Metafisika Puasa : Taklukan Sinar Iblis

Oleh : KH Bahaudin Mudhary

 

III. PUASA TAK PUAS PUASNYA MEREGUK ILMU

 

Tentang daya kerja sel sel dengan segala akibatnya yang diderita, dalam alam
kehidupan manusia, lantaran perutnya (lambung) senantiasa dipenuhi makanan
yang tak selaras dengan kemampuan ragawi. Dan sebaliknya, perut atau lambung
yang tak selamanya dipenuhi makanan, maka sel sel dalam tubuh tak bakal
menjadi lembab, bahkan terasa panas (suhu yang sehat) yang memacu kerja urat
syaraf bertambah giat dan cepat yang menimbulkan daya tarik yang kuat pula.
Sel sel yang menjadi panas akan menimbulkan pergeseran yang menumbuhkan daya
tolak tarik "magnetische kracht" mempunyai aliran yang dinamakan tenaga
listrik" yang berasal dari benda mati (materi) bisa dimanfaatkan di bidang
teknik, sanggup menggerakkan atau mengangkat benda dan sebagainya. Semisal
sebuah semprong lampu kalau digosok dengan secarik kain sutra atau woll maka
ia mempunyai daya tarik (magnetik).

 

Daya tarik yang ditimbulkan sel sel tersebut, bukan seperti tenaga listrik
teknik yang bisa kita lihat dengan pancaindera, melainkan tenaga listrik
halus yang diterima oleh otak berupa sinar dan langsung dialirkan kearah
budhi "Budhis lichaam". Sinar inilah yang dinamakan sinar bathin "Unvending
licht atau Hat subjective licht".

 

Hakiki urat syaraf otak yang mengandung daya tarik listrik tadi akan
menjelmakan daya nalar pikir yang memiliki kemampuan menangkap sesuatu yang
ada di luar jangkauan akalnya dan lebih meyakinkan lagi mampu membuka tirai
yang menutupi sesuatu persoalan atau peristiwa yang pada galibnya dipandang
sulit dan pelik.

 

Kiranya manusia yang memiliki kadar cara berpikir berkualitas inilah yang
sanggup menghadapi segala kendala dan memecahkan setiap persoalan tanpa
merasa letih nalar otaknya, dan cenderung rasa cintanya terhadap segala
macam ilmu pengetahuan. Seperti tak puas puasnya mereguk ilmu. Seperti
ungkapan Rasul "Carilah ilmu mulai dari buaian hingga keliang lahat "

 

Nilai nilai pikiran yang demikian inilah yang bisa dimiliki oleh mereka yang
lambungnya tidak selalu dipenuhi makanan atau dengan kata lain mereka yang
menunaikan puasa yang dituntut oleh syara. Pada umumnya melahirkan para
ulama, kyai ataupun cendekiawan muslim yang mumpuni serta tokoh tokoh bibit
unggul yang dibanggakan.

 

Inilah bukti yang dipraktekkan Rasulullah saw, mendidik umatnya dengan
berpuasa, mensucikan jiwa, menatap renung keheningan hati, satu satunya
menelusuri jati diri, meski berawal dari bangsa Arab yang kala itu dikenal
dalam sejarah sebagai bangsa "Jahiliyah" yang hidupnya hanya untuk hawa
nafsu, yang oleh bangsa Persia dan Romawi Kuno dianggap suatu bangsa yang
paling rendah derajatnya, bahkan lebih rendah dari "kambing dan onta".

 

Maka berkat latihan dan pendidikan puasa yang diinjeksikan Rasulullah saw,
dengan sekejap berbalik menjadi bangsa yang bermoral, memanjat ke alam
kebesarannya, menjelma bangsa yang kuat jasmani dan rohaninya, memiliki
kemampuan menciptakan dasar ilmu pengetahuan. Mereka tidak lagi tercela
dengan sebutan kambing dan onta, namun berbalik menjadi bangsa yang
berkuasa, malah negeri Persia dan Romawi yang semula menghina mereka, jatuh
di bawah kekuasaannya.

 

Dengan tampuk kekuasaan yang diraihnya, sanggup pula memberikan pimpinan,
pendidikan, pengajaran nilai tamaddun yang sangat bermanfaat bagi bangsa
lain, yang sampai kini mengagumkan para pakar sejarah dunia. Dalam buku "The
Spirit of Islam" menyebutkan, (Under the inspiring influences of the great
Prophet who give them acot and nationality started from soldiers into
scholars." Dengan pengaruh pendidikan dari Nabi Muhammad saw yang
menghidupkan suatu sistem kenasionalan mendirikan tentara, sehingga menjadi
umat terpelajar dan intelek).

 

Mereka menyadari bahwa dengan berpuasa dapat menentukan kelebihan derajat
manusia dari pada hewan, yakni otak dan budinya. Tapi ada manusia yang
bersifat seperti binatang, yang tujuannya hanya "doyan mangan" (makan
melulu) dan memuaskan hawa nafsunya belaka, maka tak mungkin mereka mencapai
kemajuan, utamanya dibidang mental spiritual.

 

Sejarah bangsa bangsa, sebagaimana bangsa Babilonia, Macedonia dan bangsa
lain yang mampu meraup kemajuan, lantaran mereka banyak mengurangi makan dan
minum, meski dengan gizi yang seimbang. Mahatma Ghandi dengan puasanya
menjadi senjata ampuh untuk mengusir penjajah.

 

Kemajuan suatu bangsa yang hanya didasarkan atas ilmu pengetahuan dan
teknologi semata, tetapi menyangkal bahwa pendidikan ruhani (budhi) adalah
mampu menjurus ke arah kebenaran hakiki dan kejujuran, maka rasa cinta
terhadap sesama ataupun kepada makhluk di luar manusia dianggapnya tidak
menguntungkan, keadilan hanya terdapat pada golongan yang lebih kuat dan
berkuasa, penghargaan dan penghormatan hanya terdapat pada manusia yang
bergelar, setumpuk harta kekayaan, kedudukan dan yang menyandang pangkat
melulu.

 

Dari situ pulalah tercermin kemuliaan dan pujian yang nisbi hanya ditujukan
kepada yang berwenang, sebab dianggapnya paling terhormat, walau cara
berpikirnya hanya dituntut oleh rumus rumus kaku yang diperoleh dari akal
dan kecakapan alat pancaindera lahir yang memuja obyek kebendaan atau
kesenangan lahiriah, sedang budi dipandang kurang sesuai dengan
intelektualnya, bahkan tidak selaras dengan tuntunan rumus patokan dari
bayangan tiga dimensi atau tidak pas dengan logika ilmu bukti.

 

Paham yang bertalian dengan ilmu pengalaman di luar alam benda "metafisika"
intuisi, inspirasi ataupun ragam transenden yang tak bertepi, dianggapnya
hanya suatu "impian yang mustahil". Bahkan dikatakan sebagai tahayul, nonsen
atau sulapan, tidak terangkum oleh akal. Yang dipercayanya hanya buah
pikiran otak "verstand" dan harus bebas leluasa, sedangkan mahkluk mahluk
hidup yang bertebaran di jagat raya disangkalnya.

 

Buat menghindari sistem berpikir yang demikian ini, sepatutnyalah disadari
bahwa dalam setiap diri pribadi manusia, sebagaimana diuraikan terdahulu,
memiliki otak batin dan otak lahir "sensus interior dan sensus exterior"
Dalam buku "uber deas Wewen and den Ursprung des mensechen (hal.30) oleh
Shoeseki Kaneko menyebutkan, "Die Volvermontft bersthtaus zweizeinten,
Namlich erzens aus den auf die obyekte welt bersogenen Kentnissen". Budhi
mempunyai dua fungsi, yang pertama, menerima daya daya pikiran yang
mengandung unsur ilmu pengetahuan lahir dan yang kedua, ialah ilmu
pengetahuan mutlak dasar hakikat kehidupan.

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke