Dalam konteks spt ini, nalar adalah bayangan taqdir. Sebagaimana burung yg sedang terbang, akankah bayangannya mampu mengejar si burung?
Dengan demikian hidupnya nalar tiada lain adlah hidupnya bayang-bayang, yang bersifat semu alias tidak realistik. Manusia yg didominasi oleh nalar maka ia akan masuk dalam dunia ciptaan nalarnya. sehingga muncul istilah aku hidup oleh pikiranku. Dengan view sperti ini sama artinya mau mengatakan bahwa aku hidup dalam sel penjara pikiranku. Mengikis pandangan manusia nalaristis semacam ini dpt dgn cara menunjukkan bukti bhw hakikat bayangan itu adalah semu adanya. Silahkan saja manusia2 nalar itu mencari bayangan burung dimalam hari, bisa dipastikan tidak akan ada. Karena penyebab adanya bayangan itu tiada lain adalah cahaya matahari. Jadi ya balik maning ke Sang Sumber. J From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of AFR Sent: Wednesday, March 31, 2010 1:09 PM To: [email protected]; [email protected] Subject: [Is-lam] tak akan nalar lampaui taqdir pasangan muda-mudi mau nikah dgn pilihannya. itu taqdir atw nalar? siapa pun yg dipilih sdh dituliskan sblm mereka saling kenal, bahkan sblm mereka dilahirkan kedua org tuanya. kalaupun mereka dijodohkan org tuanya sejak mereka bayi itu sdh tertulis. mereka nikah lalu bercampur. satu telur dikerubuti jutaan sperma dlm rahim sang istri. hanya satu sperma yg jodoh, sisanya mati. itu taqdir atw nalar? manusia gak punya kemampuan sama sekali mengatur sel yg ini yg harus membuahi si telur. dari diagnosa usg, dgn ketepatan 99.999999%, diperkirakan berkelamin lk/wnt. tahu yg akan terlahir adlh lk/wnt, itu taqdir atw nalar? jauh sblm 2 org nikah bayi siapa, kelamin apa yg dikandung saat itu sdh dituliskan. nalar baru akan tahu stlh sekian bulan dgn alat 'canggih'. apakah nalar bisa menduhului taqdir? terlahir sbg anak dg fitrah suci bersih tanpa dosa. dua org tuanya boleh shalih. apakah anak ini akan shaleh juga? nalar atw taqdir yg jadikan demikian? bgmn dlm keluarga Nuh as ada Kan'an? apakah beliau kurang sempurna aqal? bgmn Ibrahim as menjadi nabi sedang berbapak pencetak tuhan-tuhan? nalarkah atw taqdir beliau demikian? di antara cucunya ada yg bengal yahudi laknat. kurang sempurna kah beliau menbimbing keturunannya? taqdir itu harus dijalani apa mau-Nya. tak ada cara mengimani taqdir dinalar dulu, lalu konversi jadi taqdir shg samapilah pad kesimpulan "tak akan nalar lampaui taqdir ..." salam, Fahru _____ From: Alkhori M <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, March 30, 2010 11:57:51 PM Subject: [Is-lam] Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 2 Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 2 Untuk sekedar pencerahan, disini di-narative-kan sebuah contoh (ini hanyalah contoh fiktif jangan dipraktekan). Jika kita ambil sebuah pisau yang tajam lalu kita gorok leher kita sendiri, maka matilah kita, sekarang timbul pertanyaan apakah kematian kita itu sebuah TAQDIR? Terserah masing-masing apakah itu mau dianggap taqdir boleh dan mau dianggap bukan Taqdir juga boleh. Tapi ingat bunuh diri dilarang oleh Tuhan. Selanjutnya kita ambil contoh yang lebih mendekati FAKTA, janganlah bunuh diri, karena bunuh diri dilarang agama. Tapi kali ini ambillah seekor ayam, lalu sembelihlah ayam tersebut, maka matilah ayam tersebut? Sekarang juga timbul pertanyaan apakah kematian ayam tersebut TAQDIR? Lagi terserah mau dianggap Taqdir juga boleh dan mau dianggap TIDAK Taqdir juga boleh. Tapi yang jelas ayam tersebut sudah mati dan kematian ayam tersebut dihalalkan dalam agama jika setelah ayam tersebut disembelih lantas digunakan selayaknya mengapa ayam tersebut harus disembelih. Nah yang terakhir adalah pertanyaan yang lebih AGAK PERLU DAYA NALAR, ketika kita mengambil ayam tersebut, padahal didalam KANDANG ADA BANYAK AYAM, tapi mengapa hanya yang seekor tersebut yang terpilih dan kita jadikan percobaan seperti yang telah diuraikan diatas. Lagi jawabanya mau dianggap TAQDIR juga boleh dan mau dianggap BUKAN taqdir juga boleh. Jadi semua itu terserah pada penalaran kita, kapankah dan sampai tingkat dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita masing-masing. Alkhori M Al-Dhakhira Area, Villa No. 2 Doha, State of Qatar ============================================ Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah Sebagai orang AWAM semuanya dianggap TAQDIR, tapi bagi mereka yang sudah diberikan AQAL yang lebih, Taqdir itu bisa dipilih dan dipilah. Kalau semua usaha sudah dilakukan tapi masih gagal juga barulah terakhir dikatakan itu Sudah Taqdir. Memang cara termudah dan tidak menanggung resiko adalah dengan mengganggap semuanya sebagai TAQDIR persoalan jadi selesai. Tapi dikala setelah dianggap sebagai TAQDIR dan persoalan masih tidak selesai maka disinilah ilmu orang AWAM tadi sudah tidak bisa diandalkan lagi, maka disinilah para Ulama atau orang yang bukan AWAM alias intelektual diperlukan, maka disinilah akan timbul istilah seperti judul diatas yaitu MEMILIH dan MEMILAH TAQDIR DENGAN MENGGUNAKAN SUNNAHTULLAH. Salam cool selalu dari Qatar . Insya Allah bersambung. Alkhori M Al-Dhakhira Area, Villa No. 2 Doha, State of Qatar
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
