Metafisika Puasa : Taklukan Sinar Iblis

Oleh : KH Bahaudin Mudhary

 

IV. AKU LAHIR DAN AKU BATIN

 

Puasa sebagai institusi disiplin spiritual moral dan fisik yang menerawang
ke alam ilahiyat, adalah tujuan mulia mencapai tingkatan spiritual manusia
yang paling tinggi. Kesempuranaan perjalanan ruhani puasa di bulan Ramadhan,
adalah lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai ditekankan dalam
hadits:

 

"Barang siapa yang berpuasa dalam bulan Ramadan dengan percaya kepada Ku dan
mencari keridhaan Ku .

 

Kiranya ibadah puasa yang paling intens cenderung menumbuhkan kesadaran
dekat kepada Tuhan dan hadirnya Allah. Dimana mana Allah senantiasa melihat
hamba-hambaNya dalam segala tingkah laku pokal. Inilah yang menjadi tumpuan
disiplin spiritual yang tinggi, kebangkitan jati diri dalam kehidupan
spiritual pula.

 

Karena tubuh jasmani yang dimiliki otak dinamakan otak lahir, maka tubuh
ruhani pun mempunyai otak batin. Ragawi disebut "badan kasar" dan tubuh
ruhani dinamakan "badan halus". Untuk mengetahui susunan dan bagian bagian
kasar, dibutuhkan acuan pendalaman ilmu Parasit, Anatomi, Biologi. Dengan
perantara ilmu tersebut, akan diketahui gerak-gerik aku lahir dan aku batin,
" sehingga disadari bahw di dalam pusat badan halus terdapat bagian yang
terpenting yang disebut otak batin atau Budi sebagaimana sabda Rasulullah
SAW

 

"Dalam tuhuh manusia ada segumpal daging, kalau daging itu baik niscaya balk
pula seluruh tubuh dan kalau ia jelek, maka jelek jua seluruh tubuh.
Segumpal daging itu adalah Kalbu".

 

Yang dimaksud kalbu dalarn hadis ini adalah jantung lahir yang terletak di
badan "kasar" yang harus dialirkan ke jantung ruhani badan "budi". Fungsi
jantung jasmani memompakan darah keseluruh tubuh. Sedangkan fungsi jantung
ruhani memompakan bion bion ke segenap penjuru tubuh rohani (badan halus).

 

Jantung lahir mempunyai otak, menverap obyek ke arah yang rill coorporil
(nyata) berbentuk materi yang logis diraba pancaindera. Jika otak lahir
menerima daya daya memancarkan sinar-sinar abstrak, yang kemudian diserap
otak lahir, sehingga otak lahir akan diliputi daya daya (sinar) dari otak
batin yang tidak selaras dengan getaran getarannya.

 

Proses penyerapan sinar yang diperoleh otak bathin inilah yang dinamakan
"ilham" atau intuisi yang dibuahkan mereka yang berbudi dengan bias dan
watak yang sempurna. Hal ini sesuai pula yang disebutkan dalam hadits
tentang esensi puasa adalah nilai spiritual dan moral.

 

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan dusta dan perbuatan yang palsu, Allah
tidak memerlukan usahanya meninggalkan makan dan minumnya."

 

Agaknya hal ini pula merupakan perintah agama. Semisal orang yang melakukan
shalat dan tidak memperhatikan arti hakiki dan tujuan shalat itu, maka ia
akan terkutuk. Dalam memahami aspek ajaran Islam oleh Prof. Mukti Ali, juga
dikemukakan segi etis dari puasa.

 

Dalam sebuah hadits dijelaskan sebagai berikut:

 

"Puasa adalah suatu tameng muka, orang yang berpuasa hendaknya jangan bicara
kotor, atau melakukan pekerjaan yang jelek, atau apabila ada orang yang
menyakiti atau bertengkar dengannya atau pun memakinya, hendaknya ia
berkata: saya sedang berpuasa".

 

Dalam pandangan Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, puasa
akan kehilangan nilai, bukan hanya Iantaran orang makan dan minum, tetapi
karena ia dusta, berkata kata kotor, menggunjing, melakukan perbuatan yang
tidak baik dan tingkah laku yang tidak baik yang mengakibatkan dosa.

 

Maka jelaslah jikalau jantung Iahir menerima sinar dari jantung bathin
(budi) akan baiklah semua tubuh karena dihiasi kesempurnaan dan keluhuran
akhlak yang mulia. Itu pulalah yang dimaksud dengan Hadits Nabi yang
mengajak manusia agar berbudi luhur dan terpuji, sehingga mampu menerima
intuisi dari Allah Rabbul 'alamin. Sebab manusia yang berbudi mampu
menangkap petunjuk Ilahi.

 

Intuisi adalah pikiran yang bersih yang diperoleh dari olah pikir yang
ditingkatkan oleh alam Tuhan yang menjadikan manusia yang infra dan supra
intelektual dan berabstraksi.

 

"Bertafakur hanya dapat dilakukan kalau kondisi lambung (perut) dalam
kondisi kosong, yakni dalam menunaikan ibadah puasa yang sebaik baiknya tak
ubahnya seperti yang disebutkan dalam hadits. Puasa diibaratkan sebagai
pengampunan terhadap dosa.

 

Orang yang berpuasa beriman kepada Allah dan berusaha untuk memperoleh
keridhaanNya dan mernpunyai maksud yang ikhlas. Rasanya hati ini benar benar
suci, bersih dari dosa, melambung menuju alam malakut atau ke alam Tuhan.

 

Kenyataan ini merupakan tanggung jawab terhadap mereka yang menganggap puasa
itu hanya mendidik manusia menahan lapar dan kelemahan jasmani. Anggapan itu
tinlbul dari mereka yang hidupnya hanya mengutamakan "makan dan minum" saja.

 

Tentu hal ini akan terasa naif, jika sekali tempo tidak mendapatkan makanan,
lalu untuk mengisi perutnya akan merampas makanan apa saja tanpa peduli
pemiliknya. Bahkan hewan yang lebih kecil dan lemah menjadl mangsa tanpa
belas kasih, yang penting perutnya bisa kenyang.

 

Justru karena itu, manusia yang punya daya pikir dan perasaan ini, hendaknya
mampu dan menjaga serta memelihara dengan sebaik baiknya. Agama memberi
tuntunan untuk membatasi hawa nafsu agar tidak bersifat atau bertabiat
seperti binatang, sebagaimana Flrman Allah SWT:

 

"Hendaknya kamu makan dan minum dan jangan melebihi batas, sesungguhnya
Allah tidak menyukai mereka yang melebihi batas" (Al- 'Araf: 31)

 

Seruan makan dan minum ini tentunya dari miliknya sendiri yang diperoleh
secara halal. Ada suatu ungkapan "Kullu Wasyrabu" yang bermakna ia
mennggunakan bukan miliknya sendiri milik rakyat atau milik negara. Tingkah
laku semacam ini jelas serakah atau sifat "lawwahmah", egoisentris, bahkan
dia nekat melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya sendiri.
Na'udzubillahi min dzalik.

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke