Metafisika Puasa : Taklukan Sinar Iblis

Oleh : KH Bahaudin Mudhary

 

II. NALAR PIKIR KE ALAM ILAHIYAT

 

Tak pelak lagi kemashuran para ulama atau para pengarang yang melahirkan
karya karya bermutu justeru pada bulan Ramadhan. Juga tokoh politik yang
berpuasa dalam tahanan, acapkali membuahkan tulisan tulisan yang berharga.

 

Dengan berpuasa, sebenarnya tak bakal melemahkan fisik seseorang atau
menyebabkan kekurangan gizi. Sebab tubuh manusia hasil cipta Allah teknologi
maju yang tak tertanding. Tubuh kita mampu bertahan beberapa hari tanpa
makan dan minum, sebab hidrat arang, lemak atau protein merupakan persediaan
yang cukup lama.

 

Ini berarti tepatlah apabila dikatakan bahwa puasa itu menghidupkan pikiran
dan penglihatan mata hati.

 

“Apabila perutmu penuh sesak dengan makanan, tidurlah pikiranmu, luluhlah
hikmah dan berhentilah anggotamu dari beribadah kepada Allah Rabbul ‘alamin
dan hilanglah kebersihan hati, dan sebenarnya kehalusan pengertian yang
dengan keduanyalah diperoleh kelezatan dan berkasnya dzikir pada jiwa.”

 

Memang sesuatu yang dihasilkan kecerdasan otak, secara empirik belumlah
dikatakan yang benar atau murni, sebelum dilengkapi keberhasilan ruhani atau
budi pekerti. Kecakapan otak hanya sebatas obyek yang nyata yang bisa diraba
dan disaksikan oleh pancaindera lahir yang riil, korporil, logis dan
positif. Hasil penalaran pancaindera lahiriah semata mata akin menimbulkan
bermacam¬macam aliran serba benda, semisal rasionalisrne, pragmatisme,
positivisme, materialisme dan sebagainya. Bahkan masih juga berlanjut
penyelidikannya mengenai ke Esaan Tuhan hanya berdasar pada olah pikir
lahiriah semata, menumbuhkan kepercayaan adanya Tuhan yang berbentuk,
berupa, berukuran atau berwujud. Bahkan jika pengamatannya itu tiada
menemukan Tuhan, niscaya ia ikan mengatakan Tuhan itu tak ada (Atheis).

 

Sementara beranggapan, hasil pemikiran yang didasarkan hanya pada akal saja,
logika dan bukti pastilah tidak akan bebas dari pengaruh nafsu. Dalam buku
“der Mensh Gezund und Krank” (hal. 170) Dr. Fritz Khant menyebutkan, “dis
Stanganhen sind der sits der instinkte” artinya pangkal otak itu pusatnya
nafsu. Sedangkan fungsi nafsu umumnya saling bergetar dengan setan yang
menjelmakan tindakan jahat dan buruk.

 

Dalam al-Qur’an surah Yusuf ayat 55 berbunyi:

 

“sesungguhnya nafsu (kerjanya) menyuruh kepada kejahatan. ”

 

Jadi, manakala cara berpikir cuma didasarkan atas kecakapan tubuh lahir
tanpa memperoleh daya dukung otak batin yang transenden, maka akan
mewujudkan hasil yang serba “salah”.

 

Sebab hakikatnya ia akan mengingkari peristiwa yang tidak dapat ditimbang,
diukur, yang tak mampu disaksikan oleh pancaindera, meski bukti buktinya
selalu berkembang. Dan kalau dikaji lebih dalam lagi, pastilah gerakan
pikirannya bertumpu pada pengaruh keinginan mementingkan diri sendiri,
angkara murka, tamak serakah, bahkan nafsu kanibalisme dan semacamnya.
Akibatnva, ia tak bakal memiliki cita cita kiprah membangun bagi
kesejahteraan umat, tapi kiat hidupnya hanya untuk kepentingan sendiri,
mencari keuntungan sebanyak mungkin bagi gelimang kemewahannya. Umat atau
bangsa yang demikian akan mudah sekali diperalat atau diperbudak bangsa lain
yang memiliki kecerdasan olah pikir yang lebih memadai. Sisi lain yang
unggul tentu mereka mampu menggunakan akalnya ditopang kebersihan ruhaninya
atau budi pekerti. Budi bermakna kecakapan ruhaniyah dan pekerti ialah hasil
kecerdasan otak (jasmani ragawi).

 

Tapak tapak perjalanan latihan spiritual dengan semangat jihad hanya
keridhaan Allah Azza Wajalla, akan diperolah hasil kecerdasan otak dan
kecakapan nalar pikir, membuahkan wujud kebenaran hakiki, lantaran
kebersihan rohaninya dipanjatkan ke alam ilahiyat. Setiap sesuatu yang
dibenarkan oleh akal belum tentu dibenarkan Rabbi dan setiap sesuatu yang
disalahkan oleh akal belum tentu pula salah dalam pandangan Al Khaliq.
Karena itu pula, titik tumpu kita, segala kejadian fenomena alam pastilah
dikendalikan oleh sunnatullah. Surat Al Jatsiyah ayat 13 berbunyi:

 

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi
semuanya, (sebagai rahmat) daripadaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar benar terdapat tanda tanda kekuasaan (Allah) bagi kaum yang berpikir.
”

 

Jelasnya, ayat ini menyatakan bahwa seluruh jagat raya dan isinya akan
ditundukkan Al Khaliq bagi umat manusia dengan sains yang diterapkan, dengan
teknologi, yang akan diberikan kepada mereka yang mau melibatkan akalnya dan
menggunakan nalar pikirnya.

 

Latihan spiritual yang maha akbar di bulan Ramadhan, cara terbaik
mengutamakan kemapanan ibadat, berlomba dalam kebajikan dan berjuang melawan
hawa nafsu. Akan terasa mumpuni, mengangkat harkat dari martabat, derajat
insani, dua sisi yang diraupnya, akal dan budi, menjernihkan pandangan jiwa
ruhani.

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke