Hmmm,,,
Saya jadi inget pepatah, kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah..
Lah,, wong cuma memahami takdir aja kok repot harus jadi ilmuan, intelektual 
dulu. Emangnya Islam itu agamanya para ilmuwan apah? Sedang Rosul Muhamad aja 
ndak bisa nulis kok... 
Jadi pengen tau kalau Muhamad SAW masuk kelompok yang mana menurut Alkhori?

Mang Alkori emang sukanya bikin klasifikasi atau apa lah istilahnya..:)
Ya maaf saja, sebagai orang awam, saya malah tmbah nguantuk bacanya. 

Sudah ya mang saya mau narik becak dulu...
  ----- Original Message ----- 
  From: Dewa Gede Permana 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, April 04, 2010 1:23 AM
  Subject: Re: [Is-lam] Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah,lanjutan 4


  Jadi kalo nurut sampeyan taqdir itu ada 2 macam; yaitu taqdir utk orang awam 
dan taqdir utk ilmuwan.

  Iya deh tuhan alkhori yg sukanya main klasifikasi2an. Lha trus kalo taqdirnya 
orang awam yg ilmuwan dan ilmuwan yg awam masuk yang mana tuh ?

  Ini semakin tambah seri kog jadi tambah mbulet yah. Mirip penanganan kasus 
korupsi aja, tambah berjalan waktu malah tambah blurrrr.

   

  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Alkhori M
  Sent: Saturday, April 03, 2010 10:58 AM
  To: [email protected]
  Subject: [Is-lam] Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 4

   

  Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 4

   

  Kelompok I, mempercayai, segala sesuatu yang diperbuat adalah sudah di 
TAQIR-kan, apapun yang dilakukan oleh manusia semua Tuhan yang PUTUS-kan. 
Kelompok-I ini juga berdasarkan ayat-ayat al-Qur'an. Umumnya kelompok-I ini 
terdiri dari orang-orang AWAM. Dengan kehidupan yang sederhana, cara berpikir 
yang sederhana, maka menyelesaikan masalah juga dengan cara yang sangat 
sederhana, yaitu sudah TAQDIR. Kalau kita sudah menjatuhkan pilihan terhadap 
kelompok-I ini, maka yang lain harus menghormati pilihan kita ini. Jangan 
memaksa kehendak agar orang lain harus mempercayai apa yang kita yakini. Memang 
kelompok-I karena daya nalar yang sederhana, maka hidup lebih tenteram dan 
damai dan tidak perlu memikirkan hal-hal yang rumit tentang romantika kehidupan 
di dunia ini yang serba kompleks.

   

  Kelompok-II, mempercayai, segala yang dilakukan akan sesuai dengan 
sunnatullah yang akhirnya bermuara pada Taqdir. Kalau yang dilakukan Amal 
Makruf tentu Tuhan akan memberikan Recognition atau Reward, sebaliknya kalau 
yang dilakukan Kullu Munkar, maka atas kepercayaan Tuhan maha adil, maka 
bersiaplah untuk menerima punishment dari Tuhan. Janji dari Tuhan itu pasti dan 
azab-NYA sangat pedih. Kelompok-II ini mempercayai hal demikian karena mereka 
juga mempunyai rujukan-rujukan pada ayat-ayat al-Qur'an. Kelompok ini umumnya 
terdiri dari para ilmuwan dan intelektual. Karena luasnya nalar yang telah 
diberikan oleh Tuhan kepada mereka, maka mereka-mereka ini mempunyai pemikiran 
yang lebih dari orang AWAM. Setiap masalah tidak serta merta dikatakan sudah 
TAQDIR, tapi akan dicari dan dicari terus bottleneck dari akar permasalahan. 
Seandainya kita sudah memilih seperti kelompok-II janganlah memaksakan kehendak 
pada kelompok-I agar memilih untuk mempercayai kelompok-II. Itu semua 
tergantung kesiapan individu masing-masing melihat phenomena kehidupan di Dunia 
ini yang sangat super kompleks. Kalamullah itu sebagian saja yang tertulis di 
Al-Qur'an dan yang telah diwahyukan pada Muhammad SAW, juga didalam al-Qur'an 
tertulis, seandainya kering lautan itu untuk menuliskan kalamullah, dan 
didatangkan lagi dalam jumlah yang sama, namun kalamullah itu tak akan bakalan 
habis.

   

  Jadi dimana kita berada terserah kita masing-masing, apakah di kelompok-I 
atau dikelompok-II atau gabungan antara kelompok-I/II, kalau di ilmu 
probabilitas terdapat, UNION, SUBSET, COMBINATION itu semua terserah pada daya 
nalar yang dimiliki.

   

  Jadi semua itu terserah pada penalaran kita, kapankah dan sampai tingkat 
dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita masing-masing.

   

  Alkhori M

  Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

  Doha, State of Qatar

  =======================================================

  Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 3

  Disini KISAH NYATA yang dinarativekan, kisah ini penulis alami sendiri, 
bagaimana pembaca menyimpulkan tentu terserah pada tingkat penalaran dan 
pengalaman masing-masing. Kalau orang AWAM tentu berbeda dengan INTELEKTUAL, 
makin tinggi tempat kita berdiri, maka makin jauh yang bisa dilihat, apalagi 
anda berada dalam sebuah copter view, maka akan mudah terlihat pandangan dari 
atas untuk melihat dareah yang dibawah.

  Kisah Nyata:

  Sewaktu akan haji, untuk menghilangkan keraguan, maka KB spiral pada isteri 
saya minta dilepas, maka pergilah kami menunaikan ibadah haji. Setelah pulang 
dari haji, KB spiral juga belum dipasang kembali, oleh sebab itu isteripun 
hamil. Karena kami sudah sepakat bahwa tidak akan menambah anak lagi, maka kami 
pergi kerumah sakit. Dirumah sakit dinyatakan positif hami baru sekitar 2 ~ 3 
minggu. Kepada kai diberikan surat pengantar untuk konsultasi pada dokter ahli 
kandungan. Di dokter ahli kandungan dikatakan ini masih dibawah sebulan, kalau 
mau digugurkan hanya perlu waktu 5 menit, tidak lama, tapi sebelum dilakukan, 
pikir-pikir dahulu, maka kamipun pulang kerumah. Dirumah pada sore harinya lagi 
duduk santai nonton tv, saya teringat pada suatu peristiwa sbb:

  "Ada seorang rekan, anaknya kecelakaan, segala usaha dilakukan untuk menolong 
sikorban, tapi panggilan tuhan lebih mulia, innaa lillaahi wa innaa ilaihi roo 
ji'uun" Dengan perasaan sedih semua itu harus diterima sebagai taqdir"

  Mengingat hal itu saya berpikir, mengapa saya menjadi manusia sangat sombong, 
ketika saya boleh memilih mengapa harus yang tidak baik. Sedangkan kawan yang 
tidak bisa memilih beliau harus menerima TAQDIR dan harus menerima kenyataan 
bahwa panggilan Tuhan lebih mulia. Saya bangun dan saya hampiri isteri saya, 
saya katakan "Kita tidak kembali lagi ke dokter ahli kandungan, jika sudah 
ditaqdirkan memang demikian, terimalah sesuai dengan rukun iman yang ke-6.

  Sejak saat itu anak saya yang paling kecil biasanya saya panggil ADIK, tapi 
sejak saat itu saya panggil KAKAK, karena saya pikir beliau akan punya adik. 
Anak yang kecil tersebut yang biasa saya panggil ADIK karena berubah saya 
panggil KAKAK beliau jadi sangat senang. Tapi tidak lama mungkin sebulan 
berlalu, suatu hari entah kenapa, mungkin juga kecapekan, isteri saya 
keguguran. Insya Allah bersambung. 

   

  Jadi semua itu terserah pada penalaran kita, kapankah dan sampai tingkat 
dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita masing-masing.

   

  Alkhori M

  Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

  Doha, State of Qatar

  =======================================================

  Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 2

   

  Untuk sekedar pencerahan, disini di-narative-kan sebuah contoh (ini hanyalah 
contoh fiktif jangan dipraktekan).

  Jika kita ambil sebuah pisau yang tajam lalu kita gorok leher kita sendiri, 
maka matilah kita, sekarang timbul pertanyaan apakah kematian kita itu sebuah 
TAQDIR? Terserah masing-masing apakah itu mau dianggap taqdir boleh dan mau 
dianggap bukan Taqdir juga boleh. Tapi ingat bunuh diri dilarang oleh Tuhan.

   

  Selanjutnya kita ambil contoh yang lebih mendekati FAKTA, janganlah bunuh 
diri, karena bunuh diri dilarang agama. Tapi kali ini ambillah seekor ayam, 
lalu sembelihlah ayam tersebut, maka matilah ayam tersebut? Sekarang juga 
timbul pertanyaan apakah kematian ayam tersebut TAQDIR? Lagi terserah mau 
dianggap Taqdir juga boleh dan mau dianggap TIDAK Taqdir juga boleh. Tapi yang 
jelas ayam tersebut sudah mati dan kematian ayam tersebut dihalalkan dalam 
agama jika setelah ayam tersebut disembelih lantas digunakan selayaknya mengapa 
ayam tersebut harus disembelih.

   

  Nah yang terakhir adalah pertanyaan yang lebih AGAK PERLU DAYA NALAR, ketika 
kita mengambil ayam tersebut, padahal didalam KANDANG ADA BANYAK AYAM, tapi 
mengapa hanya yang seekor tersebut yang terpilih dan kita jadikan percobaan 
seperti yang telah diuraikan diatas. Lagi jawabanya mau dianggap TAQDIR juga 
boleh dan mau dianggap BUKAN taqdir juga boleh.

   

  Jadi semua itu terserah pada penalaran kita, kapankah dan sampai tingkat 
dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita masing-masing.

   

  Alkhori M

  Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

  Doha, State of Qatar

  ============================================

  Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah

   

  Sebagai orang AWAM semuanya dianggap TAQDIR, tapi bagi mereka yang sudah 
diberikan AQAL yang lebih, Taqdir itu bisa dipilih dan dipilah. Kalau semua 
usaha sudah dilakukan tapi masih gagal juga barulah terakhir dikatakan itu 
Sudah Taqdir. Memang cara termudah dan tidak menanggung resiko adalah dengan 
mengganggap semuanya sebagai TAQDIR persoalan jadi selesai. Tapi dikala setelah 
dianggap sebagai TAQDIR dan persoalan masih tidak selesai maka disinilah ilmu 
orang AWAM tadi sudah tidak bisa diandalkan lagi, maka disinilah para Ulama 
atau orang yang bukan AWAM alias intelektual diperlukan, maka disinilah akan 
timbul istilah seperti judul diatas yaitu MEMILIH dan MEMILAH TAQDIR DENGAN 
MENGGUNAKAN SUNNAHTULLAH. Salam cool selalu dari Qatar. Insya Allah bersambung.

   

  Alkhori M

  Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

  Doha, State of Qatar

   



------------------------------------------------------------------------------


  _______________________________________________
  Is-lam mailing list
  [email protected]
  http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke