Na itu lah Mas, ternyata pola hidup sederhana inilah yg butuh biaya
psikologis yg mahal. Mengubah kebiasaan sehari-hari yg sdh menjadi pola
berpikir & beremosi ritmis dan rituil baku ini sungguh sulit meskipun
dibutuhkan usaha ekstra keras. Kalo tdk konsul ke dokter ato RS tenar
katanya gak sembuh padahal disitu faktor sugesti sangat berperan, pas
ditawari obat generik malah diketawain. ee.. dicoba minum jahe kog ndadak
jadi mendingan.  flu aja pake acara ngekost di RS internasional sgala. hehe.
Akibat berikutnya anggaran biaya kesehatan para pejabat pun ikut melambung,
meskipun gak sakit ya tetep aja disakit-sakitkan. katanya sih "sudah
dianggarkan".. JJ. lha kog dianggarkan ataupun istilah lainnya DIRENCANAKAN
SAKIT kog ya malah bangga lo. xixiii.

 

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of AFR
Sent: Sunday, February 21, 2010 2:16 PM
To: [email protected]
Subject: [Is-lam] Orang Dewasa 100 Kali Lebih Rentan Meninggal Karena Tak
Divaksin

 

ahli kedoketaran modern ini begitu gigih ya mencari peluang bisnis. kalo
para keluarga muda sdh mampu 'ditakuti'
pentingnya imunisasi, vaksin ... dlsbgnya bagi para bayinya, maka kini
sasaran org2 dewasa yg mungkin dulu 
'lolos' jadi korban vaksin, imunisasi saat masih bayi dulu.

kalo saja ini sdh mampu diyakinkan pd setiap org, pastinya akan jadi lahan
bisnis baru dlm dunia 
kedokteran modern yg umumnya dikuasai barat. sasarannya adlh org2 bodoh & yg
takut mati entah
karena alasan apa shg ada kesan jika ingin hidup rada aewt dikit lakukanlah
vaksin dewasa ini.
harganya? produsernnya? yg untung siapa? --> para kapitalis barat!!

kenapa tidak mempercedas masyarakat dgn uraian ilmiah bgmana agar terhindar
dari penyakit yg aneh2
dr cara memilih makananan/minuman dgn gaya hidup yg sederhana saja?


salam,
Fahru
---

Orang Dewasa 100 Kali Lebih Rentan Meninggal Karena Tak Divaksin 
Nurul Ulfah - detikHealth

Jakarta, Masyarakat menganggap vaksinasi hanya perlu diberikan pada
anak-anak untuk membentuk daya tahan tubuhnya. Padahal orang dewasa pun
sebenarnya perlu. Hanya saja vaksin untuk orang dewasa kurang mendapat
perhatian.

Hal itu disampaikan oleh Prof DR dr. Samsuridjal Djauzi SpPD, KAI, FACP,
FINASIM, anggota PAPDI dan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa dalam seminar
'Adults Vaccination: Cost vs Investment' di Hotel Mulia, Jakarta, Sabtu
(20/2/2010).

"Imunisasi untuk orang dewasa kurang diperhatikan karena kurangnya informasi
mengenai efektivitas, belum ada pedoman, layanan vaksinasi masih terbatas,
harga vaksin tidak terjangkau dan belum ada dukungan pembiayaan asuransi,"
tutur Prof Samsuridjal.

Prof Samsuridjal mengatakan, orang dewasa 100 kali lebih rentan meninggal
dunia akibat penyakit yang berhubungan dengan vaksin daripada anak-anak.

Vaksinasi yang bisa diberikan pada orang dewasa antara lain Hepatitis B,
Hepatitis A, Tetanus, MMR (measles-mumps-rubella/campak, gondongan dan
rubela), tifoid (tifus), influenza, pneumokok (penyakit akibat
pneumococcus), meningokok (penyakit meningitis).

Menurut Prof Samsuridjal, kelompok orang dewasa yang memerlukan imunisasi
antara lain:

1.     Usia lanjut (influenza) di atas 60 tahun.

2.     Penderita penyakit kronis: penyakit paru kronis, penyakit jantung,
gagal ginjal (influenza, Hepatitis B)

3.     Petugas kesehatan yang berisiko (Hepatitis B, influenza)

4.     Perempuan muda (MMR, HPV)

5.     Wisatawan (Hepatitis A, tifoid)


Harga vaksin yang cukup mahal hingga kini masih menjadi kendala. Banyak
orang yang enggan melakukan vaksinasi karena dianggap buang-buang uang dan
menganggap tidak perlu karena merasa daya tahan tubuhnya cukup kuat. Padahal
jika dibandingkan antara harga vaksin dengan keuntungan yang akan diperoleh,
harga bukanlah masalah.

Untuk itu, menurut Prof Samsuridjal, yang harus dilakukan pertama kali jika
ingin memulai program vaksinasi orang dewasa adalah mengubah paradigma
berpikir tentang vaksin.

Paradigma yang harus diubah antara lain :

1.     Imunisasi hanya untuk anak menjadi imunisasi untuk anak dan dewasa

2.     Imunisasi merupakan biaya (pemborosan) menjadi imunisasi merupakan
investasi yang amat menguntungkan tidak hanya bagi kesehatan tapi juga dari
segi biaya

3.     Imunisasi merupakan program pemerintah menjadi imunisasi merupakan
kebutuhan keluarga


"Kita tidak pernah tahu kapan terjangkit suatu penyakit, untuk itu vaksin
sangat diperlukan untuk mencegah penyakit tersebut, bahkan mencegah
kematian," katanya.

Untuk kasus Hepatitis B saja contohnya, dengan perkiraan kematiannya
sebanyak 5.000 orang per tahun, maka dengan vaksinasi (efektivitas 90
persen), kematian yang dapat dicegah lumayan tinggi, yaitu 4.050 kematian.

(fah/ir) 

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke