Metafisika Puasa : Taklukan Sinar Iblis

Oleh : KH Bahaudin Mudhary

 

VIll. PUASALAH, NISCAYA SEHAT

 

Sabda Nabi:

 

"Hendaklah kamu berpuasa, niscaya kamu sehat. "

 

Yang dimaksud dengan puasa menurut batas-batas yang ditetapkan oleh Allah
SWT.

 

Hakikat puasa pada hadits ini, ialah puasa yang menurut batas batas yang
ditetapkan oleh AIIah SWT dan garis yang telah ditentukan Nabi Muhammad saw
saw, yaitu berpuasa sebulan lamanya dalam setahun dan boleh ditambah diwaktu
lain yang dinamakan puasa sunnah.

 

Menurut ajaran Islam tidak dibolehkan bagi penganutnya berpuasa
terus-menerus. Karena kalau berpuasa yang demikian akan menimbulkan penyakit
pula yang jelas luka dan infeksi dalam perut karena terlalu lama menderita
lapar. Tentunya, hat ini tidak perlu direntang-panjangkan bagaimana bias
dampak akibatnya.

 

Pada setiap agama tidak sama cara dan aturan di dalam melakukan puasa. Dalam
Agama Budha berpuasa siang malam sampai beberapa hari lamanya tanpa berbuka
sebagaimana puasanya Mahatma Gandhi selama 40 hari (siang/malam). Puasa
semacam ini sangat berat, barangkali hanya dapat dilakukan oleh beberapa
orang saja.

 

Juga puasa orang Yahudi dan Kristen dengan syarat menahan diri dari makanan
yang berdarah dan rempah rempah, akan tetapi pada waktu pagi di perkenankan
makan sepotong roti yang memakai daging. Puasa demikian itu terlalu ringan.

 

Karena itu pulalah, maka Agama Islam mengambil jalan tengah puasa yang tidak
terlalu berat dan tidak terlalu ringan, sederhana sesuai dengan kemampuan
fitrahnya sebagai umat pertengahan sebagalmana firman Allah SWT:

 

"Demikianlah Aku (Allah) jadikan kamu umat pertengahan sebagai bukti kepada
manusia." (Al Baqarah 2:46)

 

Menurut ajaran Islam, dalam melakukan puasa tidak hanya diwajibkan menahan
lapar dan haus semata, akan tetapi wajib pula menahan dan menutup segenap
alat pancaindera dari segala macam pengaruh dan perbuatan maksiat, dan harus
mampu mencegah gerakan tubuh maupun bisikan batin yang dapat menimbulkan
pengaruh pada perbuatan jelek, tidak terpuji.

 

Jelasnya segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindera, baik dengan
perantaraan mata, hidung, mulut, telinga maupun kulit, maka hasil tangkapan
tadi adalah merupakan daya daya atau elektron bebas yang langsung masuk
melalui indera masing masing. Kemudian daya daya tadi melakukan Process of
Relay, lalu berubah menjadi arus listrik hidup "bio electrisiteit" yang
terus mengalir ke pangkal otak sampai di pusat akan dan terus ke otak besar
groate hersen. Yang kemudian menimbulkan kesadaran atau pikiran yang dinamai
ruh pikir atau Anima Mentalis, ialah pikiran yang tersusun dari
bioelectronen.

 

Oleh karena pancaindera terusun dari materi atau jasad kasar, maka segala
sesuatu yang ditangkap olehnya tentu berupa serba benda, yakni keadaan yang
nyata yang berbentuk materi, maka dengan sendirinya dalam pikiran menyimpan
gambaran gambaran yang serba materialistis.

 

Sebagaimana diterangkan bahwa daya daya yang berada di pangkal otak
menjelmakan nafsu (instincten). Oleh karenanya pangkal otak disebut
"sentralnya nafsu" yakni pikiran yang materialistis, pikiran yang mempunyai
obyek ke arah kebendaan semata dan keinginan yang mengandung daya daya
kebencian kemurkaan dan sebagainya.

 

Setelah itu daya daya tadi mengalir ke dalam pusat kemauan yang disebut juga
"pusat gerakan" atau motorische centrum lalu mengalir melalui urat syaraf
dan akhirnya menuju ke otak untuk melakukan gerakan, perbuatan, tindakan dan
semacamnya

 

Oleh karena daya daya pikiran tadi telah berpadu dengan daya daya nafsu maka
daya daya itu mengandung sifat hewaniyah atau anima mentalis, sehingga hasil
pemikiran yang demikian dipengaruhi oleh sifat sifat yang serupa dengan
hewan.

 

Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa segala sesuatu yang didengar oleh
telinga, yang dilihat oleh mata, yang dirasakan oleh kulit, yang dikerjakan
oleh tangan yang digerakkan oleh kaki, yang terbayang dalam pikiran atau
angan angan dan segala macam gerakan tubuh, semuanya itu bercampur dengan
nafsu hewan, sebagai akibat proses yang berasal dari daya daya atau elektron
bebas yang ditangkap oleh masing masing alat pancaindera yang mengalir dari
urat syaraf kedalam otak.

 

Elektron adalah daya hidup tubuh, yakni tubuh membutuhkan elektron elektron
bebas untuk hidupnya atau dengan kata lain: zat hidup harus ada pada
elektron. Jadi elektron tidak membutuhkan pertukaran zat hidupnya, oleh
karena itu ia memiliki hubungan langsung dengan pusatnya ialah Yang Maha
Mutlak, Yang Maha Hidup dan Menghidupkan, yaitu Allah SWT.

 

Kalau elektron yang berada di dalam tubuh hanya digunakan untuk kebutuhan
lahiriyah berupa benda, kekayaan, kemewahan, makan banyak dan enak tanpa
diberi kesempatan untuk melakukan hubungan dengan asas pusatnya (Allah SWT),
maka elektron tadi akan berontak. Ibarat masyarakat, rakyat dalam suatu
negara yang tidak diberi kesempatan melakukan hubungan dengan pemerintah
pusatnya, maka rakyat itu akan berontak karena tidak diberi hak asasi atas
mereka

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke