Dengan Lailatulqadar Menggapai Surga 3 Dimensi dan Manusia Bukan Makhluk
Sirkus

(Subtitel: Ahmadiyah, Syiah & Sunni)

Sejak dari Adam AS hingga Muhammad SAW, agama SAMAWI yang diturunkan
bukanlah untuk menggapai SURGA, karena Adam AS sendiri memang discenario-kan
untuk diturunkan ke Bumi untuk menjadi Khalifah di bumi Allah ini. Tapi agam
yang diturunkan sesuai dengan kebutuhan saat itu dan jika telah melenceng
jauh maka diturunkan lagi para mesenger demikianlah ON and ON hingga sampai
ke Isa AS dan terus ke Muhammad SAW. Specifikasi seorang mesenger yang
diutuskan ke bumi sesuai peradaban manusia saat itu. Pada saat Musa
diutuskan, peradaban manusia saat itu sangat kuat dengan SIHIR, maka
mukjizat Musa juga diberikan kekuatan super natural yang mana beliau
terkenal dgn tongkatnya yang bisa menjadi Ular dan bisa membelah laut.
Ketika Isa AS kebumi pada saat itu penyakit wabah berkembang, maka mukjizat
Isa yang terkenal adalah bisa menyembuhkan penyakit, malahan orang mati
sekalipun bisa dibangkitkan kembali. Begitulah terus menerus sehingga pada
saat Muhammad SAW, maka agama samawi disempurnkan dan dinobatkanlah Muhammad
SAW sebagai Khataman Nabiyin yaitu nabi penutup yaitu La Nabiya Bakdahu atau
tidak ada lagi Nabi setelah turunya nabi Muhammad SAW kebumi dan juga itu
diikuti dengan disempurnakanya agama samawi pada periode kenabian Muhammad
SAW.

AHMADIYAH, apapun komentar dari para yang kontra terhadap Ahmadiyah, tapi
kenyataan yang ada bahwa Ahmadiyah dengan pelopornya adalah maulana Mirza
Ghulam Ahmad telah membawa kesegaran bagi pengikut mereka. Dipercaya bahwa
Ahmadiyah telah benar-benar membawa kelembutan dan kedamaian dalam kehidupan
para Ahmadiyah. Memang terdapat discrepancy yaitu yang kontra terhadap
Ahmadiyah bersuara nyaring, menuduhkan bahwa Ahmadiyah mempunyai nabi BARU,
sementara Ahmadiyah sendiri menyanggah bahwa mereka tidak mempunyai nabi
baru. Jika kita mengakui bahwa SURGA adalah hak PRIVILEDGE dari TUHAN,
marilah hidup rukun dan damai antara ummat ber-AGAMA. Percaya sajalah agama
masing-masing nanti di akhir masa, biarlah TUHAN yang menentukan siapa yang
BENAR, yang LEBIH BENAR dan yang SANGAT TERBENAR (catat tidak ada yang
SALAH). Karena ALLAH adalah GHAFURUR RAHIM.

SYIAH, sewaktu rasulullah masih hidup, beliau mempunyai dua orang cucu dari
anak perempuan beliau yaitu FATIMAH yang bersuamikan ALI yang mana ALI
adalah telah mengikuti nabi sejak dari KECIL dan Ali dengan sangat setia
menjadi body guard rasulullah Muhammad SAW. Hasan & Husen adalah cucu-cucu
nabi yang sangat diasayngi. Ketika mereka kecil keduanya sangat manja dan
sering tidur-tiduran dipangkuan nabi Muhammad SAW. Kepala kedua cucu-ccu
tersebut sering diusap dan dielus nabi. Dan kepala tersebutlah yang telah
dipancung pada sebuah perang yang curang. Kepala cucu nabi tsb yang bernama
Hussen tersebutlah yang menurut sebuah cerita yang telah ditendang-tendang.
Maka secara sejarah SYIAH yang emosional karena IMAM mereka telah dihinakan.
Maka emosional sejarah ini plus kisah-kisah lain yang tidak kalah menariknya
bagaimana ahlil bait dari sejak Ali dan turunanya mereka selalu didhalimi,
maka dendam itulah yang terus mengalir, tapi itu adalah masa lalu. Makanya
SYIAH tidak bisa berdampingan dengan SUNNI. Memang kalau mau jujur dan tidak
memakai KACA MATA KUDA alias HORSE'S GOOGLE maka boleh dikatakan SYIAH
adalah lebih jujur karena mereka itu adalah selalu membela PROLETAR atau
RAKYAT KECIL, tapi jangan kaget kalau melihat secara JUJUR SUNNI harus
banyak bersabar dam minta ampun alias ISTIGHFAR.

SUNNI, lagi kalau mau jujur melihat sejarah, SUNNI adalah selalu berada dari
ISTANA ke ISTANA, sementara SYIAH adalah selalu berada dipihak rakyat JELATA
atau PROLETAR. Jadi kalau kehidupan SUNNI adalah penguasa lihat saja
bagaimana GOLKAR ketika berkuasa selama 32 tahun dan bagaimana dengan SYIAH
yang selalu sebagai OPPOSISI siapakah yang bisa dipercayai omomngan-NYA,
tapi itu adalah sejarah masa lalu, tentu sangat berbeda dengan kehidupan
yang sekarang ini. Lihat posting "PEMURNIAN dan PEMBARUAN" Salam kompak
selalu dari Doha, State of Qatar. Insya Allah bersambung.

Salam,

Alkhori M

Doha, State of Qatar

===================================================================

Dengan Lailatulqadar Menggapai Surga 3 Dimensi dan Manusia Bukan Makhluk
Sirkus

(Subtitel: Iktiqaf dan Tiada Hari Tanpa Sedeqah)

Iktiqaf adalah berdiam diri di Mesjid. Hanya dengan berdiam diri maka akan
merupakan makanan JIWA atau ROHANI alias BATHINIYAH, jika seorang manusia
itu haus maka diperlukan air sebagai pelepas dahaga dan jika seorang itu
lapar, maka makanlah makanan yang sehat agar rasa lapar tadi tuntas.
Demikian pula jika seseorang itu ingin jiwanya menjadi tenang dan tentram
jauh dari rasa GELISAH maka obatnya adalah IKTIQAF. Jadi Iktiqaf itu adalah
berdiam diri di mesjid tidak lebih dan tidak kurang. Karena sewaktu
ber-Iktiqaf di mesjid adalah pada bulan ramadhan, dimana pada bulan ramadhan
diperbanyak atau ditingkatkan shalat malam, maka pada mesjid-mesjid tertentu
dilakukanlah Shalatul Qiyamul Lail sehingga Iktiqaf jadi bersamaan dengan
shalat malam.

Shalat berjama'ah 27x pahalanya dimana pada saat shalat terdapat seorang
IMAM, tapi sayangnya fungsi IMAM didalam islam hanya terbatas di mesjid
saja, padahal dalam islam bahwa seorang imam itu sangat DOMINAN fungsinya
dalam hidup bermasyarakat. Sehingga untuk penganut Syiah fungsi seorang Imam
masih terus berlanjut demikian pula yang diamalkan oleh jama'ah tabligh
mereka fungsi shalat berjama'ah terus diamalkan dalam kehidupan keseharian.
Tapi sayangnya nada-nada sumbang terus dihembuskan oleh musuh islam untuk
jama'ah tabligh dan ironisnya orang islam juga percaya pula dengan hal-hal
demikian.

Selama ramadhan semua amal ibadah dilipat-gandakan oleh tuhan pahalanya,
sehingga pada bulan yang lebih baik dari 1000 bulan tersebut, banyak
muslimin yang bersedeqah, membayar fitrah dan juga melunaskan zakat mal,
sehingga pada bulan mulia tersebut diharapkan tidak ada fakir-miskin yang
kelaparan. Mereka-mereka yang berhasil menggapai kemenangan selama ramadhan
yaitu yang berhasil menikmati 3 periode ke-10-an ramadhan yaitu: Rahmah,
Maghfirah & Ithqun Minan Naar, maka setelah ramadhan berlalu terus melekat/
embedded sifat ketiga diatas, yaitu penuh kasih sayang, pengampun dan
terhindar dari api neraka, maka keseharian kehidupan hari-hari dilalui
dengan motto: Tanpa Hari Tanpa Sedeqah, setiap hari terus saja menyumbangkan
harta/ uang, jika tidak ada uang akan membantu dengan tenaga, jika tidak ada
uang dan tidak ada tenaga, tapi tetap bersedeqah walau hanya dengan Do'a
yang ikhlas. Lihat posting "Ahmadiyah, Sunni & Syiah" Salam kompak selalu
dari Doha, State of Qatar. Insya Allah bersambung.

Salam,

Alkhori M

Doha, State of Qatar

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke