Kalo orang bule bilang taqdir itu adalah past tense, sehingga mustahil bisa
diandai-andai. Tetapi anehnya kog bisa-bisanya ya manusia berandai-andai
tentang taqdir? 

 

Salam lieur..

 

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Alkhori M
Sent: Tuesday, March 30, 2010 11:58 PM
To: [email protected]
Subject: [Is-lam] Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 2

 

Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 2

 

Untuk sekedar pencerahan, disini di-narative-kan sebuah contoh (ini hanyalah
contoh fiktif jangan dipraktekan).

Jika kita ambil sebuah pisau yang tajam lalu kita gorok leher kita sendiri,
maka matilah kita, sekarang timbul pertanyaan apakah kematian kita itu
sebuah TAQDIR? Terserah masing-masing apakah itu mau dianggap taqdir boleh
dan mau dianggap bukan Taqdir juga boleh. Tapi ingat bunuh diri dilarang
oleh Tuhan.

 

Selanjutnya kita ambil contoh yang lebih mendekati FAKTA, janganlah bunuh
diri, karena bunuh diri dilarang agama. Tapi kali ini ambillah seekor ayam,
lalu sembelihlah ayam tersebut, maka matilah ayam tersebut? Sekarang juga
timbul pertanyaan apakah kematian ayam tersebut TAQDIR? Lagi terserah mau
dianggap Taqdir juga boleh dan mau dianggap TIDAK Taqdir juga boleh. Tapi
yang jelas ayam tersebut sudah mati dan kematian ayam tersebut dihalalkan
dalam agama jika setelah ayam tersebut disembelih lantas digunakan
selayaknya mengapa ayam tersebut harus disembelih.

 

Nah yang terakhir adalah pertanyaan yang lebih AGAK PERLU DAYA NALAR, ketika
kita mengambil ayam tersebut, padahal didalam KANDANG ADA BANYAK AYAM, tapi
mengapa hanya yang seekor tersebut yang terpilih dan kita jadikan percobaan
seperti yang telah diuraikan diatas. Lagi jawabanya mau dianggap TAQDIR juga
boleh dan mau dianggap BUKAN taqdir juga boleh.

 

Jadi semua itu terserah pada penalaran kita, kapankah dan sampai tingkat
dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita masing-masing.

 

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

============================================

Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah

 

Sebagai orang AWAM semuanya dianggap TAQDIR, tapi bagi mereka yang sudah
diberikan AQAL yang lebih, Taqdir itu bisa dipilih dan dipilah. Kalau semua
usaha sudah dilakukan tapi masih gagal juga barulah terakhir dikatakan itu
Sudah Taqdir. Memang cara termudah dan tidak menanggung resiko adalah dengan
mengganggap semuanya sebagai TAQDIR persoalan jadi selesai. Tapi dikala
setelah dianggap sebagai TAQDIR dan persoalan masih tidak selesai maka
disinilah ilmu orang AWAM tadi sudah tidak bisa diandalkan lagi, maka
disinilah para Ulama atau orang yang bukan AWAM alias intelektual
diperlukan, maka disinilah akan timbul istilah seperti judul diatas yaitu
MEMILIH dan MEMILAH TAQDIR DENGAN MENGGUNAKAN SUNNAHTULLAH. Salam cool
selalu dari Qatar. Insya Allah bersambung.

 

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke