Kamis, 07/01/2010 14:41 WIB
Kisah Warung Emak
Emak dan Warung 6 Presiden
M. Rizal Maslan - detikNews



Jakarta - Warung rokok sederhana di depan gedung Yayasan Lembaga Bantuan
Hukum Indonesia (YLBHI) itu tampak sejuk di bawah rimbunnya pohon Angsana.
Wati, perempuan tua pemilik warung, sibuk meladeni pembeli teh botol atau
rokok. Emak, begitu para pelangan memanggilnya. Di depan warungnya, dia
menyaksikan beraneka peristiwa politik penting dari zaman Soekarno sampai
SBY.
Suaminya, Cecep, setia mendampingi Wati sambil terkadang mengantar beraneka
minuman ke gedung YLBHI atau Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta yang
berlantai 4 itu. Itulah saat-saat sibuk Wati, yang sudah 4 dekade berjualan
di Jl Mendut, di depan gedung YLBHI, Menteng, Jakarta Pusat. Wati pula yang
menjadi langganan kopi, teh manis atau mie rebus dari para aktivis atau para
wartawan ibukota yang biasa mangkal di situ.
"Saya mulai berjualan di sini sejak 1965, ikut Cecep (suaminya). Dulu kita
jualan di Jalan Diponegoro di depan Kantor Kedutaan Jerman Timur (sekarang
gedung YLBHI)," tutur Wati alias Emak mengawali kisahnya berjualan kepada
detikcom di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (7/1/2009).
Emak yang sekarang diperkirakan berumur sekitar 65 tahun ini mengaku tidak
ingat tahun kelahirannya. Dia hanya ingat, umurnya baru 19 tahun saat dibawa
dari kampungnya di Haurgeulis, Indramayu. "Enggak inget kalau tahun
kelahiran, tapi tahu kalau ulang tahun mah. Pokoknya ketemu Cecep pas zaman
Soekarno," ujarnya mengenang masa muda.
Para aktivis mahasiswa atau pro demokrasi, pengacara ataupun para wartawan
ibukota memang memanggilnya 'Emak'. Bagi mereka, dia adalah ibu kedua yang
mereka hormati. Emak sering diundang menghadiri pernikahan sejumlah aktivis
dan wartawan. Meskipun jauh, Emak pasti datang bersama Cecep.
"Tidak hanya itu, Emak juga ikhlas kalau diutangi alias cash bon hehehe,"
kata Novie Dodo, reporter StarRadio sambil tertawa.
Memang betul, Emak yang satu ini pun sangat hapal betul kendaraan atau motor
milik wartawan yang di parkir di depan warungnya. Emak jualah sumber
informasi bagi wartawan yang lagi kehabisan berita.
"Tuh anak-anak pada ke Pecentongan ada kompi pers (maksudnya ke Jl
Pecenongan ada konferensi pers)," begitu katanya dengan penuh semangat
sehingga sering salah sebut nama tempat dan acaranya.
Warung Emak sangat strategis secara politik. Emak bertetangga dengan YLBHI,
terus masuk ke Jl Mendut ada kantor Kontras dan rumah mendiang Ali Sadikin.
Di ujung Jl Diponegoro ada Kampus UI Salemba, UKI dan beraneka kampus yang
rajin berunjuk rasa. Ke arah Menteng ada sejumlah kantor pusat partai
politik seperti PPP, Hanura, sampai kantor KPU. Hanya dalam radius 1 km ada
kediaman mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan rumah dinas Wapres
Boediono.
Oleh karena itu, beraneka peristiwa politik berseliweran di depan matanya.
Mereka menyaksikan saat Hariman Siregar dikejar-kejar aparat saat peristiwa
Malari 1974. Emak pun melihat intelejen Orde Baru bersenjata mondar-mandir
mengawasi LBH Jakarta saat lembaga itu menangani kasus Tanjung Priok 1984.
Emak merasakan ketegangan saat markas PDI diserbu dalam peristiwa 27 Juli
1997. Perempuan tua ini pun sempat takut warungnya ikut rusak saat ada
penyerangan ke YLBHI dan Kontras
"Tapi intel tidak banyak seperti sekarang. Kalau dulu paling 4 orang
ngawasin sambil membawa pistol," kenang perempuan bertubuh subur yang gemar
bercanda ini.
Sementara itu, Cecep menambahkan dia menikah dengan Emak sekitar tahun 1965,
saat masih tinggal di Kenari, Salemba, Jakarta Pusat. Mereka satu-satunya
yang berjualan di Jl Diponegoro, di pojok Kedubes Jerman Timur saat itu.
Saat meletus peristiwa Malari tahun 1970-an, Kedubes Jerman Timur
dikosongkan. Rumah itu dibeli Gubernur Ali Sadikin dan dijadikan Kantor LBH
Jakarta. Warung mereka sempat pindah ke dalam gedung dan Cecep berjaga di
kantor itu selama 20 tahun.
"Jualan kami dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Rokok, minuman,
makanan seperti sekarang ini," kata Cecep. 
Ketika kegiatan LBH Jakarta (YLBHI) makin padat saat menangani kasus Tanjung
Priok, mereka pindah keluar. Pada dekade 1990-an, banyak pedagang lain ikut
berjualan di Jl Diponegoro, Jl Mendut dan Jl Borobudur. Selama mereka
berdagang, tidak pernah ada pungutan iuran.
"Pak Buyung (Adnan Buyung Nasution) dulu sempat bilang, kalau ada yang
memungut iuran, tanya yang jelas siapa dari mana RT-nya. Katanya asal jelas,
nggak apa-apa. Tapi sampai sekarang belum pernah ada," kata Cecep.
Namun keadaan sekarang berubah. Para pedagang ditata rapi, khususnya yang
berada di sekitar kantor LBH Jakarta. Warung Nasi Goreng Slamet, Ketoprak
dan Pecel Tarjo, Nasi Rames dan Sop Kambing Yadi dan Es Mbak Sum berada di
dalam lingkungan LBH. Hanya Warung Emak yang menolak tinggal di dalam
halaman gedung itu.
"Wah enggak enak, mending di sini saja," ucapnya. Apa tidak takut digusur
Satpol PP? "Ya kalau digusur baru pindah," celetuk Emak sambil tertawa.
Mulai dari zaman Presiden Soekarno sampai kini SBY, Emak terus berjualan.
Kini dia ditemani keponakannya Suliah, bekas TKW di Kuwait. Suliah yang
sekarang membantu melayani pembeli di warungnya. Cecep sekarang menyambi
sebagai tukang antar anak sekolah kenalannya, selain tetap menjaga gedung
YLBHI di malam hari. (zal/fay) 

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

 

<<attachment: image001.jpg>>

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke