malaysia juga 
bicara bahwa itu bukan sikap pemerintah Indonesia. Bayangkan yg terjadi 
sebaliknya, apa reaksi kita?
Sabar, sabar dan sabar. Ringan dibicarakan berat dilakukan. Bukankah sabar & 
shalat itu sebagai penolongmu?

Wassalam,
Imran




________________________________
From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, 9 September 2009 11:10:31
Subject: Re: [Is-lam] Mewaspadai Berita Orang Fasik dan Adu Domba

Sepertinya apa yg saya amati juga tak jauh beda Mas.

Beberapa rekan2 yg dulu saya kenal semasa mahasiswa sbg "apik - alim"
namun ketika skrg terjun dimasyarakat khususnya di kepartaian kog
malah jadi seperti anak kecil, emosional, dan mudah tersulut. Entah
apa yg mereka pelajari selama ini. Kalau saya coba ingatkan ehh malah
saya yg dibilang kolot. Lantas kalau ditunjukkan kekeliruan sikap2nya
ujung2nya ya gitu deh... cengengesan... sambil lalu. Berikutnya ya
diulangi lagi, nongol lagi jual kompor nya.... ampun deh..

:)
Wassalam



2009/9/9 Harry Sufehmi <[email protected]>:
>> Dua hari lalu ceramah Tarawih di Surau dekat tempat tinggal saya
>> diisi oleh Muslim Malaysia keturunan India. Ceramahnya cukup pedas, kalo
>> didengar oleh India lain akan 'membakar' telinganya.
>
> Menyedihkan melihat agama Islam ini, "rahmatan lil 'alamin", oleh para
> pemeluknya - para "ulama" nya, dijatuhkan menjadi agama kebencian.
>
> Saya juga miris mendengar laporan-laporan serupa disini. Berbagai
> mesjid menyiarkan ceramah-ceramah para ustadznya melalui sound
> systemnya dengan sangat keras, sedangkan isi ceramahnya sangat
> provokatif dan menghina para penganut agama lainnya.
>
> Bayangkan jika ada gereja yang menyiarkan isi khotbah pastur mereka ke
> publik, sedangkan isinya mencaci maki Islam & penganutnya.
>
> Banyak para ulama kita yang sekarang menyebarkan agama ini dengan
> penuh kebencian di dalam hatinya. Apa yang akan dihasilkan dari ini ?
> Umat yang bodoh dan emosional.
>
> Tidak heran kita hanya menjadi buih di lautan. Para musuh Islam bisa
> dengan mudah mempermainkan kita semua.
>
>
> Salam, HS
>
>
>
>
> On 9/8/09, Imran Mansur <[email protected]> wrote:
>> Memang sulit menjelaskan hal ini ke masyarakat kita. Karena telah tertutup
>> 'kepekaannya' oleh berita media cetak maupun elektronik. Media kita kompak
>> semua. Kompak untuk memprovokasi.
>> 40% penduduk Malaysia adalah non-Melayu, dari non-Melayu ini juga ada yang
>> Muslim. Dua hari lalu ceramah Tarawih di Surau dekat tempat tinggal saya
>> diisi oleh Muslim Malaysia keturunan India. Ceramahnya cukup pedas, kalo
>> didengar oleh India lain akan 'membakar' telinganya.
>>
>> Saya juga punya kenalan orang Malaysia non-Melayu keturunan India, beragama
>> Kristen. Minggu yg lalu dia menulis di wall Facebooknya, lebih kurang begini
>> 'Bendera kita dibakar di Indonesia dan kedutaan Malaysia dilempari telur.
>> China and India yang membangun negara ini selama 4 - 5 generasi belum bisa
>> memdapatkan haknya. Indonesia yang tinggal 3-5 tahun di sini, kemudian jadi
>> WN Malaysia bisa mendapatkan fasilitas penuh dari Kerajaan (pemerintah)'.
>> .
>> Di Facebook juga beredar belakangan ini grup2/kumpulan yang mengajak untuk
>> membenci Malaysia, We Hate Malaysia, Ganyang Malaysia, Malingsia Truly
>> Maling asia, etc. Dan kalau dilihat creator/admin dari grup2 tersebut,
>> rasanya sulit mengatakan mereka itu Muslim, terlihat dari namanya. Lucunya
>> nama2 membernya banyakan yg Muslim.
>>
>> Di Jakarta juga 'beredar' tokoh2 yg seolah-olah membela Indonesia. Mengajak
>> perang, seringan mengajak teman makan siang. Dan komentarnya juga disiarkan
>> langsung oleh televisi, komentar-komentar 'kosong'. Kalau lah saya berada di
>> sebelah dia, rasanya mau taruhan potong telinga kalau dia mampu membuktikan
>> apa-apa yg diucapkannya, data bohong!!.
>>
>> Keadaan sekarang ini, Indonesia Muslimnya ramai, 85%. Dan Malaysia Muslimnya
>> kuat. Kalau lah Ramai + Kuat, tentu akan membuat gerah banyak pihak.
>>
>> Wallahu'alam
>> Imran
>> w...@malaysia
>>
>>
>>
>>
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke