kamu mencoba membelokkan topik diskusi ya? hmmm, ketahuan tuh ...
baca topik di posting emailmu sblm2nya yg dgn ke-JIL-anmu kamu congkak &
sombong
mencoba tunjukkan akal sbg domain utama lbh dari keimanan, lantang menyatakan
semua
agama sama. ditambah bukti kamu berusaha utk mengelak fakta2 yg disampaikan
teman2
Muslim ISNET ttg bgmana sesatnya jalan pikir org yg mempertuhankan
akal/nalarnya dlm
menghadapi kehidupan ini.
kamu gak jujur mengakui itu karena hatimu sdh terkunci mati. skrg ngeles dgn
mengangkat kata
paksa/terpaksa/keterpaksaan. memang siapa yg maksa? spt saya sebut sblmnya,
keterpaksaan
itu jiwa org kufur karena yg nggak ridha utk ditunjukkan khittah pada
ke-Islam-an.
a'udzubillahi min asyaithaani rajiim,
Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh
dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa
yaitu: Tegakkanlah agama dan
janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi
orang-orang musyrik agama yang
kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang
yang dikehendaki-Nya dan
memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali
(kepada-Nya). (QS. 42:13)
keimanan itu hanya utk disampaikan dgn haq, dgn dalil-dalil. sedangkan
akal/nalar/logika manusia itu hanya
alat utk memahami iman, BUKAN utk dipertuhankan. apakah karena dlm Qur'an tdk
menerangkan bgmn cara
membuat pesawat terbang, satelit, teleskop, komputer canggih .. dlsbgnya lalu
kamu berpromosi mengabaikan
peran iman yg sebagai pondasi kehidupan? itu karena kamu iri & ta'jub kemajuan
yg dicapai org2 kafir.
kalau kamu yakin kamu sanggup buat keputusan sendiri dgn abaikan taqdir,
terserah dirimu ...
sebagai Muslim, saya punya tanggung jawab hanya menyampaikan yg bisa saya
jelaskan dgn dalil-dalil yg
saya ketahui sbg da'wah buat diriku sendiri, dan kepada saudara2ku Muslim. kamu
mengaku muslim, tak
satupun ayat sdg kau merasa sdh lbh iqro' ...
---
just info,
saya punya teman sekerja pernah cerita yg bbrp tahun lalu saat beliau masih SMA
pernah berkunjung
ke negeri yahudi. mendatangi bbrp tempat yg saya tak ingat nama2. saat yg sama
kawan ini menghadapi
fustasi berat thd Islam entah karena apa. pdhl dlm hal pelajaran sekolah kawan
satu ini memang cerdas,
amat cerdas. dlm bekerja jejak kecerdikannya itu membekas; teliti, disiplin,
sistematik.
yg jadi kecurigaan saya, zionis yahudi ini senantiasa mengincar anak2 muda yg
belum temukan jati diri.
diawasi & diawasi dgn cara mossad utk 'menciptakan' org macam ulil, luthfi dan
sejenisnya. hmmm ...
wallahu 'alam.
salam,
Fahru
________________________________
From: Alkhori M <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sat, April 3, 2010 10:58:13 AM
Subject: [Is-lam] Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 4
Memilih dan Memilah Taqdir
Dengan Sunnatullah, lanjutan 4
Kelompok I,
mempercayai, segala sesuatu yang diperbuat adalah sudah di TAQIR-kan, apapun
yang dilakukan oleh manusia semua Tuhan yang PUTUS-kan. Kelompok-I ini juga
berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an. Umumnya kelompok-I ini terdiri dari
orang-orang AWAM. Dengan kehidupan yang sederhana, cara berpikir yang
sederhana, maka menyelesaikan masalah juga dengan cara yang sangat sederhana,
yaitu sudah TAQDIR. Kalau kita sudah menjatuhkan pilihan terhadap kelompok-I
ini, maka yang lain harus menghormati pilihan kita ini. Jangan memaksa kehendak
agar orang lain harus mempercayai apa yang kita yakini. Memang kelompok-I
karena daya nalar yang sederhana, maka hidup lebih tenteram dan damai dan tidak
perlu memikirkan hal-hal yang rumit tentang romantika kehidupan di dunia ini
yang serba kompleks.
Kelompok-II,
mempercayai, segala yang dilakukan akan sesuai dengan sunnatullah yang akhirnya
bermuara pada Taqdir. Kalau yang dilakukan Amal Makruf tentu Tuhan akan
memberikan Recognition atau Reward, sebaliknya kalau yang dilakukan Kullu
Munkar, maka atas kepercayaan Tuhan maha adil, maka bersiaplah untuk menerima
punishment dari Tuhan. Janji dari Tuhan itu pasti dan azab-NYA sangat pedih.
Kelompok-II ini mempercayai hal demikian karena mereka juga mempunyai
rujukan-rujukan pada ayat-ayat al-Qur’an. Kelompok ini umumnya terdiri
dari para ilmuwan dan intelektual. Karena luasnya nalar yang telah diberikan
oleh Tuhan kepada mereka, maka mereka-mereka ini mempunyai pemikiran yang lebih
dari orang AWAM. Setiap masalah tidak serta merta dikatakan sudah TAQDIR, tapi
akan dicari dan dicari terus bottleneck dari akar permasalahan. Seandainya kita
sudah memilih seperti kelompok-II janganlah memaksakan kehendak pada kelompok-I
agar memilih untuk mempercayai kelompok-II. Itu semua tergantung kesiapan
individu masing-masing melihat phenomena kehidupan di Dunia ini yang sangat
super kompleks. Kalamullah itu sebagian saja yang tertulis di Al-Qur’an
dan yang telah diwahyukan pada Muhammad SAW, juga didalam al-Qur’an
tertulis, seandainya kering lautan itu untuk menuliskan kalamullah, dan
didatangkan lagi dalam jumlah yang sama, namun kalamullah itu tak akan bakalan
habis.
Jadi dimana kita berada terserah kita
masing-masing, apakah di kelompok-I atau dikelompok-II atau gabungan antara
kelompok-I/II, kalau di ilmu probabilitas terdapat, UNION ,
SUBSET, COMBINATION itu semua terserah pada daya nalar yang dimiliki.
Jadi semua itu terserah pada penalaran
kita, kapankah dan sampai tingkat dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita
masing-masing.
Alkhori M
Al-Dhakhira Area, Villa No. 2
Doha,
State of Qatar
=======================================================
Memilih dan Memilah Taqdir
Dengan Sunnatullah, lanjutan 3
Disini KISAH NYATA yang dinarativekan, kisah
ini penulis alami sendiri, bagaimana pembaca menyimpulkan tentu terserah pada
tingkat penalaran dan pengalaman masing-masing. Kalau orang AWAM tentu berbeda
dengan INTELEKTUAL, makin tinggi tempat kita berdiri, maka makin jauh yang bisa
dilihat, apalagi anda berada dalam sebuah copter view, maka akan mudah terlihat
pandangan dari atas untuk melihat dareah yang dibawah.
Kisah Nyata:
Sewaktu akan haji, untuk menghilangkan
keraguan, maka KB spiral pada isteri saya minta dilepas, maka pergilah kami
menunaikan ibadah haji. Setelah pulang dari haji, KB spiral juga belum dipasang
kembali, oleh sebab itu isteripun hamil. Karena kami sudah sepakat bahwa tidak
akan menambah anak lagi, maka kami pergi kerumah sakit. Dirumah sakit
dinyatakan positif hami baru sekitar 2 ~ 3 minggu. Kepada kai diberikan surat
pengantar untuk
konsultasi pada dokter ahli kandungan. Di dokter ahli kandungan dikatakan ini
masih dibawah sebulan, kalau mau digugurkan hanya perlu waktu 5 menit, tidak
lama, tapi sebelum dilakukan, pikir-pikir dahulu, maka kamipun pulang kerumah.
Dirumah pada sore harinya lagi duduk santai nonton tv, saya teringat pada suatu
peristiwa sbb:
“Ada
seorang rekan, anaknya kecelakaan, segala usaha dilakukan untuk menolong
sikorban, tapi panggilan tuhan lebih mulia, innaa lillaahi wa innaa ilaihi roo
ji’uun” Dengan perasaan sedih semua itu harus diterima sebagai
taqdir”
Mengingat hal itu saya berpikir, mengapa
saya menjadi manusia sangat sombong, ketika saya boleh memilih mengapa harus
yang tidak baik. Sedangkan kawan yang tidak bisa memilih beliau harus menerima
TAQDIR dan harus menerima kenyataan bahwa panggilan Tuhan lebih mulia. Saya
bangun dan saya hampiri isteri saya, saya katakan “Kita tidak kembali lagi ke
dokter ahli kandungan,
jika sudah ditaqdirkan memang demikian, terimalah sesuai dengan rukun iman yang
ke-6.
Sejak saat itu anak saya yang paling kecil
biasanya saya panggil ADIK, tapi sejak saat itu saya panggil KAKAK, karena saya
pikir beliau akan punya adik. Anak yang kecil tersebut yang biasa saya panggil
ADIK
karena berubah saya panggil KAKAK beliau jadi sangat senang. Tapi tidak lama
mungkin sebulan berlalu, suatu hari entah kenapa, mungkin juga kecapekan,
isteri saya keguguran. Insya Allah bersambung.
Jadi semua itu terserah pada penalaran
kita, kapankah dan sampai tingkat dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita
masing-masing.
Alkhori M
Al-Dhakhira Area, Villa No. 2
Doha,
State of Qatar
=======================================================
Memilih dan Memilah Taqdir
Dengan Sunnatullah, lanjutan 2
Untuk sekedar pencerahan, disini
di-narative-kan sebuah contoh (ini hanyalah contoh fiktif jangan dipraktekan).
Jika kita ambil sebuah pisau yang tajam
lalu kita gorok leher kita sendiri, maka matilah kita, sekarang timbul
pertanyaan apakah kematian kita itu sebuah TAQDIR? Terserah masing-masing
apakah itu mau dianggap taqdir boleh dan mau dianggap
bukan Taqdir juga boleh. Tapi ingat bunuh diri dilarang oleh Tuhan.
Selanjutnya kita ambil contoh yang lebih
mendekati FAKTA, janganlah bunuh
diri, karena bunuh diri dilarang agama. Tapi kali ini ambillah seekor ayam,
lalu sembelihlah ayam tersebut, maka matilah ayam tersebut? Sekarang juga
timbul pertanyaan apakah kematian ayam tersebut TAQDIR? Lagi terserah mau
dianggap Taqdir juga boleh dan mau
dianggap TIDAK Taqdir juga boleh.
Tapi yang jelas ayam tersebut sudah mati dan kematian ayam tersebut dihalalkan
dalam agama jika setelah ayam tersebut disembelih lantas digunakan selayaknya
mengapa ayam tersebut harus disembelih.
Nah yang terakhir adalah pertanyaan yang lebih AGAK PERLU DAYA NALAR, ketika
kita
mengambil ayam tersebut, padahal didalam KANDANG
ADA BANYAK AYAM, tapi mengapa hanya yang seekor tersebut yang
terpilih dan kita jadikan percobaan seperti yang telah diuraikan diatas. Lagi
jawabanya mau dianggap TAQDIR juga
boleh dan mau dianggap BUKAN taqdir
juga boleh.
Jadi semua itu terserah pada penalaran
kita, kapankah dan sampai tingkat dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita
masing-masing.
Alkhori M
Al-Dhakhira Area, Villa No. 2
Doha,
State of Qatar
============================================
Memilih dan Memilah Taqdir
Dengan Sunnatullah
Sebagai orang AWAM semuanya dianggap TAQDIR,
tapi bagi mereka yang sudah diberikan AQAL yang
lebih, Taqdir itu bisa dipilih dan dipilah. Kalau semua usaha sudah dilakukan
tapi masih gagal juga barulah terakhir dikatakan itu Sudah Taqdir. Memang cara
termudah dan tidak menanggung resiko
adalah dengan mengganggap semuanya sebagai TAQDIR persoalan jadi selesai. Tapi
dikala setelah dianggap sebagai TAQDIR dan persoalan masih tidak selesai
maka disinilah ilmu orang AWAM tadi sudah tidak bisa diandalkan lagi, maka
disinilah para Ulama atau orang yang bukan AWAM alias intelektual diperlukan,
maka disinilah akan timbul istilah seperti judul diatas yaitu MEMILIH dan
MEMILAH TAQDIR DENGAN MENGGUNAKAN
SUNNAHTULLAH. Salam cool selalu dari Qatar . Insya Allah bersambung.
Alkhori M
Al-Dhakhira Area, Villa No. 2
Doha,
State of Qatar
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam