Pengaruh Media Terhadap Kognisi Anak (Mengenai Konsep Teroris) 

 

Oleh : Lukman Nul Hakim

Jamia Millia Islamia University, New Delhi India

 

Media mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam pembentukan kognisi
seseorang. Media memberikan informasi dan pengetahuan yang pada akhirnya
dapat membentuk persepsi. Dan penelitian menunjukan bahwa persepsi
mempengaruhi sikap (attitude) dan perilaku seseorang.

 

Kognisi adalah semua proses yang terjadi di fikiran kita yaitu, melihat,
mengamati, mengingat, mempersepsikan sesuatu, membayangkan sesuatu,
berfikir, menduga, menilai, mempertimbangkan dan memperkirakan.

 

Menurut survey yang dilakukan the Pew Research Center and the Pew Forum on
Religion and Public Life, dalam 1 tahun terjadi peningkatan yang signifikan
mengenai jumlah orang amerika yang memandang Islam sebagai agama yang memicu
kekerasan. Survey dilaksanakan pada bulan maret 2002 dan juli 2003 dengan
sample orang amerika dewasa berjumlah 2.002 orang. Hasilnya menunjukan pada
tahun 2002, 25% dari mereka mengatakan bahwa Islam adalah agama yang memicu
kekerasan dan pada tahun 2003 prosentasi ini meningkat tajam menjadi 44%.

 

Banyak variable yang bisa dikatakan mempengaruhi peningkatan tersebut, dan
faktor pengaruh media pasti ada didalamnya. Sejak peristiwa 9/11 sampai
dengan saat ini, hampir setiap hari ada pemberitaan ataupun pembahasan
mengenai teroris, dan selalu dikaitkan dengan Islam. Jadi sebuah konsekwensi
logis jika dalam setahun (2002-2003) terjadi peningkatan yang tajam mengenai
impresi Islam terkait dengan kekerasan dan terorisme.

 

Amerika merupakan salah satu negara yang paling gencar memberikan asosiasi
Islam-terorisme melalui media, terutama sejak kejadian 9/11. Padahal
kenyataan menurut data biro keamanan departemen luar negeri AS tahun 1990
seperti ditulis oleh Aswar Hasan di Kompas Cyber Media edisi 19 april 2002,
dari 233 insiden teroris anti amerika, hanya 8 yang berhubungan dengan arab,
dan berdasarkan peta terorisme global, terorisme paling banyak terjadi di
Amerika Latin yaitu 162 kasus, di Asia terjadi 96 kasus sedangkan di Timur
tengah hanya 63 kasus.

 

Usaha Amerika menggunakan media sebagai medium pembentukan kognisinya juga
bisa dilihat dari kasus penayangan film American Exposure pada tentaranya
yang akan berperang. Seperti diwartakan oleh Aswar Hasan :

Film itu berdurasi 40 menit, dengan paparan kisah yang sarat propaganda
justifikasi stereotipe aktivis Islam teroris. Film itu menggambarkan
bagaimana bom meledak di sana sini, korban berserakan, bersimbah darah, dan
di antaranya, ada yang menangisi tubuh korban yang terkena bom. Di tengah
hiruk-pikuk ledakan bom, sekelompok kaum muslimin tampak sedang shalat
berjamaah. Setelah itu, muncul komentar, "Era Baru fundamentalisme Islam
Mujahidin sedang bangkit". "Karena itu, jika mereka bersedia mati untuk
Tuhan, mungkin kita perlu datang ke sana, untuk menyelamatkan mereka".

Pada adegan lain, tampil seorang wanita tua bertubuh kecil, berjalan,
diikuti komentar sang narator, "...dia bisa saja merupakan teroris. Mereka,
patut kita curigai. Jangan mudah percaya, sepanjang dia muslim aktivis.
Begitu pula, saat layar memperlihatkan gambar sekelompok anak-anak muslim,
maka si narator pun menambahkan, "Mereka boleh jadi merupakan teroris masa
depan".

Usai pemutaran film, pertanyaan pertama yang diajukan kepada para prajurit
yang menontonnya adalah; "Bagaimana bila kita angkat senjata dan
menghancurkan mereka?" Spontan prajurit Amerika yang mengikuti pelatihan itu
berkomentar; "Rasanya, kita benar-benar perlu turun tangan menghancurkan
mereka. Dengan begitu, dunia ini akan menjadi aman dan damai, dan itu sesuai
tugas kita sebagai Polisi Dunia."

 

Usaha Amerika tersebut merupakan upaya brainwashed dengan membentuk kognisi,
persepsi dengan perantara media.

 

Berbagai kejadian di setiap pelosok dunia diwartakan oleh media, baik itu
media televisi, koran, majalah, internet, dan lain sebagainya. Penyajian
berita, pilihan angle, pilihan highlight kalimat, akan diterima oleh
pembacanya. Kenyataannya menurut Fiske & Taylor (1991), masyarakat memandang
bahwa berita dimedia adalah sebuah kebenaran, dalam artian masyarakat umum
cenderung menerimanya secara naif, menerima begitu saja berita-berita
tersebut tanpa mempertanyakan ke-valid-an berita tersebut.

 

Berbagai pemberitaaan media memberikan masukan kepada kognisi individu, dan
kognisi akan membentuk sikap.

 

Sikap

Baron (1979); Fishbein and Azjen 1975 (dalam Baron, 1979); Kiesler and
Munson 1975 (dalam Baron, 1979) mendefinisikan sikap sebagai kesatuan
perasaan (feelings), keyakinan (beliefs), dan kecenderungan berperilaku
(behavior tendencies) terhadap orang lain, kelompok, faham, dan objek-objek
yang relatif menetap.

 

Ada tiga komponen sikap yaitu (1) afektif (affective), yang didalamnya
termasuk perasaan suka tidak suka terhadap suatu objek atau orang; (2)
kognitif, termasuk keyakinan tentang objek atau orang tersebut ; dan (3)
perilaku, yaitu kecenderungan untuk bereaksi tertentu terhadap objek atau
orang tersebut.

 

Sikap merupakan kajian yang sangat krusial karena sikap berperan sangat
penting dalam setiap aspek dalam kehidupan sosial. Pertama, sikap pada
dasarnya mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam hubungan kita dengan
orang lain. Sebagai contoh sikap yang positif terhadap seseorang membuat
kita senang bertemu dengan orang itu, bahkan melakukan sesuatu untuk dia,
mengimitasi perilakunya, dll. Sementara sikap yang negatif membuat kita
cenderung menolak, menghindari, bahkan mungkin berperilaku kasar terhadap
orang tersebut. Kedua, sikap mempengaruhi banyak keputusan-keputusan penting
kita. Pilihan kita pada masa pemilihan presiden, gaya hidup, jurusan kuliah,
semua dipengaruhi sikap kita terhadap orang dan objek-objek tersebut.
Ketiga, sikap menentukan posisi kita ketika kita dihadapkan dengan isu-isu
sosial yang krusial.

 

Pembentukan Sikap

Menurut Baron (1979), ada tiga proses yang sangat sederhana tetapi mempunyai
efek yang sangat kuat terhadap pembentukan sikap. Yaitu classical
conditioning, instrumental conditioning dan observational learning. Pada
tulisan ini saya hanya menekankan pada classical conditioning, karena
menurut saya proses inilah yang sedang terjadi saat ini.

 

Classical conditioning yaitu proses dimana beberapa stimulus yang bersifat
netral, yaitu tidak mempunyai efek untuk memicu repon positif ataupun
negatif, secara bertahap mempunyai efek itu (memicu respon positif ataupun
negatif), setelah dilakukan pemasangan/asosiasi dengan stimulus lain yang
memang pada dasarnya mempunyai efek memicu respon.

 

Kata Islam yang mempunyai efek netral, ketika dipasangkan dengan kata
teroris yang mempunyai efek negatif, maka jika dilakukan pemasangan
(pengasosiasian) secara terus menerus akan membuat kata Islam mempunyai efek
yang sama dengan kata teroris.

 

Sebuah experimen yang dilakukan oleh Staats and Staats (1958) membuktikan
efek classical conditioning tersebut. Mereka memasangkan/mengasosiasikan
nama negara Belanda dengan kata-kata positif dan memasangkan nama negara
Swedia dengan kata-kata yang negatif. Caranya yaitu setiap kata nama negara
Belanda ditampilkan experimenter mengucapkan kata-kata yang positif seperti
hadiah, senang, bersih, dll. Dan kebalikannya ketika nama negara swedia
ditampilkan di monitor, kata-kata yang diucapkan seperti : jelek, kotor,
pahit, kegagalan, dsb. Kemudian setelah beberapa menit experimenter meminta
para subjek penelitian untuk memberikan impresi mereka tentang kedua negara
tersebut, dan ternyata Belanda mendapat rating yang lebih positif dibanding
Swedia. Perlu digaris bawahi bahwa pemasangan tersebut hanya dilakukan dalam
beberapa menit dan sudah memberikan dampak kepada subjek penelitan.

 

Proses Pembentukan Asosiasi Teroris - Islam

Pemberitaan di media yang selalu menyandingkan kata teroris dan Islam
menciptakan asosiasi yang kuat antara kedua kata tersebut. Setiap hari kita
disajikan berita terorisme yang terkait dengan Islam. Dipelosok dunia
manapun dan kapanpun waktunya publik selalu disajikan dengan asosiasi
tersebut. Proses asosiasi tersebut bagaikan memenuhi seluruh ruang dan
waktu. Experiment oleh Staats yang hanya dilakukan dalam beberapa menit
telah memberikan dampak yang begitu nyata, bayangkan betapa dahsyatnya
dampak proses asosiasi ini yang telah berlangsung bertahun-tahun, sedang dan
masih akan berlangsung.

 

Atkinson & Shiffrin (1971) mengatakan bahwa semua rangsangan stimulus baik
itu objek visual, auditif maupun konatif diterima oleh organ-organ indera
(sensory memory) dan diteruskan ke working memory atau kadang disebut juga
Short Term Memory (STM) akhirnya berlabuh di Long Term Memory (LTM).

 

Stimulus diterima oleh SM hanya beberapa detik, dan jika seseorang
memberikan perhatian pada stimulus, maka stimulus itu akan memasuki STM/WM
yang mampu menyimpan memori sampai dengan sekitar 20 detik, jika ada
perhatian, usaha ataupun proses pada tahapan ini, maka stimulus itupun akan
tersimpan di LTM secara permanen. Tanpa perhatian dan proses yang lebih
kompleks pada setiap proses, akan mengakibatkan lupa.

 

Berbagai penelitian menunjukan bahwa metode mengingat asosiasi merupakan
salah satu cara yang paling ampuh untuk meningkatkan kemampuan dalam
mengingat. Sesungguhnya kita kerap menggunakan metode ini dalam aktifitas
sehari-hari. Jika kita baru berkenalan dengan seseorang, maka untuk
mengingat dan menyimpan data dimemori tentang orang tersebut kita biasanya
menggunakan asosiasi.

 

Misalkan anda berkenalan dengan X untuk pertamakali, maka wajah X akan anda
simpan dimemori, dan diasosiasikan dengan data-data yang berhasil didapat.
Misalkan data lainnya adalah X cantik, murah senyum, ada tahi lalat di
hidung, dll. Sehingga dikemudian hari jika anda mendengar seseorang menyebut
nama X maka muncullah data-data yang terasosiasi dengan nama orang tersebut.

 

Pada kondisi pengasosiasian oleh media antara kata teroris dan Islam,
sesungguhnya yang juga terjadi adalah asosiasi atas semua data yang terkait
dengan teroris dan segala data yang terkait dengan Islam yang telah
tersimpan dimemori seseorang. Misalkan dalam kognisi si fulan berdasarkan
data akumulatif yang terkumpul sepanjang hidupnya, kata teroris berasosiasi
dengan kata bom, pembunuhan, pelakunya menggunakan topeng, sadis, biadab,
dll. Sedangkan kata Islam berasosiasi dengan orang yang mengenakan kopyah,
berjenggot, sholat, orang Indonesia, orang Arab, dll.

 

TERORIS = PEMBUNUH, PELAKU PENGEBOMAN, MENGENAKAN TOPENG, DLL.

+

ISLAM = ORANG ARAB, ORANG INDONESIA, MENGENAKAN KOPYAH, SHOLAT, DLL.

=

ORANG ISLAM ADALAH TERORIS

 

Maka sebagai asosiasi kedua kata tersebut muncul kesimpulan bahwa orang
Islam, yang suka sholat, mengenakan kopyah, dan berjanggut adalah teroris,
orang yang suka membunuh, dsb.

 

Kognisi kita akan terefleksi pada sikap kita terhadap sesuatu, yang berarti
hasil asosiasi teroris-Islam yang tertanam dalam benak tiap-tiap orang akan
mempengaruhi sikapnya.

 

 

Dampak Asosiasi teroris-Islam terhadap kognisi anak-anak

 

Sampai dengan mereka setidaknya remaja, kebanyakan anak-anak mempunyai sikap
yang sama dengan orang tua mereka. Mereka setuju dengan orang tua mereka
atas semua isu. Anak-anak mengadopsi keyakinan dan sikap suka tidak suka
terhadap sesuatu, baik itu mengenai makanan, pakaian bahkan pilihan akan
partai. Bahkan Baron (1979) mengatakan bahwa anak-anak seringkali merupakan
foto kopi orang tua mereka. Dan anak-anak cenderung mengikuti sikap orang
tuanya secara buta, tanpa dasar kognitif yang rasional. Yang membedakan
dampak media antara bagi orang dewasa dengan anak-anak adalah :

 

Pertama anak-anak masih mempunyai keterbatasan pengetahuan dan kemampuan
untuk menganalisa kejadian, dan hal tersebut akan membuat mereka dengan
mudah menerima asosiasi teroris-Islam. Mereka akan menerima semua berita itu
tanpa banyak perlawanan. Anak-anak setiap saat melihat di televisi, membaca
dikoran tentang terorisme-Islam. Walaupun tidak seintens individu-individu
dewasa dalam mengakses berita tetapi proses yang sama dalam kadar yang
berbeda juga terjadi.

 

Kedua, karena usia yang masih muda anak-anak akan mengalami proses ini
secara lebih lama, yang akan memberikan efek yang lebih mendalam.

 

Ketiga, dengan kognisi, belief dan afeksi yang telah tertanam lama, sebagai
para pemimpin dimasa mendatang probabilitas bahwa mereka akan berperilaku
negatif terhadap Islam menjadi sangat besar. Dan perilaku ini akan menjadi
perilaku kolektif diseluruh dunia.

 

Dengan asumsi-asumsi tersebut Islam akan semakin termajinalkan dimasa
mendatang.

 

Upaya Meng-counter

Pemberitaan tentang Islam yang tidak proporsional akan menciptakan image
yang dis-equilibrium tentang pemahaman Islam. Pemberitaan yang baik harus
cover both side, seimbang, tidak hanya meng-highlight terorisme yang
dilakukan oleh segelintir orang Islam, tetapi juga hal-hal positif yang
dilakukan orang-orang Islam.

 

Upaya menyeimbangkan proses yang telah begitu lama dan kuat memang relatif
sulit, tapi upaya harus dilakukan.

 

Bronfenbrenner mengatakan bahwa hal-hal yang mempengaruhi individu mempunyai
tingkatan-tingkatan. Pengaruh utama adalah dari keluarga, lalu sekolah,
kemudian media dan kebijakan pemerintah. Upaya mengcounter harus dilakukan
secara simultan pada semua tingkatan-tingkatan tersebut.

 

Sebagai lingkungan terdekat, keluarga dapat menyeimbangkan asosiasi negatif
tersebut. Kemudian otoritas formal lain selain orang tua seperti guru,
media, juga bisa mulai menyajikan berita yang seimbang, dan pemerintah
sebaiknya mendukung dengan peraturan-peraturan yang membuat aturan main yang
jelas sehingga asas keseimbangan tetap dijaga.

 

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke