Barangkali diskusi tentang gempa ini bisa menjadi renungan:

...
Satu tambahan yang sy lupa menuliskannya, adalah soal: Penjarahan.
Di Padang terjadi penjarahan, sy tidak tahu apa sudah berhasil diatasi?
Di Bantul dulu, di minggu pertama kedua, jg datang penjarah, kami, menduga para 
penjarah waktu itu datang dari sekitar Magelang dan Pati. Di Aceh, penjarah, 
datang kabarnya dari para preman Medan. Berbeda dengan di Aceh, penjarahan di 
Bantul bisa diatasi, dengan cara yang keras. Sy agak ngeri dengan cara itu, 
tapi mungkin itu satu-satunya cara menghentikan penjarahan. Yaitu dengan 
kekerasan. Marinir menembak mati dan penjarah dibuang ke kali. Sy dengar dari 
kawan sy, brimob jg nembak mati, dan penjarah yang ketangkap penduduk, ada yang 
mati di massa. Waktu itu, tidak ada beritanya di koran, tp sy sempat iseng 
tanya ke seorang polisi, perwira menengah Polda DIY, kalau penjarah yang tewas 
oleh petugas maupun massa, ada 5 orang. Dan setelah itu, aman Bantul, tak ada 
lagi penjarah.
 
Problem kita, di Padang (Aceh dan mungkin di daerah gempa/bencana lain), sering 
tidak ada perintah pada aparat kita, untuk bertindak keras pada para penjarah. 
Soalnya sering pejabat yang punya kewajiban itu, lupa, atau memang tidak punya 
pengalaman menangani bencana, atau jg jadi korban. Karena itu, akalu tidak ada 
perintah itu, ya harus ada yang memberi 'perintah' kepada polisi atau tentara 
kita, agar bertindak keras kepada para penjarah.

Salam hangat
B. Samparan


--- On Sat, 10/10/09, AFR <[email protected]> wrote:

> From: AFR <[email protected]>
> Subject: [Is-lam] Cara Sadis Gerilyawan Somalia Berlakukan Hukuman
> To: [email protected]
> Date: Saturday, October 10, 2009, 7:23 AM
> sadis itu
> 'kan kata orang2 kafir, tul gak? 
> 
> kapan ini bisa berlaku di Indonesia? 
> atw nunggu ada kudeta atw revolusi begitu?
> 
> 
> salam,
> Fahru
> ---
> Cara
> Sadis Gerilyawan Somalia Berlakukan Hukuman
> 
>  
>       
>       
>       
>                       
>                                               
>                       
> 
>             Sabtu, 10 Oktober
> 2009 | 05:28 WIB
> 
>       
>               NAIROBI, KOMPAS.com -
> Gerilyawan garis keras al-Shabaab memotong satu kaki dan
> satu tangan
> dari dua pemuda yang dituduh menjadi perampok di kota
> pelabuhan
> Kismayu, Somalia selatan, Jumat (9/10). Seorang pria lokal
> ketiga yang
> dijatuhi hukuman yang sama hanya dipotong satu kakinya
> setelah kelompok
> gerilyawan itu mengetahui bahwa salah satu tangan pria itu
> cacat.
>        
> Al-Shabaab
> menerapkan hukum sharia Islam yang ketat di sebagian besar
> wilayah
> selatan Somalia dan daerah-daerah Mogadishu, ibukota negara
> tersebut.
> Jumat, ribuan warga Kismayu berkumpul di sebuah lapangan
> pusat untuk
> menyaksikan pelaksanaan hukuman amputasi itu.
>        
> "Mengejutkan.
> Tidak ada yang tahan menyaksikan hal itu. Mereka berdarah
> hebat ketika
> mereka dibawa pergi," kata wanita setempat Asha Bulle
> kepada Reuters
> melalui telefon dari lokasi kejadian.
>        
> Seorang saksi mata
> lain, Farah Hussein, mengatakan, penduduk diberi tahu
> gerilyawan
> al-Shabaab pada Kamis agar mereka menyaksikan penghukuman
> itu, dan
> penduduk di kota pelabuhan tersebut datang untuk melihat
> pemotongan
> tangan dan kaki pada Jumat itu.
>        
> "Seluruh ketiga orang ini adalah kerabat dekat. Mereka
> dituduh menghadang sebuah mobil di hutan dan
> merampoknya," katanya.
>        
> Pengadilan
> Islam yang dikelola para ulama al-Shabaab memerintahkan
> eksekusi,
> pencambukan dan amputasi di sebagian besar wilayah Kismayu
> dan
> daerah-daerah Mogadishu yang mereka kuasai. Somalia dilanda
> pergolakan
> kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang
> menggulingkan
> diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. 
> 
> Penculikan,
> kekerasan mematikan dan perompakan melanda negara tersebut.
> Sejak awal
> 2007, gerilyawan menggunakan taktik bergaya Irak, termasuk
> sejumlah
> serangan bom dan pembunuhan pejabat, pekerja bantuan,
> intelektual dan
> prajurit Ethiopia.
>        
> Ribuan orang tewas dan sekitar satu
> juta orang hidup di tempat-tempat pengungsian di dalam
> negeri akibat
> konflik tersebut. Pemerintah sementara telah menandatangani
> perjanjian
> perdamaian dengan sejumlah tokoh oposisi, namun kesepakatan
> itu ditolak
> oleh al-Shabaab dan kelompok-kelompok lain oposisi yang
> berhaluan keras.
>        
> Washington
> menyebut al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang
> memiliki
> hubungan dekat dengan jaringan al-Qaeda pimpinan Osama bin
> Laden.
> Gerilyawan muslim garis keras, yang meluncurkan ofensif
> sejak 7 Mei
> untuk menggulingkan pemerintah sementara dukungan PBB yang
> dipimpin
> oleh tokoh moderat Sharif Ahmed, meningkatkan
> serangan-serangan mereka.
>        
> Tiga
> pejabat penting tewas dalam beberapa hari, yang mencakup
> seorang
> anggota parlemen, seorang komandan kepolisian Mogadishu dan
> seorang
> menteri yang terbunuh dalam serangan bom bunuh diri. Selain
> pemberontakan berdarah, pemerintah Somalia juga menghadapi
> rangkaian
> perompakan di lepas pantai negara itu.
>        
> Pemerintah
> transisi lemah Somalia tidak mampu menghentikan aksi
> perompak yang
> membajak kapal-kapal dan menuntut uang tebusan bagi
> pembebasan
> kapal-kapal itu dan awak mereka.   Perompak, yang
> bersenjatakan granat
> roket dan senapan otomatis, menggunakan kapal-kapal cepat
> untuk memburu
> sasaran mereka.
>        
> Perairan di lepas pantai Somalia
> merupakan tempat paling rawan pembajakan di dunia, dan Biro
> Maritim
> Internasional melaporkan 24 serangan di kawasan itu antara
> April dan
> Juni tahun lalu saja.
> 
> 
>       
> -----Inline Attachment Follows-----
> 
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
> 


      

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke